"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Lepas
Senin pagi di Jakarta selalu terasa seperti medan perang yang dibungkus dengan kemeja rapi dan aroma kopi saset. Namun, bagiku, Senin ini adalah sebuah garis finis sekaligus garis awal yang baru. Aku melangkah keluar dari taksi tepat di depan lobi gedung SCBD. Cahaya matahari pagi yang memantul di kaca gedung terasa tidak lagi menyilaukan, melainkan menyambut.
Aku mengenakan setelan power suit berwarna nude yang pas di tubuh, memberikan kesan bersih namun sangat tegas. Rambutku kubiarkan tergerai lurus dengan potongan yang sangat presisi. Tidak ada lagi sisa-sisa Arelia yang "hampir". Pagi ini, aku adalah wanita yang namanya menjadi buah bibir di kalangan direksi Adhitama Group.
Begitu aku melangkah masuk ke divisi riset, suasana seketika berubah. Jika minggu lalu orang-orang masih berani berbisik di belakangku, pagi ini mereka memberikan jalan. Beberapa analis junior yang biasanya hanya menyapa Kaivan, kini berdiri dan mengangguk sopan saat aku lewat.
"Pagi, Bu Arelia," sapa salah satu junior dengan nada yang sangat terjaga.
Bu Arelia. Panggilan itu terasa asing, namun nyata. Selama tujuh tahun, aku hanya "Rel" atau "Asisten Kaivan".
Aku menuju mejaku. Di sana, sebuah buket bunga lili putih yang sangat elegan sudah bertengger manis. Tidak ada kartu nama, hanya sebuah memo kecil dengan tulisan tangan yang sangat kukenal: “Untuk kemenangan yang bersih. - B”.
Aku menyesap aroma lili yang segar itu, membiarkan wangi itu menghapus sisa-sisa aroma rokok dan kopi basi yang biasanya tertinggal jika Kaivan mampir ke mejaku. Berbicara tentang Kaivan, pria itu sudah duduk di kubikelnya. Ia tampak sangat kontras dengan suasana pagi yang cerah ini. Matanya merah, dan ia terus-menerus menatap ponselnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Bunga lagi?" suara Kaivan terdengar rendah, penuh dengan nada sarkasme yang lelah.
Aku meletakkan tas kerjaku dengan tenang. "Hanya sebuah apresiasi profesional, Kaivan. Sesuatu yang sepertinya jarang kamu pelajari."
Kaivan memutar kursinya. Ia menatapku dengan tatapan yang selama tujuh tahun ini selalu berhasil membuatku merasa bersalah—tatapan seekor anak anjing yang tersesat. "Rel, semalam Nadine masuk UGD. Dia sesak napas karena stres memikirkan masalah asuransi yang kamu tolak itu. Kamu benar-benar nggak punya hati ya?"
Aku berhenti menyalakan laptop. Aku menarik napas panjang, menatapnya langsung di mata. "Nadine sesak napas karena dia tidak tahu cara menghadapi konsekuensi hidupnya sendiri, Van. Dan kamu stres karena kamu tidak kompeten untuk menyelesaikannya tanpa aku. Berhenti menggunakan penyakit orang lain untuk memeras emosiku. Itu trik lama yang sudah tidak mempan."
"Aku nggak pakai trik! Aku hancur, Rel! Di kantor aku diturunkan jabatannya, di rumah Nadine terus menangis. Kamu satu-satunya orang yang tahu cara beresin ini semua," Kaivan mulai merendahkan suaranya, mencoba menggunakan taktik keintiman yang biasa.
"Aku bukan tukang bersih-bersih hidupmu lagi, Kaivan," balasku tajam. "Sekarang, berikan laporan administrasi vendor C yang aku minta kemarin. Jam sepuluh Bastian akan datang ke sini untuk meninjau progresnya secara langsung."
Mendengar nama Bastian, rahang Kaivan mengeras. "Dia datang ke sini? Secara pribadi? Kenapa bukan asistennya?"
