NovelToon NovelToon
SURAT DARI BATAVIA

SURAT DARI BATAVIA

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Tamat
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Melalui surat-surat yang melintasi waktu 94 tahun, cinta tumbuh di antara dua orang yang tidak mungkin bersatu. Alina jatuh cinta pada keberanian Arya, dan Arya jatuh cinta pada harapan yang dibawa Alina.
​Namun, sejarah mencatat bahwa Arya dijadwalkan untuk dieksekusi mati dalam waktu tiga bulan. Alina bertekad mengubah takdir itu. Dengan pengetahuan sejarahnya, ia mencoba menuntun Arya menghindari maut. Tetapi, setiap huruf yang ia ketik untuk mengubah masa lalu, mulai mengacaukan realitas masa kini.
​Di tengah ancaman marsose Belanda di tahun 1930 dan memudarnya ingatan sejarah di tahun 2024, Alina dan Arya harus memilih: Menyelamatkan nyawa satu sama lain, atau menyelamatkan kemerdekaan bangsa yang mereka cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Menjelang Sumpah

27 Oktober 1930. Pukul 16.00 waktu Batavia.

Indonesisch Clubhuis, Jalan Kramat Raya 106.

Gedung asrama pelajar itu lebih mirip sarang lebah yang sedang mengamuk. Asap rokok klobot dan cerutu murah menggantung tebal di udara, bercampur dengan aroma kopi tubruk dan keringat ratusan pemuda.

Raden Mas Arya duduk di pojok ruangan, memangku mesin tik portabelnya. Di sekelilingnya, perdebatan sengit terjadi dalam bahasa Belanda, Melayu, dan Jawa.

"Kita harus pakai kata 'Indonesia'! Bukan 'Hindia'!" teriak seorang pemuda dari Jong Celebes.

"Tapi polisi di luar pasti akan membubarkan rapat kalau mendengar kata itu!" bantah perwakilan Jong Ambon.

Arya mengusap peluh di dahinya. Suasana panas, bukan hanya karena suhu Batavia yang memanggang, tapi karena semangat yang meluap-luap. Besok adalah hari pertama Kongres Pemuda II. Taruhannya besar. Jika gagal, pergerakan nasional akan mundur satu dekade ke belakang.

Arya melihat ke arah meja pimpinan. Di sana, Soegondo Djojopoespito (Ketua Kongres) sedang berbisik serius dengan Mohammad Yamin (Sekretaris).

Arya melihat Yamin mencoret-coret sesuatu di secarik kertas kecil. Wajah penyair asal Minangkabau itu tampak berkerut, mencari diksi yang tepat, menghapus, lalu menulis lagi.

Arya tahu, di atas kertas kecil itulah nasib bangsa sedang ditulis.

Tangan Arya gatal. Dia ingin bertanya pada Alina. Dia ingin tahu bunyi pasti dari sumpah itu. Jika dia tahu, dia bisa memberikannya pada Yamin sekarang, menghemat waktu perdebatan berjam-jam.

Arya mengetik perlahan di tengah keriuhan itu.

> 27 Oktober 1930. Sore.

> Kramat 106.

> Alina, suasananya gila. Yamin sedang pusing tujuh keliling menyusun resolusi. Orang-orang berteriak.

> Van Heutz sudah menempatkan pasukan marsose di depan gedung. Mereka memeriksa setiap orang yang masuk.

> Apakah besok akan berhasil?

>

27 Oktober 2024. Pukul 16.00 WIB.

Apartemen Alina, Jakarta Selatan.

Alina duduk di lantai apartemennya yang dingin, bersandar pada sofa. Mesin tik Remington itu ada di meja kopi di hadapannya.

Dia tidak lagi merasa aman di rumahnya sendiri.

Sejak kepulangannya dari museum tiga hari lalu, dia merasa diikuti. Sebuah sedan hitam sering terlihat parkir di seberang gedung apartemennya. Dan tadi pagi, saat dia keluar membuang sampah, dia menemukan bekas goresan baru di lubang kunci pintunya—tanda seseorang mencoba membobol masuk tapi gagal.

Profesor Hendrik de Vries tidak main-main. Obsesi kakeknya telah menurun padanya.

Alina membaca pesan Arya. Dia bisa membayangkan keriuhan di Kramat 106—gedung yang di tahun 2024 sudah menjadi Museum Sumpah Pemuda yang sunyi dan sakral.

> Akan berhasil, Arya. Percayalah.

> Gedung itu sekarang jadi museum. Patung-patung lilin kalian ada di sana.

>

Arya membalas cepat.

> Patung lilin? Semoga patung saya tidak terlihat gemuk.

> Alina... boleh saya minta satu hal?

> Bisakah kau ketikkan naskah Sumpah itu?

> Yamin sedang kesulitan merangkai kalimat ketiga. Dia bingung antara "Menjunjung bahasa persatuan" atau "Mengaku berbahasa satu".

> Jika kau memberitahuku sekarang, saya bisa menyelipkannya ke tangan Yamin. Biar sempurna.

>

Alina terdiam. Permintaan itu sangat menggoda. Membantu para pendiri bangsa menulis naskah suci mereka? Itu impian setiap sejarawan.

Tapi Alina menggelengkan kepalanya sendiri.

> Tidak, Arya.

