NovelToon NovelToon
Penguasa Para Dewa

Penguasa Para Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kelahiran kembali menjadi kuat / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Angin malam berhembus dingin, membawa aroma pinus yang tajam menyapu halaman belakang sekte pinggiran. Lin Chen duduk bersila di atas batu basal yang dingin, menarik napas panjang. Malam ini terasa berbeda. Setelah bertahun-tahun menderita dan dihina oleh sesama murid, ia akhirnya bangkit dan menyadari satu kebenaran mutlak yang selama ini tertidur di dalam darahnya: tubuhnya sama sekali bukanlah sampah. Meridian yang selama ini tersumbat perlahan mulai beresonansi, menandakan ia telah melangkah mantap di tahap awal kultivasi, yakni ranah Penempaan Tubuh.

Ia membuka mata perlahan. Tepat pada saat itu, dari kejauhan di bawah cahaya bulan purnama yang pucat, pandangannya tertuju pada sesosok gadis yang sedang berdiri di anjungan tebing.

Gadis itu adalah Su Qingyue. Untuk pertama kalinya, Lin Chen melihatnya dari jarak sejauh ini, tampak sangat dingin dan cantik tiada tara, seolah-olah ia bukanlah makhluk yang berasal dari dunia yang fana ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Badai di Arena Bintang

Matahari bersinar terik tepat di atas Arena Bintang, sebuah pelataran raksasa yang terbuat dari batu obsidian hitam yang dirancang khusus untuk menahan benturan energi kultivator tingkat tinggi. Hari ini, tribun penonton yang mengelilingi arena itu penuh sesak. Ribuan murid pelataran luar hingga murid inti berkumpul, menghentikan aktivitas kultivasi mereka hanya untuk menyaksikan satu hal: eksekusi seorang murid baru yang sombong.

Di tengah arena, Liu Zhan berdiri dengan tangan terlipat di dada. Pedang raksasa bergerigi bertengger di punggungnya. Fluktuasi Qi berwarna ungu pekat berputar liar di sekeliling tubuhnya, menciptakan distorsi udara yang membuat napas para murid di barisan depan terasa sesak.

"Sudah lewat tengah hari. Jangan-jangan tikus dari sekte pinggiran itu sudah melarikan diri dari akademi?" cibir salah satu anggota Fraksi Harimau Ungu dari pinggir arena, memancing tawa meremehkan dari kerumunan.

Namun, tawa itu seketika terhenti.

Dari ujung lorong masuk arena, terdengar langkah kaki yang pelan namun sangat mantap. Setiap langkahnya seolah seirama dengan detak jantung bumi. Lin Chen muncul dari balik bayangan. Pakaiannya masih jubah abu-abu sederhana, tidak ada artefak pelindung mewah, dan tidak ada senjata di tangannya.

Meski fluktuasi Qi-nya masih berada di ranah Pengumpulan Qi Tingkat 3, aura yang dipancarkannya sama sekali berbeda dari satu bulan yang lalu. Ia tenang, terlalu tenang, layaknya kedalaman samudra sesaat sebelum tsunami melanda.

Di anjungan khusus murid elit, Su Qingyue berdiri tegak dengan jubah putihnya yang berkibar pelan. Tangannya yang sejak tadi mencengkeram pembatas batu giok hingga memutih, perlahan mengendur saat melihat sosok pemuda itu. Ia selamat dari latihan nerakanya.

Lin Chen melompat ringan ke atas arena obsidian, berdiri tepat dua puluh langkah di hadapan Liu Zhan.

"Aku kira kau sudah memotong tanganmu sendiri dan merangkak pulang," dengus Liu Zhan, senyum haus darah mengembang di wajahnya yang dihiasi bekas luka. "Tapi baguslah kau datang. Meremukkan tulangmu dengan tanganku sendiri akan jauh lebih memuaskan."

"Kau terlalu banyak bicara untuk seseorang yang waktu hidupnya tinggal sebentar lagi," balas Lin Chen dengan nada datar yang sedingin es.

Wasit pertarungan, seorang diaken berjubah hitam, melangkah ke tepi arena. "Pertarungan hidup dan mati. Tidak ada batasan teknik. Senjata diizinkan. Kematian atau kehancuran Dantian di atas arena ini tidak akan dituntut oleh hukum akademi. Mulai!"

Begitu kata "mulai" diteriakkan, batu obsidian di bawah kaki Liu Zhan langsung retak.

Pemuda bertubuh besar itu melesat dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Ia mencabut pedang bergerigi dari punggungnya. Energi Qi ungu meledak, membentuk bayangan harimau raksasa yang mengaum membelah langit. Ini adalah teknik andalan Fraksi Harimau Ungu, Tebasan Harimau Penelan Jiwa, yang dieksekusi dengan kekuatan penuh dari seorang kultivator di puncak Tingkat 9!

Udara di dalam arena tersedot habis. Tekanan dari tebasan itu begitu mengerikan hingga beberapa murid di tribun harus menutup telinga mereka karena gendang telinga mereka berdarah.

Diaken wasit bahkan sudah bersiap untuk membersihkan sisa-sisa daging Lin Chen. Tidak mungkin seorang kultivator Tingkat 3 bisa selamat dari tebasan yang bahkan bisa membunuh seorang ahli di tahap awal Pondasi Abadi itu.

Namun, Lin Chen tidak mundur selangkah pun.

