"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.
Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.
Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.
*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*
Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.
Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26: Kunjungan ke Keluarga Lim
Meilu memberi tahu Surya tentang kunjungan itu pada hari Rabu pagi.
"Malam ini kamu ikut saya ke Menteng."
Surya yang sedang mengikat dasi berhenti. "Ke rumahmu?"
"Ke rumah keluarga saya."
Perbedaannya tipis. Namun, terasa seperti perbedaan antara masuk ruang tamu dan masuk ruang sidang.
Surya menatap cermin kecil apartemennya. Jasnya rapi. Namun, bukan merek mahal. Sepatunya bersih. Namun, pernah dipakai ke pengadilan, kantor, dan parkiran hujan. Di belakangnya, kardus buku hukum lama masih tersusun di sudut.
"Aku harus membawa apa?"
"Dirimu sendiri. Dan jangan mencoba terlihat seperti orang lain."
"Itu saran atau ancaman?"
"Keduanya."
Malam itu, Lamborghini merah Meilu berhenti di depan rumah besar di Menteng. Rumah itu tidak seperti istana sinetron yang penuh pilar emas. Justru karena terlalu tenang, pagar hitam, halaman dalam, dan petugas keamanan yang bergerak tanpa suara membuat tempat itu terasa lebih mahal.
Surya melihat papan kecil bertuliskan Lintang Group Foundation di sisi gedung tamu.
Jadi ini bukan sekadar rumah.
Ini pusat gravitasi.
Di ruang tamu, Lim Tjahyadi menunggu dengan kemeja putih dan celana kain gelap. Usianya lebih dari lima puluh, rambutnya mulai memutih. Namun, punggungnya tegak. Di sampingnya, Weichen duduk santai dengan tablet di tangan. Seorang perempuan anggun, Huang Siu Lan, menyambut mereka lebih dulu dengan senyum lembut yang tidak menghapus penilaian di matanya.
"Papa," kata Meilu. "Mama. Ini Surya."
Surya menunduk sopan. "Selamat malam, Pak Lim, Nyonya Lim."
Lim Tjahyadi menatapnya dari atas ke bawah. Bukan menghina. Lebih seperti membaca laporan keuangan.
"Duduk."
Percakapan awal berjalan sopan. Pekerjaan Surya di Sentana. Perkara yang pernah ia bantu. UPA. Latar belakang Solo. Dewi. Meski tidak ada nada keras, setiap pertanyaan punya berat.
Akhirnya, Pak Lim meletakkan cangkir.
"Saya akan bicara langsung. Kamu pernah menikah."
"Ya, Pak."
"Perceraianmu ramai."
"Ya."
"Kamu baru mulai membangun karier. Belum advokat mandiri penuh. Masih di bawah supervisi firma."
"Benar."
"Keluarga saya hidup di ruang publik. Nama Meilu bukan hanya miliknya sendiri. Ada Lintang Group, ada yayasan, ada ribuan karyawan. Kamu membawa terlalu banyak risiko."
Meilu hendak bicara. Namun, Surya mengangkat tangan kecil.
"Izinkan saya menjawab sendiri."
Pak Lim mengangkat alis.
Surya menatapnya tanpa menantang. "Semua yang Bapak sebut benar. Saya pernah gagal dalam pernikahan. Nama saya pernah dipakai untuk perusahaan bermasalah. Saya masih membangun karier. Kalau Bapak mencari calon menantu yang sempurna di atas kertas, saya kalah sebelum duduk."
Ruang tamu menjadi hening.
"Tapi saya tidak datang untuk menjual kertas," lanjut Surya. "Saya datang karena saya menghormati Meilu. Dia bukan jalan pintas saya menuju keluarga Lim. Dia orang yang saya pilih untuk saya lindungi, bahkan kalau Bapak tidak pernah mengizinkan saya mendekati pintu ini lagi."
Weichen menurunkan tabletnya.
Huang Siu Lan menatap Surya lebih lama.
Pak Lim tidak berubah ekspresi. "Melindungi? Dari apa?"
"Dari orang yang melihatnya hanya sebagai putri Lintang. Dari musuh yang mungkin memakai pekerjaan polisi dan nama keluarga untuk menyerangnya. Dari diri saya sendiri, kalau suatu hari ambisi saya mulai lebih besar daripada integritas saya."
Kalimat terakhir membuat Pak Lim diam.
Weichen bersiul pelan. "Menarik."
