NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Alyra

Suami Dadakan Untuk Alyra

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Hamil di luar nikah
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lylia Yuu

“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”

Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.

Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.

Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SDUA 19

“Nyolong?!” Alyra tentu saja terkejut bukan main. “Maksud, Lo apa sih, Sa?”

“Alah … nggak usah ngelak lagi, ya, Lo. Jelas-jelas buktinya udah ada, berlian itu ditemukan di dalam tas murahan Lo itu!” Velisa berkata lantang, bicaranya bernada sinis.

“Tante … ini maksudnya apa, ya?” Alyra kini menatap ke arah Maya, sosok wanita yang sedang memegang tas miliknya dan sebuah kotak berisi berlian di tangan sebelah kiri.

Maya terlihat bingung, tak tahu harus bicara apa. Memang benar kotak itu berada di dalam tas milik Alyra, namun tak ada bukti apapun bahwa Alyra-lah yang mencurinya.

“Begini, Alyra … saat saya menghitung ulang total amplop dan kotak berlian, ada hilang. Dan ini ….” Ia angkat kotak perhiasan berwarna merah maroon. “Kotak berlian ini saya temukan di dalam tas kamu.”

“Hah?!” Mata Alyra membelalak. “Bagaimana mungkin? Gimana barang itu bisa ada di dalam tas saya?”

“Ya mana kita tau, kan Lo pencurinya!” Velisa terus menyerang dengan tuduhan tak mendasar.

“Velisa Lo diem, ya!” bentak Alyra, tatapannya sedikitpun tak bergetar.

Yang dihardik seketika menutup mulut, menelan ludah, namun tatapannya tetap angkuh.

“Tante … saya nggak mungkin ngambil barang itu. Pasti ada kesalahan—”

“Kamu pikir ketua kami mengada-ngada? Jelas-jelas semua orang juga melihat kalau Jeng Maya menemukan berlian itu di dalam tas butut kamu itu!” sergah Lusi, bibirnya terus berkedut sinis. “Begini, nih, sikap template seorang maling! Terus mengelak, padahal bukti sudah cukup kuat di depan mata!”

“Jaga bicara, Tante, ya. Apa ada bukti saat saya mengambil dan memasukan barang itu ke dalam tas saya? Ada?!” tanya Alyra dengan tegas. “Kalau memang ada, mana buktinya? Tunjukan ke semua orang!” tantangnya kemudian.

“Alyra … Alyra … Lo tuh, ya. Nggak pernah berubah.” Velisa masih tak mau diam, seolah memanfaatkan keadaan untuk menyerang. “Nggak belajar dari pengalaman silam, belum kapok juga Lo pernah di D.O sama dosen gara-gara nyolong jam tangan branded! Oh ya, lupa. Harusnya gue bilang ke dosen waktu itu suruh penjara aja sekalian biar tangan panjangnya ini nggak jadi kebiasaan!”

“Oh … rupanya sudah tabiatnya, ya, tangan panjang begini.” Lusi tersenyum miring, menatap tak suka pada sosok menantu temannya. “Jeng Zaskia … nemu di mana sih perempuan rendahan begini? Sayang banget anak laki-lakinya harus menikah sama pencuri!”

Zaskia mengepalkan tangan dengan kuat, tak hanya menahan malu, harga dirinya telah jatuh ke bawah. Ia segera mendekati Alyra — perempuan yang dianggapnya pembawa sial.

“Sudah, Alyra. Tundukan kepalamu, minta maaflah dengan tulus, bila perlu kau harus berlutut di depan semua orang,” kata Zaskia dengan suara ditekan pelan. “Kamu sudah bikin mama malu, tau nggak!”

“Ma, Alyra nggak mencuri, bukan aku pelakunya.” Ia menjawab dengan berani. Ia lalu menyapu tiap sudut ruangan. “Memangnya di ruangan ini nggak ada cctv?”

‘Apa! Cctv?’ Velisa meneguk ludah, matanya ikut menelisik setiap sudut ruangan.

Zaskia terlihat geram, namun berusaha tetap menjaga wibawa di depan anggota gengnya. “Dengarkan mama, kita bisa urus itu nanti, yang penting sekarang minta maaf dulu. Jangan bikin mama malu!”

“Aku nggak mau!” tolak Alyra dengan tegas. “Untuk apa aku meminta maaf padahal tak melakukan kesalahan apapun!”

Plak!

“Dasar perempuan nggak tahu diri!” hardik Zaskia, ia baru saja melayangkan satu tamparan tepat di pipi kiri Alyra. “Mama sudah memberimu kesempatan untuk minta maaf. Kenapa kamu sangat keras kepala, hah? Bikin malu aja!”

Alyra masih menoleh ke kanan, tak ada sedikitpun ekspresi kesakitan, sorot matanya tetap datar.

