Sinopsis
Selama delapan tahun bertahan hidup di dunia yang telah hancur akibat kiamat zombie, Lily Mahendra berjuang menghadapi kelaparan, monster, dan pengkhianatan. Namun, pada saat ia hampir mencapai harapan terakhirnya, sahabat yang paling ia percayai justru mendorongnya ke tengah gelombang zombie yang mengamuk.
Saat kematian tampak tak terhindarkan, Lily membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat satu minggu sebelum kiamat melanda.
Kali ini, ia tidak sendirian. Sebuah Sistem Bertahan Hidup misterius dan Ruang Dimensi yang penuh sumber daya hadir untuk membantunya. Dengan pengetahuan tentang masa depan dan kesempatan kedua yang tak ternilai, Lily bertekad mengubah takdirnya, membalas pengkhianatan yang pernah ia alami, serta melindungi orang-orang yang benar-benar layak dipercaya.
Akankah Lily mampu bertahan dan membangun kehidupan yang lebih baik di tengah kehancuran dunia? Atau akankah takdir kembali menyeretnya menuju akhir yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arju na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 1 — TERLAHIR KEMBALI
CHAPTER 1 — TERLAHIR KEMBALI
"Bagus. Bagus sekali! Selama delapan tahun aku bertahan hidup dari zombie, ternyata aku mati karena sahabatku sendiri!"
Lily berteriak ke arah langit yang mendung. Suaranya dipenuhi amarah, kebencian, dan penyesalan.
Perlahan, tubuhnya ditelan oleh gerombolan zombie. Ia memejamkan mata, menahan rasa sakit saat gigi-gigi tajam para zombie merobek tubuhnya. Hal terakhir yang dilihatnya sebelum kesadarannya menghilang adalah lautan zombie yang terus bergerak ke arahnya.
Tepat sebelum kesadarannya benar-benar lenyap, sebuah suara asing terdengar di dalam kepalanya.
Ding!
[Berhasil menganalisis subjek dengan tingkat dendam yang sangat tinggi.]
[Apakah tuan rumah ingin mengikat sistem?]
[Ya/Tidak]
Dalam keadaan setengah sadar, Lily secara refleks memilih "Ya".
Sesaat kemudian, semuanya berubah menjadi gelap gulita.
---
Sinar matahari pagi menembus celah tirai sebuah mansion mewah dan menyinari wajah cantik seorang gadis yang sedang tertidur. Alisnya berkerut seolah mengalami mimpi buruk yang mengerikan.
Tiba-tiba, gadis itu membuka matanya lebar-lebar dan duduk tegak.
"Hah... hah... hah..."
Napasnya memburu. Keringat dingin membasahi dahinya.
Setelah berhasil menenangkan diri, ia melihat sekeliling dengan linglung.
"Eh?"
Bukankah dia sudah mati setelah didorong sahabatnya ke tengah gelombang zombie?
Lalu... di mana ini?
Sebelum sempat memahami situasinya, sebuah jendela transparan muncul di hadapannya, diikuti suara mekanis yang dingin.
Ding!
[Berhasil mengikat sistem dengan jiwa tuan rumah.]
[Apakah ingin menerima Hadiah Pemula?]
[Ya/Tidak]
Lily terkejut bukan main.
"Apa ini?"
Matanya membelalak.
"Jangan-jangan... ini jari emasku setelah terlahir kembali?"
Tanpa ragu, ia memilih "Ya".
Ding!!!
[Selamat, tuan rumah mendapatkan Ruang Dimensi Tanpa Batas.]
[Selamat, tuan rumah mendapatkan 3 Butir Pil Kecantikan.]
[Selamat, tuan rumah mendapatkan Elemen Api, Air, Tanah, Petir, Tanaman, Cahaya, dan Kegelapan.]
Lily terdiam. Matanya membelalak melihat hadiah yang diberikan sistem.
Sebelum sempat bergembira lebih lama, pintu kamarnya diketuk.
Tok.
Tok.
Tok.