Meilu menatap kakaknya. "Ko Chen."
"Apa? Aku cuma bilang menarik."
Pak Lim memandang putranya. "Pendapatmu?"
Weichen bersandar. "Pacaran silakan. Meilu bukan anak kecil. Tapi menikah? Jangan dulu. Surya harus membuktikan dia bisa berdiri tanpa payung keluarga kita."
"Aku tidak minta payung," kata Surya.
"Bagus," jawab Weichen. "Karena rumah ini punya terlalu banyak kamera. Orang yang datang mencari payung biasanya takut basah."
Untuk pertama kalinya, Surya tersenyum. "Saya sudah cukup sering kehujanan."
Huang Siu Lan akhirnya berbicara. "Kamu bisa makan pedas?"
Pertanyaan itu membuat semua orang menoleh.
Surya menjawab jujur, "Bisa, Tante. Tapi kalau terlalu pedas, wajah saya akan mengkhianati saya."
Senyum kecil muncul di bibir Nyonya Lim. Ketegangan turun setengah derajat.
Makan malam berjalan lebih manusiawi. Di meja, Surya melihat cara keluarga itu bekerja. Pak Lim bicara sedikit. Namun, setiap kalimat diikuti staf. Weichen menerima panggilan singkat tentang jadwal produksi Lintang Pictures. Meilu menegur kakaknya karena membalas email saat makan. Nyonya Lim memastikan semua orang mengambil sayur.
Di tengah makan, Weichen sengaja meletakkan satu masalah di meja.
"Ada vendor studio yang ingin memutus kontrak sepihak. Mereka bilang force majeure karena alat impor tertahan bea cukai. Padahal jadwal produksi sudah dikunci. Menurutmu, calon advokat, kami tekan atau kami lepaskan?"
Meilu menatap kakaknya dengan peringatan.
Surya tidak tersinggung. Ia mengambil waktu beberapa detik.
"Saya perlu baca kontraknya untuk jawaban pasti. Tapi kalau hanya dari cerita Mas Weichen, jangan langsung tekan. Cek dulu klausul force majeure, kewajiban mitigasi, dan bukti bahwa mereka benar-benar mengurus barang itu. Kalau mereka lalai, tekan lewat penalti. Kalau tertahan karena prosedur pemerintah dan mereka punya bukti, lebih baik renegosiasi jadwal daripada menang penalti tapi produksi Anda berhenti."
Weichen tersenyum sedikit. "Kenapa?"
"Karena tujuan bisnis bukan menghukum vendor. Tujuannya membuat film selesai."
Pak Lim yang sejak tadi diam akhirnya melihat Surya dengan cara berbeda.
"Jawaban yang tidak buruk," katanya.
Di rumah keluarga Lim, itu mungkin setara tepuk tangan.
Surya tidak membungkuk berlebihan. Ia hanya mengangguk, karena ia tahu penghormatan yang terlalu rajin kadang terdengar seperti meminta belas kasihan. Malam ini ia tidak datang untuk dikasihani.
Setelah makan, Pak Lim mengajak Surya berjalan melewati lorong galeri kecil. Di dinding terpajang foto proyek: perumahan, gedung kantor, rumah sakit, studio film, fasilitas logistik, lembaga beasiswa.
Lintang Group tidak hanya besar.
Lintang Group menyentuh terlalu banyak hidup.
"Kalau kamu menyakiti Meilu," kata Pak Lim, "saya tidak perlu mengancam. Kamu akan tahu sendiri rasanya berhadapan dengan dunia yang lebih besar dari dirimu."
"Saya mengerti."
"Tidak. Kamu belum mengerti. Tapi mungkin suatu hari."
Surya menerima kalimat itu sebagai vonis sementara.
Saat pulang, Meilu menggenggam tangannya di mobil.
"Kamu baik-baik saja?"
"Papa kamu tidak salah."
"Dia keras."
"Dia ayah."
Meilu menatapnya, lalu tersenyum kecil.
Di halaman, Surya melihat lagi rumah besar itu. Malam ini ia belum diterima. Mungkin bahkan belum disukai. Tetapi ia sudah melihat gunung yang harus ia daki.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa kecil karena gunung itu tinggi.
Ia hanya merasa perlu menjadi lebih kuat.
Di ruang kerja setelah mereka pergi, Lim Tjahyadi berdiri di depan jendela.
"Siu Lan," katanya kepada istrinya, "cari tahu latar belakang anak muda itu."