NovelToon NovelToon
Menjadi Cantik

Menjadi Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Keluarga / Romansa
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.

Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.

Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.

Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.

Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:

Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?

Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kucing

Mobil melambat saat memasuki gang rumah Hana. Lampu jalan yang redup memantul di aspal basah. Air hujan masih mengalir di sisi jalan, meninggalkan suara lembut setiap kali ban mobil melewatinya.

Hana menatap ke luar jendela. Rumahnya sudah terlihat. Lampu ruang tamu menyala. Sama seperti tadi pagi. Tidak ada yang berubah.

Mobil berhenti tepat di depan pagar. Mesin masih menyala, wiper masih bergerak pelan, menghapus sisa hujan di kaca depan.

Hana menarik napas kecil. Tangannya menyentuh gagang pintu.

“Terima kasih ya, Kak… udah nganterin,” katanya pelan. Kali ini suaranya terdengar lebih hangat dibanding sebelumnya.

Kenzo menoleh sedikit ke arahnya. Senyum tipis muncul.

“Iya, sama-sama,” jawabnya santai. “Daripada kamu kehujanan, nanti malah sakit.”

Nada suaranya ringan. Tidak kaku. Tidak menekan. Justru… terasa lebih mudah diterima. Hana sempat tersenyum kecil. Tipis. Lalu mulai membuka pintu. Sedikit—

“Hana.”

Ia berhenti. Menoleh lagi. Kenzo sekarang benar-benar menatapnya. Ekspresinya tetap santai, tapi ada keseriusan tipis di matanya.

“Nomor kamu… boleh?” tanyanya.

Tidak mendadak seperti sebelumnya. Lebih halus. Lebih… wajar. Hana mengerjap pelan.

“Nomor?” ulangnya.

Kenzo mengangguk kecil.

“Iya. Biar gampang kalau mau hubungi kamu,” katanya ringan. “Apalagi sekarang… lagi ada hal yang nggak enak kayak gini.”

Ia tidak menyebut detail. Tapi cukup jelas maksudnya. Hana terdiam sebentar. Matanya sempat turun ke ponsel di tangannya. Lalu kembali ke Kenzo. Entah kenapa— permintaan itu tidak terasa aneh. Tidak terasa dipaksakan.

“Iya, boleh,” jawabnya akhirnya.

Pelan. Ia membuka ponselnya. Menyebutkan nomor satu per satu. Kenzo langsung mengetik di ponselnya, sesekali memastikan angka yang ia masukkan benar.

“Udah,” katanya beberapa detik kemudian.

Ponsel Hana langsung bergetar pelan. Satu pesan masuk. Nomor baru. Kak Kenzo. Hana menatap layar itu sebentar. Sudut bibirnya terangkat sedikit.

“Makasih,” gumamnya.

Ia mengunci ponselnya. Hening sejenak. Tidak canggung. Lebih ke… tenang. Seperti jeda kecil yang tidak perlu diisi. Hana akhirnya membuka pintu mobil. Udara dingin langsung menyambut. Ia turun, lalu menutup pintu pelan. Menunduk sedikit ke arah jendela.

“Terima kasih ya, Kak. Hati-hati di jalan.”

Kenzo mengangguk. “Iya. Kamu juga langsung masuk, jangan lama-lama di luar.”

“Iya.”

Hana berbalik. Membuka pagar. Masuk ke halaman rumah. Langkahnya pelan. Saat ia sampai di depan pintu— ia sempat melirik ke belakang. Mobil itu masih di sana.

Kenzo masih duduk di dalam. Menunggu. Sampai Hana benar-benar masuk. Hana membuka pintu rumah. Masuk ke dalam, lalu menutup pintu dengan pelan.

Dan begitu ia berada di dalam— suasana kembali sunyi. Ia berdiri sebentar di ruang tamu. Tasnya masih di bahu. Ponselnya masih di tangan.

Hari itu terasa panjang. Terlalu banyak yang terjadi. Ia menatap layar lagi. Pesan-pesan itu masih ada. Yang mengancam. Yang menenangkan.

Hana menghela napas pelan. Tidak berat. Tidak ringan. Hanya… penuh. “Besok…” bisiknya pelan. “Pasti nggak sesederhana ini.”

Ia meletakkan tasnya. Melangkah masuk lebih dalam ke rumah. Dan tanpa ia sadari— lingkaran di sekitarnya perlahan semakin rapat.

Rumah masih sunyi. Tidak ada suara TV. Tidak ada langkah kaki. Hanya suara hujan yang jatuh pelan di luar, mengetuk atap dan jendela seperti ritme yang terus berulang. Hana baru saja meletakkan tasnya ketika—

“mieww…”

Ia berhenti. Kepalanya sedikit menoleh.

“…hah?” Suara itu kecil.

Tipis. Seperti hampir tenggelam oleh suara hujan. Hana diam beberapa detik. Mencoba memastikan. Lalu—

“mieww…”

Kali ini lebih jelas..Dari arah pintu. Hana berjalan pelan ke sana. Membuka sedikit. Dan begitu pintu terbuka— udara dingin langsung masuk bersama aroma hujan.

