Kayla Daviena, seorang gadis konglomerat yang hidupnya suka foya-foya. Karena sikapnya itu, sang ayah mengambil seluruh kartu kreditnya dan bahkan menyuruh Kayla untuk tinggal seorang diri di kos-kosan sederhana di tengah kota! Hidup pas-pasan, tunggakan yang numpuk, piring belum di cuci, semuanya datang bertubi-tubi tanpa henti dalam hidup gadis itu. Siapa sangka ia tiba-tiba bertemu cowok aneh super menyebalkan yang tinggal di sebelah kosnya, dan mendadak di cowok itu memacari dirinya tanpa aba-aba! Apa yang akan terjadi dengan mereka selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deal!
"Gue ini kaya." ucap Juna dengan senyum tengilnya.
Kayla mengerutkan kening, matanya menyipit menatap deretan kartu di dalam dompet Juna. Ada kartu debit prioritas, kartu akses bangunan, sampai kartu anggota komunitas motor yang desainnya elegan banget. Gadis itu menelan ludah. Ternyata ucapan Juna soal "toko online" dan "rakit PC" itu bukan sekadar omong kosong biar kelihatan keren di depan cewek.
"Gila... lo beneran piara tuyul ya, Jun?" tanya Kayla polos, matanya masih menempel di dompet Juna.
Juna langsung menutup dompetnya dengan gerakan cepat. "Heh! Ini hasil peras keringat, otak, sama kuota ya! Tuyul mah kalah saing sama skill gue. Jadi gimana? Tawaran gue menarik, kan?"
Kayla kembali bersedekap, mencoba mengembalikan harga dirinya yang sempat goyah gara-gara melihat saldo bayangan di kartu Juna. "Bentar. Enam bulan? Terus lo mau beliin gue apa saja? Kalau gue minta mobil baru gimana?"
"Ya ngga mobil juga, Oma! Sadar diri dong, kita kan cuma pacaran kontrak, bukan mau tukar tambah nyawa," balas Juna sambil memutar bola mata. "Ya barang-barang yang lo butuhin lah. Skin care, baju, makan enak kayak gini, atau mungkin... biaya kosan lo kalau lo lagi seret banget?"
Mendengar kata "biaya kosan", pertahanan Kayla runtuh total. Itu adalah titik terlemahnya saat ini. Ia membayangkan harus berhemat mati-matian demi membayar kamar sempit itu setiap bulan.
"Oke, oke. Deal," ucap Kayla akhirnya. Ia menyambut uluran tangan Juna, menjabatnya dengan ragu. "Tapi inget! Nggak ada pegang-pegang tangan kalau nggak ada penonton! Nggak ada peluk-peluk kalau nggak ada petir! Dan jangan sekali-kali panggil gue 'Oma' di depan orang, gue ini masih cantik!"
Juna menampilkan senyum lebar, menjabat tangan Kayla dengan mantap. "Siap, Kanjeng Ratu! Tapi kalau pas ada penonton gue mau rangkul atau... ehem, lebih dari itu, lo harus akting totalitas ya? Biar fans-fans gue di sekolah langsung kena mental."
"Heh! Lebih dari itu apa maksudnya?!" Kayla melotot, hampir saja ia menarik kembali tangannya.
"Ya maksud gue panggil 'Sayang', atau elus-elus rambut lo gitu. Tenang saja, gue masih tahu batasan kok, ngga bakal gue bawa lari ke penghulu juga," canda Juna sambil tertawa renyah.
"Dih, ogah! Yang ada gue yang lari duluan kalau lo bawa ke sana," sahut Kayla sambil kembali menyantap pastanya. "Eh, tapi flatshoes ini... beneran punya lo kan? Bukan punya mantan?"
"Dibilang gue ngga punya mantan! Itu gue beli di toko deket sekolah tadi pas pulang sekolah. Gue mikir pasti lo bakal kepeleset gara-gara pake heels 7 cm kayak gitu, makanya gue beli. Untung ukurannya pas," jelas Juna santai sambil menyeruput kopinya.
Kayla tertegun sejenak. Ternyata bocah kematian di depannya ini punya sisi perhatian juga. "Ternyata lo... pinter juga ya cari ukuran sepatu cewek."
"Ya jelas lah, gue kan punya mata. Gue lihat kaki lo kecil kayak ceker ayam, jadi gue cari yang ukuran paling imut," balas Juna tanpa dosa.
"JUNA! MAU GUE LEMPAR GARPU?!" teriak Kayla kesal.
