Riyanti Aryani adalah seorang gadis dari keluarga berada. Ia terpaksa jauh dari keluarganya lantaran ingin memenuhi cita-citanya. Sebelum tinggal di Surabaya, Riyanti atau lebih akrab dipanggil Riri itu sebelumnya kuliah di salah satu universitas di Malang. Setelah lulus, Riri diterima kerja di Surabaya. Ia ngekos di salah satu tempat kos yang cukup elit. Sebenarnya orang tuanya bisa saja membeliksnnya rumah di Surabaya, namun mereka khawatir Riri akan semakin betah di sana dan akan lupa pulang ke Lombok. Namun siapa sangka Riri bertemu dengan jodohnya di sana.
Sultan Ahmed Alfahrezi, anak sulung dari pasangan Windi dan Javier. Kegabutannya menjadi seorang driver ojek membuat dirinya akhirnya bertemu dengan jodohnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecupan pertama
Riri melangkah ke lemari untuk menaruh bajunya. Sedangkan Sultan beranjak dari atas sajadah dan duduk di tempat tidur. Ia membuka kemeja batiknya dan menyisakan kaos dalam putih.
"Sayang... "
"Iya bang... "
"Em... cutimu akan diperpanjang. Aku sudah mengurusnya."
"Oh ya? Lalu bagaimana tanggapan pak direktur?"
"Tanggapannya ya cukup terkejut. Setelah ini akan aku urus pemindahan tugasmu ke kantor pusat."
Riri tidak mungkin membantahnya. Setelah ini hidupnya akan bergantung kepada suaminya. Jadi ia harus belajar menerima kenyataan.
"Sayang, aku lihat dari tadi kamu mondar mandir. Nggak capek apa?"
"Eh itu... nggak, eh iya."
Sultan menyadari jika istrinya saat ini sedang grogi. Sultan yang sedari tadi menahan diri untuk memeluk istrinya itu, kini beranjak dari tempat tidur lalu memeluk Riri dari belakang. Sontak Riri terkejut menerima pelukan dadakan dari suaminya. Badannya pun langsung gemetar, namun ia berusaha untuk tetap tenang.
"Bang... "
Kali ini Sultan menyandarkan kepalanya ke bahu Riri.
"Mulai sekarang ganti panggilannya ya, sayang."
Nafas Sultan yang mengenai leher Riri membuat Riri merinding disko. Sultan semakin mengeratkan pelukannya.
"Kalau belum terbiasa nggak pa-pa panggil mas saja, dulu."
"Hem, iya mas."
Keduanya masih terpaku di tempatnya berdiri. Pikiran mereka melanglang buana ke mana-mana.
Beberapa saat kemudian, Sultan mulai melepas pelukannya lalu memutar badan Riri agar menghadap kepadanya. Ia meraih kedua tangan istrinya dengan lembut. Riri menundukkan kepala tidak berani menatapnya. Sultan meraih dahunya agar mendongak.
"Sayang kamu kenapa, malu?"
Riri menggelengkan kepala.
"Mana istriku yang tadi merayuku saat mau makan?"
Riri menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sultan tergelak melihatnya.
"Ih... kok diketawain sih? Aku marah nih." Riri pura-pura merajuk.
"Mana ada orang marah bilang-bilang?"
Sultan berusaha membuka tangan tangan Riri yang menutupi wajahnya. Tentu saja dengan kekuatannya, Sultan dapat melakukannya dengan mudah. Dan kali ini ia memeluk istrinya dari depan. Riri berusaha untuk melepaskan diri, namun tetap saja kekuatannya kalah dengan kekuatan Sultan.
"Jangan bergerak, sayang! Nanti aku cium lho!"
Riri pun langsung diam. Tangannya membalas pelukan suaminya. Sultan pun mengulum senyum saat mendapatkan balasan dari istrinya. Sebenarnya Sultan ingin sekali lebih dari itu, namun ia harus menahan diri sampai resepsi nanti. Apa lagi saat ini istrinya masih dalam masa haid. Ia tidak ingin tersiksa sendiri.
"Sayang, kamu tidak mengantuk? Ayo kita tidur siang dulu sebentar."
"I-iya, mas. "
Sultan menggandeng tangan Riri untuk naik ke atas tempat tidur. Mereka berbaring di tempat masing-masing. Mungkin Sultan benar-benar mengantuk, sehingga tidak butuh lama ia langsung terlelap. Sedangkan Riri, ia masih belum bisa terlelap. Terdengan suara dengkuran halus dari sampingnya, Riri pun tidur miring menghadap Sultan. Dapat ia lihat wajah teduh suaminya saat tidur pulas.
"Ya Allah, aku tidak menyangka jika laki-laki yang menjadi suamiku ini benar-benar dia. Laki-laki yang tidak sengaja aku temui sebagai tukang ojek. Kurasa hidupku seperti di sinetron." Batinnya sambil memandang wajah suaminya.