Di bawah sana— seekor anak kucing kecil. Bulu-bulunya basah. Tubuhnya gemetar. Matanya setengah terpejam.

“Miew…”

Hana membeku sebentar. Kaget.

“…kamu dari mana?” gumamnya pelan.

Ia berjongkok. Tangannya ragu sesaat, lalu akhirnya menyentuh kepala kecil itu. Dingin. Basah. Kucing itu tidak menjauh. Justru sedikit mendekat. Seolah mencari hangat. Hana menoleh ke sekitar. Mencari.

“Induknya…?” gumamnya.

Matanya menyapu halaman. Ke sudut pagar. Ke jalan depan. Tidak ada apa-apa. Hanya hujan. Dan sepi. Ia menggigit bibir bawahnya pelan.

“Sendirian?”

Kucing itu kembali bersuara pelan.

“Miew…” Suaranya lemah. Seperti kelelahan.

Hana menghela napas. Panjang. Lalu tanpa banyak pikir— ia mengangkat kucing kecil itu. Tubuhnya ringan. Terlalu ringan. Dan dingin.

“Ya udah… masuk dulu ya,” bisiknya.

Ia menutup pintu dengan kaki, membawa kucing itu ke dalam. Hana mengambil handuk kecil. Duduk di lantai. Meletakkan kucing itu di atas pangkuannya. Lalu mulai mengeringkan bulunya perlahan.

“Diam ya…” katanya pelan. “Nanti hangat kok.”

Kucing itu tidak melawan. Hanya diam. Kadang mengeluarkan suara kecil.

“Miew…”

Hana tersenyum tipis. “Manja juga ya kamu.”

Ia mengusap kepala kecil itu pelan. Gerakannya hati-hati.

Seolah takut terlalu kasar. Beberapa menit kemudian, bulunya mulai agak kering. Tidak sepenuhnya. Tapi cukup.

Kucing itu terlihat sedikit lebih tenang. Tapi— perutnya mengeluarkan suara kecil. Hana mengernyit.

“Lapar ya?”

Ia berpikir sebentar. Lalu berdiri, masih menggendong kucing itu dengan satu tangan. Menuju dapur. Ia membuka lemari. Mencari.

“Kalau susu… boleh nggak ya…” gumamnya.

Akhirnya ia mengambil susu. Menuangkannya sedikit. Lalu mengambil pipet kecil. Kembali duduk. Kucing itu diletakkan di pangkuannya lagi.

“Coba ya…” katanya pelan.

Ia mendekatkan pipet ke mulut kecil itu. Awalnya— kucing itu hanya mencium. Lalu mulai menjilat. Sedikit. Lalu lagi. Dan tiba-tiba— lebih cepat. Seolah benar-benar lapar. Hana sedikit kaget.

“Eh pelan…” ia tertawa kecil. “Nggak ada yang rebut kok.”

Kucing itu tetap minum. Cepat.

Kecil. Tapi penuh semangat.

Hana memperhatikan. Matanya sedikit melembut.

“Lucu banget sih kamu,” gumamnya.

Ia mengusap kepala kecil itu lagi. Kucing itu berhenti sebentar. Menatap Hana. Matanya masih setengah terbuka. Tapi terlihat lebih hidup.

“Miew.”

Seperti menjawab. Hana tersenyum. Kali ini lebih jelas. Lebih tulus.

“Lucu banget…” bisiknya. Ia melanjutkan menyuapi perlahan. Sampai kucing itu terlihat cukup. Tidak lagi terburu-buru. Hanya menjilat sisa susu di pipet. Lalu bersandar kecil di tangannya.

Tubuhnya mulai hangat. Tidak lagi gemetar seperti tadi. Hana menatapnya. Diam. Ada sesuatu di dadanya yang berubah pelan. Bukan hilang. Tapi… sedikit mereda.

Hari itu masih berat. Masih penuh. Masih membingungkan. Tapi sekarang— di tengah semua itu—ada satu hal kecil yang nyata. Hangat dan hidup. Hana mengangkat kucing itu sedikit. Mendekatkannya ke wajahnya.

“Kamu sendirian ya…” katanya pelan. Lalu tersenyum tipis. “…aku juga.”

Kucing itu hanya berkedip pelan. “Miew.”

1
Ran
jahad bener orang orang tuh ya kalw iri
Ran
duh Hana, jangan kebanyakan insecure dong
Bunga Ros
maaf thoooorrr kurang berbobot judulnya apa isinya apa 😄😄😄
Ran: rasanya sih nyambung2 aja ke alurnya, cuman ya agak kompleks ceritanya menurut gw. bukan cuma bahas soal cantik doang kan ad di deskripsi novelny
total 1 replies
Night Watcher
coba mampir
Ran
sepertinya menairk
Ran
keren Thor, udah buat cerita baru aja nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!