"Sebutkan namaku saat waktunya tiba, Riezky..."
Dua puluh tahun lalu, Kerajaan Ixevon runtuh dalam satu malam. Raja Thomas gugur setelah menyegel iblis Malakor, dan Ratu Rebecca tewas demi menyelamatkan putra tunggal mereka.
Kini, Riezky Ixevon tumbuh di desa nelayan terpencil. Ia tak tahu siapa dirinya, hanya pemuda yang berjuang menjinakkan kutukan Petir Biru dan Api Merah di tubuhnya. Satu-satunya dunianya adalah Lyra, seorang janda nelayan yang merawatnya dengan kasih sayang sejak bayi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riahe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN DUA PENJAGA
Angin laut berembus sepoi-sepoi, membawa aroma garam yang menenangkan. Riezky sedang berjongkok di pasir, membantu anak-anak kecil membangun replika kastil yang jauh lebih kokoh dari biasanya—berkat sedikit manipulasi panas yang ia berikan pada pasirnya agar mengeras. Tawa ceria pecah setiap kali kastil itu berhasil berdiri tegak.
Namun, keceriaan itu mendadak sunyi. Sebuah siluet raksasa menutupi terik matahari sore, menciptakan bayangan besar yang bergerak cepat di atas pasir pantai. Anak-anak mendongak, wajah mereka memucat saat melihat makhluk bersayap turun dari langit dengan suara kepakan yang menderu.
Seekor naga berukuran sedang—namun tetap terlihat mengintimidasi bagi warga sipil—mendarat dengan anggun, menimbulkan debu pasir yang berterbangan. Di punggungnya, duduk seorang pria dengan zirah hitam legam yang dihiasi batu kristal ungu mengkilap. Sosok itu terlihat begitu asing dan tangguh, sampai akhirnya ia membuka helm besinya.
"Riezkyy!!" teriak pria itu dengan cengiran lebar.
Riezky terbelalak. Wajah itu, nada suara itu... "Andree!"
Tanpa ragu, Riezky berlari menyambut teman masa kecilnya itu. Mereka berpelukan erat, saling menepuk bahu dengan keras. Riezky kemudian beralih ke makhluk bersisik di samping Andre, mengusap kepala sang naga yang terasa hangat dan keras.
"Harry? Wah, gila! Seingatku dulu ukurannya masih sekecil tong wine, sekarang sudah bisa buat terbang!" seru Riezky kagum.
Andre tertawa, turun dari punggung Harry dengan suara dentingan logam zirahnya. "Sepertinya tempat kita sudah berkembang jauh ya semenjak aku pergi," ucap Andre sambil memandang sekeliling, memperhatikan anak-anak yang masih bersembunyi di balik kaki Riezky dengan wajah ketakutan.
Riezky terkekeh. Ia melambai pada anak-anak itu. "Ayo sini, jangan takut! Namanya Harry, dia baik kok. Coba sentuh saja, rasanya seperti memegang batu hangat."
Sambil memandu anak-anak berinteraksi dengan Harry, Riezky kembali menatap temannya. "Yah, begitulah... Aethelgard sudah banyak berubah. Tapi tumben banget kamu ke sini? Biasanya kan sibuk di Pulau Naga."
"Nggak ada salahnya kan pulang kampung?" jawab Andre santai sambil mulai melepaskan beberapa bagian armornya yang terlihat sangat berat dan rumit.
"Gimana keadaan di sana?" tanya Riezky, memperhatikan batu-batu ungu di zirah Andre yang tampak berdenyut dengan energi misterius.
Andre mendesah panjang, raut wajahnya berubah sedikit melas. "Naga-naganya subur, orang-orangnya juga aman tentram. Tapi satu yang bikin malas... aku malah diangkat jadi orang yang bertanggung jawab melindungi pulau itu. Padahal niatku jadi penunggang naga cuma biar bisa jalan-jalan, eh sekarang malah nggak bisa rebahan karena harus patroli terus."
Riezky tertawa lepas, ia merasa senasib. "Wah, sama dong! Aku juga di sini begitu. Yah, semuanya berubah semenjak turnamen di Redhenvous itu. Aku jadi orang sibuk sekarang."
"Oh, jadi berita itu benar ya?" Andre menyikut lengan Riezky. "Kabar tentang nelayan Aethelgard yang mematahkan tulang raksasa di final sampai ke telingaku. Hebat kau, Riz!"
Riezky membusungkan dadanya sedikit, merasa bangga di depan kawan lamanya. Dua bocah Aethelgard yang dulu hanya bermimpi di pinggir pantai, kini berdiri sebagai pelindung di tempat yang berbeda. Namun, di balik obrolan santai itu, Riezky melihat Harry sedikit gelisah, matanya yang besar sesekali menatap ke arah laut lepas dengan tajam.
Mereka berdua mulai melangkah masuk ke dalam hutan, meninggalkan Harry yang sedang asyik berjemur di pasir pantai. Langkah mereka membawa mereka menyusuri jalan setapak yang dipenuhi lumut dan akar besar, tempat di mana sepuluh tahun lalu mereka sering berlarian membawa pedang kayu.
"Ndre, yakin cuma pulang kampung? Wajah kamu kusam banget tuh," tanya Riezky santai sambil mematahkan ranting pohon yang menghalangi jalan.