Lama-lama Riri pun ikut terlelap. Kini keduanya sedang bermimpi indah.
Sisi dan suaminya baru saja masuk ke kamar. Setelah menemui beberapa tamu yang ketinggalan, akhirnya mereka bisa beristirahat juga.
Sekitar jam 4 sore, Sultan terbangun. Ia sedikit terkejut karena saat ini posisi tangan Riri sedang berada di perutnya. Pantas saja ia merasa sedikit berat. Sultan mengulum senyum saat mengetahuinya. Tangannya terangkat untuk mengusap pipi istrinya. Riri masih belum terusik. Saat ini sedang bermimpi jalan-jalan di pantai.
Sultan pun beranjak pelan-pelan karena sesuatu yang ada pada dirinya sudah terbangun. Ia tidak ingin Riri melihat itu. Sultan pun segera masuk ke kamar mandi.
Saat keluar dari kamar mandi, Riri pun terbangun.
"Mas, kok nggak bangunin aku?"
"Nggak pa-pa, lagian kamu pasti capek. Aku mau shalat dulu."
"Hem.. "
Riri pun bangun dan pergi ke kamar mandi.
Setelah selesai shalat Ashar, Sultan mendapat telpon dari opa. Opa meminta Sultan untuk segera kembali. Karena ketika pribadi sudah siap-siap dan akan terbang nanti setelah Maghrib. Sultan tentu tidak bisa membantah sang opa. Lagi pula ini juga untuk kebaikannya.
"Siapa yang telpon, mas? "
"Opa."
"Ada apa, kok galau?"
"Sayang, aku harus segera kembali. Karena nanti habis maghrib akan terbang ke Surabaya."
Ada perasaan yang tidak bisa diungkapkan oleh Riri saat mendengar hal itu. Namun ia harus pura-pura biasa.
"Ya sudah, kamu kembali saja. Nanti aku balik ke rumah bareng sama keluarga."
"Sebenarnya aku masih rindu. Tapi ini demi kebaikan kita."
"Satu minggu lagi kita akan bertemu, mas."
"Satu minggu bagaikan setahun."
"Gom...... bal!"
Tanpa aba-aba, Sultan menutup mulut Riri dengan jarinya. Sehingga Riri pun langsung terdiam. Dari tadi Sultan sudah menahan diri untuk tidak menjamah bibir itu, namun kali ini ia tidak bisa menahannya lagi. Sultan memegang kedua bahu istrinya lalu memiringkan sedikit kepalanya. Ia mengecup bibir ranum istrinya. Mata Riri terbelalak mendapatkan kecupan untuk pertama kalinya. Sultan ingin melakukannya sekali lagi, namun suara ketukan pintu menghentikannya.
Tok tok tok
"Sial!" Batinnya.
"Biar aku yang buka, mas."
"Eh tunggu, kamu nggak pakai jilbab."
"Ah iya, lupa."
"Biar aku saja."
Sultan pun membuka pintu. Ternyata yang datang adalah sopir yang menjemput Sultan. Sultan pun menyuruhnya untuk menunggu di bawah. Ia sendiri segera merapikan diri.
"Sayang, maaf aku harus segera pergi. Jaga diri bai-baik ya. Jangan keluar rumah kalau tidak sama keluarga!"
"Iya, mas. Kamu juga hati-hati. Jangan lupa untuk selalu ngabari aku."
Tanpa sadar mata Riri berkaca-kaca.
"Hei, apa ini? Kenapa?"
"Nggak kok, cuma kelilipan." Bohongnya.
"Ah masa'? Mana coba sini aku lihat."
Sebenarnya Sultan tahu jika istrinya berbohong. Ia pun mengimbanginya, Pura-pura memeriksa mata Riri. Namun ujung-ujungnya ia mengecup kembali bibir Riri. Bukan hanya kecupan, namun kali ini Sultan sedikit mengulumnya. Riri pun terbawa suasana. Namun Sultan segera sadar dan melepas pagutannya. Ia tidak ingin kebablasan.
"Sudah ya, jangan sedih! Kalau kamu sedih, nanti aku bakal berontak sama opa biar bisa tinggal di sini lebih lama lagi. "
"Eh jangan!"
"Peluk dulu."
Riri pun memeluk suaminya.
Riri ikut mengantar Sultan sampai ke bawah. Sultan juga sempat berpamitan kepada mertuanya. Sebelum Sultan masuk ke dalam mobil, Riri mencium punggung tangannya, dan Sultan membalas dengan mengecup keningnya.
"Da... sayang." Sultan melambaikan tangannya. Dan Riri membalasnya.
Setelah mobil Sultan sudah tidak terlihat, Riri pun kembali ke kamarnya.
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kesempatan mumpung ada hadiah dari opa 🤭🤭