NovelToon NovelToon
Life After Marriage With Zidan

Life After Marriage With Zidan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Persahabatan
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Shakira Naomi hanya ingin lulus kuliah tataboga dengan tenang. Namun, mimpinya terusik saat ia dipaksa menikah dengan Zidan Ardiansyah, sahabat masa kecilnya yang paling tengil dan tidak bisa diam.
Bagi Shakira, pernikahan ini adalah bencana. Bagi Zidan, ini adalah kesempatan emas untuk memenangkan hati gadis yang selama ini ia puja secara ugal-ugalan. Di antara sekat guling dan aturan "aku-kamu" yang dipaksakan, mampukah Zidan meruntuhkan tembok dingin Shakira? Atau justru status "sahabat jadi suami" ini malah merusak segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Paksu Tengil

Lampu lobi fakultas yang terang benderang menjadi saksi bisu betapa keras kepalanya Shakira untuk tetap terlihat tenang. Di hadapannya, laptop menyala menampilkan barisan paragraf bab dua yang belum selesai, namun fokusnya terus-terusan terpecah. Setiap beberapa detik, ponsel yang diletakkan telungkup di samping laptop bergetar pelan.

Bzzzt... Bzzzt...

Shakira menarik napas panjang, mencoba mengabaikan getaran itu. Namun, rasa penasaran menang atas harga dirinya. Dengan gerakan secepat kilat, ia mengintip layar ponselnya.

Zidan (Pak Suami 🛠️):

Ra, sumpah ya, tangan aku nggak mau aku cuci sampe sore.

Ini wangi bedak kamu nempel di sini.

Kok tiba-tiba salim? Kamu abis kemasukan jin baik di mana tadi pas turun motor?

Shakira menggigit bibir bawahnya, berusaha keras menahan tawa yang ingin meledak. Ia segera membalikkan kembali ponselnya ke atas meja. Namun, hanya selang semenit, getaran itu kembali muncul.

Zidan (Pak Suami 🛠️):

Oiii! Dibalas dong amunisi siangnya.

Gara-gara kamu salim, aku tadi hampir salah pasang ban motor orang.

Tanggung jawab, Ra! Hati aku jadi nggak stabil nih.

Senyum geli yang sedari tadi ditahan Shakira akhirnya lolos juga. Sudut bibirnya terangkat, matanya berbinar meski ia sedang berusaha memasang wajah "serius".

"Cieee... senyum-senyum. Dapet chat dari Paksu ya?" goda Nina yang duduk tepat di seberangnya. Nina sengaja mencondongkan badannya, mencoba mengintip meski tidak kelihatan apa-apa.

Shakira langsung mengubah ekspresinya menjadi datar sesempurna mungkin. "Apa sih, Nin? Lanjutin aja tuh skripsi lo! Revisian lo lebih banyak daripada omongan lo, tahu nggak?"

Nina tertawa renyah, sama sekali tidak tersinggung. "Alah, nggak usah bohong sama gue, Ra. Muka lo itu nggak bisa nipu. Merah gitu kayak kepiting rebus. Pasti si Zidan lagi berulah ya lewat WhatsApp?"

"Enggak, ini tuh... ini gara-gara gue baca jurnal tentang pastry yang lucu. Udah ah, fokus!" sahut Shakira ketus, meski tangannya kembali meraih ponsel di bawah meja.

Ia mengetik balasan dengan cepat, jemarinya bergerak lincah.

Shakira:

Berisik banget sih! Kerja yang bener!

Cuci tangannya, jorok tau! Banyak oli itu.

Tadi itu cuma biar aku dapet berkah aja, nggak usah kepedean!

Hanya dalam hitungan detik, status di bawah nama Zidan berubah menjadi 'typing...'.

Zidan (Pak Suami 🛠️):

Berkah dari suami itu paling ampuh, Sayang.

Tapi ya nggak cuma tangan dong yang dikasih amunisi.

Nanti sore pas aku jemput, pipi aku juga butuh berkah kayaknya.

Hahaha.

"ZIDAN!" gumam Shakira pelan, hampir memekik. Ia meremas ponselnya dengan gemas.

"Tuh kan! Sebut nama! Udah gue duga!" Nina menunjuk-nunjuk Shakira dengan pulpennya. "Gila ya, pengantin baru. Tadi pagi gue liat adegan film romantis di parkiran, sekarang lanjut di WhatsApp. Kapan ngerjain skripsinya kalau begitu terus?"

