NovelToon NovelToon
Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Hanya karena latar belakangnya yang miskin, Naya selalu menjadi keset kaki di rumah suaminya, Reza. Puncaknya, Ningsih—sang ibu mertua—menuduh Naya mencuri uang puluhan juta rupiah. Tanpa mau mendengarkan penjelasan, Reza yang telanjur murka menurunkan Naya begitu saja di pinggir jalan tol yang sepi dan gelap.
Mereka tidak tahu bahwa Naya bukanlah wanita lemah tanpa kuasa. Di balik penampilannya yang sederhana, Naya adalah pewaris tunggal konglomerat yang sedang menyamar.


Langkah demi langkah, Naya mulai membalas. Mulai dari membekukan rekening, memecat Reza dari posisinya di perusahaan, menyita mobil, hingga mengusir mertuanya dari rumah mewah yang ternyata dibeli dengan uangnya. Di saat Reza dan Ibunya jatuh miskin dan mengemis di jalanan, sebuah kebenaran pahit terungkap: pencuri asli uang Ningsih adalah bukan Naya Saat penyesalan datang, pintu maaf Naya sudah tertutup rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Histeris Kehilangan Perhiasan

Bab 23: Keheningan yang Tak Bisa Menuduh

Pagi di pinggiran kota tidak pernah datang dengan kepakan sayap malaikat yang membawa kedamaian. Ia datang bagai mandor kasar yang menggedor pintu seng, membangunkan paksa raga-raga yang lelah dengan bau menyengat dari tumpukan sampah basah di ujung gang dan desis minyak jelantah dari wajan tetangga.

Di dalam kamar sewaan yang sempit itu, Ningsih terbangun dengan napas yang sesak. Kulitnya terasa gatal oleh gigitan tungau kasur yang tak kasat mata, dan tenggorokannya sekering tanah lempung yang retak di musim kemarau. Ia memandang langit-langit tripleks yang dihiasi noda rembesan air hujan menyerupai peta benua yang hilang—peta yang seolah menggambarkan ke mana perginya seluruh kemegahan masa lalunya.

Reza tidak ada di ruangan. Anak laki-lakinya itu telah pergi sejak subuh, berjalan kaki dengan harapan tipis untuk menemukan sisa-sisa kemurahan hati dari kawan-kawan lamanya yang belum memblokir nomor teleponnya.

Sunyi yang ditinggalkan Reza terasa begitu menindas. Rasa lapar yang mulai mencakar dinding lambung memicu kepanikan tersendiri di dalam dada Ningsih. Dengan gerakan yang terburu-buru, hampir histeris, wanita tua itu merangkak ke sudut kasur. Di bawah lipatan kasur busa yang apek, ia meraba-raba mencari sebuah kantong kain beludru hitam kecil yang sengaja ia sembunyikan rapat-rapat bahkan dari pandangan anaknya sendiri.

Kantong itu adalah sekoci terakhirnya. Di dalamnya tersimpan dua buah gelang emas rantai dan sebentuk cincin bermata kecubung—sisa-sisa harta yang sempat ia selamatkan dari amukan juru sita di Menteng.

Namun, ketika jemarinya yang keriput menyentuh lipatan kasur, kosong.

Jantung Ningsih seolah berhenti berdetak selama satu ketukan yang mematikan. Matanya membelalak liar. Ia menyentakkan kasur busa itu dengan kekuatan yang entah datang dari mana, membalikkan kasur tipis tersebut hingga debu semen berhamburan ke udara.

Tidak ada apa-apa di sana. Hanya ada lantai semen yang dingin dan kotor oleh remah-remah biskuit murahan yang mulai dikerubuti semut hitam.

"Tidak... tidak mungkin..." gumam Ningsih, suaranya gemetar hebat bagai daun kering yang tersapu angin puting beliung.

Ia merangkak ke arah lemari plastik yang pintunya telah copot sebelah. Dengan tangan yang gemetar liar, ia membongkar tumpukan daster dan pakaian lusuhnya. Pakaian-pakaian itu dilemparkannya ke lantai dengan kasar, membuat bilik sempit itu seketika menyerupai tempat pembuangan sampah kain. Ia mencari di sela-sela lipatan, di dalam saku-saku baju tua, hingga di kolong lemari yang dipenuhi sarang laba-laba.

Nihil. Kantong beludru hitam itu telah lenyap.

"Perhiasanku! Emas-emasku!" jerit Ningsih tiba-tiba, sebuah lengkingan parau yang memecah sunyi gang sempit, membuat beberapa ekor kucing kurap yang sedang mencari makan di luar jendela terkejut dan berlari menjauh.

Tangisnya pecah seketika, namun kali ini bukan tangisan dramatis penuh sandiwara yang biasa ia tunjukkan di Menteng demi memancing simpati. Ini adalah lolongan binatang buruan yang menyadari bahwa kakinya telah patah di tengah kepungan para pemangsa. Ia menjambak rambutnya yang putih abu-abu, mencakar dadanya sendiri yang terasa sesak luar biasa, dan memukul-mukul lantai semen yang dingin dengan telapak tangannya hingga memar kemerahan.

"Siapa yang mengambilnya?! Siapa yang tega merampok wanita tua renta yang tidak berdaya ini?!" ratap Ningsih di sela-sela napasnya yang memburu liar.

Secara refleks, mulutnya yang biasa memuntahkan bisa kebohongan mulai terbuka, bersiap merapal nama yang selama tiga tahun ini selalu menjadi tempat pembuangan sampah moralnya.

Naya... pasti ini ulah perempuan ibli—

Namun, kata-kata itu mendadak membeku di ujung lidahnya. Kalimat tuduhan itu terasa seperti duri beracun yang berbalik menusuk tenggorokannya sendiri hingga ia tercekik.

