NovelToon NovelToon
Rahimku Diangkat Suamiku Menikah Lagi

Rahimku Diangkat Suamiku Menikah Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Romansa / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Almesha

Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.

Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.

Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.

Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Pecahnya Mangkuk Porselen

Malam itu, hujan turun rintik-rintik, membungkus mansion keluarga Narendra dalam suasana yang teramat sunyi dan mencekam. Di ruang makan yang biasanya riuh oleh obrolan pamer kemewahan antara Siska dan Sheila, kini hanya terdengar denting sendok yang beradu lesu dengan piring porselen. Hidangan di atas meja pun tidak lagi berupa potongan daging steak impor atau sup asparagus premium, melainkan hanya lauk seadanya yang dimasak oleh pelayan yang sejak pagi tadi sudah berbisik-bisik cemas mengenai nasib gaji mereka.

Arka duduk di kepala meja dengan pandangan kosong, menatap nasi di piringnya yang hampir tidak disentuh sama sekali. Di hadapannya, Sheila duduk dengan wajah cemberut, sesekali mengusap perut buncitnya dengan kasar, sementara Siska terus-menerus menghela napas panjang sembari memijat pelipisnya.

"Mas," Sheila akhirnya membuka suara, nadanya meninggi, memecah keheningan dengan ketidaksabaran yang kentara. "Sampai kapan kita harus makan makanan murahan seperti ini? Dan mana mobil pengganti yang kamu janjikan? Masa aku harus pergi ke dokter kandungan minggu depan naik taksi online? Apa kamu tidak memikirkan harga diriku kalau bertemu dengan teman-teman sosialitaku?"

Arka tidak menjawab. Dia bahkan tidak menoleh ke arah istrinya. Pikirannya masih tertancap pada angka lima belas miliar rupiah yang harus dibayarkan ke Bank Mega Pratama dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.

"Arka! Istrimu bertanya itu, dijawab!" bentak Siska ikut menyambar, egonya sebagai mantan nyonya besar masih tersisa di ujung lidahnya. "Ibu juga terpaksa membatalkan janji temu dengan kelompok arisan berlian sore tadi karena kartu kredit Ibu semuanya diblokir! Kamu ini CEO, masa mengurus masalah finansial kecil seperti ini saja tidak becus?!"

Brak!

Arka menghempaskan sendoknya ke atas meja hingga mangkuk porselen di dekatnya berdenting nyaring. Urat-urat di lehernya menegang, wajahnya yang kuyu mendadak merah padam oleh amarah yang sudah mencapai ubun-ubun.

"Diam, Ma! Diam, Sheila!" teriak Arka, suaranya menggelegar memenuhi ruang makan, membuat kedua wanita itu seketika tersentak kaget. Arka berdiri dari kursinya, menatap mereka berdua dengan pandangan mata yang liar penuh frustrasi. "Kalian berdua tahu tidak, kita ini sedang berada di ambang kehancuran. Gaji CEO-ku ditangguhkan. Utang pribadiku belasan miliar jatuh tempo besok pagi. Dan kalian masih memikirkan arisan berlian dan gengsi naik taksi?."

Arka menunjuk wajah Sheila dengan jari yang gemetar. "Kamu, Sheila. Kamu yang membuat Adrian Atmadja murka karena kebodohanmu mendatangi gedung V-Tech siang tadi. Gara-gara mulut kotormu itu, kita sekarang dikunci dari kawasan ekonomi SCBD. Kita dikepung dari segala arah."

"Kenapa kamu menyalahkan aku?." Sheila ikut berdiri, air mata egoisnya mulai luruh membasahi pipinya. Dia memeluk perutnya dengan dramatis. "Aku melakukan itu karena aku frustrasi, Mas. Aku istrimu yang sah sekarang. Aku yang mengandung anakmu, ahli waris resmi keluarga Narendra. Bukan wanita mandul yang sudah kamu buang itu. Kenapa sekarang kamu malah membela dia?."

"Ahli waris?." Arka tertawa sumbang, sebuah tawa yang terdengar teramat miris dan hancur. "Harta apa yang mau diwariskan, Sheila?. Seluruh kekayaan yang kita nikmati selama tiga tahun ini, rumah ini, perusahaan ini, pakaian mahal yang kamu kenakan, semuanya adalah milik mendiang ibu Davira. Kita merebutnya lewat kesepakatan palsu. Dan sekarang, pemilik aslinya datang untuk menuntut balas."

Siska Narendra mendadak berdiri dengan wajah yang memucat sempurna. "Arka, jaga bicaramu. Jangan sebut-sebut nama orang mati di rumah ini!"

Belum sempat Arka membalas ucapan ibunya, suara deru mobil yang berhenti di halaman depan mansion terdengar memecah keheningan malam. Detik berikutnya, suara bel pintu utama ditekan berkali-kali secara konstan dan kasar, disusul oleh suara ketukan pintu yang teramat keras.

Tok! Tok! Tok!

"Permisi. Pihak berwajib dan juru sita pengadilan. Buka pintunya."

Mendengar seruan dari arah luar, denyut nadi Arka seolah berhenti seketika. Siska langsung terduduk kembali di kursinya dengan tubuh yang mendadak lemas, sementara Sheila mulai menangis histeris ketakutan, menyadari bahwa monster yang mereka takuti akhirnya benar-benar telah melangkah masuk ke dalam pekarangan rumah mereka.