Shakira mendengus, mencoba kembali menatap layar laptopnya yang berisi data penelitian. "Gue lagi ngerjain ini, Nin. Tapi Zidan itu bener-bener ya, nggak bisa liat orang tenang dikit. Kayaknya dia emang sengaja mau bikin fokus gue buyar."

"Ya bagus dong, artinya dia kangen. Jarang-jarang loh ada cowok yang sebucin itu setelah nikah, apalagi modelan mekanik kayak Zidan yang biasanya cuek," Nina menyandarkan punggungnya ke kursi. "Tadi emang kenapa sih? Kok tumben lo salim?"

Shakira terdiam, jemarinya berhenti mengetik. Ia teringat kembali momen di parkiran tadi pagi. Entah kenapa, saat melihat punggung Zidan yang bersiap pergi mencari nafkah, ada rasa haru dan hormat yang tiba-tiba muncul di hatinya. Rasa ingin menghargai pria yang setiap malam bersabar menghadapi "Garis Khatulistiwa" gulingnya.

"Ya... ya nggak apa-apa. Sebagai istri kan emang harus begitu," jawab Shakira pelan, suaranya melunak.

"Halah, sok bijak lo! Biasanya juga lo jutekin sampe dia minta ampun," sindir Nina sambil terkekeh. "Tapi jujur ya, Ra. Semenjak nikah sama Zidan, lo jadi lebih... gimana ya, lebih manusiawi. Nggak terlalu kaku kayak dulu."

"Maksud lo selama ini gue robot gitu?"

"Bukan robot, tapi terlalu perfeksionis. Nah, Zidan itu kayaknya bumbu penyedap yang pas buat hidup lo yang hambar," Nina kembali menatap laptopnya. "Dah ah, gue lanjut bab tiga. Jangan senyum-senyum lagi lo, ngeri gue liatnya."

Shakira kembali fokus ke laptopnya. Namun, konsentrasinya kembali goyah saat ponselnya bergetar sekali lagi. Kali ini bukan pesan teks, melainkan sebuah foto.

Zidan mengirimkan foto selfie di tengah bengkel. Wajahnya cemong kena oli di pipi sebelah kanan, tapi ia berpose dengan tangan kanannya—tangan yang dicium Shakira—ditempelkan ke pipinya sendiri sambil memejamkan mata satu.

Zidan (Pak Suami 🛠️):

Liat nih, amunisinya masih berasa anget.

Semangat revisinya, Calon Chef Hebatnya Zidan!

Aku lanjut bongkar mesin dulu ya. I love you, Kuntilanak Cantik.

Shakira tak bisa lagi menahan senyumnya. Ia menutupi mulutnya dengan tangan, bahunya bergetar menahan tawa. Sebutan "Kuntilanak Cantik" yang biasanya membuatnya marah, kini justru terasa seperti panggilan kesayangan yang unik.

Ia tidak membalas lagi. Ia hanya menaruh ponsel itu dengan posisi layar menghadap ke atas, agar ia bisa langsung melihat jika ada pesan masuk lagi. Shakira mulai mengetik bab duanya dengan semangat baru. Ternyata, gangguan dari Zidan bukan merusak konsentrasinya, melainkan memberi energi tambahan yang tidak ia duga sebelumnya.

"Nin," panggil Shakira tanpa menoleh dari layar.

"Apa lagi?"

"Makasih ya."

Nina mengernyitkan dahi. "Buat apa?"

"Buat... ya pokoknya makasih udah dengerin gue curhat nggak jelas soal Zidan."

Nina tersenyum tulus. "Sama-sama. Tapi bayarannya nanti pas lo udah wisuda, traktir gue makan di restoran bintang lima masakan lo ya!"

"Gampang itu mah!"

Shakira kembali tenggelam dalam barisan kalimat penelitiannya. Sesekali ia melirik foto cemong Zidan di layar ponsel, dan setiap kali itu pula, semangatnya kembali terisi penuh. Di balik sikap juteknya, Shakira mulai menyadari bahwa ia beruntung memiliki Zidan—mekanik tengil yang sanggup meruntuhkan ego tingginya hanya dengan sebuah pesan sederhana.

