NovelToon NovelToon
Kembalinya Kaisar Iblis

Kembalinya Kaisar Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Spiritual / Sistem / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: ULAR DI DALAM SARANG

Pagi di Klan Namgung kembali dimulai dengan suara pedang.

Namun bagi Namgung Jin, pagi ini berbeda. Ini adalah pagi pertama di mana ia tidak hanya mendengarkan suara itu dari kejauhan, tapi juga merasakannya di dalam tubuh. Semalam, setelah membersihkan satu meridian, ia bisa merasakan aliran gi yang sangat tipis mengalir. Kecil. Hampir tidak berarti. Tapi cukup untuk membuatnya sadar bahwa proses penyembuhan telah dimulai.

Ia duduk bersila di kamarnya, menjalani rutinitas kultivasi pagi. Teknik pernapasan Kitab Sembilan Jurang—lapisan pertama, nafas iblis pemula. Setiap tarikan napas menarik gi dari lingkungan, setiap hembusan membersihkan kotoran di meridian.

Satu jam berlalu.

"Meridian kedua... hampir terbuka."

Keringat membasahi dahinya. Wajahnya pucat, tapi matanya semakin terang. Dua meridian terbuka dalam dua hari—kecepatan yang mustahil bagi kultivator biasa. Tapi ini bukan kultivasi biasa. Ini adalah teknik terlarang yang dirancang untuk memaksimalkan efisiensi dengan risiko tinggi.

"Jika aku terus begini, dalam sebulan aku akan memiliki naegong setara sepuluh tahun kultivasi normal."

Cukup untuk bertahan hidup. Tidak cukup untuk bertarung melawan master sejati. Tapi untuk saat ini, otaknya adalah senjata utama, bukan pedangnya.

Pintu kamar diketuk.

"Jin-ah?"

Nyonya Yoon. Seperti biasa, dengan nampan bubur di tangan. Tapi hari ini, ada yang berbeda. Wajahnya pucat, matanya sembab, dan tangannya sedikit gemetar.

"Ibu? Ada apa?"

Nyonya Yoon meletakkan nampan, lalu duduk di samping putranya. Ia diam beberapa saat, seolah mengumpulkan keberanian.

"Jin-ah... Ibu... Ibu baru saja dipanggil ke paviliun utama."

"Istri Utama?"

Nyonya Yoon mengangguk. "Ia memanggil Ibu. Dan ia... ia bertanya tentangmu. Tentang kondisimu, tentang apa yang kau lakukan, tentang..." Ia berhenti, suaranya bergetar. "...tentang apakah kau bicara dengan ayahmu tentang sesuatu."

Namgung Jin diam. Matanya menyipit.

"Apa yang Ibu jawab?"

"Ibu bilang kau masih lemah, hanya diam di kamar. Tapi ia... ia tidak percaya, Jin-ah. Aku bisa lihat dari matanya. Ia curiga."

Simma di dada Namgung Jin berdenyut—denyutan marah. Bukan marahnya, tapi marah milik Namgung Jin asli, yang tahu betapa sering ibunya diperlakukan rendah oleh istri utama.

"Ibu tidak perlu khawatir." Ia meraih tangan ibunya—tangan kasar yang penuh kapalan karena bekerja. "Aku akan urus ini."

"Jangan, Jin-ah!" Nyonya Yoon menggenggam tangannya erat. "Dia istri utama! Dia bisa menghancurkan kita! Ibu... Ibu tidak mau kehilanganmu."

"Ibu tidak akan kehilanganku." Suaranya lembut, tapi di dalamnya ada keyakinan yang aneh. "Aku janji."

---

Setelah ibunya pergi, Namgung Jin duduk merenung.

Nyonya Kim bergerak lebih cepat dari dugaannya. Ia mengira wanita itu akan menunggu, mengamati, baru bertindak setelah yakin. Tapi ternyata Nyonya Kim langsung menekan dari sisi yang paling lemah—ibunya.

"Cerdik. Tapi bodoh."