Pelayan rumah dengan tangan gemetar membuka pintu utama. Tiga orang pria berseragam dinas pengadilan dengan lencana resmi melangkah masuk, didampingi oleh dua petugas kepolisian dan seorang perwakilan hukum dari Bank Mega Pratama. Mereka tidak membawa surat peringatan lagi, melainkan sebuah bendel dokumen tebal berlogo garuda dengan cap sita resmi.

Arka melangkah keluar dari ruang makan dengan sisa keberaniannya yang rapuh, diikuti oleh Siska yang dipapah oleh Maya dari belakang.

"Tuan Arka Narendra," perwakilan hukum bank itu berbicara tanpa basa-basi, suaranya terdengar dingin dan mekanis di dalam lobi mansion yang luas. "Berdasarkan keputusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan atas wanprestasi dan kegagalan pembayaran utang pokok serta bunga investasi yang telah jatuh tempo, kami ke sini untuk melakukan eksekusi sita jaminan atas aset bergerak dan tidak bergerak yang terdaftar di dalam perjanjian kredit."

Pria itu membuka lembaran dokumennya, membacakannya dengan lantang di hadapan seluruh anggota keluarga Narendra yang kini berkumpul dengan wajah sepucat mayat.

"Per hari ini, rumah tinggal beserta tanah di kawasan Menteng atas nama Arka Narendra resmi berada di bawah penyitaan bank. Kami memberikan waktu tiga kali dua puluh empat jam bagi Tuan Arka dan keluarga untuk mengosongkan seluruh bangunan ini. Mulai besok pagi, plang penyitaan resmi akan dipasang di gerbang depan."

"Nggak. Ini rumah saya. Kalian tidak bisa mengusir kami." jerit Siska Narendra, dia mencoba berlari ke depan untuk merebut dokumen tersebut, namun langsung dihalangi dengan tegas oleh petugas kepolisian yang berjaga. "Arka. Lakukan sesuatu, Ini rumah kebanggaan keluarga kita. Ibu tidak mau tinggal di jalanan."

"Maaf, Nyonya. Ini adalah perintah hukum yang sah," ucap juru sita pengadilan dengan rahang mengeras. "Jika dalam waktu tiga hari tempat ini belum dikosongkan, kami terpaksa akan melakukan pengosongan secara paksa dengan bantuan aparat keamanan."

Sheila yang menyaksikan hal itu dari balik pilar lobi langsung merasakan perutnya menegang sakit akibat syok yang teramat luar biasa. Dia jatuh terduduk di atas lantai marmer, menangis sejadi-jadinya, meratapi impiannya menjadi nyonya besar yang kini hancur lebur menjadi abu hanya dalam hitungan hari.

Di saat yang sama, beberapa kilometer dari mansion Narendra, sebuah mobil Bentley hitam mewah sedang melaju tenang membelah rintik hujan malam Jakarta. Di kursi belakang yang hangat, Vira Mahendra sedang menyandarkan tubuhnya, menatap layar ponselnya yang menampilkan pesan teks singkat dari Reno.

“Eksekusi sita rumah Menteng sedang berlangsung malam ini, Kak. Juru sita bank sudah berada di lokasi. Keluarga Narendra resmi terusir dari istana palsu mereka.”

Vira menatap pesan itu tanpa ekspresi emosi yang meluap, hanya ada kilat kepuasan yang dingin di sepasang manik mata indahnya. Dia perlahan mematikan layar ponselnya.

"Kamu tampak sangat tenang, Vira," sebuah suara bariton yang teramat akrab terdengar dari sampingnya.

Adrian Atmadja sedang duduk di sana, memperhatikan Vira dengan binar mata yang penuh perlindungan. Tangan kokoh pria itu bergerak di bawah pencahayaan mobil yang temaram, meraih jemari tangan kiri Vira dan menggenggamnya erat, menyelimuti kulit dingin Vira dengan kehangatan telapak tangannya.

Vira menoleh, menatap wajah tampan Adrian yang selalu memberikan rasa aman mutlak baginya sejak dia kembali ke negeri ini.

"Ini baru awal dari kejatuhan mereka, Tuan Adrian," ucap Vira, suaranya terdengar lembut namun menyimpan ketajaman belati. "Kehilangan rumah barulah awal dari penderitaan fisik mereka. Langkahku selanjutnya adalah merebut kembali seluruh sisa warisan ibuku yang saat ini masih tersangkut di dalam portofolio saham Narendra Group. Aku akan memastikan mereka keluar dari rumah itu tanpa membawa satu sen pun kekayaan Mahendra."

Adrian mengulas senyuman tipis yang sangat menawan, meremas pelan jemari Vira. "Seluruh tim hukum terbaik Atmadja Group sudah aku instruksikan untuk memblokir setiap upaya banding yang mungkin akan mereka lakukan di pengadilan besok pagi. Kamu hanya perlu fokus pada pemulihan dirimu, Ratu-ku. Biarkan aku yang membersihkan kerikil di jalanmu."

Vira merasakan dadanya menghangat seiring dengan remasan tangan Adrian. Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun hidup dalam kegelapan dendam, dia menyadari bahwa di balik badai kehancuran yang sedang dia ciptakan untuk musuh-musuhnya, ada sebuah lentera kebahagiaan baru yang sedang menantinya di ujung jalan bersama Adrian dan Elvano.

1
Ariany Sudjana
hahaha kamu menyesal arka? itulah hukum tabur tuai, nikmati saja konsekuensinya. kain ini pilihan kamu dan pelacur murahan kesayangan kamu itu 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
ayo Vira, coba buka hati kamu, laki-laki seperti Adrian dan elvano yang akan menyembuhkan luka di hati kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!