NovelToon NovelToon
Antagonis Yang Menghindari Alur

Antagonis Yang Menghindari Alur

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: okolele

Apakah tidak ada pilihan lain?
kenapa sakalinya bertransmigrasi malah ke tubuh Antagonis,lucu sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon okolele, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21

Air dingin menyembur deras dari shower,membasahi tubuh yang tengah lengket dan menuntut kesegaran.

Ia hanya memejamkan mata, membiarkan air dingin mengalir dari ujung kepala hingga telapak kaki. Seolah semua rasa penat hari ini bisa ikut hanyut bersama aliran air yang menghilang ke lubang pembuangan.

Satu jam lamanya Malika mendiamkan dirinya di bawah shower, ia keluar dari kamar mandi dengan pajama bermotif shinchan nya.

Dia gerah malam ini makanya ia memilih mandi sialnya dia mandi terlalu lama sehingga membuatnya menggigil kedinginan.

"Buset..."

"Tadi gue gerah banget sampe mandi malam-malam."

"Giliran kelamaan mandi malah kedinginan."

Buru-buru ia nyalakan pemanas ruangan.

Tak lama kemudian udara hangat mulai memenuhi kamar.

Malika mengusap rambutnya menggunakan handuk sambil berjalan menutup satu per satu gorden yang masih terbuka.

Klik.

Klik.

Tungkainya mengayun menuju kasur.

Malika menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.

Matanya menatap langit-langit kamar tanpa benar-benar melihat apa pun.

Hening.

Semakin hening, semakin banyak pikirannya berlarian ke mana-mana.

Tanpa sadar, bayangan seseorang muncul begitu saja di kepalanya.

Mommy.

Dadanya langsung terasa sesak.

"..."

"Mom..."

Ia bergumam pelan.

Sudah berapa lama, ya?

Sudah berapa lama ia tidak mendengar suara perempuan itu membangunkannya setiap pagi.

Tidak lagi mendengar ocehan karena ia sering tidur terlalu malam.

Tidak lagi dipaksa sarapan.

Tidak lagi mendengar kalimat, 'Jangan lupa kabarin Mommy kalau pulang telat.'

Dulu...

Hal-hal kecil itu sering membuatnya kesal.

Sekarang...

Justru hal-hal itulah yang paling ia rindukan.

Malika menggigit pelan bibir bawahnya.

"Gimana kabar Mommy sekarang...?"

"Apa Mommy masih sering nyariin gue?"

"Apa..."

Suaranya mulai melemah.

"...Mommy udah berhenti nunggu gue

pulang?"

"Mommy pasti sendirian, ga ada yang temenin Mommy. "

Pertanyaan itu menggantung begitu saja.

Tidak akan ada yang menjawabnya.

Ia memejamkan mata rapat.

Berusaha menahan rasa sesak yang perlahan memenuhi rongga dadanya.

"Gue kangen..."

"Kangen banget."

Kalau saja bisa memilih...

Ia ingin kembali ke tubuhnya yang dulu, tapi apalah daya takdir bekehendak lain.

Ia ingin mendengar omelan Mommy setiap pagi.

Dimarahin karena kamarnya berantakan.

Disuruh memakan sayur.

Hal-hal yang dulu terasa biasa saja dan tak ia suka.

Sekarang berubah menjadi hal yang tak akan ia rasakan lagi.

Air mata bening menetes perlahan mengalir melewati sudut matanya.

Ia buru-buru mengusapnya dengan punggung tangan.

"Cengeng banget sih, gue..."

Ia tertawa pelan.

Tawa yang terdengar jauh lebih menyedihkan ,lebih menyayat hati.

Tapi tak lama dari tawa sumbang itu, Malika kembali terisak pelan, bahunya bergetar.

"Gue di sini punya banyak teman. "

"Tapi..."

Ia menoleh ke sisi kasur yang kosong.

"...nggak ada Mommy."

Untuk pertama kalinya sejak terbangun di

tubuh Malika, ia benar-benar merasa sendiri.

Bukan karena dunia ini asing baginya.

Melainkan karena orang yang paling ingin ia temui...

Sudah berada di dunia yang tak lagi bisa di pulanginya.

