Sepuluh ribu tahun yang lalu, Kaisar Pedang Kekosongan, Jian Chen, dikhianati oleh tunangannya (Permaisuri Surgawi Luo Xue) dan saudara angkatnya saat mencoba menerobos ke Alam Ilahi Primordial. Jiwanya hancur berantakan. Namun, setetes Darah Primordial misterius yang ia temukan di Reruntuhan Kekacauan menyelamatkan satu fragmen jiwanya.
Sepuluh ribu tahun kemudian, Jian Chen terbangun di tubuh seorang pemuda bernama sama di Benua Bintang Jatuh (Dunia Fana terendah). Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Bawaan" yang meridiannya hancur. Dengan ingatan masa lalunya, pengetahuan alkimia tingkat dewa, dan teknik kultivasi terlarang Seni Melahap Surga Primordial, Jian Chen memulai kembali langkahnya dari bawah. Ia bersumpah untuk membelah langit, menghancurkan para pengkhianat yang kini telah menjadi Penguasa Surga, dan mengungkap rahasia sejati di balik Darah Primordial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Seratus Iblis
Gelanggang Asura malam ini terasa seperti kawah gunung berapi yang siap memuntahkan lahar. Gua bawah tanah raksasa itu dipenuhi oleh puluhan ribu penonton yang saling berdesakan, meneriakkan nama-nama jagoan mereka dengan mata memerah karena arak dan pertaruhan.
Di bagian atas tribun, mengambang bilik-bilik kehormatan yang ditutupi oleh tirai sutra berajut formasi pengabur pandangan. Di sanalah para penguasa dari bayang-bayang ibu kota—tetua sekte, jenderal perang, dan bangsawan klan besar—duduk mengamati. Bagi mereka, perhelatan Malam Seratus Iblis bukan sekadar tontonan, melainkan ajang untuk merekrut anjing pemburu paling buas ke dalam faksi mereka.
Jian Chen melangkah melewati lorong gelap yang lembap, jubah hitamnya menyapu lantai batu. Topeng hantu besi bermotif taring menutupi wajahnya, sementara Pedang Penguasa Kosong yang terbungkus kain rami masih bertengger kokoh di punggungnya.
Saat ia melangkah masuk ke dalam arena berpasir yang mahaluas, sembilan puluh sembilan petarung lainnya telah berkumpul.
Hawa di dalam gelanggang itu luar biasa menekan. Setiap orang yang berdiri di sana adalah monster yang telah selamat dari lautan darah. Ada pembelot sekte dengan pedang bergerigi, suku manusia buas yang tingginya mencapai satu setengah tombak, hingga wanita-wanita berwajah jelita yang memancarkan aura racun mematikan.
Sebagian besar dari mereka berada di Kondensasi Qi Tingkat Delapan. Bahkan ada selusin orang yang memancarkan aura Tingkat Sembilan Awal!
Jian Chen mengambil tempat di sudut arena. Ia menekan kultivasinya dengan Seni Melahap Surga Primordial, membuatnya hanya terlihat seperti kultivator Tingkat Tujuh biasa. Di mata sembilan puluh sembilan predator lainnya, sosok bertopeng hantu itu tidak lebih dari domba gemuk yang salah masuk ke kandang serigala.
TENGGG!!!
Suara gong perunggu raksasa ditabuh dari atas tribun, getarannya merambat melalui butiran pasir di bawah kaki mereka.
"Malam Seratus Iblis... Dimulai! Hanya satu yang berhak melangkah keluar bernapas!" teriak wasit utama dari panggung pengawas.
Dalam sekejap mata, kedamaian semu di arena itu pecah berkeping-keping. Sorak-sorai penonton meledak menulikan telinga.
Hukum pertama dalam pertarungan massal tanpa aturan adalah: singkirkan yang terlemah lebih dulu untuk mengurangi gangguan.
Empat orang kultivator berwajah beringas yang memegang tombak berduri saling bertukar pandang. Mereka berada di Tingkat Delapan Awal dan langsung membentuk aliansi sementara. Tanpa perlu berunding panjang, keempatnya melesat ke sudut arena, menargetkan pemuda bertopeng hantu yang tampak paling lemah.
"Bocah! Salahkan nasibmu karena berani berdiri di gelanggang ini!" raung salah satu dari mereka. Empat ujung tombak yang diselimuti Qi elemen angin menusuk serentak ke arah dada, leher, dan paha Jian Chen. Serangan itu cukup cepat untuk menembus baja spiritual.
Jian Chen tidak menghindar. Ia bahkan tidak berkedip di balik topengnya.
Ia berdiri tegak, membiarkan keempat tombak pembawa maut itu menghantam tubuhnya secara langsung.
Di tribun penonton, beberapa orang sudah mencibir, mengira pertarungan akan langsung diwarnai oleh tubuh yang tertembus berlubang-lubang.
Namun, suara yang terdengar selanjutnya bukanlah suara daging yang robek.
TRANG! TRANG! TRANG! TRANG!
