“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”
Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Mahkota yang Luruh dan Laporan di Atas Meja
Cahaya mentari pagi menyelinap di antara celah gorden kamar utama di kawasan Menteng, namun bagi Alika, hangatnya tak lagi terasa sama. Ia berdiri mematung di hadapan cermin meja rias. Di atas permukaan marmer putih yang dingin, helaian rambut hitam panjangnya berserakan, gugur satu demi satu setelah disisir dengan sangat hati-hati. Penipisan itu kini tampak nyata, terutama di bagian belahan rambut tengahnya.
Dengan jemari yang sedikit bergetar menahan sesak, Alika membuka laci paling bawah. Ia mengambil sebuah hairpiece—aksesori rambut tambahan berupa rambut palsu parsial yang ia beli secara daring tadi malam. Dengan ketelitian seorang manajer humas yang terbiasa menjaga estetika, Alika menjepitkan rambut tambahan tersebut. Ia menyisirnya perlahan hingga menyatu sempurna dengan rambut asli, lalu membubuhkan sedikit hair powder guna menyamarkan kulit kepala yang mulai terlihat memutih.
Tok! Tok!
Pintu kamar diketuk pelan. Murni melangkah masuk membawa segelas jus sayuran hijau serta nampan sarapan. Namun, saat tatapannya tak sengaja jatuh pada gumpalan rambut di atas meja rias, asisten setia itu refleks menutup mulut, berusaha meredam pekikan ngeri.
"Bu... Ibu Alika... rambut Ibu..." Murni mendekat dengan wajah pucat dan mata yang mulai berkaca-kaca melihat sisa-sisa mahkota majikannya.
"Murni, tolong," potong Alika lirih namun penuh penekanan. "Bersihkan ini semua. Buang ke tempat sampah di luar kamar. Jangan sampai ada satu helai pun yang tertinggal di lantai atau di dalam bilik mandi."
"Tapi, Bu, ini sudah tidak wajar. Rambut rontok sebanyak ini... apakah ini efek samping obat yang kemarin?" tanya Murni cemas sembari bergegas memunguti helaian rambut itu menggunakan tisu. Tangannya ikut gemetar.
"Ini hanya karena stres, Murni. Dokter Raditya sudah bilang kalau tubuhku hanya sedang lelah," Alika berbohong, kembali memasang topeng ketenangannya. Ia memulas lipstik merah bata ke bibir, menatap pantulan dirinya yang kembali tampak sempurna. "Dan yang terpenting, Mas Narendra tidak boleh tahu soal ini. Kamu mengerti?"
Murni hanya bisa mengangguk pasrah. Hatinya teriris melihat bagaimana sang majikan harus menyembunyikan penderitaan fisik sedemikian rupa demi menjaga ego suaminya.
Sementara itu, di lantai lima puluh gedung Artha Group, suasana di ruang kerja Narendra terasa begitu mencekam. Joshua berdiri tegap di depan meja besar, menyerahkan sebuah map kulit hitam berisi informasi mendalam.
"Ini data yang Bapak minta mengenai dr. Raditya Mahendra, Sp.PD," ucap Joshua dengan nada suara yang rendah dan terjaga.
Narendra membuka map tersebut. Sepasang mata elangnya langsung menelusuri baris demi baris informasi yang tersaji.
Profil Medis: dr. Raditya Mahendra
- Lulusan terbaik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
- Spesialis Penyakit Dalam dengan sub-spesialisasi yang sedang ditempuh di bidang Imunologi Klinis.
- Usia: 32 tahun. Status: Belum menikah.
- Latar belakang keluarga: Anak tunggal dari mendiang Profesor Mahendra, mantan dewan penasihat medis nasional. Rekam jejak bersih dari skandal politik maupun korporasi.
"Belum menikah," desis Narendra pelan, diiringi seringai sinis yang menyiratkan bahaya.
Dalam benak Narendra yang dipenuhi keangkuhan, profil Raditya yang terlampau sempurna justru menjadi ancaman bagi harga dirinya. Seorang dokter muda, tampan, mapan, dan berperangai lembut—sangat bertolak belakang dengan dirinya yang keras dan dominan. Narendra langsung berasumsi bahwa Alika sengaja mencari pelarian yang memiliki sifat berkebalikan dengannya demi membalas dendam atas kesepakatan open marriage yang mereka jalani.
"Apa ada laporan dari tim lapangan mengenai aktivitas mereka hari ini?" tanya Narendra sembari menutup map dengan sentakan keras.
"Hari ini Nyonya Alika tidak terdeteksi melakukan kontak atau perjalanan ke Rumah Sakit Medika Utama, Pak. Beliau berada di ruangannya sejak jam delapan pagi," jawab Joshua.
