NovelToon NovelToon
Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Romansa Fantasi / Hari Kiamat
Popularitas:502
Nilai: 5
Nama Author: Nayla Zidan

Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 35: [Volume 2] — Sinyal dari Menara Hitam

Ruko tua itu menjadi saksi bisu kelelahan kami. Setelah memastikan para Screamer benar-benar pergi, aku memeriksa radio jarahan tadi. Sinyalnya semakin kuat saat kami bergerak ke arah pusat kota, tepatnya ke arah sebuah menara pemancar raksasa yang menjulang seperti tombak hitam di cakrawala.

"Istirahat sepuluh menit," kataku sambil memeriksa sisa peluru di P90 Kurumi. "Logikanya, tubuhmu butuh asupan glukosa. Makan cokelat batangan yang kita ambil dari penjarah tadi."

Kurumi menerima cokelat itu dengan tangan gemetar. "Kamu nggak makan?"

"Metabolismeku berbeda sekarang. Aku tidak merasa lapar dengan cara yang sama seperti manusia," jawabku datar, meski sebenarnya perutku terasa perih seperti disayat. Aku tidak ingin dia khawatir.

Aku kembali mengutak-atik radio. Tiba-tiba, suara statis hilang, digantikan oleh suara rekaman otomatis yang jernih.

"...Unit Pembersihan Sektor Utama... Semua subjek eksperimen yang berada di luar fasilitas dinyatakan sebagai anomali... Prosedur eliminasi total diaktifkan dalam 24 jam... Menara Pusat adalah zona aman bagi personel berwenang..."

Mata Kurumi membelalak. "Eliminasi total? Maksudnya mereka bakal ngebom kota ini?!"

"Logika militer: Jika sebuah wabah tidak bisa dikendalikan, hanguskan seluruh area," aku mengepalkan tangan. "Dan 'anomali' yang mereka maksud... itu adalah aku. Mereka ingin menghapus jejak eksperimen Dokter Aris yang masih berkeliaran."

"Berarti kita harus ke Menara Pusat itu sekarang!" Kurumi berdiri dengan terburu-buru.

"Jangan naif. Menara itu adalah sarang musuh yang sesungguhnya. Tapi itu satu-satunya tempat dengan akses helikopter dan vaksin penstabil," aku menatap Menara Hitam di kejauhan. "Kita tidak punya pilihan. Kita harus menyusup ke sana sebelum matahari terbit."

Kami keluar dari ruko, menyusuri bayang-bayang gedung agar tidak terlihat dari atas. Saat kami melintasi sebuah taman kota yang gersang, aku mencium bau bahan kimia yang sangat tajam. Bukan bau zombi, tapi bau disinfektan militer.

"Berhenti," aku menahan Kurumi.

Di depan kami, di balik kabut, terlihat deretan mayat yang tertumpuk rapi. Bukan mayat zombi, tapi mayat manusia penyintas. Mereka semua ditembak tepat di kepala. Di samping tumpukan itu, ada sebuah kendaraan lapis baja dengan lambang yang sangat kukenal: Nirvana Corp.

"Mereka bukan cuma membunuh monster, Zidan..." bisik Kurumi dengan suara pecah. "Mereka membantai semua orang."

"Karena saksi mata adalah variabel yang tidak diinginkan dalam eksperimen mereka," suaraku merendah, dingin seperti es.

Urat hitam di lenganku tiba-tiba berdenyut kencang, kali ini dengan warna merah redup yang belum pernah kulihat sebelumnya. Rasa amarah yang tidak logis mulai merayap ke otakku. Pikiranku mulai dipenuhi oleh satu insting: Hancurkan mereka semua.

"Zidan? Matamu... matamu berubah jadi merah!" Kurumi mundur selangkah, tampak ketakutan.

Aku memejamkan mata, mencoba menekan insting predator itu dengan logika. "Jangan mendekat, Kurumi. Logikanya... aku sedang kehilangan kendali."

"Enggak! Aku nggak bakal biarin kamu sendirian!" Kurumi justru memelukku dari belakang, menempelkan wajahnya di punggungku. "Ingat tujuan kita! Kita harus selamat bareng-bareng ke daratan utama, kan? Jangan kalah sama virus sialan itu!"

Pelukan hangatnya perlahan meredam amarah di kepalaku. Denyutan di lenganku mulai melambat. Aku menarik napas panjang, menstabilkan detak jantungku kembali ke angka normal.

"Terima kasih," bisikku pelan. "Ayo. Kita punya menara yang harus kita runtuhkan."

Catatan Penulis:

Chapter 35 memperjelas bahwa musuh utama bukanlah sekadar zombi, melainkan korporasi yang menciptakan mereka. Zidan mulai menghadapi konflik internal di mana virus di tubuhnya bereaksi terhadap amarah. Kurumi bertransformasi menjadi "jangkar kemanusiaan" bagi Zidan. Kita selangkah lagi menuju akhir Volume 2!

1
Nadja 🎀
waah kyk anime saja! kereen!
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
Garuda Bayang
mayan lah yaaaa kurang pake gambar ajaaa
Zidanmahiru
apanya kak yg dipisah?
Zidanmahiru: judul nya kah?kalau iya ga sengaja ke pisah
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!