Malam itu, di tengah kamar yang hangat dan nyaman, Malika akhirnya membiarkan dirinya menangis diam-diam.

Karena terlalu lama terisak menahan belenggu rindu akhirnya Malika terlelap dengan mata yang mulai membengkak.

__________

Pagi itu mentari kembali melabuhkan sinarnya, memancarkan cahaya hangat ke penjuru ruangan.

Cahayanya jatuh tepat mengenai wajah gadis itu.

Malika mengerjapkan mata pelan.

Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, berusaha mengumpulkan kesadaran yang masih setengah tertinggal di alam mimpi.

"..."

Semalam ia tertidur setelah menangis.

Bahkan ia tidak ingat sejak kapan matanya terpejam.

Malika mengusap wajahnya pelan.

"Hah..."

"Gue mimpiin Mommy lagi."

Sudut bibirnya terangkat tipis, tetapi senyum itu tidak bertahan lama.

Rasa rindu yang semalam sempat ia tekan masih ada.

Hanya saja, kini ia memilih menyimpannya rapat-rapat.

"Nggak boleh cengeng."

"Gue harus kuat, sekuat gatot kaca."

Ia bangkit dari kasur, merapikan selimut yang berantakan, lalu berjalan menuju kamar mandi.

Tak butuh waktu lama.

Malika keluar dengan seragam sekolah yang sudah dikenakan rapi.

Rambut panjangnya kali ini diikat kuncir kuda dengan poni yang tengah ia rapikan.

Ia berdiri di depan cermin.

Menatap pantulan wajah yang pari purna.

Ia meraih tas sekolahnya, memasukkan ponsel dan dompet ke dalamnya, lalu keluar dari kamar.

Begitu menuruni tangga, aroma sarapan langsung menyambut indra penciumannya.

"Pagi, Non," sapa Bi Inah yang sedang meletakkan banyak olahan makanan

"Pagi, Bi."

Malika menarik kursi dan duduk.

"Non kelihatannya kurang tidur."

"Hah? Kelihatan ya?"

"Sedikit."

Malika terkekeh kecil.

"Nanti pulang sekolah jangan tidur kemaleman lagi ya non."

"Iya, Bi."

"Di rumah cuman kita aja bi?. "

"Iya non, Tuan sama nyonya udah gak ada di rumah sejak subuh. "

"Jangan panggil wanita sialan itu nyonya di gak pantes. "

Bi Inah hanya terdiam lalu mengangguk.

Malika mengambil omelette lalu menyendokam dan memakannya sampai tak tersisa lagi di piring.

Setelahnya ia meminum segelas susu hangat.

Sesekali matanya melirik ponsel yang tergeletak di samping piring.

Melirik jam, dan memeriksa pesan yang masuk di ponselnya.

Belakangan ini nomor asing itu tidak lagi menghubunginya.

"Bi, berangkat dulu ya ."

"Iya, Non. Hati-hati di jalan."

Malika berdiri, menyalami tangan Bi Inah, lalu berjalan menuju garasi.

Beberapa saat kemudian, mesin mobil menyala.

Gerbang rumah perlahan terbuka.

Mobil itu meluncur meninggalkan halaman,

membelah jalanan kota yang mulai ramai oleh kendaraan para pekerja dan siswa yang sama-sama mengejar waktu.

Malika menyalakan musik dengan volume pelan.

Sembari menyetir, ia menatap jalan di depannya.

Dengan satu tangan memegang setir, Malika mengembuskan napas pelan.

"Kapan gue bisa hidup tenang di dunia ini tanpa mikirin kapan gue bisa mati dan apa aja ancaman bagi keselamatan gue ke depannya. "

_________

Suasana kelas yang semula riuh perlahan berubah tenang. Sebagian siswa masih sibuk menyalin pekerjaan rumah milik teman, sebagian lain memanfaatkan beberapa menit terakhir sebelum pelajaran dimulai untuk mengobrol.

Aira memutar tubuhnya menghadap bangku Malika.

"Udah belom?. "

"Belom."