***

Lembayung senja mulai menghiasi langit di atas gedung fakultas, menciptakan gradasi warna jingga dan ungu yang kontras dengan hiruk-pikuk mahasiswa yang berhamburan keluar. Shakira berjalan bersisian dengan Nina, langkahnya sedikit gontai karena otak yang terkuras habis setelah berjam-jam berkutat dengan revisi bab dua.

Dari kejauhan, di area parkir yang mulai melenggang, sosok Zidan sudah berdiri tegap di samping motor besarnya. Ia mengenakan kaos hitam polos yang membungkus otot lengannya dengan pas, dipadu dengan jaket denim yang sengaja tidak dikancingkan. Begitu melihat Shakira muncul di koridor, Zidan langsung menegakkan tubuh dan melambaikan tangan dengan semangat.

"Lama banget, Sayang. Kamu ke mana dulu tadi? Aku udah lumutan nunggu di sini," keluh Zidan begitu Shakira sampai di depannya. Ia melirik jam tangannya dengan ekspresi pura-pura tersiksa.

"Bucin banget sih lo, Dan! Baru juga telat sepuluh menit," sahut Nina sambil tertawa lepas. "Tadi itu Shakira nemenin gue ke toilet dulu bentar. Sabar dikit kenapa?"

Zidan beralih menatap Shakira, matanya menyipit penuh selidik namun tetap ada binar jenaka di sana. "Beneran kayak gitu? Nggak digodain cowok lain kan di dalem sana? Atau jangan-jangan ada mahasiswa tingkat akhir yang modus minta nomor kamu gara-gara liat kamu bawa map skripsi?"

Shakira memutar bola matanya malas, meski dalam hati ia merasa geli dengan sifat protektif suaminya. "Apaan sih. Jangan mulai deh drama ojek-nya. Udah ayo pulang, aku capek banget. Pengen rebahan."

"Iya, iya, sabar Nyonya," Zidan bergerak sigap. Namun, alih-alih memberikan helm, ia justru mulai melepas jaket denimnya sendiri. "Bentar, kamu pake jaket aku dulu."

Shakira mengerutkan kening, menatap jaket denim yang disodorkan Zidan. "Nggak usah. Aku udah pake kemeja panjang begini, Dan. Nggak bakal kedinginan."

"Udaranya dingin, Sayang. Ini udah mau maghrib, anginnya kenceng kalau di atas motor," paksa Zidan. Ia melangkah maju, menghalangi jalan Shakira. "Atau... kamu emang sengaja nggak mau pake jaket biar aku ada alasan buat peluk kamu terus biar anget?"

"Zidan! Mulut kamu! Ada Nina!" bentak Shakira pelan, wajahnya langsung memanas. Ia melirik Nina yang sekarang sudah menutup mulutnya, berusaha menahan tawa yang sebentar lagi meledak.

"Hahaha! Lanjutin aja, Dan! Anggap aja gue ini tiang listrik di parkiran," Nina tertawa terbahak-bahak sampai matanya berair. "Gila ya, mulut lo emang licin banget kayak oli samping."

Zidan tidak mempedulikan godaan Nina. Ia tetap menyodorkan jaketnya, bahkan mulai memasangkan lengan jaket itu ke tangan Shakira secara paksa tapi lembut. "Pake. Aku nggak mau istri aku masuk angin terus nanti kram perutnya kambuh lagi gara-gara kedinginan. Kamu tau kan aku paling nggak tega liat kamu nangis sakit kayak kemarin?"

Shakira akhirnya menyerah. Ia membiarkan Zidan memakaikan jaket denim itu ke tubuhnya. Jaket itu terasa sangat besar di tubuh mungil Shakira, aromanya sangat khas—perpaduan parfum maskulin Zidan yang mahal dan sedikit bau bensin yang tipis, aroma yang entah sejak kapan mulai terasa akrab bagi indra penciuman Shakira.

"Kebesaran, Dan. Aku kayak tenggelam," gumam Shakira sambil merapikan kerah jaketnya.

"Malah lucu tau, kayak pake baju pacarnya," Zidan tersenyum puas sambil mengancingkan satu kancing tengah jaket tersebut. "Nah, begini kan aman. Angin nggak bakal berani masuk."

"Duh, bener-bener ya. Gue berasa nonton drama Korea secara privat di sini," Nina menyambar tasnya, bersiap pergi menuju parkiran motornya sendiri. "Gue cabut ya, Ra! Dan, jagain sahabat gue. Jangan sampe lecet, apalagi sampe baper di jalan!"