Di dalam bilik yang pengap itu, kebenaran yang dingin dan telanjang berdiri tegak di hadapannya, menatapnya dengan mata yang menghakimi.

Naya tidak ada di sini. Naya tidak pernah menginjakkan kakinya di gang sempit yang becek ini. Wanita yang dulu ia sebut sebagai "tikus selokan" itu kini telah kembali menjadi putri mahkota Atmadja Group, duduk di dalam griya tawangnya yang berlantai kaca di atas awan, dikelilingi oleh para pengawal bersetelan jas hitam yang harganya setara dengan sewa kontrakan ini selama sepuluh tahun. Untuk apa seorang permaisuri merangkak di dalam lumpur kemiskinan mereka hanya untuk mencuri sepasang gelang emas kecil yang bahkan tidak cukup untuk membeli satu botol parfum mahalnya?

Tuduhan itu tidak logis. Tuduhan itu mati sebelum sempat dilahirkan.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, Ningsih tidak memiliki kambing hitam. Untuk pertama kalinya, ia tidak bisa mengarahkan telunjuknya yang gemetar ke arah Naya. Dan kekosongan itu terasa jauh lebih mengerikan daripada kehilangan emasnya sendiri.

Pintu plastik kamar mandi miring itu terbuka dari luar, menampilkan sosok Reza yang baru saja kembali dengan wajah yang kusam dan dipenuhi abu jalanan. Napasnya terengah, matanya yang cekung menatap kekacauan di dalam ruangan dengan pandangan muak yang tak lagi disembunyikan.

"Ibu sedang gila apa lagi pagi-pagi begini?!" tanya Reza, suaranya parau dan dingin, begitu datar tanpa ada sisa-sisa kepedulian seorang anak.

"Reza... Reza, emas Ibu hilang!" Ningsih merangkak mendekat, mencoba memeluk lutut Reza, namun pria itu dengan kasar menarik kakinya mundur, membiarkan ibunya terduduk lemas di atas semen kotor. "Gelang emas Ibu... cincin kecubung Ibu yang Ibu simpan di bawah kasur... semuanya hilang, Reza! Seseorang telah mencurinya!"

Reza menatap ibunya dengan senyum getir yang tampak begitu mengerikan di wajahnya yang tirus. "Emas? Ibu menyembunyikan emas di saat aku harus berjalan kaki sejauh lima kilometer hanya untuk mencari pinjaman uang demi membeli beras?"

"Ibu sengaja menyimpannya untuk keadaan darurat, Reza! Tapi sekarang semuanya hilang!" ratap Ningsih, air matanya membasahi bedak murahnya yang luntur, menciptakan coretan abu-abu yang menyedihkan di pipinya yang kendur. "Ini pasti... pasti tetangga-tetangga miskin di sebelah itu yang mengambilnya! Atau... atau orang-orang leasing yang dulu!"

Reza tertawa pendek—tawa getir yang terdengar seperti gesekan dua bilah pisau berkarat. Ia berjalan ke sudut ruangan, menyandarkan punggungnya pada dinding tripleks yang lembap.

"Tetangga sebelah tidak pernah masuk ke sini, Ibu. Dan orang leasing sudah pergi berminggu-minggu lalu," bisik Reza, matanya menyipit menatap ibunya dengan tatapan yang dingin. "Hanya ada tiga orang yang memiliki kunci ruangan ini. Aku, Ibu... dan keponakan saleh kesayangan Ibu."

Mendengar nama itu tidak disebut secara langsung, dada Ningsih terasa seperti dihantam palu godam. Bibirnya yang pucat bergetar hebat. "A-Andi...? Tidak... tidak mungkin Andi melakukannya... Andi anak yang berbakti... dia rajin beribadah... dia tidak mungkin..."

"Andi yang mengusulkan agar Ibu menyimpan kalung safir di dalam laci hari itu, kan?" cecar Reza, melangkah maju hingga bayangannya yang jangkung dan tirus menutupi tubuh ibunya yang terduduk lemas. "Andi yang selalu tahu di mana Ibu menyimpan sisa uang belanjaan. Dan kemarin malam... siapa yang pamit keluar paling terakhir dengan alasan ingin membelikan obat untuk Ibu, padahal dia pulang dengan tangan kosong?"

Ningsih menggelengkan kepalanya dengan liar, mencoba menolak kenyataan yang mulai merayap naik dan mencekik akal sehatnya. Namun, setiap ingatan tentang bagaimana Andi selalu bersikap manis di saat-saat kehilangan uang terjadi di rumah Menteng dulu, kini berputar kembali bagai gulungan film hitam-putih yang memuakkan.

"Kita telah membuang wanita yang tulus melindungi kita..." bisik Reza, suaranya mendadak melemah, dipenuhi oleh akumulasi penyesalan yang teramat sangat hingga matanya yang merah berkaca-kaca. "...dan kita memelihara serigala berbulu domba di dalam selimut kita sendiri."

Ningsih bungkam seketika. Tangisnya terhenti, digantikan oleh kesunyian yang mengerikan yang merayap di antara mereka. Di dalam bilik sempit yang panas itu, untuk pertama kalinya, sang sosialita Menteng menyadari bahwa musuh yang sesungguhnya tidak pernah datang dari luar, melainkan dari dalam darah daging yang ia agungkan sendiri di atas altar kesombongannya.

1
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 rasain kesombongan dan keangkuhan kamu dan ibumu Reza
sunaryati jarum
Kok banyak cerita seperti ini, karena saking cintanya atau menguji kesetiaan pasangan
Grey Casanova: ceritanya pasaran dong kak🤭🤭
total 1 replies
sunaryati jarum
Baru mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!