"sebenarnya mau pria itu apa sih?"
kanaya menatap kala dengan sorot mata penasaran.
pria dingin itu hanya menatapnya datar, seperti biasa tanpa ekspresi.
"hhhhhh" kanaya mendengus kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Kanaya masih duduk termenung di samping jendela kamarnya, sinar matahari pagi memasuki kamar kanaya, ada rasa enggan dihatinya untuk turun kebawah, menyiapkan sarapan yang ia kerjakan.
Entah mengapa kanaya merasa, ia tidak cukup siap untuk bertemu kala pagi ini, ada rasa kesal sekaligus malu.
'Entah mengapa aku bertanya seperti itu tadi malam'
Kanaya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, beranjak dari tempat duduknya, ia memutuskan untuk turun ke bawah.
Di meja makan, kanaya melihat tidak terhidang makanan apapun.
'Apakah kala sudah sarapan' tanya hati kanaya, matanya memandang ke sekeliling, di dapur ia juga tidak mendengar ada aktifitas apapun.
Perlahan kanaya melangkah ke ruangan laundry, ia menemukan mbak sri masih berkutat dengan cuciannya, kanaya mendekati mbak sri yang hampir selesai mencuci.
"Ehhh..mbak naya", sapa mbak sri, mengangkat pakaian yang akan dijemurnya. Melihat mbak sri kesusahan mengangkatnya, kanaya dengan cepat ikut mengangkat keranjang kain tersebut, mbak sri tersenyum mendapat bantuan dari istri majikannya itu.
"Mbak naya Sudah sarapan..?",
"Belum mbak..ntaran aja deh", sahut kanaya kalem. Ia ikut membantu mbak sri menjemur pakaian, tiba-tiba kanaya menoleh ke arah mbak sri yang sedang fokus menjemur.
"Apakah kala sudah sarapan?",
Mbak sri menggeleng pelan
"apakah mbak naya tak tahu kalau tadi malam mas kala keluar, dan sampai sekarang belum pulang"
Kanaya terkejut mendengar jawaban asisten rumah tangga kala itu, matanya membelalak ke arah mbak sri, seakan ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tak salah dengar.
"Kemana dia pergi?", tanya kanaya, lebih ke dirinya sendiri, dan wanita baik itu hanya menggeleng.
"Mbak naya, setelah saya beberes ini, saya mau minta ijin yah mbak!"
Kanaya yang masih tertegun, melihat kembali ke arah mbak sri dengan pandangan bertanya.
"Anu mbak..saya ijin keluar, mau kerumah sakit, menantu saya melahirkan" jelas mbak sri tersenyum, menatap kanaya yang sedang tidak fokus.
"Ohh...iya..ya mbak sri", kanaya menjawab cepat, tersenyum malu karena ketahuan sedang tidak fokus.
"Saya sudah siapkan sarapan mbak naya yah!,saya letakkan di lemari makan mbak..", teriak wanita baik itu sedikit keras ke arah kanaya yang masih tertegun di dekat jemuran.
Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 wib, kanaya sendirian dirumah besar itu, tadi mbak sri ijin menginap menemani menantunya yang melahirkan, karena putranya belum mendapat cuti dari perusahaannya.
Suara detak jam dinding terdengar sangat jelas, kanaya mulai resah, sampai sekarang kala belum pulang, dan kanaya tidak tahu harus menghubungi siapa.
Dia melangkah mondar mandir dari ruang tengah keruang tamu, sesekali kanaya menyingkap tirai jendela, menjenguk keluar jendela berharap kala pulang.
Malam semakin merayap, gerimis kecil menyapa malam sepi kanaya, ia kembali menatap jam dinding yang sudah menunjukkan jam delapan malam.
'Kemana dia yah tuhan' resah hati kanaya, kedua tangannya saling terkait. Sesekali ia menatap ke layar ponselnya, kanaya berharap ada panggilan dari kala disana.
Kanaya masih duduk di ruang tamu, walau jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, ia tak jua beranjak dari tempat duduknya. Kanaya mengangkat kakinya yang mulai terasa dingin, ia duduk meringkuk, memeluk kedua lututnya.
Kanaya kedinginan, karena gerimis tadi sudah berubah menjadi hujan yang lumayan lebat. Dia sedang berpikir untuk pergi ke atas, ke kamar mengambil cardigannya, belum kanaya memutuskan untuk beranjak dari tempat duduknya atau tidak, ia mendengar deru suara mobil memasuki halaman rumah.