"Karena dia menghargai waktuku. Dan dia ingin memastikan bahwa pemimpin proyek ini—yaitu aku—mendapatkan data yang benar. Mana laporannya?"
Kaivan menyerahkan sebuah map dengan kasar. Begitu aku membukanya, aku langsung tahu bahwa ia mengerjakannya dengan asal-asalan. Banyak angka yang tidak sinkron dan format yang berantakan. Dulu, aku akan langsung menghela napas, menyuruhnya minum kopi, dan aku yang akan mengerjakannya ulang sampai jam makan siang.
Hari ini, aku menutup map itu dan meletakkannya kembali di mejanya.
"Kerjakan ulang, Kaivan. Gunakan template terbaru yang sudah kukirim di grup tim. Aku kasih waktu sampai jam setengah sepuluh. Jika belum selesai, aku akan melaporkannya sebagai hambatan operasional kepada Pak Dimas," kataku dengan nada yang sangat datar.
"Arelia! Kamu gila? Ini tinggal tiga puluh menit!"
"Lalu kenapa kamu tidak mengerjakannya semalam daripada menunggu Nadine menangis? Pilihan ada di tanganmu, Van. Profesional atau keluar," aku memasang noise-canceling headphone-ku, secara harfiah menutup seluruh akses komunikasi emosional dengannya.
Pukul sepuluh tepat, pintu lift terbuka dan Bastian Adhitama melangkah masuk. Kehadirannya seketika membuat seluruh divisi riset menahan napas. Ia mengenakan kemeja biru tua dengan dasi sutra yang senada, terlihat seperti manifestasi dari kesuksesan itu sendiri.
Ia berjalan lurus menuju mejaku, mengabaikan Pak Dimas yang baru saja keluar dari ruangannya untuk menyambut.
"Selamat pagi, Arelia," sapanya dengan senyum yang hanya ditujukan untukku.
"Selamat pagi, Bastian. Anda sangat tepat waktu," balasku sambil berdiri.
Bastian melirik ke arah bunga lili di mejaku. "Saya harap kamu menyukai bunganya. Lili melambangkan kemurnian dan awal yang baru. Sangat cocok dengan fase hidupmu sekarang."
"Terima kasih. Sangat membantu menyegarkan suasana di sini," kataku sengaja.
Kaivan berdiri di belakangku, tampak sangat kaku. Ia memegang map yang—syukurlah—sudah ia perbaiki meski dengan wajah yang sangat masam.
"Pak Bastian," Kaivan menyapa dengan nada yang dipaksakan sopan. "Ini laporan administrasi vendor C yang Anda minta lewat Arelia."
Bastian tidak menerima map itu. Ia hanya melirik Kaivan sekilas, lalu kembali menatapku. "Berikan pada asisten saya di depan, Kaivan. Saya di sini untuk mendiskusikan strategi tingkat tinggi dengan Arelia, bukan untuk memeriksa dokumen dasar."
Kalimat itu terasa seperti gema yang mematikan. Bastian secara tidak langsung menegaskan bahwa Kaivan kini berada di level yang jauh di bawahku. Kaivan hanya bisa terdiam, tangannya yang memegang map terlihat gemetar karena menahan amarah dan malu.
"Mari ke ruang rapat, Arelia. Saya punya beberapa poin ekspansi yang ingin saya diskusikan hanya denganmu," Bastian menawarkan lengannya untuk membimbingku berjalan.
Aku menyambutnya, berjalan melewati Kaivan tanpa menoleh lagi. Di ruang rapat yang berdinding kaca, aku bisa melihat Kaivan yang berdiri mematung di tengah ruangan kantor, tampak sangat kecil di antara meja-meja kerja yang besar.
Rapat itu berjalan luar biasa. Bastian memberiku ruang untuk memaparkan ide-ide gila yang selama ini kupendam karena Kaivan selalu bilang "itu terlalu berisiko". Bastian justru melihat risiko sebagai peluang. Ia menghargai otakku, bukan hanya kegunaanku.
