"Luka ini masih menganga, kata maaf dan khilaf tidak bisa menguburkanya. Pengkhianatan ini terlalu pahit, hingga aku susah untuk lupa!"
Ini adalah kisah Isana, seorang wanita yang dikhianati Andreas dengan begitu pahit, saat sedang mengandung anaknya. Namun menemukan kisah manis dibalik Cupcake kegemarannya, bersama Althaf Rafardhan, seorang chef yang terkenal dingin dan tidak banyak bicara.
Andreas yang terpuruk karna menyadari, cintanya hanyalah untuk Isana, bukan Risa perempuan penggoda. Ingin kembali lagi, memperbaiki hubungan yang kandas. Mencoba membujuk Isana untuk rujuk, dengan dalih sebagai Ayah biologis anak laki-laki mereka.
Akankah Althaf membiarkan wanita yang ia cintai itu kembali pada pria yang sudah mengahancurkanya?
Dan apa keputusan Isana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecemasan Dewi
*
*
*
Senja beralih warna, lantunan adzan berlanggam jiharkah dari masjid dekat perumahan menandai peralihan waktu.
Semburat jingga keemasan, jatuh keatas atap-atap rumah memberi kesan hangat yang begitu kontras dengan kemuraman hati Isana.
Halaman rumah kembali hidup setelah sempat senyap saat Maghrib menjelang. Para staf vendor dan tim katering bergerak sigap ke sana kemari, memastikan setiap sudut acara siap menyambut para tamu.
Dewi sudah siap dengan gamis panjang, riasan diwajahnya membuat penampilannya tampak berbeda dari kesehariannya. Namun wajah itu bertekuk, beberapa kali ia melirik jam dinding.
"Pa, Andreas mana sih?" Ia bertanya geram, pada Beni suami yang berdiri disebelahnya. "Kok belum datang-datang juga. Anak itu selalu bikin cemas ..."
Jadi jemari Dewi saling meremas satu sama lain. Pandangannya, beralih pada pintu masuk. Sesekali berdecak, kesal karna kehadiran putranya yang belum juga muncul.
"Coba tanya Isana." Beni mencoba bersikap netral, padahal dia juga mencemaskan Andreas. "Siapa tahu dia ada menghubunginya."
Dewi melangkahkan kaki ke kamar lama Andreas, karna Isana sedang berada disana.
"Isa ... Andreas ma ..."
Dewi menggantungkan ucapannya, ketika membuka pintu dan mendapati Isana sedang membongkar laci dikamar itu.
"Kamu ngapain, Sa?"
Gerakan Isana terhenti. Jemarinya sedikit bergetar, bahunya menegang. "Aku itu, ehm ..." suaranya terputus-putus, "Mau cari kalau-kalau ada peniti. Buat nyematkan ujung jilbab aku. Tadi aku lupa bawa dari rumah."
"Oh ... Kenapa nggak minta sama Alin?" Dewi semakin melangkah masuk, "Andreas mana? Kenapa dia belum pulang-pulang?"
Isana merapikan ujung hijabnya, "Nggak tahu Ma, tadi dia cuma bilang kalau aku kemari duluan aja sama Bik Marni. Karna dia lagi bertemu tim design untuk proyek baru."
"Ck, dia itu kan Diretur masa urusan begitu aja harus dia yang handle? Apa Fahmi, sekertarisnya dia itu nggak becus kerja. Sampe apa-apa harus Andreas yang turun tangan." Dewi mengomel sambil melipat kedua tangan di dada.
Isana hanya tersenyum tipis. Membiarkan dadanya sesak oleh bayangan kelakuan menjijikkan suaminya.
"Ya mungkin memang penting, Ma."
"Penting apanya?" cetus Dewi, segera memotong ucapan Isana. "Hari ini acara anaknya sendiri. Kalau bukan karena acara ini, Mama juga nggak akan ngomel begini."
Wanita itu melirik jam tangannya. Alisnya kembali bertaut.
"Papa sama Mama sampai ngundang banyak orang. Rekan bisnis, kolega kantor, keluarga besar. Masa yang punya acara malah belum muncul."
Isana menunduk, berpura-pura membenarkan ujung hijabnya. Padahal ia sedang menghindari tatapan Dewi. Karena setiap pertanyaan tentang Andreas terasa seperti duri yang terus menusuk dadanya.
"Kamu jangan diam aja Isa!" bahkan suara Dewi lebih mirip dengan bentakan, "kamu telpon dong suami kamu?!"
Isana menelan ludah, kenapa perempuan tua ini justru memarahinya?
Namun demi kesopanan dan menghargai mertua, Isana menurutinya. Ia meraih ponsel, membuka layar dengan segera menemukan nomor kontak suaminya.
Dada Isana terasa terhimpit, ia menyentuh tombol panggil. Menunggu benda pipih itu menjalankan fungsinya.
