NovelToon NovelToon
JODOH, YANG DIJODOHKAN

JODOH, YANG DIJODOHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna ceriya

Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.

Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____

Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1. APARTEMEN ASLAN PARIS

Udara musim semi di Paris menyegarkan kulit yang terkena sinar matahari pagi. Di atas atap apartemen bergaya klasik yang menjadi kediaman Putra Tunggal Keluarga Lenoir, Aslan Noah Lenoir sedang menggerakkan tubuhnya dalam serangkaian gerakan olahraga ringan. Tangannya yang berotot memegang dumbbell dengan berat yang pas, setiap angkatan dilakukan dengan ritme yang terkontrol. Rambut coklat keemasan yang sedikit kusut menutupi sebagian dahinya yang berkeringat, sementara matanya yang tajam memandang jauh ke arah menara Eiffel yang menjulang tinggi di kejauhan.

“Hanya sepuluh menit lagi, lalu kita akan mulai rapat dengan pihak konsorsium,” suara tegas dari belakang membuatnya berhenti sejenak. Marcell de Lenoir, ayahnya yang sudah menginjak usia lima puluhan, berdiri dengan sikap tegas yang selalu menjadi cirinya sebagai seorang pengusaha sukses.

Aslan menurunkan dumbbellnya dengan perlahan, mengusap keringat di dahinya menggunakan ujung kaos olahraganya. “Rapat bisa ditunda, Pa. Saya belum selesai latihan.”

“Latihan bisa dilakukan kapan saja. Namun kesepakatan yang kita garap selama tiga bulan ini tidak bisa,” jawab Marcell dengan nada yang tidak bisa ditawar. “Kita sudah membahas hal ini berkali-kali, Aslan. Kamu harus fokus pada bisnis keluarga.”

Aslan menoleh, matanya yang biasanya tenang kini terbakar api. “Saya sudah fokus, Pa. Hanya saja saya tidak mau hidup yang seluruhnya diatur olehmu—tidak seperti rencana perjodohan yang kamu paksakan!”

Kata-kata itu menggema di atas atap. Sudah hampir setahun sejak Marcell mengumumkan rencana untuk menjodohkannya dengan Alana Hadinata, dan sejak saat itu, perdebatan antara keduanya tak pernah usai. Marcell menghela nafas panjang, melihat putranya yang sudah dewasa namun masih begitu gigih mempertahankan kehendaknya.

“Perjodohan itu bukan hanya tentang kamu dan saya, Aslan. Ini tentang masa depan kedua keluarga yang telah bersahabat selama puluhan tahun,” ujar Marcell dengan nada yang lebih lembut namun tetap tegas. “Kamu harus memahami bahwa tanggung jawabmu tidak hanya pada dirimu sendiri.”

Aslan menggelengkan kepala, langkahnya membawa tubuhnya menjauh dari ayahnya ke tepi atap. Ia melihat lalu lintas yang mulai padat di jalan raya di bawahnya, merasa seperti terkurung dalam dunia yang tidak pernah menjadi pilihannya. “Saya sudah berusaha memahami, Pa. Tapi kapan kamu akan memahami saya?”

Marcell mendekat perlahan, menepuk bahu putranya dengan tangan yang kuat namun penuh kasih. “Saya paham kamu ingin kebebasan, Aslan. Saya juga pernah seperti kamu—muda, penuh semangat, dan berpikir bahwa cinta dan kehidupan harus dipilih sendiri.”

Ia menghentikan langkahnya, melihat jauh ke arah langit Paris yang biru cerah. “Tapi kamu tahu apa yang saya pelajari setelah bertahun-tahun menjalani hidup? Kadang-kadang pilihan terbaik bukanlah yang paling menyenangkan di awalnya. Saya dan ibumu juga tidak saling mencintai pada awalnya, namun kita belajar untuk menghargai satu sama lain, bahkan mencintai dengan tulus.”

Aslan menoleh dengan tatapan penuh keraguan. “Itu berbeda, Pa! Mama dan kamu setidaknya punya kesempatan untuk mengenal satu sama lain sebelum menikah. Saya bahkan belum pernah melihat wajah Alana Hadinata sekalipun!”

“Karena kamu selalu menghindari setiap kesempatan untuk bertemu dengannya, Kalian sudah pernah bertemu saat mereka berkunjung ke rumah nyonya Aretha dubois nenek Alana di kota Lyon.” ucap Marcell dengan nada sedikit meningkat.

"Itu sudah lama sekali papa, aku bahkan sudah tidak ingat apapun lagi."

