Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.
Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.
Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17
Pagi yang tenang di apartemen Everest seketika pecah saat notifikasi di ponsel Catherina berbunyi tanpa henti. Getaran itu seolah-olah mewakili detak jantungnya yang mendadak memacu cepat. Dengan tangan gemetar, ia membuka salah satu portal berita utama.
"SKANDAL MANOR METTOND: ISTRI ADRIAN METTOND DIDUGA MELAHIRKAN ANAK HARAM HASIL PERSELINGKUHAN!"
Headline berwarna merah menyala itu terpampang nyata, lengkap dengan narasi kejam yang menyudutkan Catherina. Di bawahnya, kutipan anonim yang sangat ia kenali bahasanya—bahasa Miranda dan Adrian—menjelaskan bagaimana "keluarga terhormat" itu dikhianati oleh seorang wanita yatim piatu yang mereka tampung.
"Tidak..." bisik Catherina, wajahnya memucat seketika.
Ia terus menggulir layar, dan napasnya seolah terhenti saat melihat berita lanjutan yang sedang merangkak naik menjadi trending topic nomor satu.
"MISTERI AYAH BIOLOGIS LIAM: APAKAH SANG PANGERAN CAVANAUGH?"
Foto-foto masa lalu mereka—foto saat Everest merangkul Catherina di prom malam high school, foto mereka tertawa di kantin kampus, hingga foto curian saat mereka tinggal bersama dulu—kini tersebar luas. Netizen mulai menghubungkan titik-titik yang selama ini tersembunyi. Kemiripan wajah Liam yang tertangkap kamera paparazzi di Rumah Sakit, kini disandingkan dengan foto masa kecil Everest Cavanaught.
"Everest..." panggil Catherina dengan suara parau.
Everest, yang baru saja selesai mengganti pakaiannya menjadi kemeja putih bersih namun belum dikancingkan, melangkah cepat mendekati Catherina. Ia mengambil ponsel itu dari tangan istrinya—setidaknya, wanita yang ia anggap istrinya.
Rahang Everest mengeras saat membaca kolom komentar yang penuh dengan cercaan terhadap Catherina. Mereka menyebutnya "wanita bermuka dua", "pengkhianat", dan "pemburu harta".
"Adrian benar-benar melakukannya," desis Everest, matanya berkilat penuh amarah yang dingin. "Dia menggunakan media untuk menghancurkan reputasimu agar dia bisa menikahi Julie tanpa cela."
"Bagaimana dengan Liam, Everest?" Catherina mulai terisak, ia memeluk Liam yang baru saja selesai mandi ke dadanya. "Mereka menyebut putraku anak haram. Mereka menyeret bayi tak berdosa ini ke dalam lumpur yang mereka buat sendiri!"
Everest menarik Catherina ke dalam pelukannya, melingkarkan lengannya yang kokoh untuk memberi perlindungan. "Dengarkan aku, Cathe. Biarkan mereka menggonggong. Adrian pikir dia bisa memenangkan permainan ini dengan drama media, tapi dia lupa siapa lawan bicaranya."
"Tapi foto-foto kita... semua orang tahu sekarang tentang masa lalu kita," ujar Catherina panik.
"Bagus," jawab Everest pendek, membuat Catherina mendongak tak percaya. "Biarkan mereka tahu. Biarkan seluruh dunia tahu bahwa kau tidak pernah benar-benar menjadi milik Adrian. Biarkan mereka berspekulasi bahwa akulah ayah dari bayi itu, karena memang itulah kenyataannya."
"Tapi Everest, ini akan merusak reputasi Cavanaught Group! Kau baru saja kembali, keluargamu pasti akan marah—"
Everest membungkam kalimat Catherina dengan sebuah kecupan singkat namun tegas di bibir. "Keluargaku tidak akan peduli pada rumor jika mereka tahu mereka mendapatkan seorang pewaris yang begitu mirip dengan Putra mereka. Dan untuk reputasiku? Aku tidak butuh validasi dari media sampah ini."
Everest meraih ponselnya sendiri dan menghubungi Ben.
"Ben, kumpulkan tim hukum terbaik. Siapkan konferensi pers sore ini. Dan satu lagi... tuntut setiap media yang menggunakan kata 'anak haram' untuk putraku. Aku ingin mereka bangkrut sebelum matahari terbenam."
Catherina menatap Everest dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia takut akan badai yang sedang menerjang mereka, namun di sisi lain, melihat bagaimana Everest berdiri tegak pasang badan untuknya dan Liam, membuat rasa aman itu kembali merayap di hatinya.