"Ck makanya kalo ada PR itu di kerjain Mali, namanya aja pekerjaan rumah masa di kerjain di sekolah. "

"Lah gue manusia Ra, mudah lupa. "

"Lupa sih lupa tapi kalo tiap hari bukan lupa lagi namanya. "

"Pelit."

"Biarin, siapa suruh lo males. "

Setelah selesai Malika menyalin tugas Aira langsung ia kembalikan buku itu pada pemiliknya.

Malika ingin mengatakan sesuatu, akan tetapi terhenti karena ada suara murid lain yang Mengintrupsi guru akan masuk.

Tak lama kemudian, Bu Rina muncul di ambang pintu.

Namun...

Hari ini beliau tidak datang sendirian.

Di belakangnya berdiri seorang pemuda bertubuh tinggi dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana seragam.

Bahkan sebelum memasuki kelas, kepalanya hampir sejajar dengan pintu.

Ruangan yang semula dipenuhi suara obrolan perlahan menjadi sunyi.

Bukan karena keberadaan Bu Rina di sana.

Melainkan karena sosok yang berdiri di belakangnya terlalu mencolok untuk diabaikan.

Tatapan matanya menyapu isi kelas sekilas sebelum kembali lurus ke depan.

Tubuhnya menjulang tinggi, nyaris seratus sembilan puluh sentimeter,mungkin. Bahunya lebar, langkahnya panjang namun santai. Rambut hitam bergelombang jatuh berantakan secara alami di dahinya, sementara seragam sekolah yang baru dikenakannya tampak pas mengikuti tubuh atletisnya.

Malika yang dasarnya adalah pecinta cogan, menatap pria itu dengan mata yang berbinar-binar.

Entah mengapa...

Malika merasa pernah melihat sorot mata itu.

Padahal ia yakin, mereka belum pernah bertemu.

Atau...

hanya perasaanya saja. ?

"Hari ini ada satu siswa yang akan bergabung dengan kalian."

Bu Rini tersenyum hangat, menyuruh pemuda pindahan itu untuk memperkenalkan dirinya.

"Pagi."

Suaranya rendah.

"Nama gue Hector Folt."

"Mulai hari ini gue sekolah di sini."

Hanya itu yang di sampaikanya,seingkat padat dan jelas.

Tidak ada senyum ramah yang ia berikan.

Tidak ada basa-basi.

Malika memperhatikan pria itu.

Yang membuatnya lebih penasaran justru alasan kenapa ada murid pindahan di tengah semester seperti ini.

Malika kembali menghadap ke depan.

Dalam hati ia hanya berharap satu hal.

'Semoga yang satu ini bukan lagi tokoh

penting di novel .'

Karena dua orang saja sudah cukup membuat hidupnya jungkir balik.

Ia benar-benar tidak siap jika harus berurusan dengan orang ketiga.

Malika tidak tau berapa banyak Heremnya Rara, karena ia hanya membaca sedikit.

Yang ia tahu hanya Soren dan Banson yang turun langsung membunuh Malika asli di pertengahan bab, herem Rara yang lainya hanya ikut andil di balik layar.

Ia sudah cukup direpotkan dengan jalan cerita yang terus melenceng dari novel yang ia ingat.

Suara Bu Rina kembali terdengar.

"Untuk sementara kamu duduk di bangku belakang. Masih ada satu kursi kosong di sana."

Bangku itu dekat dengan bangku yang Malika duduki.

Hector mengangguk singkat.

"Baik, Bu."

Ia berjalan melewati deretan murid lain tanpa tergesa.

Saat melintas di samping meja Malika, langkahnya sempat melambat, sudut matanya melirik gadis itu.

Hanya sekilas.

Lalu kembali berjalan seperti tidak terjadi apa-apa.

Malika bahkan tidak menyadarinya, karena masih menyelam dalam pikirannya.

Namun di sudut lain Soren menyadarinya wajahnya muram, dengan alis menukik.

Jelas tidak suka.

Apa-apaan pemuda itu, jangan bilang dia tertarik pada gadisnya.

Dia saja belum mendapatkan gadis itu.

Fuck.

_______

For u🌺.

Jangan lupa, vote, like sama Coment.

Makasih banyak untuk yang udah mau baca ceritanya samapai sini.

See u next chapter.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!