"Saya sudah beberapa kali mengusulkan kunjungan ke Indonesia, namun kamu selalu menemukan alasan untuk tidak pergi. Kamu tidak mau mencoba, Aslan. Itu yang membuat saya kesal.”

“Saya tidak perlu mencoba untuk tahu bahwa ini salah!” seru Aslan, menekuk tinjunya. “Anda menganggap saya seperti sekadar bidak catur yang bisa Anda pindahkan sesuka hati untuk kepentingan bisnis dan persahabatan keluarga!”

Marcell menghela nafas, menutup matanya sejenak untuk mengendalikan emosinya. “Tidak pernah ada maksud seperti itu, anakku. Saya hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu dan keluarga. Keluarga Hadinata adalah orang-orang baik, dan Alana adalah anak perempuan yang luar biasa—cerdas, cantik dan baik hati, dan memiliki prinsip yang kuat. Kamu akan beruntung memiliki dia.”

“Beruntung? Atau hanya memenuhi ekspektasi Anda?” tanya Aslan dengan nada penuh rasa sakit. “Saya sudah menjalani hidup sesuai keinginan Anda selama ini—kuliah di jurusan yang Anda pilih, bekerja di perusahaan keluarga, bahkan mengorbankan hubungan dengan orang-orang yang saya cintai. Kapan akhirnya saya bisa hidup untuk diri saya sendiri?”

Marcell terdiam sejenak, melihat wajah putranya yang penuh dengan rasa tidak adil. Matanya yang biasanya tegas kini menunjukkan kesedihan yang dalam.

“Kamu bilang kamu mengorbankan banyak hal untuk saya… tapi tahukah kamu, aku juga mengorbankan banyak hal untukmu dan keluarga ini?” ujarnya dengan suara yang lebih pelan. “Saya memilih untuk fokus pada bisnis agar kamu tidak perlu merasakan kesusahan seperti yang saya alami ketika muda. Saya ingin kamu memiliki semua yang terbaik tanpa harus berjuang seperti saya.”

Aslan menurunkan pandangannya, jantungnya sedikit lunak melihat ekspresi ayahnya yang jarang terlihat, Namun rasa tegang masih terasa dalam, mengguncang dadanya yang tersakiti.

Langit Paris mulai berpindah warna dari lembut menjadi terang siang , keduanya masih di atas atap apartemen bergaya Art Deco yang terletak di kawasan mewah Le Marais, Aslan de Lenoir berdiri dengan tubuhnya menoleh ke arah kota yang penuh lampu sorot, sementara ayahnya—Marcell de Lenoir—menatapnya dengan pandangan yang penuh kekhawatiran dan kebingungan. Udara panas namun sejuk menyapu wajah mereka berdua, membawa suara jauh dari lalu lintas dan kegembiraan jalanan yang masih ramai.

"Hanya karena kamu merasa Bersahabat dengan keluarga Hadinata bukan berarti kamu harus menjadikan hidupku sebagai alat untuk membayarnya, Pa!” kata Aslan beberapa saat yang lalu, suaranya naik akibat emosi yang terkumpul dalam dirinya selama berbulan-bulan lamanya Aslan menahan dan mencoba memahami sesuatu yang tidak pernah dia inginkan. Kini, setelah marahnya sedikit reda, ia menurunkan pandangannya, jantungnya terasa sedikit sesak dan melunak melihat ekspresi ayahnya yang jarang terlihat lemah dan bingung. Namun rasa tegang masih terasa seperti batu berat yang menekan dalam dadanya.

“Pa, saya tidak pernah menginginkan harta atau kemudahan yang kamu berikan dengan cara ini,” katanya perlahan, suara yang tadinya keras kini menjadi lebih lembut. “Saya hanya ingin bisa memilih sendiri apa yang benar-benar saya inginkan dalam hidup. Mau itu pekerjaan, teman, atau bahkan orang yang akan saya nikahi. Sejak masa kuliah d Sorbonne, saya selalu bekerja keras untuk membangun nama sendiri di dunia arsitektur, bahkan saya harus membagi waktu untuk pekerjaan saya dan urusan bisnis keluarga— apakah itu masih belum cukup untuk membuat saya bisa memilih sendiri jalan hidup saya ,papa?"

Marcell mengangguk perlahan, lalu dia duduk di tepi pagar atap yang telah diperkuat dengan aman. Ia menarik napas dalam-dalam sambil melihat ke arah menara Eiffel yang mulai bersinar dengan cahaya kuning keemasan. Kemudian ia menunjuk tempat kosong di sebelahnya. “Duduklah sebentar, Aslan. Mari kita bicara seperti dua orang dewasa, tanpa emosi yang menguasai kita.”