Andre terdiam sesaat. Langkahnya melambat, dan binar jenaka di matanya sedikit meredup. Ia menghela napas panjang, suara napas yang terdengar sangat berat bagi pemuda seumurannya.
"Kamu masih pinter baca ekspresi ya...," ujar Andre lesu. "Hhhh, yah aku cuma gelisah aja, Riez. Jadi pelindung itu tanggung jawab besar. Banyak orang yang menaruh harapan padaku, tapi aku sendiri bahkan tidak percaya pada diriku sendiri. Gimana kalau aku gagal saat mereka paling membutuhkanku?"
Riezky berhenti berjalan. Ia berbalik dan merangkul bahu Andre yang dibalut kulit zirah yang keras.
"Hehhh," ucap Riezky sambil sedikit mengguncang bahu temannya itu. "Pas kecil katanya, 'aku nanti mau naik naga gede terus nyelamatin orang-orang', kok sekarang gini? Aneh bangetttt!"
Riezky terkekeh pelan sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih hangat. "Lagian, coba bayangin, berapa banyak anak-anak di kampungmu itu yang bermimpi pengen jadi kamu? Pasti banyak tahu. Aku juga di sini begitu. Bahkan ada anak yang rambutnya sampai dicat biru semua, mentang-mentang aku punya beberapa helai rambut biru sejak dapet kekuatan ini. Mereka nggak peduli kita ragu atau nggak, yang mereka lihat adalah sosok yang bikin mereka merasa aman."
Andre menoleh, melihat Riezky yang kini tampak jauh lebih dewasa meski bicaranya masih ceplas-ceplos.
"Kamu beneran sudah jadi 'kakak' buat kota ini ya," ucap Andre sambil tersenyum tipis, rasa sesak di dadanya sedikit berkurang.
"Ya begitulah. Hidup memang nggak pernah sesuai rencana, tapi ya dijalanin aja. Selama masih bisa makan ikan marlin dan melihat orang-orang senyum, kurasa itu cukup buat jadi alasan untuk tetap berdiri," sahut Riezky mantap.
Hutan yang tadinya penuh nostalgia mendadak berubah menjadi dingin. Angin berhenti berdesir, dan kicauan burung berganti dengan kesunyian yang mencekam. Riezky tiba-tiba berhenti melangkah, otot-ototnya menegang.
"Kenapa, Riez?" tanya Andre. Insting ksatria naganya langsung menyala. Tangan kirinya sigap memegang gagang pedang di pinggulnya, mata ungu pada zirah hitamnya mulai berpendar redup.
Tanpa menoleh, Riezky memutar badannya secepat kilat. Tangan kanannya menyambar udara, dan SRET! Ia menangkap sebatang anak panah yang diselimuti aura bayangan hitam pekat yang berdenyut.
"Kalian lagi," ucap Riezky rendah. Ia meremas panah itu, membakarnya dengan api murni hingga benda terkutuk itu lenyap tak berbekas.
Dari balik pepohonan yang rimbun, muncullah siluet-siluet hitam. Mereka tidak memiliki wajah, tidak memiliki bentuk pasti—hanya gumpalan kegelapan yang menyerupai manusia, dengan mata merah yang menyala samar. Mahluk-mahluk bayangan yang dulu pernah menghantuinya, kini muncul kembali dalam jumlah yang jauh lebih banyak.
"Ada apa ya?" tanya Andre, menarik seperempat bilah pedangnya dari sarung, bersiap menghadapi ancaman yang belum pernah ia lihat di Pulau Naga.
"Bantu aku sedikit, Andre!" seru Riezky. Tangannya seketika dikelilingi api yang membara. Dengan satu ledakan kecil di kakinya, ia melesat ke arah salah satu bayangan yang bergelantungan di pohon.
"Baiklah! Ayo maju!" Andre berteriak penuh semangat, mencabut pedang besarnya yang memancarkan cahaya ungu mistis.
Namun, semangat Andre terpatahkan dalam sekejap. Alih-alih menyebar, semua mahluk bayangan itu justru mengabaikan Andre. Mereka semua meluncur, melesat, dan membidikkan panah-panah kegelapan mereka hanya ke satu arah: Riezky.
"Tentu saja," gumam Riezky jengkel. Ia teringat kata-kata Sabrina dua tahun lalu—bahwa mahluk-mahluk ini seolah memiliki dendam pribadi atau ketertarikan aneh hanya padanya.
"Riezky, ke sini!" teriak Andre.
Tanpa pikir panjang, Riezky melompat mundur, menghampiri posisi Andre yang sudah memasang kuda-kuda defensif.
"Kok cuma ke kamu sih? Aku yang pakai zirah keren begini malah dicuekin!" tanya Andre heran sekaligus kesal karena harga dirinya sebagai ksatria sedikit terusik.
"Andai aku tahu," sahut Riezky pendek sambil memunculkan Fist Blade di kedua tangannya. "Mungkin mereka nggak suka sama gaya rambutku!"
Pertarungan pun pecah di tengah hutan tua itu. Riezky bergerak seperti kilat, menebas setiap bayangan yang mendekat dengan bilah kacanya, sementara Andre mengayunkan pedang ungunya untuk menghalau badai anak panah kegelapan yang menghujani mereka dari segala arah. Tebasan pedang dan ledakan api menghiasi rimbunnya hutan, menciptakan simfoni baja dan sihir yang mematikan.