"Beres, Nin! Pulang hati-hati lo, jangan ngebut!" teriak Zidan.

Setelah Nina menghilang di balik deretan motor lain, suasana parkiran menjadi sedikit lebih sunyi. Zidan mengambil helm Shakira, memakaikannya dengan gerakan yang sangat telaten seperti biasa.

"Jadi... gimana bimbingannya tadi?" tanya Zidan sambil memastikan pengait helm Shakira sudah terkunci dengan bunyi klik.

"Lancar. Tapi tetep aja ada revisi di bagian metodologi. Capek banget," keluh Shakira, kali ini suaranya lebih jujur menunjukkan kelelahannya.

Zidan mengusap pipi Shakira yang tertutup kaca helm sebentar. "Sabar. Namanya juga skripsi. Nanti sampe rumah aku pijitin pundaknya ya? Versi mekanik, dijamin pegelnya ilang."

Shakira tersenyum tipis di balik helmnya. "Pijit beneran ya? Jangan modus lagi."

"Dikit-dikit boleh lah, kan ada pajaknya," Zidan nyengir tanpa dosa, lalu ia menghidupkan mesin motornya yang menderu gagah. "Ayo naik. Peluk yang kenceng, soalnya jaket aku kan licin, nanti kamu merosot."

"Alasan terus!" sahut Shakira, namun ia tetap naik ke boncengan dan melingkarkan lengannya di pinggang Zidan, tepat di atas jaket denim yang ia kenakan.

Zidan menarik tangan Shakira agar lebih erat mendekap perutnya. "Udah siap, Amunisi Sore?"

"Jalan, Zidan! Bawel!"

Motor itu melesat meninggalkan gerbang kampus. Di sepanjang jalan, Shakira menyandarkan kepalanya di punggung Zidan. Di balik jaket denim yang besar itu, ia merasa terlindungi dari angin sore yang mulai menusuk. Ia menyadari satu hal: Zidan mungkin punya mulut yang "licin" dan tengil, tapi perhatiannya selalu terasa sangat hangat dan nyata, jauh lebih hangat dari jaket denim yang sedang ia kenakan sekarang.

***

Zidan 😍

1
Nurminah
jarang2 makan favorit di novel pempek Palembang kapal selam pulok asli ini bibik ni wong palembang
tinggal daerah mano nyo Thor
di palembang jugo soalnyo
Nurminah: si ajudan kan sdh baca
total 8 replies
apiii
suka bngt sama dua bucin mas karat ini❤️
Rita Rita
bener bener si mas suami kejar setoran 🤭🤣🤣🤣
apiii
eps yg bikin senyum" sendiri 🤭
Rita Rita
apakah mas karatan dan istri sedang bikin adonan debay 🤔🤭🤣
apiii
aduh mas karatan🤣
Rita Rita
semangat boss,,, terus dapet asupan wkwkwk 🤭🤣🤣
apiii
wkwkwk
apiii
wah bisa bisa besok pagi di bengkel gimna ya
Rita Rita
akhirnya si mas karatan go' unboxing kalo go public udah 🤭🤣 asyik, guling udah kadaluarsa,,,
apiii
Lucu bngt pasangan baut karatan ini wkwk btw bisa kali thor triple up🤭
Nadhira Ramadhani: menyala otakku nanti kalo triple haha
total 1 replies
Rita Rita
si mas suami udah ada visual nya,, kasih visual kuntilanak cantik dong Thor,,,
Nadhira Ramadhani: ada saran?
total 1 replies
apiii
kiw kiww ada yg mulai bucin nih🤣
Rita Rita
cieee yg mau kencan 🤭🤣🤣 mas karatan dengan mbak Kunti cantik,, semoga lancar ya,,
apiii
doain ya aku lolos bab 1 bimbingan skripsi
Rita Rita
sangat contrast pasutri muda dengan panggilan sayang,,, mas karatan dan kuntilanak cantik 🤭🤣😍
Nadhira Ramadhani: POV: genz kalo nikah kak🤣
total 1 replies
apiii
semangat up nya thor aki tunggu tiap hari thor semangattt❤️
apiii
lucu bangt pasangan ini asli❤️
Rita Rita
sabar si mas suami jadi membawa bahagia,,,
Rita Rita
🤣🤣🤣 si mas Zidan udah terinfeksi rabies bucin, makanya senyum sendiri luar kendali 🤭🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!