Kanaya bangkit dari duduknya, menyingkap tirai jendela, berusaha menjenguk apakah suara mobil itu beneran di teras rumah. Tiba- tiba pintu rumah bergaya modern itu, terbuka lebar, dania melihat kala berjalan sempoyongan, disampingnya pak ardi kelihatan sangat susah payah menyangga tubuh jangkung kala, yang kelihatan menjulang tinggi di samping pak ardi supirnya.
Kanaya dengan cepat membantu pak ardi yang kelihatan sangat kesusahan, dia meletakkan tangan kiri kala keatas bahunya. Sementara tangan kanannya memeluk pinggang kala yang sempoyongan, kanaya menatap pak ardi bertanya apa yang terjadi dengan kala. Walaupun sebenarnya dia sudah tahu, kalau kala sedang mabuk.
"Saya tak tahu buk...tadi saya mendapat telepon dari pub, tempat tuan kala berada. ketika saya sampai sana, tuan kala sudah seperti ini, di bangku belakang mobil " jelas pak ardi sambil ikut melangkah ke arah yang kanaya tunjuk.
Kanaya memutuskan untuk meletakkan kala dikamar tamu, lantai satu. Karena dia yakin dirinya dan pak ardi tidak akan sanggup mengantar kala kekamarnya yang juga berada di lantai dua.
Mereka meletakkan tubuh kala ke tempat tidur dengan sedikit oleng, disebabkan kesenjangan tinggi dan bobot badan kala dengan mereka lumayan jauh, badan kala lumayan keras mendarat di tempat tidur.
Kanaya masih ngos-ngosan, begitu juga pak ardi. Kanaya meminta tolong kepada pak ardi untuk mengurus mobil dan menyampaikan kepada satpam untuk mengunci pintu setelah pak ardi pulang.
Kanaya menatap kala dengan ribuan tanda tanya di kepalanya, ia melepaskan sepatu kala kemudian naik ke atas tempat tidur.
Duduk di sisi kala yang masih tak sadarkan diri, melepaskan ikat pinggang pria itu. Kanaya mencoba melepaskan 2 kancing kemeja atas kala untuk membuatnya sedikit rileks.
Tiba-tiba kala menyambar tangan kanaya cepat, menariknya sedikit keras. Kanaya yang tak menyangka, tersentak dengan sedikit keras dan jatuh tepat ke atas dada kala. Wajah kala tepat berada di depan wajah kanaya , aroma minuman keras tercium dari wajah kala yang matanya masih terpejam.
Kanaya sedikit pusing mencium aroma minuman keras dari tubuh kala, sedikit menarik tangannya dari genggaman pria itu. Ia berusaha untuk duduk tegak kembali, kanaya masih menatap kala dengan pandangan penuh tanda tanya. Bersejingkat kanaya turun dari tempat tidur, belum sempat ia melangkah, suara gumaman dari mulut kala terdengar ditelinganya.
"Aku mau kamu naya......, aku mau kamu....",
Kanaya tercekat, ia tertegun. kanaya terperanjat, bingung atau senang, ia belum meyakini pendengarannya sendiri.
mata indah kanaya kembali menatap ke arah kala yang masih terpejam, Perlahan dia melangkah kembali mendekati kala.
Duduk disamping kala, menghadap ke arah wajah pria itu yang masih terpejam. Kanaya mencondongkan badannya memperhatikan wajah kala dari dekat, memandangi garis hidung kala dengan lekat.
Tanpa sadar jemari kanaya menyentuh hidung itu, menelusuri garis lurus hidung itu dengan takjub, betapa tampannya dia, pikir kanaya yang masih memandangi wajah kala.
Tiba-tiba mata kala terbuka dan menatap ke arahnya lekat, kanaya terkejut, dengan reflek ia menarik tangannya yang masih berada di hidung kala.
Posisi kanaya yang sedikit condong menempatkan wajah mereka saling berhadapan. Mata kanaya berkejap cepat, detak jantungnya mendadak berdetak lebih kencang.
Kanaya ingin bersuara, tapi suaranya tercekat di tenggorokannya. Mata itu, mata elang kala masih menatap kanaya lekat, bibirnya tiba-tiba tersenyum.
"naya.....bolehkah aku mau kamu?", gumamnya terdengar jelas, kemudian tiba-tiba jatuh tertidur.
Membuat kanaya yang masih terperanjat, semakin terkesima dan termangu. Tanpa sadar bibir kanaya tersenyum, pipinya merona merah.
Kanaya salah tingkah, ia bahagia. Tiba-tiba kanaya merasa ada sesuatu yang merayap diperutnya, ada ribuan kupu-kupu rasanya beterbangan dalam perut.
Kanaya bahagia, ingin rasanya dia membangunkan kala saat itu juga, dan menjawab pertanyaan kala dengan lantang.
"yah aku mau kamu juga...."
Bersambung.....