Setelah rapat selesai, Bastian menahanku sebentar saat yang lain sudah keluar.
"Kamu terlihat jauh lebih lepas hari ini, Arelia. Tidak ada lagi beban di pundakmu," ucapnya sambil merapikan beberapa berkas.
"Terima kasih, Bastian. Memang butuh waktu lama untuk menyadari bahwa aku tidak perlu memikul beban orang lain untuk merasa berharga."
"Ingatlah satu hal. Orang seperti Kaivan akan mencoba menarikmu kembali saat dia merasa benar-benar tenggelam. Jangan biarkan tanganmu kotor lagi hanya untuk menyelamatkan orang yang sengaja melompat ke air," Bastian menatapku dengan intensitas yang dalam. "Malam ini, ada pameran seni di galeri teman saya. Saya ingin kamu ikut. Bukan untuk pekerjaan. Hanya untuk melihat keindahan."
Aku terdiam sejenak. Dulu, jika Kaivan mengajakku keluar, aku akan langsung mengecek jadwalnya dulu. Kini, aku mengecek jadwalku sendiri.
"Aku tidak ada rencana malam ini. Aku akan ikut," jawabku mantap.
Malam harinya, di galeri seni yang tenang dan beraroma cat minyak, aku berjalan di samping Bastian. Kami tidak banyak bicara, hanya menikmati gema dari karya-karya seni yang terpajang. Di sana, di depan sebuah lukisan abstrak yang menggambarkan transisi warna dari gelap ke terang, aku merasa sebuah ikatan di hatiku benar-benar lepas.
Nyaris jadi kita?
Kalimat itu kini terasa seperti gema dari kehidupan orang lain. Tidak ada lagi rasa sakit saat mengingatnya. Hanya ada rasa syukur bahwa "kita" itu tidak pernah benar-benar terjadi. Karena jika terjadi, aku mungkin tidak akan pernah berdiri di sini, mengenali nilaiku sendiri sebagai Arelia yang utuh.
Saat aku pulang ke apartemen malam itu, aku menemukan Kaivan sedang duduk di depan pintuku. Ia tampak sangat hancur. Nadine sepertinya benar-benar sudah tidak bisa ia kendalikan.
"Rel... aku mohon. Sekali ini saja. Bantu aku bicara sama Nadine. Dia mau bunuh diri karena stres," isaknya sambil berlutut.
Aku berdiri di depannya, menatapnya dengan rasa kasihan yang hambar. Bukan rasa kasihan seorang pecinta, melainkan rasa kasihan pada seseorang yang tidak pernah mau dewasa.
"Panggillah ambulans atau polisi, Kaivan. Aku bukan psikiater, dan aku bukan lagi asisten pribadimu," kataku sambil membuka pintu apartemen.
"Kamu benar-benar sudah berubah ya, Rel? Kamu pilih pria kaya itu dan buang sahabatmu sendiri?"
"Aku tidak membuangmu, Kaivan. Aku hanya berhenti menjagamu. Sekarang pergilah. Jangan pernah datang ke sini lagi, atau aku akan melaporkanmu sebagai gangguan pada keamanan gedung."
Aku menutup pintu dan menguncinya. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu menempelkan telinga ke pintu untuk mendengar apakah dia masih di sana atau tidak. Aku berjalan menuju balkon, menatap lampu-lampu Jakarta.
Aku merasa lepas. Benar-benar lepas.
Tiba-tiba ponselku bergetar. Sebuah pesan singkat dari Bastian.
Bastian: "Tidur yang nyenyak, Arelia. Besok, dunia masih milikmu."
Aku tersenyum, mematikan lampu balkon, dan melangkah masuk ke dalam ketenangan yang telah lama kucari. Malam ini, gema masa lalu itu akhirnya berhenti bersuara. Dan aku... aku baru saja memulai laguku sendiri.
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain