NovelToon NovelToon
Elegi Devan

Elegi Devan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Elegi di Balik Selang Infus

​Kesadaran itu datang seperti gelombang pasang yang kotor—lambat, menyesakkan, dan membawa aroma besi yang amis.

​Hal pertama yang kurasakan adalah dingin yang tidak alami. Bukan dingin udara malam pesisir, melainkan dingin yang merambat melalui pembuluh darahku, seolah-olah seseorang telah mengganti aliran darahku dengan cairan es. Aku mencoba membuka kelopak mataku, namun mereka terasa seperti direkatkan oleh ribuan butiran pasir. Dunia di sekitarku hanyalah gema suara-suara yang terdistorsi; bunyi pip yang konstan, langkah kaki yang terburu-buru, dan bisikan-bisikan yang terdengar seperti transmisi radio yang rusak.

​Kaset rusak itu lagi.

​Aku memaksakan mataku terbuka. Cahaya lampu neon di atas kepala menghantam retinaku seperti belati perak. Aku mengerang, sebuah suara parau yang nyaris tidak terdengar oleh telingaku sendiri.

​"Anya? Nya, kau mendengarku?"

​Wajah itu muncul dalam fokusku yang kabur. Devan. Rambutnya berantakan, wajahnya berlumuran jelaga hitam yang belum sempat dibersihkan, dan matanya... mata yang biasanya sekelam malam itu kini dipenuhi oleh ketakutan yang begitu murni hingga membuat dadaku nyeri. Ia menggenggam tanganku, namun aku nyaris tidak bisa merasakan sentuhannya. Tanganku terasa seperti milik orang lain.

​"Devan..." bisikku. Suaraku terasa seperti serpihan kaca di tenggorokanku. "Mercusuar itu..."

​"Sudah habis, Anya. Semuanya sudah berakhir," Devan mendekatkan wajahnya, suaranya bergetar. "Kau berada di fasilitas medis rahasia Kejaksaan. Satria membawa tim dokter independen dari pusat. Kau aman."

​Aman. Kata itu terasa seperti lelucon paling kejam di dunia. Bagaimana aku bisa aman jika tubuhku sendiri adalah laboratorium bagi ambisi gila ayahku? Aku melirik ke arah lenganku. Ada dua selang infus yang menusuk kulitku, mengalirkan cairan bening dan satu lagi cairan berwarna kuning pucat.

​"Dokter bilang..." Devan terdiam, rahangnya mengeras hingga aku bisa melihat otot-ototnya menonjol. Ia memalingkan wajah sejenak, menelan ludah dengan susah payah. "Frans tidak berbohong soal zat penstabil itu. Tubuhmu mengalami syok neurogenik karena penghentian dosis secara mendadak. Jika kita terlambat satu jam saja..."

​Ia tidak melanjutkan kalimatnya, tapi aku tahu kelanjutannya. Aku akan mati sebagai spesimen gagal dari Proyek Elegia.

​Pintu ruangan terbuka dengan desisan pelan. Jaksa Satria masuk dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua. Ia tidak lagi mengenakan jas jaksanya, hanya kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku. Di tangannya, ia memegang sebuah tablet digital.

​"Dia sudah bangun?" tanya Satria datar. Ia berdiri di ujung tempat tidur, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—antara simpati dan perhitungan profesional.

​"Baru saja," jawab Devan, suaranya kembali dingin.

​Satria menghela napas, matanya tertuju pada monitor jantung di sampingku. "Anya, aku tidak ingin memberitahumu ini di saat kondisimu seperti ini, tapi kita tidak punya banyak waktu. Tim forensik menyisir sisa-sisa mercusuar. Frans menghancurkan hampir semua dokumen fisik, tapi kami menemukan satu unit peladen (server) yang terlindung di dalam ruang vakum bawah tanah. Sebagian datanya bisa dipulihkan."

​Aku mencoba duduk, namun Devan menahanku dengan lembut. "Jangan dipaksa, Nya."

​"Apa isinya?" tanyaku pada Satria, mengabaikan peringatan Devan.

​Satria menekan sesuatu di tabletnya dan memutarnya ke arahku. "Proyek Elegia bukan hanya tentang amnesia. Itu adalah bagian dari kontrak farmasi bawah tanah berskala besar. Ayahmu, Hendra Kusuma, menggunakanmu sebagai 'Subjek Nol' untuk menguji prototipe zat penghapus trauma yang rencananya akan dijual ke organisasi militer luar negeri. Frans adalah arsiteknya. Dan kau... kau adalah bukti hidup sekaligus sandera."

​Duniaku seolah berputar. Setiap kata Satria adalah paku yang memaku jiwaku ke lantai kenyataan yang mengerikan. Aku bukan sekadar putri yang dilindungi. Aku adalah produk. Aku adalah aset biologis yang nilai investasinya diukur dari seberapa bersih ingatanku bisa dihapus.

​"Lalu kenapa Devan?" suaraku bergetar. "Kenapa dia dibiarkan hidup dan mengejarku selama tiga tahun?"

