NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."

"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"

....

Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 #Hukuman

​Anya masih berdiri di depan wastafel kamar mandi dengan napas yang memburu kesal. Jemari lentiknya masih memegang kemeja hitam desainer Italia yang kini telah bolong besar di bagian dadanya. Di hadapannya, Bara Fernandez berdiri bertelanjang dada, menatap lubang kain itu dan kuku patah Anya secara bergantian. Keheningan sempat merayap selama beberapa detik sebelum akhirnya sudut bibir kokoh sang taipan terangkat, membentuk seulas senyuman yang sangat tipis namun sarat akan maksud tersembunyi.

​Rasa gemas yang sejak tadi ditahan Bara kini telah mencapai batas puncaknya. Argumen konyol Anya yang menyuruhnya membeli kemeja baru karena uangnya banyak justru memberikan alasan yang sangat sempurna bagi Bara untuk melancarkan serangan berikutnya.

​Bara melangkah maju satu tindakan, melewati ambang pintu. Tubuh tegapnya yang besar dan berotot kini sepenuhnya memasuki ruang kamar mandi pelayan tersebut. Meskipun ini bukan kamar mandi utama di penthouse-nya, ruangan ini tetap terlihat mewah dengan dinding marmer abu-abu gelap dan pencahayaan lampu warm white yang temaram. Namun, ukuran ruangan ini jelas jauh lebih sempit dibandingkan dengan ruang tengah yang super luas tadi. Kehadiran Bara yang dominan seketika mengintimidasi dan merampas seluruh pasokan udara di dalam sana.

​Cklek. Klik.

​Suara pintu kamar mandi yang ditutup rapat dan dikunci dari dalam oleh tangan kiri Bara bergema dengan sangat jelas di telinga Anya. Jantung Anya seketika berdegup kencang, memberikan sentakan panik yang luar biasa.

​"O-Om... kenapa pintunya dikunci?!" seru Anya spontan, matanya membelalak lebar saat menyadari jarak di antara mereka kini hanya tersisa kurang dari satu meter. Dia refleks mundur hingga pinggulnya membentur pinggiran wastafel marmer yang dingin.

​"Karena kamu sudah merobek kemeja kesayanganku, Zevanya," ujar Bara dengan suara bariton yang rendah, parau, dan sangat berat. Langkah kakinya yang tenang namun pasti terus mengikis jarak, membuat Anya merasa seperti seekor anak domba yang sedang dikepung oleh predator puncak. "Dan sesuai dengan kesepakatan kontrak kita... setiap kesalahan atau kerusakan yang kamu perbuat di tempat ini, harus ada bayaran yang setimpal."

​Anya menelan ludahnya dengan susah payah. Tubuhnya mulai bergetar hebat karena kombinasi rasa gugup, takut, dan sensasi asing yang mendadak menggelitik perut bawahnya saat melihat dada bidang tanpa busana milik Bara kian mendekat. Anya mencoba menegakkan dagunya, mempertahankan sisa-sisa keberaniannya.

​"Bayar? O-Oke... berapa harga kemeja itu? Katakan saja nominalnya, Om! Aku akan mentransfernya sekarang juga atau meminta Papa mengirimkan cek ke kantor Om! Berapa, huh?" tanya Anya dengan nada suara yang sedikit bergetar, meskipun dia mencoba terdengar menantang.

​Bara menghentikan langkahnya tepat satu jengkal di depan tubuh Anya. Senyuman dingin yang sangat seksi terukir di wajah tampannya. Dia menundukkan kepalanya, hingga hembusan napas hangatnya yang beraroma mint menerpa langsung permukaan kulit wajah Anya.

​"Bukan dengan uang, Sayang," bisik Bara dengan penekanan yang sangat dalam pada kata terakhirnya.

​Sebelum Anya sempat memproses arti kata tersebut atau mengeluarkan bantahan, tangan kanan Bara yang besar dan hangat sudah bergerak secepat kilat. Jemari kokohnya mencengkeram lembut tengkuk Anya, sementara tangan kirinya bertumpu pada dinding marmer di samping kepala gadis itu, memojokkan Anya sepenuhnya ke dinding dingin kamar mandi tanpa celah untuk melarikan diri.

​Detik berikutnya, Bara menundukkan wajahnya dan langsung menyatukan dua belah bibir mereka dalam sebuah ciuman yang sangat menuntut dan mendominasi.

