Zivanna gadis 24 tahun yang sudah lulus kedokteran, praktek di rumah sakit besar menjadi Dokter muda. Menjadi seorang Dokter tidaklah mudah meski sudah berusaha keras. Zivanna mengalami kesulitan dan bahkan segala usahanya selalu tidak pernah terlihat.
Zivanna selalu menjadi bulan-bulanan orang-orang yang bertugas di rumah sakit, dianggap sepele bahkan dia Dokter yang lulus karena uang. Zivanna kerap kali dimarahi senior di depan banyak orang.
Dibalik semua itu tidak ada yang tahu bahwa dirinya adalah putri dari pemilik rumah sakit terbesar di Jakarta tempatnya bertugas.
Bukan hanya itu statusnya sebagai istri tersembunyi yang tidak ada mengetahui bahwa dia adalah istri Dokter senior yang bersikap dingin selama di rumah sakit kepadanya.
Pernikahan Zivanna dengan Dokter Pradikta penuh cerita dalam keterpaksaan pernikahan itu terjadi. Lalu bagaimana keduanya menghadapi pernikahan mereka dengan dunia pekerjaan dan juga rumah tangga mereka.
Jangan lupa untuk terus membaca....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 Pertemuan Itu.
Zivanna saat ini berada di lobby rumah sakit dengan kedua tangannya berada di saku jas putih yang selalu dia kenakan itu. Zivanna setiap hari akan terlihat begitu lelah dan entah apa yang dia kerjakan padahal pekerjaannya di rumah sakit itu dibatasi.
"Zivanna!" suara yang memanggilnya Zivanna mencari-cari kesana kemari dan sampai akhirnya melihat seorang wanita yang penampilannya sama sepertinya.
Wanita berhijab terlihat tersenyum menggunakan rok sepan yang dipadukan dengan blouse biru dengan balutan pashmina yang menjuntai rapi. Wanita dengan memiliki senyum lebar dan lesung pipit itu melambaikan tangannya.
"Nayla akan kembali dan Mama tidak tahu apakah kamu akan mengatakan kepadanya bahwa kamu sudah menikah dengan Zivanna?" Zivanna kesulitan menelan ludah.
Baru tadi malam wanita itu dibahas oleh ibu mertuanya dan sekarang wanita bernama Nayla itu sudah berdiri beberapa meter di hadapannya.
Nayla kemudian berjalan menghampiri Zivanna.
"Hey, kenapa kamu malah melamun seperti ini? Apa kamu kaget melihat kedatanganku?" tanya Nayla masih tersenyum lebar.
"Jadi benar apa kata Mama, jika dia akan kembali?" batin Zivanna terlihat lesu.
"Nayla....." lirih Zivanna.
"Yes, aku Nayla, aku pikir temanku ini sudah melupakanku dan tidak mengingatku lagi, dan ternyata masih mengenali diriku," ucap Nayla dengan tersenyum.
Zivanna menghela nafas mencoba untuk tenang menghadapi wanita dihadapannya itu
"Aku tidak melupakan kamu, hanya saja sedikit kaget dengan penampilan kamu yang sedikit berbeda," ucap Zivanna.
"Benarkah? Apa karena aku sekarang memakai hijab dan kamu tidak mengenaliku Makanya kamu terlihat bengong?" tanya Kiara.
"Ya, aku pikir tadi siapa," sahut Zivanna.
"Hmmmm, Zivanna manusia itu memiliki proses untuk menjadi lebih baik, sudah beberapa bulan belakangan ini aku memutuskan untuk menutup auratku, bagaimanapun aku harus mengejar akhirat," ucapnya
"Bagaimana dengan penampilan terbaruku?" Nayla sampai memutarkan tubuhnya ingin meminta pendapat Zivanna.
"Penampilan kamu sangat baik dan semoga saja kamu istiqomah dalam penampilan dan aku selalu memberikan doa yang terbaik untuk kamu," ucap Zivanna.
"Makasih Zivanna.... Temanku, aku benar-benar sangat merindukan kamu," Nayla sampai memeluk Zivanna begitu sangat erat tetapi respon Zivanna terlihat begitu dingin dan bahkan tidak membalas pelukan itu.
Nayla melonggarkan pelukannya dengan melihat sahabatnya itu.
"Hey, di mana Dokter Pradikta yang tampan itu?" tanya Nayla dengan wajah penasaran.
"Apa pria tampanku itu baik-baik saja?" tanyanya lagi memastikan.
Zivanna melepas pelukannya.
"Dia ada di dalam dan jika ingin menanyakan kabarnya, maka tanyakan saja secara langsung," jawab Zivanna.
"Kamu tidak memiliki rencana untuk mengantarku bertemu dengannya?" tanya Nayla.
"Hmmmm, aku masih harus memeriksa pasien," jawab Zivanna.
Nayla menghela nafas, terlihat begitu kecewa dengan penolakan sahabatnya itu.
"Dikta...." tiba-tiba saja wajah Nayla kembali mengeluarkan senyum lebar ketika pria yang ingin dia temui akhirnya muncul.
Nama Dikta dipanggil yang berjalan bersama suster menoleh ke arah suara tersebut terkejut dengan kehadiran Nayla di sana sesuai dengan apa yang dikatakan ibunya.
"Hey....." Nayla melambaikan tangannya seolah-olah menyuruh pria itu tetap datang menghampirinya. Zivanna juga menoleh ke belakang dan melihat kearah Dikta yang masih tetap bengong.
"Bagaimana kelanjutannya Dokter?" tanya Suster mengalihkan pikiran Dikta kembali fokus pada Suster yang sejak tadi mengobrol dengannya.
"Baiklah, kamu siapkan operasinya," ucap Dikta.
"Baik Dokter," sahut Suster menganggukkan kepalanya.
Lagi-lagi Nayla melambaikan tangannya mengajak Dikta untuk datang kepadanya. Dikta akhirnya menghampiri Nayla yang juga ada di Zivanna di sana.
"Nayla!" sapa Dikta.
"Hmmmm, Dikta aku benar-benar sangat merindukanmu!" Nayla tidak dapat menahan dirinya dan bahkan tidak menyadari bahwa dia sudah menjadi wanita yang memakai hijab.
Zivanna terlihat santai saja, hanya berekspresi biasa saja pada dua orang tersebut.
Nayla melonggarkan pelukan itu dengan menatap Dikta begitu dalam, sejak tadi Dikta memberikan ekspresi dingin tidak ada excited atau rasa kerinduan kepada Nayla seperti Nayla sepertinya yang hanya memiliki rasa kerinduan sendiri.
"Kamu ternyata bertambah tampan setelah beberapa lama kita tidak bertemu, aku menunggu hari ini untuk bertemu dengan kamu," ucap Nayla menatap penuh kerinduan kekasihnya itu.
"Ehemmm...." Zivanna tiba-tiba saja berdehem dengan menghela nafas.
"Baiklah, kalian sebaiknya mengobrol saja. Aku harus masuk ke dalam dulu untuk melanjutkan pekerjaanku," ucap Zivanna tidak mungkin menjadi obat nyamuk dari pasangan yang saling merindukan itu.
Zivanna tidak berpamitan terlalu intens dan langsung berlalu dari hadapan kedua orang yang ingin melepas kerinduan itu, tetapi Dikta justru memperhatikan begitu lama kepergian istrinya itu sampai sudah tidak terlihat lagi.
"Isssss, kenapa aku merasa jika Zivanna tampak begitu cuek, apa dia marah kepadaku karena aku tidak pernah menghubunginya?" tanya Nayla.
Tidak ada respon dari Dikta yang hanya tetap diam saja, dengan ekspresi yang tidak terbaca dan entahlah apa yang saat ini dia pikirkan.
"Hey Dikta!" tegur Nayla membuat Dikta kembali terbuyar dari lamunannya.
"Kamu juga kenapa tiba-tiba diam saja seperti ini? kamu sedang banyak pikiran?" tanya Nayla memastikan begitu intens.
"Tidak apa-apa, aku cukup kaget dengan kehadiran kamu yang tiba-tiba saja kembali ke Jakarta. Ayo cari tempat untuk berbicara!" ajak Dikta membuat Nayla menganggukkan kepala.
****
Zivanna bersama dengan Sherina terlihat makan seperti biasa di kantin rumah sakit.
"Zivanna, tadi aku melihat dokter Dikta tampak berbicara serius dengan seorang wanita berpenampilan seperti kamu memakai hijab dengan pakaian yang sama," ucap Sherina seperti melaporkan kepada sahabatnya.
"Lalu?" tanya Zivanna terlihat begitu santai sembari mengunyah makanannya.
"Hmmmm, aku tidak pernah melihat Dokter Dikta seakrab itu berbicara dengan seorang wanita, kira-kira siapa wanita itu dan seperti yang sangat spesial," ucap Sherina.
"Mungkin saja pacarnya," celetuk Zivanna.
"Sungguh wanita yang memakai hijab itu adalah pacarnya?" tanya Sherina memastikan dan terlihat begitu serius sekali ingin mengetahui kebenarannya.
Zivanna mengangkat kedua bahunya benar-benar tidak memberikan jawaban yang tepat.
"Issss, kamu apaan sih, tadi kamu bilang dia itu pacarnya dan sekarang kamu malah tidak yakin," laut Sherina merasa kecewa dengan pernyataan tidak jelas dari sahabatnya itu.
"Sherina aku mana tahu itu siapa, lagi pula memang diriku siapa yang tahu jika wanita yang kamu maksud adalah pacarnya atau tidak, aku hanya menebak-nebak saja ada mungkin saja iya," jawab Zivanna.
"Tetapi mungkin saja memang benar yang kamu katakan, karena tidak mungkin Dokter Dikta berbicara sembarangan dengan seorang wanita karena selama ini yang kamu ketahui dia jarang sekali berbicara dengan wanita dengan dekat seperti itu," ucap Sherina mengambil kesimpulan sendiri.
"Ya wanita itu memang adalah pacarnya," batin Zivanna.
Bersambung....