Cerdik karena menyerang titik terlemah. Bodoh karena menunjukkan kartunya terlalu cepat. Dengan memanggil Nyonya Yoon, Nyonya Kim telah mengkonfirmasi bahwa ia merasa terancam. Dan orang yang merasa terancam cenderung membuat kesalahan.

Namgung Jin berdiri, mengambil jubah sederhananya. Sudah waktunya untuk bertemu langsung dengan "ibu tiri" -nya.

---

Paviliun utama Klan Namgung adalah kebalikan total dari paviliun reot tempat ia tinggal.

Bangunan ini menjulang dua lantai dengan atap hijau berlapis genting berkualitas tinggi. Pilar-pilar merahnya diukir dengan naga dan burung phoenix—simbol keseimbangan. Halaman depannya ditanami bunga-bunga indah yang diimpor dari negeri asing. Di setiap sudut, pelayan berlalu-lalang dengan pakaian rapi, membawa makanan atau perlengkapan.

Namgung Jin berhenti di gerbang depan.

Dua pengawal langsung menghadangnya.

"Berhenti! Ini paviliun utama. Tidak sembarang orang bisa masuk."

Satu pengawal menatapnya dengan pandangan merendahkan—pandangan yang sudah terlalu sering diterima Namgung Jin asli. "Kau... kau anak selir, kan? Yang barusan diserang?"

"Aku ingin bertemu Istri Utama."

Pengawal itu tertawa. "Kau? Bertemu Nyonya? Hah! Bahkan untuk masuk ke halaman depan saja kau tidak—"

"Suruh dia masuk."

Suara itu datang dari dalam. Seorang dayang berpakaian rapi melangkah keluar, menatap para pengawal dengan dingin. "Nyonya sudah tahu kedatangannya. Suruh dia masuk."

Para pengawal terkejut, tapi segera membungkuk dan memberi jalan.

Namgung Jin melangkah masuk tanpa berterima kasih.

---

Di ruang tamu paviliun utama, Nyonya Kim duduk di kursi utamanya.

Wanita ini berusia sekitar empat puluhan, tapi perawatannya luar biasa. Kulitnya halus, rambutnya disanggul sempurna dengan hiasan jepit emas. Jubahnya dari sutra termahal, dengan sulaman burung phoenix berwarna merah. Di jarinya, tiga cincin batu giok berkilauan.

Di sampingnya, berdiri Namgung So-ho—kakak tiri Namgung Jin yang masih memegangi pergelangan tangannya. Matanya membelalak saat melihat Namgung Jin masuk, campuran antara marah dan takut.

"Jadi, kau datang." Nyonya Kim tersenyum—senyum yang tidak mencapai mata. "Duduklah, anak muda."

Namgung Jin duduk di kursi yang disediakan—kursi yang lebih rendah dari kursi Nyonya Kim. Simbol status yang disengaja.

"Terima kasih atas undangannya, Nyonya."

"Undangan?" Nyonya Kim tertawa kecil. "Aku tidak mengundangmu. Tapi karena kau sudah datang, tidak sopan rasanya mengusirmu."

Ia memberi isyarat, dan seorang dayang membawakan teh. Teh hijau berkualitas tinggi—aroma mahal yang tidak pernah dicium Namgung Jin asli seumur hidupnya.

"Cicipi. Teh ini dari Gunung Jirisan, dipetik hanya saat bulan purnama."

Namgung Jin mengambil cangkir, mencium aromanya, lalu meletakkannya kembali tanpa mencicipi.

"Maaf, Nyonya. Aku tidak bisa minum teh."

"Oh? Kenapa?"

"Karena ibuku mengajarkanku untuk tidak pernah menerima makanan atau minuman dari orang yang tidak aku percaya."

Udara di ruangan itu langsung berubah.

Senyum Nyonya Kim membeku. Namgung So-ho melangkah maju, wajahnya merah. "Berani-beraninya kau—!"