​Satria melirik Devan sejenak. "Berdasarkan data yang dipulihkan, Frans ingin melihat reaksi subjek terhadap 'pemicu emosional kuat'. Devan adalah variabel kontrol. Mereka ingin tahu apakah zat itu bisa menahan tekanan jika kau dihadapkan kembali pada sumber memori yang paling dalam. Mereka membiarkan Devan mengejarmu karena mereka ingin menguji kekuatan produk mereka."

​Keheningan yang mematikan jatuh di ruangan itu. Aku menatap Devan. Tangan yang menggenggamku sekarang gemetar hebat. Devan menunduk, bahunya berguncang.

​"Jadi..." suara Devan pecah, sebuah tawa getir lolos dari bibirnya. "Selama tiga tahun ini, saat aku bertaruh nyawa mencarinya... saat aku dipukuli di arena bawah tanah... aku hanya bagian dari eksperimen mereka? Aku hanya tikus yang dibiarkan berlari di labirin untuk melihat reaksinya?"

​"Devan, bukan begitu maksudnya—" Satria mencoba menyela.

​"DIAM!" raung Devan. Ia berdiri, melepaskan tanganku dengan sentakan yang menyakitkan. Ia menatap Satria dengan mata yang merah karena amarah dan penghinaan. "Kalian semua tahu? Kalian semua membiarkanku menjadi badut dalam sirkus gila Hendra Kusuma?!"

​"Kami baru mengetahuinya dari data mercusuar, Devan!" Satria membalas dengan nada yang sama kerasnya. "Hendra menutupi ini dengan sangat rapi hingga ke level kementerian!"

​Devan tidak mendengarkan. Ia berbalik dan menghantam tembok ruangan itu dengan tinjunya. Brak! Suara hantaman itu bergema seperti ledakan kecil. Ia menyandarkan dahinya di tembok yang dingin, napasnya memburu.

​Aku menatap punggung Devan, merasakan rasa sakit yang lebih hebat daripada jarum infus di lenganku. Selama ini, aku pikir akulah yang paling menderita karena kehilangan memori. Tapi Devan... Devan memiliki ingatannya secara utuh, dan ingatan itu digunakan oleh orang-orang jahat untuk menyiksanya perlahan-lahan. Mereka membiarkan dia memiliki harapan hanya untuk melihat bagaimana harapan itu hancur setiap kali ia melihatku menatapnya dengan pandangan kosong.

​"Van..." panggilku lembut.

​Devan tidak berbalik. "Aku ingin membunuhnya, Anya. Aku ingin kembali ke penjara dan mencekik ayahmu dengan tanganku sendiri."

​"Kalau kau melakukannya, mereka menang," bisikku. "Mereka ingin kita menjadi monster. Mereka ingin kita kehilangan kemanusiaan kita agar kita bisa menjadi bidak yang sempurna."

​Devan perlahan berbalik. Wajahnya terlihat sangat hancur. Ia berjalan kembali ke arah tempat tidurku, namun kali ini ia tidak duduk. Ia berdiri di sana, menatapku dengan tatapan yang sarat akan rasa bersalah yang tidak seharusnya ia miliki.

​"Maafkan aku, Anya. Jika aku tidak bersikeras mencarimu... jika aku membiarkanmu tetap jadi boneka... mungkin kau tidak akan berada di ambang kematian seperti ini."

​"Jangan pernah katakan itu," aku merengkuh tangannya, meskipun rasanya otot-ototku akan sobek. "Aku lebih memilih mati sebagai manusia yang mengingatmu, daripada hidup seribu tahun sebagai proyek yang tidak mengenal cinta."

​Satria berdeham, mencoba mengembalikan suasana ke arah yang lebih mendesak. "Tim medis sedang mencoba mensintesis zat penawar dari data yang ditemukan. Tapi ada satu komponen yang hilang. Frans menyebutnya 'Kunci Harmonik'. Itu bukan bahan kimia, melainkan pemicu psikologis yang harus diberikan bersamaan dengan penawar untuk membuka kembali jalur saraf yang diblokir."

​"Kunci Harmonik?" Devan mengernyit. "Apa itu?"

​Satria menggeleng. "Datanya korup di bagian itu. Tapi ada satu referensi lokasi yang terus muncul dalam catatan harian Frans: Ruang Musik Universitas Bina Harapan."

​Jantungku berdegup kencang hingga monitor di sampingku berbunyi lebih cepat. Beep. Beep. Beep.

​Ruang Musik. Tempat di mana kaset rusakku pertama kali terpicu. Tempat di mana Devan menyudutkanku di antara rak buku berdebu. Tempat di mana melodi yang hilang itu seolah memanggilku dari balik kabut.

​"Kenapa di sana?" tanyaku.

​"Hendra adalah penyumbang dana terbesar untuk pembangunan gedung seni itu sepuluh tahun lalu," Satria menjelaskan. "Ada spekulasi bahwa gedung itu dibangun di atas fondasi yang memiliki akustik khusus. Frans percaya bahwa frekuensi suara tertentu bisa memperkuat atau menghancurkan blokade memori. Itulah sebabnya kau ditempatkan di jurusan Sastra Klasik, berdekatan dengan gedung itu. Kau sedang diawasi, Anya. Setiap hari."