Narendra bangkit dari kursi kebesarannya, melangkah menuju dinding kaca raksasa yang menampilkan hiruk-pikuk kota di bawah sana. "Tetap awasi. Jangan longgarkan pengawasan sedikit pun. Dan Joshua... jadwalkan saya untuk makan siang di kantin eksekutif lantai sepuluh hari ini."
Joshua sempat tertegun. Sang CEO tidak pernah menginjakkan kaki di kantin karyawan, bahkan yang setingkat eksekutif sekalipun. Biasanya, makan siang Narendra selalu disiapkan oleh restoran bintang lima atau dihidangkan di ruang rapat privat. Namun, Joshua paham betul apa yang ada di lantai sepuluh: itu adalah markas divisi Hubungan Masyarakat, tempat Alika bekerja.
Tepat pukul 12.30 siang, kantin eksekutif lantai sepuluh mendadak sunyi saat pintu kaca otomatis terbuka dan sosok Narendra Pradipta melangkah masuk. Kehadirannya yang tiba-tiba layaknya badai yang seketika menghentikan seluruh obrolan karyawan. Narendra mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, hingga matanya menemukan Alika yang sedang duduk di sudut dekat jendela bersama Murni.
Narendra melangkah tegap menghampiri meja istrinya. Beberapa manajer yang berpapasan dengannya langsung menunduk hormat, namun Narendra mengabaikan mereka. Fokusnya hanya tertuju pada satu titik.
"Boleh saya bergabung, Nyonya Pradipta?" suara bariton Narendra menginterupsi keheningan di meja itu.
Alika mendongak, matanya sedikit membelalak mendapati suaminya berdiri di sana. Murni yang ketakutan langsung bangkit, berpamitan dengan gugup, dan meninggalkan baki makanannya yang bahkan belum habis.
Alika segera menguasai diri. Ia meletakkan garpu, menatap Narendra yang kini sudah duduk di hadapannya tanpa permisi. "Suatu kehormatan bagi divisi Humas dikunjungi oleh CEO. Ada angin apa, Mas?"
Narendra tidak langsung menyahut. Matanya menelisik wajah Alika dari jarak dekat. Ia menyadari ada yang berbeda dari penampilan istrinya. Gaya rambut Alika yang biasanya diikat ponytail sederhana, hari ini berganti menjadi sanggul rendah yang tebal dan sangat rapi, menutupi seluruh bagian atas kepala hingga tengkuk dengan rapat.
Mengubah gaya rambut? pikir Narendra sinis. Untuk siapa kamu berdandan sespesifik ini, Alika? Untuk menarik perhatian dokter muda itu?
"Saya hanya ingin melihat bagaimana kinerja istri saya setelah beberapa hari ini sibuk dengan 'urusan pribadinya'," sindir Narendra, menekankan dua kata terakhir dengan volume suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Kamu terlihat berbeda hari ini. Rambut baru?"
Alika merasakan jantungnya berdegup kencang, disusul desir ketakutan yang samar. Apakah Narendra menyadari rambut palsu yang ia kenakan? Alika mengepalkan tangan di bawah meja untuk menyembunyikan getaran sendinya yang mulai terasa ngilu akibat embusan dingin pendingin ruangan.
"Hanya mencoba gaya baru agar terlihat lebih formal di depan investor, Mas," jawab Alika sedatar mungkin, berusaha menjaga agar suaranya tidak bergetar.
Narendra mengulas senyum tipis yang penuh intimidasi. Ia memajukan tubuhnya, menumpu dagu dengan satu tangan. "Baguslah kalau begitu. Karena besok malam, Artha Group akan mengadakan gala makan malam perayaan ulang tahun korporasi di Hotel Ritz-Carlton. Sebagai istri saya, kamu harus mendampingi saya di meja utama."
Narendra menjeda kalimatnya, matanya berkilat tajam. "Dan saya tidak menerima alasan sakit, lelah, atau janji dengan vendor lain malam itu, Alika. Datanglah dengan penampilan terbaikmu, karena seluruh mata media akan tertuju pada kita."
Alika menatap suaminya, menyadari bahwa gala itu bukan sekadar acara perusahaan, melainkan panggung yang disiapkan Narendra untuk memamerkan kepemilikannya. Itu adalah peringatan tak kasat mata agar Alika tidak melewati batas rantai yang telah dipasang. Di balik senyum patuhnya, Alika tahu bahwa esok malam akan menjadi ujian fisik terberat bagi tubuhnya yang kian hari kian digerogoti oleh peradangan misterius.