Di dalam Dantian-nya, suara Tua Hitam bergema serius. "Bocah, buktikan hasil penderitaanmu! Tunjukkan pada mereka apa itu kekuatan yang mampu menghancurkan bintang!"

Lin Chen menarik napas pendek. Darah gajah purbanya mendidih. Ia memutar Teknik Penempaan Tubuh Gajah Purba hingga ke batas maksimal, mengubah seluruh struktur tulang dan meridiannya menjadi setangguh artefak bumi. Bersamaan dengan itu, ia menarik tinju kanannya ke belakang.

Seluruh energi Qi di Dantian-nya tersedot habis dalam sekejap, dikompresi secara gila-gilaan ke satu titik di kepalan tangannya. Cahaya emas-hitam yang pekat meledak dari tinjunya, menciptakan pusaran gravitasi yang membelokkan cahaya di sekitarnya.

Teknik Tinju Penghancur Bintang Purba: Tingkat Pertama!

Tepat saat pedang bergerigi Liu Zhan berjarak kurang dari satu jengkal dari lehernya, Lin Chen melontarkan tinjunya lurus ke depan, menghantam langsung mata pedang tersebut.

BAMMM—!!!

Suara ledakan yang terjadi tidak seperti suara benturan senjata, melainkan seperti guntur langit yang menyambar langsung ke dasar bumi. Gelombang kejut raksasa meledak dari titik benturan, menghancurkan pelindung energi arena dan menghempaskan puluhan murid di tribun terdepan ke belakang.

Debu pekat menutupi seluruh arena. Keheningan mencekik ribuan penonton. Jantung semua orang berdegup kencang, menanti siapa yang masih berdiri.

Perlahan, angin menyapu debu tersebut.

Pemandangan di atas arena membuat bola mata sang diaken wasit nyaris melompat keluar dari rongganya.

Lin Chen masih berdiri tegak di posisi asalnya. Tangan kanannya sedikit berasap, namun sama sekali tidak terluka. Di depannya, pedang bergerigi tingkat tinggi milik Liu Zhan telah hancur berkeping-keping menjadi serpihan logam sebesar debu.

Dan Liu Zhan...

Pemuda bertubuh besar itu terkapar belasan meter di ujung arena. Seluruh pakaian sutra ungunya hancur. Lengan kanannya yang digunakan untuk memegang pedang telah hancur total, menyisakan daging dan tulang yang bengkok tak karuan. Darah mengalir deras dari mata, hidung, dan mulutnya.

Namun, yang paling mengerikan adalah fluktuasi Qi di tubuhnya. Dantian milik Liu Zhan telah hancur lebur tanpa sisa. Gelombang kekuatan tinju Lin Chen tidak hanya menghancurkan serangannya, tetapi langsung menembus dan memusnahkan fondasi kultivasinya secara permanen.

Seorang penguasa pelataran inti di puncak Tingkat 9, telah dihancurkan hingga menjadi manusia cacat hanya dengan satu pukulan!

"A-aku... kekuatanku..." Liu Zhan mengerang putus asa, darah menyembur setiap kali ia berbicara. Matanya menatap Lin Chen dengan teror yang murni.

Lin Chen menurunkan tangannya perlahan. Ia berjalan mendekati tubuh Liu Zhan yang gemetar hebat, langkahnya menggema di tengah keheningan arena yang membeku.

"Aku sudah bilang padamu sebulan yang lalu," ucap Lin Chen dingin, suaranya menyebar ke seluruh penjuru tribun, memastikan setiap murid inti mendengarnya. "Gunakan 30 hari itu untuk mencari tabib terbaik. Karena mulai hari ini, kau bukan lagi seekor harimau, melainkan cacing yang kehilangan taringnya."

Fraksi Harimau Ungu di pinggir arena mematung pucat pasi. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani melangkah maju untuk membalas dendam. Hukum rimba di Akademi Bintang Tujuh adalah mutlak: yang kuat memangsa yang lemah. Hari ini, harimau itu telah dimangsa oleh naga yang baru saja terbangun.

Di kejauhan, di anjungan elit, Su Qingyue menghembuskan napas yang sedari tadi ia tahan. Di balik ekspresinya yang sedingin es, seulas senyum lega yang sangat manis dan tulus mekar di bibirnya. Pemuda itu benar-benar menepati janjinya. Ia tidak sekadar bertahan hidup; ia baru saja mendeklarasikan dominasinya kepada seluruh dunia.

1
Murdiat Hariyanto
tor klau bisa kata2 Gadis yg tampak seolah bukan berasal dari dunia fana itu sebaikkan di hilangkan atau di ganti..bosan tiap bab selalu itu2 sja yg di bilng...ini hanya masukkan sja
mbono keling
🙏💪💪👍👍
mbono keling
💪💪💪💪👍👍👍👍
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Bernard
Mantap sekali Thor👍👍
mbono keling
💪💪💪👍👍👍👍💪💪💪👍👍👍
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
GEDE JAYANEGARA
bintang Toedjoe, obt sakit kepla
mbono keling
💪💪💪👍👍👍👍👍👍👍
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
mbono keling
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪
Bernard
Pleaseee.., tolong di lanjut
Sang_Imajinasi: lanjut terus kok kak tiap hari jam 3 sore
total 1 replies
Arinto Ario Triharyanto
yoi
Bernard: Sangat bagus.., tolong lanjutkan 🙏
total 1 replies
saniscara_Patriawuha
gasss pollll manggg minnnn..
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!