NovelToon NovelToon
Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Status: tamat
Genre:Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Di sisa-sisa medan perang yang bersimbah darah, Jenderal Eisérre Valois menemukan seorang prajurit wanita tanpa identitas. Wajahnya yang polos dan jemari yang tak tampak seperti kuli perang membuat Eisérre membawa gadis itu pulang ke paviliun pribadinya, jauh dari jangkauan balai kerajaan.

Gadis itu bangun tanpa ingatan, bahkan tanpa tahu bahwa namanya adalah Geneviève d’Orléans—putri kesayangan Kerajaan Prancis yang sedang dicari oleh seluruh pasukan negara. Di bawah asuhan Eisérre, Geneviève menjadi "sang mawar tanpa nama". Namun, saat cinta mulai tumbuh, bayang-bayang tunangan pilihan sang nenek dan rahasia besar di balik sobekan seragam Geneviève mulai terkuak. Eisérre harus memilih: setia pada kehormatan Valois, atau melepaskan segalanya demi seorang gadis yang identitasnya bisa mengguncang takhta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sang Mawar yang Terhempas

Eisérre Valois tidak pernah memahami konsep "kehangatan". Baginya, hidup adalah deretan angka, strategi perang, dan kepatuhan mutlak pada garis keturunan. Sebagai Duke sekaligus Jenderal tertinggi di usia dua puluh delapan tahun, ia adalah perwujudan sempurna dari kemuliaan yang beku.

Matanya yang berwarna biru gelap—setenang dan sedalam danau di tengah malam yang sunyi—selalu menatap dunia dengan datar. Tak ada yang bisa menggoyahkan ketenangannya, bahkan perintah neneknya sekalipun.

"Saat kau pulang dari perbatasan nanti, pertunanganmu dengan Lady dari House of Beaumont akan segera diresmikan. Aku sudah mengatur segalanya," ucap sang nenek sesaat sebelum keberangkatannya.

Eisérre hanya memperbaiki letak sarung tangan kulitnya tanpa menoleh. "Iya, terserah Anda urus saja bagaimana baiknya," jawabnya dingin, suara yang barangkali menjadi satu-satunya kalimat yang pernah ia ucapkan setiap kali sang nenek mencoba mengendalikan bidak catur kehidupannya.

Hanya ibunya, sang Duchess, yang menatapnya dengan binar sedih, tahu bahwa di balik seragam militer yang gagah itu, putranya tumbuh menjadi manusia kaku yang tidak tahu cara merasa.

Di sisi lain langit Prancis, Geneviève d’Orléans sedang menata stetoskopnya. Lulusan terbaik Akademi Kedokteran Kerajaan, Spesialis Forensik dan Patologi itu bukanlah putri manja. Meski kakaknya kini telah bertahta sebagai Raja, Geneviève memilih jalan terjal sebagai dokter forensik. Ia menyembunyikan identitas aslinya di balik jubah putih rumah sakit pribadi keluarganya. Baginya, kenyamanan adalah ketika ia bisa membantu rakyat tanpa embel-embel "Putri Mahkota".

Wajahnya yang mungil dengan pipi yang sedikit merona membuatnya tampak seperti gadis remaja berusia awal dua puluh, padahal di balik tampilan menggemaskan itu, tersimpan kecerdasan tajam wanita berusia dua puluh lima tahun.

"Kau terlalu cantik untuk bekerja di antara mayat, Dokter Geneviève," puji Zukho, seorang dokter muda dari kalangan bangsawan yang tak pernah lelah mengejarnya.

Perhatian Zukho yang berlebih ternyata menjadi bumerang. Di sudut gelap koridor rumah sakit, sepasang mata merah karena cemburu buta memperhatikan. Seorang wanita yang merasa harga dirinya terinjak karena Zukho lebih memilih Geneviève ketimbang dirinya, mulai merencanakan sesuatu yang biadab.

Saat Geneviève memutuskan untuk terjun ke medan perang sebagai tim medis forensik—sekaligus menjalankan tugas rahasianya sebagai Putri Mahkota untuk memantau kondisi prajurit—wanita itu bergerak. Ia menyuap seorang perwira rendahan untuk melenyapkan "gadis medis" tersebut saat keadaan sedang kacau di perbatasan.

Malam di Perbatasan. Geneviève baru saja merebahkan tubuhnya yang lelah di tenda medis. Ia mengenakan seragam militer standar agar tidak mencolok, lengkap dengan papan nama dan lambang negara d’Orléans yang ia banggakan. Namun, kantuknya berubah menjadi maut.

Seseorang masuk dengan senyap. Sebelum Geneviève sempat berteriak, sebuah kain yang telah dibasahi obat bius membekap mulutnya. Kesadarannya meredup, namun ia masih bisa merasakan hantaman brutal di wajahnya, rasa panas yang menjalar di dahinya, dan suara kain yang robek paksa.

Papan namanya dicabut. Lambang negaranya disobek hingga menyisakan benang-benang kasar. Ia diseret dan dibuang ke tumpukan puing, dibiarkan mati sebagai prajurit tanpa identitas.

Hingga kemudian, sepasang mata biru gelap setenang danau malam itu menemukannya.

Eisérre Valois berlutut di tengah bau mesiu. Ia melihat wajah yang tertutup darah itu. Meski kotor dan terluka, ada dorongan aneh yang menghantam dadanya—sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama dua puluh delapan tahun hidupnya. Sebuah dorongan untuk memiliki dan melindungi.

"Aku akan membawa dia ke paviliun pribadiku," perintah Eisérre pada pasukannya. "Jangan biarkan berita ini sampai ke balai kerajaan. Dia... tanggung jawabku."

Sang Jenderal yang kaku itu tidak tahu, bahwa dengan membawa pulang gadis berwajah bayi ini, ia baru saja membawa pulang badai yang akan menghancurkan seluruh aturan hidup yang selama ini ia patuhi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!