NovelToon NovelToon
PECUNIA ABSOLUTE: The True Heiress Buys Her Destiny

PECUNIA ABSOLUTE: The True Heiress Buys Her Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Di kehidupan pertamanya, Valerie Vespera mati sebagai pecundang. Sebagai putri kandung konglomerat Elrod yang tertukar sejak bayi, dia malah dibuang ke gudang pengap demi menjaga perasaan si anak angkat palsu yang manipulatif. Tiga tahun dia habiskan mengemis kasih sayang, hingga akhirnya mati dikhianati.
Kini, takdir memutar kembali jarum jam. Valerie terbangun di hari penjemputannya di usia 18 tahun. Namun, Valerie yang naif telah mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: KABAR BURUK DARI SUDIRMAN

Bab 23: Kabar Buruk dari Sudirman

Suasana di dalam Grand Ballroom Hotel Mulia, yang tadinya merupakan definisi dari kemewahan dan kesuksesan yang diagungkan oleh para elit Jakarta, kini telah bermutasi menjadi sebuah simfoni kekacauan yang mencekam. Suara orkestra yang tadi mengalun anggun, kini tenggelam oleh desas-desus yang menyebar lebih cepat daripada api di musim kemarau. Para tamu, yang sebelumnya sibuk memamerkan kekayaan dan koneksi mereka, kini terjebak dalam pusaran ketidakpastian yang memuakkan.

Gilbert Elrod masih berdiri terpaku di dekat panggung utama, tepat di titik di mana ia tadi dengan angkuh sesumbar mengenai masa depan Elrod Corp yang tak tergoyahkan. Di lantai marmer yang dingin di depannya, ponsel mahalnya tergeletak setelah tadi ia jatuhkan dalam kondisi speaker yang masih aktif karena saking syoknya. Suara dari sekretaris utamanya di seberang telepon masih terdengar samar-samar, menembus keriuhan ruangan, seolah menjadi pengingat konstan akan kejatuhan yang tak terelakkan.

"Tuan... Tuan Elrod? Apakah Anda masih di sana? Mohon dengarkan saya, ini sangat darurat! Gedung Griya Cakrawala... gedung 10 lantai di kawasan SCBD itu... mereka telah menutup akses masuk seluruh staf kita secara paksa. Pihak manajemen gedung yang baru telah mengganti seluruh kunci akses keamanan dalam waktu kurang dari lima menit setelah transaksi selesai. Seluruh kontrak sewa dari penyewa-penyewa utama kita di sana telah dibatalkan secara sepihak dan dialihkan ke entitas baru atas nama Pecunia Corp!"

Gilbert tidak mampu merespons. Tenggorokannya terasa seperti disumbat oleh debu beton. Griya Cakrawala. Sepuluh lantai megah di jantung kawasan bisnis SCBD itu bukan sekadar bangunan baja dan kaca; itu adalah mercusuar dari ambisi ekspansi bisnisnya yang paling liar, simbol yang ia gunakan untuk mengintimidasi kompetitor di meja negosiasi, dan yang paling krusial—itu adalah jaminan utama atas fasilitas kredit triliunan rupiah yang ia peroleh dari sindikasi bank-bank besar. Tanpa gedung itu, kartu domino finansial yang ia susun dengan cermat untuk menutupi lubang keuangan perusahaan kini tidak lagi memiliki fondasi.

"Siapa..." Gilbert akhirnya berhasil mengeluarkan suara, meski terdengar parau dan sangat lemah, seolah setiap kata yang keluar menyedot sisa tenaga dari paru-parunya. "Siapa sebenarnya pemilik Pecunia Corp itu?! Cari tahu! Gunakan semua koneksi kita di kepolisian, di intelijen bisnis, gunakan uang kita untuk membayar siapa pun yang bisa memberikan nama di balik perusahaan hantu sialan itu!"

"Tuan, kami sudah mencoba segala cara!" jawab sekretarisnya dengan nada putus asa yang menyayat hati. "Kami sudah mengerahkan tim IT terbaik, kami sudah menghubungi orang dalam di otoritas keuangan, tapi setiap kali kami mencoba melacak rekam jejak mereka, kami justru membentur dinding enkripsi yang tidak bisa kami tembus. Mereka menggunakan jaringan server yang berlokasi di yurisdiksi luar negeri yang tidak kooperatif. Mereka seperti hantu, Tuan. Mereka menghapus jejak mereka bahkan sebelum jejak itu sempat terbentuk. Ini bukan serangan finansial biasa, ini adalah eksekusi yang direncanakan dengan presisi militer!"

Di tengah percakapan itu, Gilbert melihat ke arah kerumunan tamu. Ia melihat bagaimana para direktur bank, yang tadi menunduk hormat kepadanya dengan senyum penuh puja, kini sedang sibuk berdiskusi dengan pengacara mereka di sudut ruangan dengan wajah yang sangat serius. Ia melihat bagaimana para pemegang saham utama Elrod Corp mulai menatapnya dengan tatapan penuh kebencian—tatapan orang-orang yang merasa telah dikhianati oleh sebuah skema penipuan besar-besaran yang terbongkar di malam perayaan.

