Hamil dengan pria asing yang ternyata, Mafia???!
Aria hamil dari pria tak dikenal setelah malam yang menghancurkan hidupnya. Ia memilih mempertahankan anak itu, meski pikirannya nyaris runtuh.
Hingga pria itu kembali.
Lorenzo de Santis—datang, mengaku bertanggung jawab, dan masuk ke hidupnya tanpa izin. Namun Aria tidak tahu…
Bahwa kehamilan tersebut bukanlah kebetulan.
Melainkan rencana.
Dan pria yang berdiri di hadapannya bukan sekadar masa lalu yang kelam—
melainkan seorang bos mafia yang sejak awal telah mengendalikan segalanya.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBM — BAB 08
MANDI PERTAMA DI DE SANTOS
Uap hangat mulai memenuhi ruang sempit itu, menempel di kaca dan dinding marmer, menciptakan kabut tipis yang perlahan mengaburkan batas pandangan.
Aria berdiri kaku di dekat pintu.
Tatapannya jatuh tanpa sengaja pada punggung Lorenzo—dan untuk sesaat, napasnya tertahan.
Bukan karena tubuh pria itu.
Melainkan karena bekas luka panjang yang membelah punggungnya, kasar, seperti sayatan lama yang tak pernah benar-benar hilang. Jejak itu bukan luka biasa. Itu dalam, nyata, dan… kejam.
Kening Aria berkerut.
-‘...Apa itu?’ batinnya tanpa sadar, suara hatinya lebih pelan dari yang ia maksudkan.
Lorenzo seolah tidak mendengar. Atau memang memilih untuk tidak menanggapi.
Namun ketika ia berbalik—
Aria kembali tersentak oleh pemandangan dada bidang pria itu kini terlihat jelas, dihiasi guratan otot yang tegas dan sebuah tato gelap yang membentang di sisi dadanya. Polanya rumit, liar, seolah menyimpan cerita yang tidak ingin dibagikan.
Aria refleks menggosok lengannya sendiri, seperti berusaha mengusir sesuatu yang tak nyaman.
Ia tidak mengerti.
Pria ini… bukan hanya dingin. Tapi juga penuh bekas luka dan masalalu.
“Buka pintunya, aku ingin keluar.” ucap Aria akhirnya, nada suaranya terdengar lebih tegas meski kebingungan masih tersisa di wajahnya.
Lorenzo hanya menatapnya sekilas.
“Mandilah,” jawabnya singkat, seolah itu jawaban atas segalanya. “Bukankah ini bagian dari permainanmu?”
Tanpa menunggu reaksi, pria itu melangkah masuk ke bawah shower. Air langsung menyala, mengguyur tubuhnya tanpa ragu, membuat uap semakin tebal memenuhi ruangan. Dan yang lebih mengejutkan, tanpa ragu Loren membuka keseluruhan pakaian yang melekat di tubuhnya hingga dia benar-benar bertelanjang bulat.
Aria memalingkan wajahnya cepat. Pipinya mulai panas. Jantungnya berdetak tidak nyaman.
Pikirannya, tanpa izin, kembali pada malam itu—ruangan gelap, tubuh yang dipaksa, suara yang tak ia kenali… dan rasa kehilangan kendali yang hingga kini masih membekas.
Tangannya mengepal.
Amarah itu datang begitu saja.
Ia tetap berdiri di tempatnya. Tidak bergerak. Tidak mendekat.
Air terus mengalir, suara gemericiknya mengisi ruang yang sunyi.
“Cepatlah.... ” kata wanita itu dengan cerewet.
Lorenzo, di bawah aliran air, menoleh sedikit. Tetesan air jatuh dari rambutnya, melewati wajahnya yang tetap tenang.
Ia melihat Aria yang masih berpaling, kembali diam seperti patung.
“Jika kau tidak masuk sekarang,” ucapnya datar, “pintu ini akan kukunci setelah aku selesai.”
Aria mendengus pelan, menahan kesal. “Aku bisa mandi di tempat lain. Mansion ini sangat besar bukan.”
Tidak ada paksaan. Tidak ada ancaman lanjutan. Lorenzo hanya kembali diam, seolah pilihan itu memang tidak penting baginya.
Waktu berlalu dalam keheningan yang aneh. Hingga akhirnya aliran air berhenti. Aria masih berdiri di dekat pintu, menjaga jarak seolah itu satu-satunya pertahanannya.
Lorenzo melangkah hampir keluar dari bawah shower, lalu bergerak santai ke arah lemari kecil di sudut kamar mandi.
Namun sebelum ia sempat keluar, suara Aria terdengar cepat.
“Tetap di sana.”
Lorenzo berhenti. Alisnya sedikit mengernyit, tapi ia tidak membantah. “Kalau begitu ambilkan,” katanya kemudian, santai. “Atau kau ingin melihat lebih banyak dari yang seharusnya tidak kau lihat?”
Aria menarik nafas dalam-dalam, ia juga kesal namun bagaimana lagi.
Dengan gerakan cepat dan canggung, ia meraih handuk hitam dari lemari kecil itu tanpa menoleh sedikit pun. Tangannya terulur ke arah Lorenzo, wajahnya tetap berpaling.
“Ini.”
Namun sebelum handuk itu berpindah—Lorenzo menangkap pergelangan tangannya.
Gerakannya tidak kasar, tapi cukup untuk membuat Aria membeku. Jantungnya langsung melonjak. Tubuhnya menegang.
“Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!” suara Aria pecah, penuh ketakutan yang tidak bisa ia sembunyikan. Namun pria itu masih menahannya dengan sengaja.
Hingga akhirnya Aria mencoba tenang, “Tolong… jangan lakukan itu lagi.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Jujur. Mentah. Dan penuh luka. Suaranya tidak meninggi seolah dia benar-benar memelas.