Seketika ruangan menjadi hening. Bahkan Isana tidak sadar menahan nafas. Sedang Dewi yang berdiri disebelahnya,ikut menunggu.
Tiga kali dering, namun tidak mengubah apapun. Tatapan Isana perlahan kosong. Hingga beberapa detik kemudian, suara datar operator otomatis terdengar dari pengeras suara ponselnya.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi. Silakan coba beberapa saat lagi."
Isana membeku. Telapak tangannya hampir kehilangan tenaga untuk sekedar menahan beban benda yang tidak seberapa.
Dewi mengernyitkan dahi. "Coba lagi. Siapa tahu, tadi Andreas nggak dengar."
Isana menurut. Ia menekan tombol panggil untuk kedua kalinya. Jantungnya berdetak semakin cepat. Namun kali ini bahkan tidak ada dering.Tidak ada nada sambung. Hanya suara operator yang kembali terdengar.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif."
Isana menatap layar ponselnya beberapa saat, nomor Andreas benar-benar tidak aktif.
"Gimana sih Andreas ini, masa iya kejebak macet. Kalau macet kan bisa terima telpon, kok ini aneh banget. Malah ponselnya mati." Dewi, kehilangan kesabaran. Rasa kesal menyergap, terlihat dari warna wajahnya yang berubah kemerahan. "Hari ini acara anaknya sendiri, tapi ponselnya malah dimatikan?"
"Ma, tamunya sudah banyak."
Alin menerobos masuk, wajahnya juga sama dengan Dewi yang mencemaskan keberadaan Andreas.
"Pak Senior Direktur sama rombongan kantor Mas Andreas juga sudah datang." imbuhnya, menatap Dewi dan Isana bergantian.
Dewi langsung menoleh, memutar tubuh sepenuhnya pada Alin yang berdiri diambang pintu.
"Sudah datang?" Dewi membelalak. "Isa cobak kamu telpon Fahmi, sekertarisnya Andreas!"
"Mas Fahmi juga sudah ada disini Ma" Alin menyela, "Barengan sama rombongan kantor."
"Duh!" Dewi menepuk dahinya sendiri. "Mas mu tuh kemana sih? Kok malah dianya yang nggak muncul-muncul!"
Tak lama suara lantunan sholawat lembut terdengar dari sound system yang sengaja diatur sebagai penyambutan tamu undangan.
Dewi berdecak kesal, "Ya sudahlah, Isa kamu keluar dulu. Nggak enak, sama tamu-tamu."
Isana menghela nafas, ia menelan ludah dengan susah payah. Disaat seperti ini, kenapa harus dia lagi yang harus dipajang untuk menutupi keadaan agar semua terlihat baik-baik saja. Padahal justru dirinya yang tengah dihina.
Hinaan oleh suaminya sendiri yang tak pernah menganggap penting keberadaannya dan putranya sendiri.
"Cepet Isa, malah bengong aja kamu!"
Bentakan Dewi terasa menggelegar, Isana tak punya pilihan lain selain mengikutinya.
Bersama Bik Marni, Isana melangkah keluar. Gemuruh didadanya ia tekan dengan mengeratkan gendongannya ke tubuh mungil Ghazi.
Wajahnya muramnya sebisa mungkin ia tutupi dengan senyum palsu. Demi menemui para tamu.
"Dek, acaranya udah mau dimulai?"
Diantara ribuan jarum yang menyakiti hatinya, Isana menemukan suara yang sedikit membuatnya menemukan tempat untuk berlindung. Suara kakak laki-lakinya, yang baru saja datang.
"Mas Kahfi? Baru nyampe Mas?" Pupil Isana melebar, ketika menatapnya.
Pria dengan rahang yang tegas itu berdiri disamping Isana. Tatapan matanya dingin dan tenang, menciptakan kesan seseorang yang terbiasa memegang kendali tanpa perlu banyak bicara.
Rambut hitam yang tersisir rapi memperkuat aura dewasa dan berkelas. Balutan batik bernuansa gelap membuat sosoknya terlihat berwibawa, sementara postur tubuh yang tegap menambah kesan elegan di setiap gerakannya.
"Iya, Mas baru aja sampe. Tadi Mas, sholat Maghrib di Masjid dulu. Baru kemari."
Ucapnya, yang kemudian tatapanya beralih pada Ghazi yang berada dalam gendongan Isana.
"Halo, jagoannya Ayah ... Seneng ya? Dibuatin acara syukuran sama Oma dan Opa? Hem..?"
Isana tersenyum, dari sekian banyak senyum baru kali ini senyum itu terlahir tulus dari hati. Namun kemudian senyum itu kembali redup. Ketika Kahfi melontarkan pertanyaan yang sama.
"Andreas mana?" Ucapnya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
Belum Isana jawab, derap langkah kaki mendekat kearah mereka.
"Isana!"
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍
...kok ga keliatan dia