"So-ho." Nyonya Kim mengangkat tangan, menghentikan putranya. Matanya menyipit menatap Namgung Jin. "Kau bicara seperti orang yang tidak takut mati."

"Aku sudah hampir mati sekali, Nyonya. Setelah itu, kematian tidak lagi menakutkan."

"Hmm." Nyonya Kim menyesap tehnya, berpura-pura tenang. "Katakan, apa yang kau inginkan dengan datang ke sini?"

"Aku ingin bicara terus terang, Nyonya. Tanpa basa-basi."

"Bicara."

Namgung Jin mencondongkan tubuh sedikit. "Aku tahu Nyonya yang mengirim pembunuh dari Yuhyanggok."

Wajah Namgung So-ho memucat. Tapi Nyonya Kim—wanita itu hanya tersenyum.

"Tuduhan serius. Apa kau punya bukti?"

"Aku punya cukup bukti untuk membuat dewan klan curiga." Ia memasukkan tangan ke balik bajunya, mengeluarkan secarik kertas—catatan yang ia ambil dari perpustakaan. "Catatan transaksi klan tahun lalu. Lima puluh nyang perak dikirim ke Yuhyanggok. Atas nama Nyonya Kim. Alasan: donasi kuil."

Untuk pertama kalinya, kilatan panik muncul di mata Nyonya Kim. Tapi cepat hilang.

"Itu... itu donasi sungguhan. Aku menyumbang ke kuil di dekat Yuhyanggok."

"Tentu saja." Namgung Jin tersenyum—senyum yang sama sekali tidak hangat. "Dan kebetulan, kuil itu dikelola oleh biksu-biksu yang... bagaimana mengatakannya... memiliki hubungan erat dengan Yuhyanggok. Sungguh kebetulan yang menarik."

Nyonya Kim diam. Tangannya yang memegang cangkir teh sedikit bergetar.

"Apa maumu?" Suaranya kini rendah, tanpa basa-basi.

"Aku ingin jaminan."

"Jaminan?"

"Ibuku tidak boleh diganggu lagi. Tidak ada panggilan mendadak, tidak ada intimidasi, tidak ada ancaman. Ia hidup tenang di paviliunnya, dan aku akan menjaga jarak dari urusan klan."

Nyonya Kim menatapnya tidak percaya. "Hanya itu?"

"Hanya itu."

"Kau tidak ingin posisi? Kekuasaan? Harta?"

Namgung Jin tertawa—tawa yang membuat Namgung So-ho merinding. "Nyonya, jika aku menginginkan semua itu, aku tidak akan datang ke sini dengan cara ini. Aku akan diam-diam mengumpulkan bukti lebih banyak, lalu menjatuhkan Nyonya di depan dewan klan. Tapi aku tidak melakukan itu."

Ia berdiri.

"Karena aku tidak ingin perang. Aku hanya ingin hidup tenang dengan ibuku. Jika Nyonya bisa memberi kami itu, maka catatan ini tidak akan pernah dilihat siapa pun."

Ia meletakkan kertas itu di meja, lalu berbalik menuju pintu.

"Tunggu."

Suara Nyonya Kim menghentikannya.

"Kau... kau benar-benar aneh, Namgung Jin. Kebanyakan orang, jika punya senjata sepertimu, akan menggunakannya untuk keuntungan sebesar-besarnya."

"Kebanyakan orang mati muda karena keserakahan, Nyonya."

Ia melangkah keluar, meninggalkan Nyonya Kim dan Namgung So-ho yang tercengang.

---

Di luar paviliun, Namgung Jin berjalan santai. Tapi di dalam hatinya, ia tersenyum.

"Langkah pertama selesai."

Ia tidak benar-benar memberikan kertas itu. Yang ia letakkan di meja hanyalah kertas kosong. Catatan asli masih aman di balik bajunya.

Mengapa? Karena ia tidak percaya Nyonya Kim akan menepati janji. Orang seperti itu hanya mengerti kekuatan. Dengan memberikan "kertas asli", ia memberi ilusi bahwa Nyonya Kim telah menang—bahwa ia telah mendapatkan kembali bukti itu. Tapi jika Nyonya Kim berkhianat, ia masih punya senjata.