Sudut bibirnya terangkat, mencetak senyum seringai. “Siapa Anda berani menampar saya?” Ia menoleh perlahan, membidik Zaskia dengan tatapan tajam.

Zaskia semakin meradang, matanya mendelik. “Berani-beraninya kamu melotot di depan ibu mertuamu!”

Tanpa mereka sadari, sejak beberapa saat lalu sosok berwajah dingin terus mengawasi pertikaian di ruang tamu, dari ambang pintu.

Zaskia mengangkat tangan ke udara, hendak kembali menjatuhkan tamparan kedua kalinya.

“Cukup!” suara berat sosok yang terus menatap dalam diam, berhasil membuat Zaskia mengurungkan niat, menarik kembali tangannya.

Sontak semua mata beralih, menatap terkejut pada pemuda rupawan yang menyeringai sengit.

“Apa-apaan ini?” Erlan berkata tegas, menyapu semua insan dengan tatapan tajam.

Zaskia meneguk ludah kasar. Meski dirinya tak pernah terang-terangan menunjukkan kasih sayang pada putra keduanya, bagi dirinya, Erlan tetap sosok yang cukup menakutkan ketika amarah mulai menguasai. Jemarinya saling bertaut erat, tatapannya tampak bergetar menahan cemas.

Sementara itu, Velisa langsung bersembunyi di balik punggung ibu mertuanya, tak berani menatap sang adik ipar. Raut wajah Erlan sudah memerah, sorot matanya setajam pembunuh berdarah dingin yang tengah berusaha menahan ledakan emosi.

Alyra menatap tak percaya pada sosok lelaki yang telah resmi menjadi suaminya. ‘Anzay! Dia datang tepat waktu,’ Ia pun tersenyum miring.

Alyra memperhatikan sekitar, semua orang terlihat diam tanpa suara, seolah tak memiliki nyali untuk menatap suaminya.

“Sayang ….” Raut wajah yang tadi berani, kini berubah sendu, bibirnya mengerucut, ia berlari pelan mendekati Erlan.

Langsung ia sergap tubuh tinggi berdada bidang, Alyra memeluk Erlan dengan erat. “Kenapa kamu lama sekali? Aku kesulitan bertahan di rumah ini sendirian,” ucapnya dengan nada suara manja.

Air matanya mengalir, namun penuh dusta, ia mulai bermain peran dengan suaminya.

“Apa yang terjadi?” Erlan melerai dekapan, membingkai wajah mungil istrinya. Matanya menangkap bekas jari-jari kasar di pipi kiri Alyra. “Siapa yang melakukan ini padamu?”

Wajah sembab bersimbah air mata itu membuat Erlan tampak luluh, sorot matanya tak lagi setajam tadi. Ia masih diam, menunggu sang istri memberi jawaban.

Alyra menunduk, suaranya terdengar parau. “Aku dituduh mencuri berlian, lalu mama Zaskia menamparku karena aku nggak mau untuk berlutut meminta maaf,” ujar Alyra, ucapannya nyata, tiada dusta.

Erlan tak lagi menatap lembut, ia membidik dua orang dengan tatapan yang menghujam, yakni Zaskia dan Velisa. “Mama menampar istriku?” desisnya tajam.

Zaskia berusaha tetap tenang, meski degup jantungnya bergemuruh, raut wajahnya panik.

“Iya, benar!” Sikapnya masih tetap pongah. “Karena dia sudah bikin mama malu!”

“Tante Maya?” Erlan kini menatap ketua geng sosialita, sosok yang memang sudah cukup lama dikenalnya.

“Iya, Erlan.” Maya menyahut dengan suara bergetar, tatapan Erlan cukup menakutkan.

“Kapan terakhir kali Tante melihat kotak warna merah itu, sebelum dihitung ulang?” Ia menyorot ke arah kotak berlian yang masih digenggam Maya.

“Lima belas menit yang lalu, semua kotak ini berjejer di meja dekat sofa, sebelum akhirnya saya pindahkan ke meja tengah untuk dihitung ulang,” sahut Maya.

“Sayang,” suara Erlan terdengar lembut, menatap penuh kasih pada Alyra. “Di mana posisi dudukmu saat lima belas menit yang lalu?

“Lima belas menit lalu?” Alyra mengangkat alis, masih menatap sendu. “Aku ke toilet, Mas.”

Erlan menarik napas panjang, sebelum akhirnya berkata tegas. “Kita periksa saja cctv di ruangan ini, supaya cepat ketemu pelaku sebenarnya. Pasti ada seseorang yang berusaha menjebak istri saya.”

Pria itu menatap dingin ke arah Velisa — istri kakaknya.

“Apa! Cctv?!”

*

*

Bersambung.

1
partini
jajat sekali kalian,,tapi orang selalu berhasil wehhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!