Victoria, istrinya, mencoba mendekat dengan wajah yang masih dipoles riasan mahal, namun matanya yang tertangkap kamera media kini memancarkan ketakutan yang luar biasa. "Gilbert... apa yang terjadi? Kenapa orang-orang menatap kita seperti itu? Dan apa yang mereka bicarakan tentang gedung di Sudirman? Katakan sesuatu, jangan diam saja!"

Gilbert tidak menjawab. Ia menatap nanar ke arah istrinya, lalu beralih ke arah Alethea yang masih terisak histeris di pojok ruangan, gaun mewahnya kini tampak kotor karena ia terduduk di lantai yang berdebu. Di saat-saat kehancuran ini, Gilbert tidak lagi melihat mereka sebagai keluarga yang ia cintai. Ia melihat mereka sebagai beban yang semakin mempercepat tenggelamnya kapal yang ia nahkodai. Ia merasa dikepung oleh musuh yang tak terlihat, musuh yang mengenalnya lebih baik daripada ia mengenali dirinya sendiri.

Di sudut ruangan, Valerie Vespera masih berdiri dengan posisi yang sama, tak bergeming sedikit pun sejak tadi. Dengan tangan bersedekap, ia mengamati pria yang dulu ia panggil "Papa" itu perlahan-lahan kehilangan kendali atas saraf-sarafnya sendiri. Bagi Valerie, setiap detik ketakutan yang dirasakan Gilbert adalah sebuah bayaran lunas atas setiap malam yang ia habiskan di kamar gudang bawah tanah, menangisi kesepian dan rasa lapar sementara keluarga ini berpesta di atas penderitaannya.

Tidak ada belas kasihan di mata Valerie. Yang ada hanyalah kepuasan yang dingin dan kalkulatif. Ia menikmati setiap tarikan napas pendek Gilbert, setiap peluh yang menetes di kening pria itu, dan setiap bisikan panik yang menyebar di seluruh ballroom. Ini adalah keadilan yang paling murni, keadilan yang ia rancang sendiri dengan jemarinya yang dulu mereka anggap tidak berguna.

Ponsel di tangan Gilbert akhirnya mati karena kehabisan baterai, atau mungkin karena sekretarisnya juga telah memutuskan sambungan karena merasa tidak lagi ada gunanya melayani pria yang sudah bangkrut secara finansial dan martabat di mata publik. Gilbert perlahan-lahan jatuh terduduk di atas panggung yang megah. Lampu sorot yang tadi digunakan untuk menonjolkan karismanya, kini justru menonjolkan kerentaan, ketakutan, dan keputusasaan yang terpancar jelas dari guratan wajahnya yang menua dalam hitungan menit.

Griya Cakrawala telah jatuh. Sudirman bukan lagi miliknya. Dan malam ini, di tengah kemeriahan pesta ulang tahun Alethea yang seharusnya menjadi puncak status sosial mereka, keluarga Elrod secara resmi telah menjadi paria di mata para elit Jakarta. Mereka tidak lagi menjadi pusat perhatian karena kekayaan, melainkan karena kebangkrutan yang memalukan.

"Ini belum berakhir," bisik Gilbert pada dirinya sendiri, meski ia tahu bahwa di dalam hatinya, pertahanan terakhirnya telah rubuh. Kepercayaan investor telah hilang, aset utama telah berpindah tangan, dan reputasi yang ia bangun selama puluhan tahun kini tercoreng permanen.

Valerie menarik napas dalam, merasakan udara dingin dari penyejuk ruangan ballroom yang kontras dengan gejolak panas di dalam jiwanya. Ia tahu, sebentar lagi pilar-pilar penyangga mental Gilbert akan hancur sepenuhnya. Sesuai dengan rencana besarnya, panggung ini akan menjadi saksi bisu dari akhir sebuah dinasti yang dibangun di atas kebohongan. Valerie tidak merasa terburu-buru. Ia membiarkan kepanikan itu meresap, membiarkan Gilbert merasakan setiap ons kehancuran yang ia rasakan dulu saat diusir dari rumah ini tanpa masa depan.

Di kejauhan, para jurnalis bisnis sudah mulai masuk ke area ballroom, mencium aroma berita terbesar tahun ini. Mereka membawa kamera dan alat perekam, siap mengabadikan momen kejatuhan keluarga Elrod. Valerie tersenyum tipis. Segalanya berjalan persis sesuai dengan skenario yang ia tulis di kamar gudang. Tidak ada kesalahan. Tidak ada celah. Dan yang paling penting, tidak ada jalan kembali bagi mereka. Pesta ini telah berubah menjadi ruang pengadilan publik, di mana hakim, jaksa, dan algojonya adalah Valerie sendiri.

Bersambung.....

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Moreno
draf dref draf dref 😑
Moreno
gimana caranya uang tunai tiba2 masuk menjadi saldo digital
masijacoke021205: Sudah diperbaiki ya, Kak! Terima kasih banyak bantuannya.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!