Selain itu, dengan menunjukkan bahwa ia hanya ingin "hidup tenang", ia menanamkan false sense of security. Nyonya Kim akan meremehkannya, menganggapnya bodoh yang tidak tahu memanfaatkan peluang.

Dan orang yang meremehkan lawan adalah orang yang paling mudah dikalahkan.

"Langkah kedua: tunggu."

Ia akan menunggu Nyonya Kim membuat gerakan. Dan saat itu terjadi, ia akan siap.

---

Malam harinya, Namgung Jin kembali ke perpustakaan.

Kali ini, ia masuk lewat pintu depan. Tidak ada gunanya sembunyi-sembunyi lagi, karena Tetua Pyo sudah tahu.

Tetua tua itu sedang duduk membaca di sudut, seolah sudah menunggunya.

"Kau datang."

"Tetua memanggil."

"Aku tidak memanggil. Tapi aku tahu kau akan datang." Tetua Pyo menutup bukunya. "Kudengar kau mengunjungi Istri Utama hari ini."

"Informasi cepat."

"Di klan ini, tidak ada yang rahasia. Apa yang kau bicarakan?"

Namgung Jin duduk di seberangnya. "Bisnis pribadi."

Tetua Pyo mengamatinya. "Kau tahu, kau bisa mempercayaiku. Aku tidak suka Nyonya Kim. Keluarganya terlalu banyak mencampuri urusan klan."

"Aku tidak mempercayai siapa pun, Tetua. Itu yang membuatku tetap hidup."

Tetua Pyo tersenyum getir. "Bijak untuk usiamu."

"Aku memang bijak."

Keheningan sejenak. Lalu Tetua Pyo berbicara lagi.

"Tentang pertemuan antar sekte yang kubicarakan kemarin... ada perkembangan."

"Apa?"

"Utusan dari Sekte Shaolin sudah tiba lebih awal. Mereka minta bertemu dengan kepala klan besok. Dan... mereka membawa kabar buruk."

"Kabar buruk?"

"Sekte Iblis—Magyo—dilaporkan aktif kembali. Beberapa sekte kecil di perbatasan utara sudah diserang. Delapan Sekte Besar khawatir ini adalah awal dari invasi besar-besaran."

Namgung Jin diam. Tapi di dalam hatinya, ada getaran.

Magyo. Sekte Iblis. Organisasi yang ia dirikan ribuan tahun lalu.

"Jadi mereka masih ada..."

"Kau tahu tentang Magyo?" Tetua Pyo menyipit.

"Hanya dari buku." Jawaban cepat. "Apa hubungannya dengan evaluasi Klan Namgung?"

"Delapan Sekte Besar akan mengerahkan kekuatan untuk menghadapi Magyo. Tapi mereka tidak bisa meninggalkan wilayah mereka tanpa pengawasan. Jadi mereka mencari sekutu yang bisa dipercaya untuk menjaga perbatasan."

"Dan Klan Namgung adalah salah satu kandidat."

"Tepat. Jika kita terpilih, kita akan mendapat pengakuan dan sumber daya. Jika tidak..." Tetua Pyo menghela napas. "...kita akan dianggap tidak berguna. Dan dalam dunia Murim, klan yang tidak berguna akan dimangsa."

Namgung Jin merenung. Ini peluang besar. Tapi juga bahaya besar.

"Kapan keputusan diambil?"

"Tiga hari lagi. Setelah semua utusan berkumpul."

"Aku perlu daftar utusan yang datang. Juga latar belakang mereka—sekutu, musuh, kelemahan."

Tetua Pyo mengerutkan kening. "Untuk apa?"

"Untuk membantu klan ini, tentu saja."

Tetua Pyo menatapnya lama. Lalu ia tertawa—tawa kecil yang getir.

"Kau benar-benar bocah aneh. Baiklah, aku akan usahakan."