Setelah Aslan duduk di sebelahnya, Marcell mengeluarkan sebatang rokok namun tidak menyalakannya—hanya memutarnya di antara jari-jarinya seperti biasa ketika ia sedang dalam pemikiran mendalam. “Aku tidak akan menyembunyikan bahwa persahabatan dengan keluarga Hadinata sangat berarti bagiku. Mereka bukan hanya mitra bisnis, melainkan saudara yang sungguhan dalam waktu sulit. Tigapuluh tahun yang lalu, ketika krisis keuangan melanda Eropa dan perusahaan kita hampir bangkrut karena proyek pembangunan gedung perkantoran yang gagal total, keluarga Hadinata adalah satu-satunya yang bersedia membantu tanpa pamrih. Mereka tidak hanya menyuntikkan modal yang kita butuhkan, tapi juga membuka pasar baru di Asia Tenggara yang menyelamatkan ribuan pekerjaan di perusahaan kita.”

Ia menoleh ke arah putranya, mata tua itu menangkap cahaya dari kota di bawah mereka. “Tapi aku juga tidak ingin kamu hidup dalam kesusahan hanya karena rasa utang budi. Aku tahu betul seberapa pentingnya kebebasanmu untuk memilih jalan hidup sendiri—saya sendiri pernah melalui masa-masa sulit ketika muda karena harus mengikuti keinginan keluarga. Itulah sebabnya aku punya sebuah proposal untukmu, sebuah jalan tengah yang mungkin bisa menyelesaikan semua masalah ini.”

“Apa proposalnya?” tanya Aslan dengan tatapan penuh perhatian, matanya yang tadinya penuh kemarahan kini mulai menunjukkan rasa ingin tahu. Ia menyadari bahwa ini adalah kesempatan pertama ayahnya menunjukkan kesediaan untuk mendengarkan pendapatnya.

“Kamu akan resmi menerima rencana perjodohan dengan Alana Hadinata, namun kita akan memberi waktu satu tahun penuh bagi kalian berdua untuk mengenal satu sama lain sebelum kehidupan bersama yang sebenarnya dimulai,” jelas Marcell dengan nada yang mantap dan jelas. “Selama satu tahun itu, kamu tidak akan dipaksa tinggal bersama atau melakukan apa pun yang kamu tidak inginkan. Kamu bisa tetap melanjutkan proyek arsitekturmu di Perancis atau bahkan pergi ke Indonesia jika kamu mau bertemu dengannya secara langsung. Begitu juga dengan Alana—dia bisa melanjutkan studi atau karir kedokterannya tanpa ada tekanan dari kedua keluarga. Jika setelah satu tahun kalian berdua merasa bahwa hubungan ini tidak mungkin berlanjut, maka kita akan membicarakan cara yang baik untuk membatalkan perjanjian tanpa merusak hubungan keluarga atau kerja sama bisnis yang telah kita bangun selama bertahun-tahun.”

Aslan terkejut mendengar kata-kata ayahnya. Ia tidak pernah menyangka bahwa Marcell—yang dikenal sebagai orang yang sangat menjunjung tinggi komitmen dan hubungan keluarga—akan bersedia memberikan ruang dan kebebasan seperti itu. Kedutan keheranan muncul di dahinya saat ia mencerna setiap kata yang keluar dari mulut ayahnya.

"Benarkah, Pa? Kamu benar-benar bersedia melakukan itu?”

"Benar sekali,” jawab Marcell dengan penuh keyakinan, lalu akhirnya menyalakan rokoknya dan menarik napas perlahan. “Saya percaya bahwa jika kalian diberi kesempatan yang benar untuk saling mengenal—tanpa tekanan atau ekspektasi yang berlebihan—mungkin kamu akan melihat bahwa Alana bukanlah beban seperti yang kamu bayangkan. Mungkin kalian bahkan akan menemukan bahwa kalian memiliki lebih banyak kesamaan daripada yang kamu kira. Dan jika tidak… maka kami tidak akan memaksa kalian untuk meneruskan apa yang telah kami rencanakan pada awalnya, semuanya akan baik seperti sedia kala, persahabatan kami tidak akan berpengaruh apapun,Aslan."

1
Mia Camelia
lanjut thor👍
Anna ceriya: terimakasih atas support nya kaka🙏💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!