"Sayang, my honey, wake up. Apa kamu tidak sekolah?"
Suara lembut seorang wanita terdengar dari balik pintu.
Tubuh Lily langsung membeku.
Itu adalah suara ibunya, Grace Abraham.
Mata Lily perlahan memerah.
Di kehidupan sebelumnya, Mommy, Daddy, dan kedua kakaknya meninggal pada masa-masa awal kiamat. Selama delapan tahun terakhir, ia selalu merindukan kehangatan keluarganya.
"Sayang? Kamu sudah bangun?"
Panggilan kedua dari sang ibu membuat air mata Lily jatuh tanpa sadar.
Ia segera beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu.
Tanpa mengatakan apa pun, Lily langsung memeluk ibunya erat-erat.
Grace terkejut.
"Hey, honey. Ada apa? Apa kamu sakit?"
Nada suaranya dipenuhi kekhawatiran.
"Kalau memang tidak enak badan, tidak perlu sekolah hari ini."
Lily menggeleng sambil menghapus air matanya.
"Aku tidak apa-apa, Mom. Aku cuma mimpi buruk."
Meski merasa ada yang aneh, Grace tetap mengangguk.
"Baiklah. Kalau ada yang sakit, bilang pada Mommy, ya?"
Wanita itu lalu mengelus rambut putrinya dengan lembut.
"Sekarang mandi dan bersiaplah. Setelah itu sarapan. Mommy tunggu di bawah."
"Baik, Mom."
Setelah ibunya pergi, Lily kembali ke kamar dan berdiri di depan cermin.
Ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri.
Di kehidupan sebelumnya, rambutnya kusut, kulitnya kering, dan tubuhnya kurus karena bertahun-tahun bertahan hidup di dunia pasca-apokaliptik.
Namun sekarang, kulitnya kembali putih dan sehat. Tubuhnya juga tampak segar seperti sebelum kiamat terjadi.
Saat sedang memperhatikan pantulan dirinya, Lily tiba-tiba teringat hadiah dari sistem.
"Sistem, bagaimana cara mengambil hadiahnya?"
(Ding!!! Nona dapat mengambil hadiah melalui Penyimpanan Sistem.)
Suara sistem terdengar dingin seperti biasanya.
Lily segera meminta sistem mengeluarkan satu Pil Kecantikan.
Saat itu ia sudah berada di kamar mandi.
Seketika, sebuah pil muncul di telapak tangannya.
Tanpa berpikir panjang, Lily langsung menelannya.
Tidak lama kemudian, bau tidak sedap mulai tercium.
Lily menunduk dan membelalakkan matanya.
Cairan hitam pekat perlahan keluar dari pori-pori tubuhnya.
"Ewww! Bau banget! Gilakkk! Huekkk!"
Lily hampir muntah saat mencium bau busuk yang berasal dari tubuhnya sendiri.
Tanpa membuang waktu, ia segera mandi dan membersihkan seluruh tubuhnya.
Setelah selesai mandi, Lily membuka lemari pakaiannya.
Namun saat melihat isi lemari tersebut, ia mendengus kesal.
Sebagian besar pakaian yang ia miliki berukuran sangat besar dan memiliki model yang kuno.
Rok panjangnya bahkan hampir mencapai mata kaki.
Hal itu karena saat sekolah dulu Lily sering berpenampilan seperti seorang nerd.
Lebih parah lagi, gaya berpakaian itu muncul karena saran sahabatnya.
Sahabatnya pernah mengatakan bahwa laki-laki lebih menyukai perempuan yang polos dan sederhana.
Mengingat hal itu, Lily langsung kesal pada dirinya sendiri.
Bagaimana mungkin ia bisa begitu mudah mempercayai orang yang akhirnya mengkhianatinya?
Pada akhirnya, Lily memilih mengenakan seragam sekolah yang baru dan lebih pas di tubuhnya.
Setelah selesai berpakaian, ia berdiri di depan cermin sekali lagi.
Ketika melihat pantulan dirinya, Lily hanya bisa melongo.
"Oh my God..........."