​Anya tersentak, matanya sempat membelalak tidak percaya. Otaknya meneriakkan perintah untuk menolak, mendorong dada bidang pria di depannya, atau menggigit bibir kurang ajar tersebut. Namun, tubuhnya justru mengkhianati logikanya sendiri. Di bawah pesona maskulin dan dominasi pria matang yang begitu kuat, tubuh ramping Anya mendadak lemas bagai jeli. Efek hipnotis dari aroma tubuh Bara merasuk ke dalam sistem sarafnya, memberikan respons lain seolah-olah seluruh sel di tubuhnya memang sudah menunggu-nunggu hal gila ini terjadi sejak tadi.

​Anya memejamkan matanya erat-erat. Alih-alih mendorong, kedua tangan lentiknya perlahan bergerak naik, mencengkeram kuat bahu kokoh Bara yang bertelanjang dada sebagai tumpuan agar tubuhnya tidak merosot jatuh ke lantai. Respons pasrah dari Anya itu seketika menyalakan api gairah yang lebih besar di dalam dada Bara. Sang taipan menggeram rendah di tengah pagutan mereka, memperdalam ciumannya dengan lumatan-lumatan yang kian panas, menuntut, dan mengisap habis seluruh pasokan oksigen milik Anya.

​Di tengah ciuman yang memabukkan itu, Anya tiba-tiba tersentak hebat ketika merasakan tangan kanan Bara yang hangat perlahan melepaskan cengkeraman di tengkuknya, lalu bergerak turun ke bawah. Dengan sangat berani dan tanpa ragu, telapak tangan besar pria itu menelusup masuk ke dalam blouse yang dikenakan Anya, bergerak naik menyusuri perut datarnya yang halus.

​Sentuhan kulit ke kulit itu membuat Anya merinding sebadan-badan. Tangan Bara terus bergerak naik hingga akhirnya telapak tangan hangatnya menangkup sempurna salah satu benda kenyal berukuran sensual milik Anya, aset berharga tersembunyi yang malam itu sempat dia pamerkan sekilas melalui potongan gaun beludru merahnya saat pertemuan makan malam pertunangan keluarga mereka. Bara meremasnya dengan kelembutan yang dominan, membuat desahan tertahan lolos dari sela-sela bibir Anya yang masih bertautan.

​Bara perlahan menyudahi ciuman di bibir Anya, namun tidak untuk melepaskannya. Kecupan-kecupan panasnya kini mulai bergerak turun, menyusuri rahang tegas Anya yang halus, lalu berpindah ke area leher jenjangnya yang putih bersih.

​Pindahnya bibir Bara memberikan celah bagi Anya untuk menghirup udara dan mengumpulkan sedikit kesadarannya yang telah porak-poranda.

​"Om... j-jangan... ah..." lirih Anya, suaranya terdengar sangat parau dan lemah, sama sekali tidak terdengar seperti sebuah penolakan yang tegas. Bibirnya mengatakan jangan, namun kedua tangannya tetap diam di tempat, justru semakin mencengkeram kuat otot bahu Bara yang keras tanpa ada niat sedikit pun untuk mendorong tubuh kekar pria itu menjauh.

​Bara tidak memedulikan larangan lemah tersebut. Rasa candu akan aroma manis vanila dan ceri yang menguar dari ceruk leher Anya membuat pria itu semakin kehilangan kendali dirinya. Bara memberikan satu gigitan kecil yang sedikit dalam di permukaan kulit leher Anya yang sensitif, mengklaim wilayah tersebut sebagai miliknya.

​"Ah! Om, jangan... nanti berbekas!" desah Anya tertahan, tubuhnya melengkung sedikit ke depan saat rasa perih yang nikmat menyengat saraf lehernya. Anya tahu betul, jika tanda itu sampai membekas, dia akan kesulitan menyembunyikannya dari pandangan papanya atau Calvin.

​Mendengar keluhan tentang tanda bekas tersebut, Bara akhirnya menghentikan kegiatannya di leher Anya. Namun, bukan untuk menyudahi hukuman ini, melainkan untuk berpindah ke area yang jauh lebih intim dan aman dari jangkauan pandangan orang luar.

​Bara menegakkan tubuhnya sedikit, lalu dengan kedua tangannya yang bergerak cekatan, dia menarik dan mengangkat kain blouse yang dikenakan Anya ke atas hingga melewati dada dan menumpuk di atas bahunya. Tindakan itu seketika mengekspos dengan sangat jelas keindahan bagian dada Anya yang berukuran besar dan berisi, yang kini terbungkus rapi oleh bra berenda berwarna putih yang sangat menggoda. Kulit putih mulusnya kontras dengan pencahayaan kamar mandi yang temaram.