---

Kembali di paviliun reot, Namgung Jin duduk bersila.

Malam ini, ia tidak langsung kultivasi. Pikirannya sibuk memproses informasi baru.

Magyo masih ada. Organisasi yang ia dirikan ribuan tahun lalu masih berdiri. Tapi siapa yang memimpinnya sekarang? Apakah Cheon Mu-gi—murid pengkhianat itu—masih terlibat?

"Jika Magyo bangkit, Murim akan kacau. Dan dalam kekacauan..."

Ia tersenyum.

Dalam kekacauan, selalu ada peluang.

Tapi untuk saat ini, fokus utamanya adalah Klan Namgung. Lindungi klan ini, tenangkan Simma, lalu bangun kekuatan. Setelah itu, baru ia bisa mulai mencari jejak masa lalunya.

Ia menarik napas dalam, memulai kultivasi malam.

Meridian kedua terbuka. Kini aliran gi mulai terasa—tipis, tapi nyata.

"Dua meridian dalam dua hari. Tiga hari lagi, aku akan punya cukup kekuatan untuk jurus dasar."

Tiba-tiba, ia mendengar suara dari luar.

Suara langkah kaki—banyak orang—mendekati paviliunnya.

Namgung Jin membuka mata. Matanya menyipit.

"Apa lagi ini?"

Pintu kamarnya didobrak paksa. Lima pria bersenjata masuk, di belakang mereka... Namgung So-ho.

Kali ini, pemuda itu tidak sendirian. Di sampingnya, berdiri seorang pria paruh baya dengan jubah hitam—sosok yang memancarkan tekanan berat. Dari cara berdiri dan aliran gi-nya, pria ini jelas seorang master.

"Kau pikir kau bisa mengancam ibuku dan pergi begitu saja, bocah haram?" Namgung So-ho tersenyum puas. "Perkenalkan, ini Pemburu Kwon—pembunuh bayaran lepas. Aku menyewanya khusus untukmu."

Pria berjubah hitam—Pemburu Kwon—melangkah maju. Matanya kosong, seperti mata ikan mati.

"Bocah, kau bisa mati cepat atau lambat. Terserah kau."

Namgung Jin diam. Matanya bergerak cepat, menghitung.

Lima pengawal—kultivator tingkat rendah, tidak berbahaya. Satu master—level menengah, cukup kuat untuk membunuhnya dalam satu serangan dengan kondisinya saat ini. Dan Namgung So-ho—pengecut di belakang.

"Kau yakin ingin melakukan ini, So-ho-ya?" Suaranya tenang. "Ibumu sudah setuju untuk berdamai."

"Ibuku boleh setuju. Tapi aku tidak!" Namgung So-ho meludah. "Kau mempermalukanku di depan para pengawal! Kau membuatku sakit selama tiga hari! Kau pantas mati!"

"Bunuh dia."

Pemburu Kwon melesat.

Cepat. Sangat cepat. Tangannya yang berkuku panjang seperti cakar menyambar leher Namgung Jin.

Tapi Namgung Jin sudah tidak di tempatnya.

Ia berguling ke samping, menghindari serangan pertama dengan margin sangat tipis. Tubuhnya masih lemah, tapi pengalaman ribuan tahun membuatnya bisa membaca gerakan lawan sebelum serangan dilancarkan.

"Oh?" Pemburu Kwon sedikit terkejut. "Kau bisa menghindar? Menarik."

Ia menyerang lagi. Kali ini lebih cepat.

Namgung Jin menghindar lagi—tapi kali ini, ujung jari lawan menyobek bajunya. Satu sentimeter lagi, dan kulitnya ikut robek.

"Lari, bocah. Lari sebentar. Itu akan membuat perburuan lebih menyenangkan."

Namgung Jin tidak lari. Ia berdiri, menatap lawannya.

"Pemburu Kwon, ya? Aku pernah dengar namanya. Pembunuh bayaran yang suka menyiksa korbannya sebelum mati. Tapi kau punya satu kelemahan besar."

