Lin Xiu returned to civilization confident and proud after training with a master who cannot be named on a celestial island cut off from the real world. In his quest to uphold justice, he courageously picks fights with elites in the community wreaking havoc among the rich and the powerful. Be it ghosts, spirits, or seniors of the daoist association, he is fearless. Will the little girl Xiao Tong stay a little girl as she accompanies him on his journey to track down the rest of his friends from the orphanage they once shared?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26.Tempat perlindungan
Gumpalan asap hitam yang membubung dari Lembah Kematian perlahan memudar, tersapu oleh angin malam yang membawa aroma belerang dan abu. Lin Xiu melangkah keluar dari wilayah reruntuhan itu dengan tenang. Di lengan kirinya, Xiao Mei tertidur lelap dengan napas yang mulai teratur, dibalut oleh jaket kain tebal milik Lin Xiu yang hangat. Energi *Zhenqi* Sembilan Matahari yang lembut terus dialirkan Lin Xiu ke dalam tubuh mungil adiknya, memulihkan trauma spiritual akibat sangkar es mistis milik Huo Tianba.
Di ujung jalan setapak lembah, tiga buah helikopter militer tanpa lambang resmi telah mendarat dengan baling-baling yang masih berputar kencang. Puluhan prajurit berseragam taktis hitam—Divisi Serigala Hitam—langsung bersiaga. Di depan mereka, Jenderal Ye Jincheng berdiri dengan cemas sembari memegang teleskop militer.
Begitu melihat sosok Lin Xiu berjalan keluar sendirian tanpa luka sedikit pun, Ye Jincheng menarik napas dalam-dalam, tubuhnya gemetar karena takjub. Dari kejauhan, dia bisa melihat bahwa benteng kokoh Klan Alkemis Naga Hitam yang telah berdiri selama ribuan tahun kini telah rata dengan tanah, runtuh menjadi puing-puing yang membara.
"Tuan Lin!" Ye Jincheng berlari menyongsong pemuda itu, lalu memberikan hormat militer yang paling khidmat. "Kami menerima laporan bahwa seluruh aktivitas energi spiritual di dalam lembah tiba-tiba padam. Apakah... semuanya sudah selesai?"
"Klan Naga Hitam tidak ada lagi di dunia ini," jawab Lin Xiu datar, suaranya sedingin es. Dia menatap Ye Jincheng dengan pandangan yang tajam. "Bawa Xiao Mei ke pangkalan militer rahasia Keluarga Ye. Gunakan Formasi Medis Sembilan Perlindungan yang pernah aku ajarkan pada ayahmu untuk menjaganya. Jika ada satu rambut saja di kepalanya yang terluka selagi aku pergi, aku akan meratakan seluruh markas militer kalian."
Ye Jincheng bergidik ngeri mendengar ancaman itu, namun dia segera mengangguk penuh kepatuhan. "Hamba mengerti, Tuan Lin! Saya bersumpah dengan nyawa saya dan seluruh divisi militer ini, Nona Xiao Mei akan berada dalam perlindungan paling aman di negeri ini. Tidak akan ada satu pun lalat atau agen rahasia yang bisa mendekatinya."
Dua prajurit wanita medis elit segera maju dengan sangat hormat, menerima tubuh Xiao Mei dari dekapan Lin Xiu dengan hati-hati. Setelah memastikan adiknya telah dibawa masuk ke dalam helikopter yang paling aman, Lin Xiu membalikkan badannya menghadap ke arah barat—ke arah Distrik Kekaisaran yang megah.
"Tuan Lin, apakah Anda benar-benar akan mendatangi Istana Pangeran Long malam ini juga?" tanya Ye Jincheng dengan nada khawatir. "Ayah saya telah berhasil mengisolasi Distrik Barat dengan dalih latihan darurat militer. Namun, Pangeran Long bukan sekadar bangsawan biasa. Jika apa yang dikatakan Huo Tianba benar bahwa dia adalah reinkarnasi leluhur mistis kuno, maka kekuatannya pasti berada di luar nalar kita."
"Di hadapanku, tidak ada bedanya apakah dia seorang pangeran atau leluhur kuno," kata Lin Xiu dingin. Tas kain usangnya bergoyang pelan ditiup angin malam. "Dia berutang nyawa atas kematian Ibu panti kami dan anak-anak Jiangnan. Malam ini, aku akan menagih seluruh utang itu beserta bunganya."