"Adrian ingin bermain kotor," Everest berbisik di telinga Catherina sambil mengusap kepala Liam. "Maka aku akan menunjukkan padanya bagaimana rasanya terkubur dalam kotorannya sendiri. Jangan takut, Cathe. Mulai hari ini, tidak akan ada satu orang pun yang berani menghinamu tanpa berhadapan denganku."
Namun, di balik keberanian Everest, Catherina masih mencemaskan satu hal: Bagaimana jika Adrian menggunakan status pernikahan mereka yang masih sah secara hukum untuk menyerang balik? Badai ini baru saja dimulai, dan apartemen mewah ini kini menjadi benteng pertahanan terakhir bagi keluarga kecil yang belum sempat diakui dunia itu.
...****************...
Ponsel Everest yang tergeletak di atas meja marmer kembali bergetar hebat. Kali ini, grup The Throne benar-benar meledak. Notifikasi masuk bertubi-tubi, membawa kalimat-kalimat yang jauh lebih berani dan liar dari sebelumnya.
[Rick]: "Gila! Everest, kau benar-benar legenda! Jadi kau menitipkan benihmu sebelum Cathe menikah dengan si kaku Adrian itu? Kau luar biasa, kawan!"
[Brandon]: "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Adrian sekarang. Bayangkan, setiap malam dia tidur dengan Cathe, tapi di dalam sana, benihmu sudah bertahta lebih dulu. Benih Adrian tercampur dengan sisa-sisa kejayaanmu, Everest. Sial, itu plot film paling gila tahun ini!"
[Julian]: "Kau menandai wilayahmu dengan sangat permanen, Ev. Adrian hanya menjaga 'milikmu' selama ini tanpa dia sadari. Kau menang telak!"
Deg.
Everest membaca baris demi baris pesan itu dengan tatapan kosong. Wajahnya yang biasanya angkuh dan kemerahan karena gairah pagi, tiba-tiba berubah pucat pasi. Tangannya yang memegang ponsel gemetar hebat.
Noah, yang sejak tadi memperhatikan dari samping sambil menyesap kopi, mengerutkan kening. "Ada apa, Ev? Wajahmu seperti melihat hantu."
Everest tidak menjawab. Perutnya tiba-tiba terasa diaduk-aduk. Rasa mual yang hebat menghantam ulu hatinya, mengirimkan sensasi pahit ke kerongkongannya. Tanpa sepatah kata pun, Everest melempar ponselnya ke sofa dan berlari kencang menuju kamar mandi di dekat ruang kerja.
Huwekkk!
Everest memuntahkan cairan bening ke dalam wastafel. Napasnya memburu, peluh dingin membanjiri pelipisnya. Bukan, dia bukan mual karena jijik pada kata-kata teman-temannya. Dia mual karena kenyataan yang menghantam kesadarannya dengan telak.
Liam memang sudah ada di sana, batin Everest sambil membasuh wajahnya dengan air dingin. Liam sudah ada di rahim Cathe saat dia melangkah ke altar bersama Adrian.
Kenyataan itu menghancurkan sekaligus membahagiakan di saat yang bersamaan.
Dia merasa seperti pencuri di malam hari. Dia mencuri masa depan Catherina. Dia tidak akan pernah mengatakan rahasia ini pada Cathe. Dia tidak ingin Cathe memandangnya sebagai monster yang merampas haknya untuk memilih.
"Ev? Kau baik-baik saja?" Noah mengetuk pintu kamar mandi dengan cemas.
Everest menegakkan tubuh, menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya yang merah menyiratkan tekad yang mengerikan.
"Aku baik-baik saja," jawab Everest, suaranya kembali berat dan dingin.
Ia keluar dari kamar mandi, menghampiri Noah yang masih berdiri bingung. "Siapkan mobil. Kita tidak perlu menunggu konferensi pers sore hari. Aku ingin menemui pengacara keluarga Mettond sekarang juga."
"Untuk apa?" tanya Noah.
"Untuk memberitahu mereka bahwa 'hama' yang mereka bicarakan di media adalah putra mahkota Cavanaught," desis Everest. "Dan katakan pada mereka, jika mereka menyebut Liam sebagai anak haram sekali lagi, aku akan meratakan mansion mereka dengan tanah. Adrian ingin bermain dengan benih? Maka aku akan tunjukkan benih siapa yang paling berkuasa di kota ini."
Everest melirik ke arah kamar di mana Catherina mungkin masih bersama Liam. Ia tidak peduli jika teman-temannya di grup menganggapnya gila atau licik.
Baginya, kenyataan bahwa Liam adalah miliknya yang tertanam sebelum Adrian menyentuh Cathe adalah kemenangan mutlak yang akan ia jaga sampai mati. Adrian hanyalah tempat penitipan sementara bagi harta karun miliknya, dan sekarang, sang pemilik asli telah datang untuk mengambil kembali semuanya.