​"Kalau di leher tidak boleh... maka aku rasa di bagian sini akan jauh lebih aman, Sayang," desis Bara dengan suara bariton yang sangat rendah dan seksi, tatapan mata elangnya menatap lapar pada keindahan di depannya.

​Anya merinding dari ujung kepala hingga ujung kaki, seluruh tubuhnya bergetar hebat saat jemari kokoh Bara bergerak menuju bagian tengah dadanya. Hanya dengan satu gerakan jari yang sangat terlatih, Bara berhasil melepaskan kaitan bra Anya dengan begitu mudah. Klik. Kain brokat itu terbuka, menampilkan sepasang dada indah berujung pink yang sangat menggiurkan bagi seorang pria dewasa.

​Anya yang terkejut mencoba menutupi dadanya dengan kedua tangan. "O-Om... jangan... ini tidak boleh..."

​Bara menangkap kedua pergelangan tangan Anya dengan satu tangan kirinya, menguncinya di atas kepala gadis itu pada dinding marmer. Sudut bibir Bara terangkat membentuk senyuman penuh kemenangan. "Kamu sengaja memakai bra yang kaitannya ada di depan hari ini untuk mempermudah jalanku, kan, Zevanya?" tuduh Bara dengan nada menggoda yang sangat pekat.

​"T-tidak! Om... ah..."

​Ucapan Anya kembali terputus menjadi sebuah desahan panjang saat Bara menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tanpa membuang waktu lagi, bibir hangat Bara langsung meng*lum dan menggigit pelan salah satu pucuk pink di antara gundukan dada putih milik Anya yang terasa begitu kenyal dan penuh. Bara meny*sapnya dengan penuh gairah, meninggalkan dua tanda kemerahan yang cukup pekat di sana sebagai cap kepemilikan mutlaknya yang tersembunyi. Anya meremas jari-jarinya yang dikunci di atas dinding, kepalanya mendongak ke belakang dengan napas yang memburu berantakan, sepenuhnya tenggelam dalam lautan kenikmatan dosa yang diciptakan oleh paman tunangannya sendiri.

​Namun, tepat di saat aktivitas panas mereka sedang berada di puncak ketegangan yang membakar...

​Tak..Tak..Tak..

​"Pak Bara! Pak... Anda di mana?!"

​Suara langkah tergesa memasuki penthouse, disertai suara panggilan panik dari Reno yang menggema hingga ke lorong dekat dapur, seketika memotong keheningan kamar mandi itu bagai hantaman air es yang sangat dingin.

​Anya dan Bara seketika menghentikan gerakan mereka. Napas mereka berdua masih memburu berantakan di dalam ruangan yang sempit itu.

​"Pak Bara! Tolong segera keluar ke ruang depan, Pak!" seru suara Reno lagi dari balik dinding luar, terdengar sangat cemas dan terburu-buru. "Nyonya Besar... Nyonya Isyana Fernandez baru saja sampai di lobi bawah dan sekarang sedang dalam perjalanan naik ke atas untuk berkunjung ke penthouse Anda!"

​Deg!

​Mendengar nama tersebut diucapkan oleh Reno, seluruh tubuh Anya seketika menegang sempurna bagai balok es. Rasa nikmat dan gairah yang sempat membakar tubuhnya menguap habis dalam waktu satu detik, digantikan oleh rasa takut dan panik yang luar biasa hebat hingga wajah cantiknya mendadak pucat pasi.

​Nyonya Isyana Fernandez. Ibunda dari Calvin, kakak ipar dari Bara, dan wanita yang dalam beberapa bulan ke depan akan menjadi calon ibu mertuanya sendiri. Wanita nomor satu di keluarga Fernandez yang terkenal sangat anggun, tegas, dan menjunjung tinggi kehormatan keluarga.

​Anya menatap Bara dengan mata bulatnya yang membelalak horor, menyadari bahwa jika calon ibu mertuanya sampai menemukan dirinya berada di dalam kamar mandi pelayan ini, bertelanjang dada bersama pamannya sendiri yang juga tanpa busana... maka riwayat kehidupannya dan nama baik keluarga Sanjaya akan hancur lebur berkeping-keping sore ini juga. Pintu jebakan itu kini benar-benar terasa sangat nyata dan mengancam nyawanya.

1
Yohana Pandie
lnjut thor.ceritanya keren bnget
Novaa: Halo, terimakasih sudah mampir. pantengin terus ya karena om Bara bakal semakin memBara 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!