*WUSH!*
Sebelum Ye Jincheng sempat membalas, tubuh Lin Xiu mendadak kabur dan lenyap dari pandangan mata, meninggalkan kepulan debu tipis dan kilatan cahaya emas yang membelah kegelapan malam.
Sementara itu, di Distrik Barat Ibukota Imperial, berdiri sebuah kompleks istana megah beralaskan atap genteng emas dan dinding pembatas setinggi lima belas meter—**Istana Pangeran Long**. Berbeda dengan suasana kota yang bising, area di sekitar istana ini tampak sepi senyap karena seluruh akses jalan telah diblokir oleh barisan tank dan barikade militer Divisi Serigala Hitam.
Di dalam aula terdalam istana yang dipenuhi oleh aroma dupa kuno dan dinding-dinding bertuliskan aksara mistis kuno, seorang pria paruh baya berwajah tampan dengan rambut hitam panjang yang diikat rapi sedang duduk bermeditasi di atas lantai batu giok putih. Pria ini mengenakan jubah kebesaran kekaisaran berwarna kuning tua dengan sulaman naga berkaki lima—dia adalah **Pangeran Long**.
Meskipun penampilannya tampak seperti pria berusia empat puluh tahunan, sepasang mata Pangeran Long yang perlahan terbuka memancarkan kebijaksanaan dan kekejaman dari seseorang yang telah hidup selama beberapa abad. Di hadapannya, sebuah bola kristal mistis yang memantau kondisi Lembah Kematian tiba-tiba retak dan pecah menjadi bubuk kaca.
"Huo Tianba... kau benar-benar tidak berguna," desis Pangeran Long dengan suara yang bergema seperti lonceng kuno di dalam aula yang sepi. "Memiliki kultivasi Ranah Dewa yang kuberi, namun tetap mati di tangan seorang bocah sisa pembantaian Jiangnan."
"Leluhur Agung, bocah itu telah melewati barikade luar istana. Kecepatannya melampaui formasi deteksi kami," sebuah suara bayangan terdengar dari sudut ruangan yang gelap. Sesosok pria bermantel hitam dengan topeng emas berlutut di sana—Komandan Pengawal Bayangan (*Shadow Guards*) Istana.
Pangeran Long berdiri perlahan, melangkah menuju altar jubahnya yang menyimpan sebuah kotak perunggu kuno berkunci rumit. "Biarkan dia masuk. Tiga belas tahun yang lalu, wanita jalang dari panti asuhan itu rela mati demi menyembunyikan kunci gerbang makam suci dan *Kitab Sembilan Matahari*. Kini, setelah bocah itu membawa esensi kitab itu kembali ke hadapanku, ini adalah takdir yang sempurna untuk menyempurnakan kebangkitan sejatiku."
*BLAAAM!!!*
Belum sempat Komandan Pengawal Bayangan membalas, gerbang besi tebal Istana Pangeran Long yang beratnya puluhan ton mendadak meledak hancur, terbang melewati halaman tengah istana dan menghantam pilar aula utama hingga runtuh.
Debu putih mengepul hebat, dan dari balik reruntuhan itu, Lin Xiu berjalan masuk dengan tenang. Sepasang mata emas murninya langsung mengunci sosok Pangeran Long yang berdiri di ujung aula.
"Kau akhirnya datang, Lin Xiu," kata Pangeran Long dengan senyum tipis yang penuh keangkuhan, mengabaikan fakta bahwa gerbang istananya baru saja dihancurkan.
Lin Xiu tidak membalas sapaan itu. Dia melepaskan tas kain usangnya, meletakkannya dengan rapi di atas sebuah meja batu yang masih utuh, lalu menggulung lengan kemeja hitamnya perlahan-lahan.
"Pangeran Long," suara Lin Xiu bergetar halus oleh niat membunuh yang teramat pekat. "Tiga belas tahun yang lalu kau memerintahkan pembantaian di Jiangnan. Malam ini, aku akan memastikan tidak akan ada satu pun jengkal tanah di istana ini yang tersisa tanpa berlumuran darahmu."