"Oh? Apa itu?"

"Kau terlalu percaya diri."

Dari balik bajunya, Namgung Jin mengeluarkan sesuatu—sebuah botol kecil berisi cairan bening. Ia melemparkannya ke lantai. Botol itu pecah, dan cairan itu menguap menjadi kabut tipis.

"Apa ini?" Pemburu Kwon mundur selangkah.

"Racun pernapasan. Efeknya lambat, tapi pasti. Dalam sepuluh napas, paru-parumu akan terbakar."

Wajah Pemburu Kwon berubah. "Bohong! Mana mungkin kau punya—"

Tapi ia sudah merasakannya. Rasa panas di dada. Batuk kering.

"Dasar bocah sialan!"

Ia menyerang dengan ganas, tapi gerakannya sudah melambat. Racun itu bekerja.

Namgung Jin menghindar lagi—kali ini lebih mudah. Lalu ia berlari ke arah jendela, melompat keluar.

"Kejar dia!" teriak Namgung So-ho.

Tapi para pengawal ragu. Kabut racun masih menguar.

Pemburu Kwon jatuh berlutut, batuk-batuk. "R-Racun ini... benar-benar..."

"Kau bodoh!" Namgung So-ho berteriak panik. "Bahkan bocah haram bisa mengelabui—"

"Diam!" Pemburu Kwon meraung. "Racun ini... tidak mematikan. Hanya melumpuhkan sementara. Tapi bocah itu... dia tahu persis dosisnya... dia tahu persis waktu efeknya..."

Ia menatap ke arah jendela, di mana Namgung Jin telah menghilang.

"Bocah itu... monster."

---

Namgung Jin berlari di antara bayangan.

Napasnya tersengal—lari cepat masih terlalu berat untuk tubuh ini. Tapi ia harus terus bergerak. Racun itu hanya tipuan—sebenarnya hanya air biasa dengan sedikit ekstrak tanaman yang menyebabkan iritasi ringan. Tapi efek psikologisnya cukup untuk memberi waktu melarikan diri.

Ia tidak menuju paviliunnya. Itu tempat pertama yang akan mereka cari. Sebaliknya, ia berlari ke arah...

Perpustakaan.

Tetua Pyo masih di sana.

---

Tetua Pyo terkejut saat melihat Namgung Jin masuk dengan pakaian robek dan napas tersengal.

"Apa yang terjadi?"

"Namgung So-ho. Mengirim pembunuh." Namgung Jin duduk, mencoba mengatur napas. "Aku butuh tempat aman sementara."

Tetua Pyo mengerutkan kening. "Anak bodoh itu... Nyonya Kim tahu?"

"Tidak. Ini inisiatifnya sendiri."

"Kau yakin?"

"Ciri-ciri orang yang bertindak tanpa berpikir. Jika Nyonya Kim yang mengatur, ia akan mengirim algojo yang lebih profesional, dan tidak akan membiarkan putranya ikut."

Tetua Pyo mengangguk pelan. "Kau benar." Ia berdiri. "Kau bisa tinggal di sini malam ini. Aku akan bicara dengan kepala klan besok."

"Jangan."

"Apa?"

"Jangan bilang siapa pun. Biarkan mereka berpikir aku menghilang." Mata Namgung Jin berkilat. "Biarkan mereka panik. Biarkan mereka mencari. Dalam kepanikan, orang membuat kesalahan."

Tetua Pyo menatapnya lama. Lalu ia menggeleng, setengah kagum, setengah takut.

"Kau benar-benar iblis, Namgung Jin."

Namgung Jin tersenyum.

"Aku tahu."

---

1
brajamusti
bacanya loncat2 ah.. soalnya jadi kayak dracin.. bosan
brajamusti
duh cewenya nempel trussss.. mau tambah kuat gimana... bikin susah aja
brajamusti
dasar murid laknat.. malah pada suka sama guru ya.. 🤣
YANI AHMAD
baru ketemu novel sikat kek gini, kereen lanjut thor 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!