Suara benturan logam yang sangat keras bergema. Bunga api memercik di udara.
Keempat kultivator itu membelalakkan mata mereka hingga nyaris robek. Tangan mereka mati rasa, dan aliran Qi di meridian mereka berbalik arah dengan menyakitkan. Saat mereka melihat ke arah ujung tombak mereka, napas mereka tercekat.
Ujung tombak baja spiritual yang seharusnya bisa membelah batu karang itu kini tumpul dan bengkok! Serangan mereka bahkan tidak mampu menggores kain jubah hitam pemuda itu, apalagi menembus kulitnya!
"K-kebal senjata tajam?! Seni pelindung tubuh macam apa ini?!" jerit salah satu penyerang dengan nada ngeri.
Mereka tidak tahu bahwa di balik jubah itu, Raga Tirani Kekacauan telah bangkit. Kulit dan tulang Jian Chen kini sekeras pusaka tingkat Bumi. Senjata fana kelas rendah yang digerakkan oleh Qi Tingkat Delapan tidak akan mampu meninggalkan satu pun goresan putih di tubuhnya.
"Giliranku," bisik Jian Chen dengan suara yang seakan datang dari dasar neraka.
Ia tidak membuang waktu. Tangan kirinya terayun dalam satu tebasan horizontal, menggunakan punggung tangannya bagai bilah golok raksasa. Tidak ada Qi yang memancar, murni hanya dorongan dari tenaga dua belas ribu kilogram.
BAM!
Suara ledakan redam terdengar mengerikan. Tiga dari empat kultivator itu langsung meledak menjadi kabut darah saat lengan Jian Chen menghantam dada mereka. Tulang rusuk, jantung, dan organ dalam mereka hancur menjadi bubur daging dalam sepersekian kedipan mata!
Satu orang yang tersisa jatuh berlutut, wajahnya dipenuhi cipratan darah rekan-rekannya. Ia gemetar hebat, menatap iblis bertopeng di depannya seolah akal sehatnya telah direnggut.
"T-tolong..." rintihnya, menjatuhkan tombaknya.
Jian Chen hanya mengangkat sebelah kakinya, lalu menjejak kepala pria itu ke tanah berpasir hingga tengkoraknya remuk tak bersisa.
Empat ahli Tingkat Delapan Awal musnah dalam dua tarikan napas.
Kebrutalan mutlak itu menyapu arena seperti gelombang es. Belasan petarung yang berada di dekat Jian Chen menghentikan pertarungan mereka sendiri, menoleh dengan wajah pucat pasi.
Di bilik-bilik kehormatan, para bangsawan dan tetua sekte tanpa sadar berdiri dari kursi empuk mereka. Mata mereka terpaku pada sosok berjubah hitam itu.
"Menghancurkan senjata spiritual dengan tubuh, dan meledakkan musuh dengan tangan kosong... Apakah pemuda itu adalah monster dari suku manusia buas yang menyamar?!" seru seorang jenderal tua di salah satu bilik.
Di bawah, Jian Chen mengibaskan sisa darah dari punggung tangannya. Pusaran kelam Seni Melahap Surga Primordial berputar dalam diam, menyerap kabut darah dari empat mayat yang baru saja ia bantai. Esensi kehidupan mereka mengalir masuk, namun bagi Dantian Jian Chen yang kini seukuran samudra, energi dari empat Tingkat Delapan Awal ini hanya terasa seperti setetes embun.
"Terlalu sedikit," gumam Jian Chen pelan.
Ia memutar lehernya, menatap ke arah sembilan puluh lima petarung yang tersisa di gelanggang. Lautan Kesadaran-nya meledak keluar, menutupi seluruh arena dengan jaring Indra Spiritual yang tak kasat mata.
"Karena kalian semua harus mati agar aku bisa menang..." Jian Chen mengambil satu langkah maju. Niat membunuh dari sepuluh ribu tahun pembantaian di alam dewa merembes keluar dari celah topengnya, mewarnai udara di sekitarnya dengan ilusi warna merah darah. "...jangan buang waktuku. Majulah sekaligus."
Pernyataan arogan itu menghantam harga diri para iblis Gelanggang Asura. Mereka adalah pembunuh bayaran, buronan, dan tiran lokal. Dihina oleh satu orang di tengah arena kematian menyulut amarah yang menutupi ketakutan mereka.
"Jangan tertipu! Dia pasti menggunakan jimat pelindung! Mari kita serang bersama, jimat apa pun memiliki batas energi!" raung seorang ahli bertubuh raksasa yang berada di Tingkat Sembilan Awal.
Aba-aba itu memicu gelombang pasang. Dua puluh petarung terdekat secara serentak melesat ke arah Jian Chen, menghunus senjata yang memancarkan Qi elemen api, es, dan petir.
Menghadapi hujan serangan yang bisa menghancurkan sebuah bukit kecil itu, Jian Chen justru tersenyum buas. Ia merentangkan kedua tangannya kosong, menyambut badai maut.
"Mari kita lihat berapa banyak darah yang bisa kutelan malam ini!"