Untuk sesaat, sesuatu berubah di wajah Lorenzo.
Bukan amarah, bukan juga ketertarikan. Melainkan… jeda. Seperti ada sesuatu yang ia tahan.
Namun hanya sesaat.
Pria itu melepaskan tangannya tanpa kata, lalu mengambil handuk tersebut dan melilitkannya di pinggangnya dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Berisik,” gumamnya pelan.
Ia berjalan melewati Aria, membuka pintu kamar mandi tanpa tergesa.
Begitu kunci terbuka— Aria langsung bergerak. Ia keluar dengan cepat, hampir seperti melarikan diri, gaunnya yang compang-camping bergesekan pelan saat ia melangkah menjauh.
Lorenzo menyusul dengan langkah santai, menatap ke istrinya dengan heran dan tajam.
“Itu baru permulaan,” katanya datar lalu berjalan ke arah ruang ganti.
Aria berbalik cepat, matanya menyala. “Dasar licik.” kesal Aria namun pelan
“Kau mengatakan sesuatu?” Loren berbalik menatap tajam sehingga tatapan mereka bertabrakan, tajam dan panas.
Namun kali ini, tidak ada yang mendekat.
Tidak ada yang menang.
“Aku akan mandi di tempat lain,” lanjut Aria tegas, nadanya tidak memberi ruang untuk dibantah.
Lorenzo hanya mengangkat bahu tipis. “Lakukan sesukamu.”
Tanpa menunggu lagi, Aria berbalik dan melangkah keluar kamar itu. Langkahnya cepat, napasnya masih tidak stabil.
Namun di dalam kepalanya, bukan hanya kemarahan yang tersisa— melainkan juga satu pertanyaan yang terus mengganggu. “Dia memiliki bekas luka yang indah, aku yakin dia anak yang nakal.” gerutu Aria tak peduli.
Ia berjalan menyusuri mansion besar itu, hanya ada beberapa penjaga namun jarak mereka sangatlah saling berjauhan. pelayan juga tidak terlihat, sehingga ia memilih masuk ke kamar manapun.
.
.
.
“Tuan, malam ini kapal dari Rusia datang. Pesta di dalamnya... Anda mendapat undangan.” jelas seorang pria tangan kanan Lorenzo yang bernama, Fabio(30th).
Emilio yang duduk di kursi sembari menghisap rokok, ia menatap santai Fabio. “Bagaimana tanggapan Loren?”
Asap mengepul di udara, memenuhi keseluruhan ruangan.
“Tuan Loren, memutuskan untuk datang, dia ingin menyelesaikan konflik de Santos dengan Romano.” kata Fabio dengan jelas dan tegas.
Emilio terdiam beberapa detik, sebelum akhirnya dia memadamkan rokoknya. “Kalau begitu biarkan Loren saja yang mewakili, dia akan menyelesaikan nya.” kata pria tua berkemeja putih itu.
Selang beberapa menit, Aria keluar dalam keadaan segar. Rambutnya basah dan bathrobe ia kenakan untuk menutupi tubuhnya yang basah.
“Sayang sekali. Gaun ini sangat indah, tapi karena pria sialan itu, aku harus memakai hati hajatku.” kesal Aria yang membawa gaunnya lalu keluar kamar mandi.
Namun saat berbalik, ia dikejutkan oleh Matteo yang berdiri menatapnya datar serta heran.
Tentu saja Aria langsung mencengkram erat di bagian dadanya. “Ap-apa yang kau lakukan di sini?” tanya nya dengan nada marah.
Matteo tersenyum kecil. “Seharusnya aku yang bertanya itu kepadamu.” pria itu melangkah mundur dan duduk di kursi panjang tepat di bawah ranjang. “Apa yang kau lakukan di kamar ku, Nyonya de Santis.”
Seketika Aria mengamati kamar itu, dan gelagapan, apalagi saat pria jas cokelat itu mengamatinya cukup detail.
“Tapi... Kebetulan sekali kita bertemu. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan.” pria itu kembali berdiri dan melangkah maju 2 langkah sehingga Aria tetap menjaga jarak.
Ia tak membuka suara dan hanya menatap dengan berani.
“Apa kita pernah bertemu? Mungkin di tempat lain, atau mungkin satu bulan yang lalu?” tanya Matteo yang hanya ingin memastikan bahwa wanita di depannya saat ini benar-benar wanita yang dia hamili.
Aria mencoba menahan dirinya. “Aku tidak tahu.” jawabnya ketus sehingga Matteo tersenyum kecil seraya menggosok sekilas dagunya.
Pria tampan berkulit putih itu kembali memperhatikan wajah cantik Aria, lalu turun ke bawah tepat di perut Aria.
Tentu saja wanita itu merasa risih dan hendak pergi, namun suara Matteo membuatnya terhenti saat pria itu melontarkan pertanyaan lagi.
“Satu pertanyaan lagi.” ucapnya, “Apa kau sedang hamil saat ini?”
“Apa yang sebenarnya kau ingin tahu? Kau memberiku pertanyaan seperti mengintrogasi ku. Apa memang seperti ini keluarga de Santos?”
Matteo terdiam namun tidak marah, hanya menyeringai kecil.
Hingga pintu dibuka, Lorenzo tiba tepat waktu. Kemeja hitam, rambut tersisir rapi kebelakang dan tatapan tajam.
“Lihat, apa yang sedang istrimu lakukan di kamarku.” kata Matteo dengan santai.
Aria hanya menatap malas Loren saat mata perak itu menelitinya seakan memberi peringatan keras.
Tentu, wanita itu langsung saja berjalan keluar melewati Loren begitu saja, sehingga pria itu hanya menoleh ke kanan dan menatap kepergiannya.