Juna langsung merunduk sambil tertawa terbahak-bahak, melindungi wajahnya dengan kedua tangan. "Eh, eh! Santai, Oma! Garpu kafe ini kalau rusak, taruhannya dompet gue yang makin tipis!"
"Makanya mulut lo dijaga! Kaki mulus begini disamain sama ceker ayam. Buta ya mata lo?!" Kayla mendengus kencang, menurunkan garpunya dengan hentakan kasar ke atas piring pasta.
"Iya, iya, maaf. Kaki lo estetik kok, mirip perosotan TK, mulus banget," ralat Juna, masih dengan sisa tawa di sudut bibirnya.
Ia kemudian menopang dagu, menatap Kayla yang mulai sibuk menggulung pastanya dengan emosi. "Tapi dipikir-pikir, lo untung banyak sih pacaran kontrak sama gue. Udah dapet flatshoes gratis, makan enak, dapet pacar ganteng lagi."
Kayla hampir saja tersedak pasta yang baru masuk ke mulutnya. Ia menatap Juna dengan pandangan jijik yang amat totalitas.
"Heh, Bocil! Di mana-mana gue yang rugi bandar! Harga diri gue sebagai mahasiswi jatuh sejatuh-jatuhnya karena terpaksa ngakuin anak SMA labil kayak lo sebagai pacar di depan mantan gue!"
"Labil-labil gini yang menyelamatkan lo dari jalan kaki enam kilo, ya!" balas Juna tidak mau kalah, ia sengaja merebut satu potong Cinnamon Roll milik Kayla dan langsung melahapnya tanpa permisi.
"JUNA! Itu punya gue, ih! Main comot aja!"
Kayla refleks memukul lengan Juna memakai buku menu yang ada di meja, membuat cowok itu mengaduh sambil tertawa renyah, sama sekali tidak merasa bersalah.
Di bawah naungan payung kain vintage dan lampu-lampu gantung yang mulai menyala kekuningan, adu mulut mereka berdua terus berlanjut.
Mulai dari Kayla yang protes rasa kopinya terlalu pahit, sampai Juna yang mengejek cara Kayla memegang garpu yang terlalu kaku mirip eksposisi patung. Di mata orang awam, mereka berdua terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang gemas-gemasnya bertengkar, padahal aslinya mereka sedang sibuk saling menjatuhkan harga diri masing-masing.
Namun, di tengah keriuhan adu mulut yang seru itu, baik Kayla maupun Juna sama sekali tidak menyadari kalau ada sepasang mata yang tengah memperhatikan mereka dengan tatapan tajam dari balik jendela kaca dalam kafe.
Gadis itu berdiri mematung di dekat rak roti, meremas tali tas sekolahnya kuat-kuat. Namanya Adel. Cewek satu angkatan Juna di SMA yang minggu lalu sempat nekat membuatkan kotak bekal super besar untuk Juna—namun berakhir ditolak halus oleh Juna dengan alasan tidak mau.
Adel menatap pemandangan di area outdoor itu dengan dada yang bergemuruh panas. Matanya yang dilapisi maskara tipis itu berkedip tidak percaya. Juna—cowok paling cuek, paling susah didekati, dan paling anti berdekatan dengan cewek di sekolah—sekarang sedang tertawa lepas begitu saja di depan seorang perempuan.
Bukan cuma itu, Adel bahkan bisa melihat dengan jelas bagaimana Juna dengan santainya mengacak rambut cewek itu, lalu merampas makanan dari piringnya dengan wajah jail yang belum pernah Juna tunjukkan pada cewek mana pun di sekolah.
Ditambah lagi, perempuan yang bersama Juna terlihat jauh lebih dewasa, cantik, dan modis dengan rok menterengnya, membuat Adel seketika dirayapi rasa insecure sekaligus cemburu yang luar biasa.
"What?! Juna bareng cewek.. Dan mereka kelihatan akrab banget!" Batin Adel jengkel. Tangannya mengepal, menatap tajam ke arah Kayla yang saat itu sedang mengangkat garpunya dengan wajah merengut ke arah Juna.
Sementara di luar, Kayla mendadak merinding. Ia mengusap tengkuknya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Jun, kok perasaan gue nggak enak ya? Kayak ada yang lagi ngeliatin kita dari tadi."
Juna melirik santai ke sekeliling area outdoor, lalu kembali menyeruput kopinya. "Halah, paranoianya kumat. Siapa juga yang mau ngeliatin lo? Palingan orang-orang lagi heran aja, kok ada cowok ganteng mau jalan sama oma-oma galak kayak lo."
"JUNA!! Beneran minta diulek ya lo?!"
Nah akhirnya ketemu Juna. Lumayan ngirit ongkos balik ke kos-kosan