​Aku memejamkan mata. Dinding kaca apartemen, mata-mata di kampus, semuanya terasa seperti jaring laba-laba yang sangat besar. Aku tidak pernah benar-benar bebas. Bahkan saat aku pikir aku sedang kuliah dengan normal, aku sedang berada di dalam tabung reaksi yang tidak terlihat.

​"Kita harus ke sana," ujarku tegas. Aku mencoba melepaskan infus di lenganku.

​"Anya, tidak! Kau masih sangat lemah!" Devan menahan tanganku dengan panik.

​"Dengarkan aku, Devan!" aku menatapnya dengan api yang baru saja menyala di mataku—api yang berasal dari fragmen kaca yang kuterima di persidangan imajiner jiwaku. "Frans masih hidup. Dia melompat ke laut, tapi tubuhnya tidak ditemukan. Dia akan pergi ke sana. Dia akan pergi ke tempat di mana semuanya dimulai untuk menghancurkan kunci itu sebelum kita menemukannya."

​Satria mengangguk setuju. "Informan kami melaporkan ada pergerakan mencurigakan di kampus malam ini. Gedung seni dikosongkan dengan alasan kebocoran gas. Itu polanya, Devan."

​Devan menatapku lama, mencari keraguan di mataku. Ia hanya menemukan tekad. Perlahan, ia menghela napas dan membantu dokter yang masuk untuk memasang monitor portabel pada tubuhku.

​"Baik. Kita pergi," Devan memakai kembali jaket kulitnya. "Tapi kali ini, tidak ada lagi eksperimen. Tidak ada lagi variabel kontrol. Aku akan memastikan mesin ini berhenti bekerja untuk selamanya."

​Kami bersiap dalam sunyi yang mencekam. Saat aku dipindahkan ke kursi roda untuk menuju mobil Satria, kepalaku kembali berdenyut. Sebuah kilas balik yang sangat spesifik—bukan lagi fragmen, melainkan adegan utuh—muncul dari balik tirai Ruang Musik.

​[KILAS BALIK SINEMATIK]

​FADE IN:

​INT. RUANG MUSIK LAMA - SORE HARI (3 TAHUN LALU)

​Warna visual sangat hangat, keemasan. Debu menari-nari di sela cahaya matahari yang menembus jendela tinggi. ANYA (16 tahun) sedang duduk di depan piano grand hitam. Ia terlihat sangat cantik dalam seragam sekolahnya, namun matanya memancarkan kesedihan.

​DEVAN (17 tahun) berdiri di belakangnya, menyandarkan lengannya di atas piano.

​DEVAN

"Kenapa berhenti? Lagunya belum selesai, Nya."

​ANYA

"Ayah bilang aku tidak boleh main lagu ini lagi. Katanya ini lagu kesukaan Ibu sebelum dia... pergi."

​Anya menyentuh satu tuts piano, mengeluarkan nada minor yang menyayat hati.

​DEVAN

"Ayahmu ingin kau melupakan Ibu, melupakan aku, melupakan duniaku. Tapi musik ini... ini bukan miliknya. Ini milikmu. Tutup matamu, Anya."

​Anya menutup matanya. Devan membungkuk, tangannya yang besar menutupi tangan Anya yang kecil di atas tuts piano.

​DEVAN (CONT'D)

"Ingat melodi ini. Jika suatu saat kau lupa namaku, jika suatu saat kau lupa siapa dirimu... dengarkan suara piano ini di kepalamu. Ini adalah kunci yang tidak bisa ia curi. Ini adalah Elegi kita."

​Devan mulai memainkan melodi yang sangat indah namun tragis. Melodi yang sama yang berputar di kepalaku setiap kali aku mengalami serangan panik.

​ANYA (V.O)

(Suaranya bergetar penuh haru)

"Aku baru menyadarinya sekarang. Ruang musik itu bukan tempat penyiksaan. Itu adalah tempat di mana Devan memasang 'bom waktu' di dalam ingatanku. Sebuah melodi yang dirancang untuk meledakkan segala blokade kimia yang diberikan Frans. Dan malam ini, bom itu akan meledak."

​Kamera fokus pada wajah Devan muda yang tersenyum lembut, lalu perlahan-lahan wajah itu memudar menjadi wajah Devan masa kini yang sedang mendorong kursi rodaku keluar dari fasilitas medis, wajah yang penuh luka namun memiliki cinta yang tak tergoyahkan.

​FADE OUT.

​Kami keluar menuju kegelapan malam Jakarta. Gedung universitas di kejauhan tampak seperti siluet raksasa yang menanti kepulangan pion-pion yang memberontak. Elegi ini baru saja mencapai bait konfrontasi yang sesungguhnya.

​[BERSAMBUNG KE BAB 22]

1
Afri
gila bener ayahnya Anya .. sedendam itu sama Devan
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??
Afri
ternyata Devan ada d kehidupan Anya sebelum kecelakaan
Misterios_Man: masih revisi kak masih agak bingung, tapi ya nikmatin aja lah😄
total 1 replies
marchang
lanjuttt thorr
Misterios_Man: Siap boss/Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!