>

> Kenapa? Bukankah itu akan membantu?

>

Alina mengetik dengan tegas.

> Karena itu bukan kata-kataku. Itu kata-kata kalian.

> Itu adalah janji yang lahir dari keringat, darah, dan perdebatan kalian sendiri. Kalau aku memberitahumu sekarang, itu bukan lagi Sumpah Pemuda. Itu Sumpah Alina.

> Nilai sejarahnya akan hilang. Rohnya akan hilang.

> Biarkan Yamin pusing. Biarkan kalian berdebat. Justru di situlah letak keindahannya.

>

Di tahun 1930, Arya tersenyum membaca itu. Nona Masa Depan-nya memang bijak. Dia benar. Kemerdekaan bukan hadiah, apalagi contekan dari masa depan.

> Kau benar. Maafkan saya yang ingin jalan pintas.

> Saya akan biarkan Yamin pusing sendiri.

>

Arya berhenti sejenak, menoleh ke pintu depan gedung. Dia melihat seorang kurir memberikan sinyal tangan—tanda bahaya.

Arya kembali mengetik, kali ini lebih cepat dan tajam.

> Alina, saya tidak punya banyak waktu. Saya harus pergi.

>

> Mau kemana? Ini sudah sore. Jangan keluar!

>

> Kami dapat info intelijen. PID berencana memutus kabel listrik utama gedung Katholieke Jongenlingen Bond (Gedung KJB) di Lapangan Banteng, tempat rapat sesi pertama nanti malam.

> Kalau listrik mati, rapat bubar dalam gelap. Marsose akan mudah menangkap kami.

> Saya dan beberapa kawan dari pandu (kepanduan) ditugaskan menjaga gardu listrik di belakang gedung.

>

Jantung Alina mencelos.

> Itu tugas bunuh diri, Arya! Van Heutz pasti mengirim preman bayaran atau polisi berpakaian preman ke sana!

> Jangan pergi! Biar orang lain saja!

>

> Tidak ada orang lain, Alina. Yang lain sibuk menyusun materi kongres. Saya Sekretaris II (terima kasih padamu), tapi saya juga yang paling tahu seluk-beluk kelistrikan karena pernah sekolah di teknikal.

> Ini tugas saya.

>

Air mata Alina merebak. Sejarah yang dia ubah (Arya menjadi Sekretaris II) kini menempatkan Arya di garis depan bahaya yang lebih spesifik.

> Berjanjilah kau akan selamat.

> Kumohon.

>

> Saya tidak bisa berjanji selamat. Tapi saya berjanji akan melakukan yang terbaik.

> Jika besok pagi kau membaca koran dan tidak ada berita tentang "listrik mati di kongres pemuda", berarti saya berhasil.

> Alina...

>

> Ya?

>

> Kalau malam ini adalah malam terakhir saya... saya ingin kau tahu.

> Di antara ribuan wajah yang saya temui seumur hidup saya... wajah yang paling ingin saya lihat sebenarnya adalah wajahmu.

> Meski saya tidak tahu seperti apa rupamu.

>

Alina menangis tersedu-sedu. Dia ingin mengirimkan fotonya. Dia ingin mencetak fotonya lalu menempelkannya di kertas itu, tapi teknologi mesin tik tidak memungkinkan transfer gambar.

> Aku biasa saja, Arya. Mataku cokelat, rambutku hitam sebahu. Hidungku tidak mancung.

> Tapi aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Tolong jangan mati.

>

Pengakuan itu akhirnya keluar. Di saat-saat paling kritis.

Mesin tik itu diam sejenak. Lalu mengetik satu kalimat terakhir.

> Cukup. Itu bekal yang cukup untuk menghadapi seribu marsose.

> Sampai jumpa di fajar kemerdekaan, Cintaku.

>

Arya menarik kertas itu dari mesin tiknya, melipatnya, dan memasukkannya ke saku kemeja, tepat di atas jantungnya. Dia menyimpan mesin tik itu di bawah meja Yamin, menitipkannya pada seorang kawan.

Arya mengambil sebuah linggis besi dari gudang belakang. Dia merapikan blangkonnya, menghela napas panjang, dan berjalan keluar menuju malam Batavia yang mencekam.

27 Oktober 2024. Pukul 20.00 WIB.

Alina masih menangis di depan mesin tik yang kini bisu. Dia merasa sangat tidak berguna.

Tiba-tiba, telinganya menangkap suara.

KREK... KREK...

Suara logam beradu di pintu apartemennya.

Alina menoleh. Gagang pintu apartemennya bergerak-gerak pelan. Seseorang sedang mencoba membongkar kuncinya dari luar.

Paranoia Alina terbukti benar. Profesor Hendrik—atau orang suruhannya—sudah bosan menunggu. Mereka datang untuk mengambil mesin tik itu.

Alina menyeka air matanya kasar. Dia tidak boleh lemah. Arya sedang bertarung di tahun 1930. Dia juga harus bertarung di tahun 2024.

Alina segera memasukkan mesin tik berat itu ke dalam koper besar. Dia menyambar tas laptop, dompet, dan kunci mobil.

KLIK.

Kunci pintu berhasil diputar dari luar.

Pintu terbuka perlahan.

Seorang pria berjaket hitam dan bertopi masuk. Dia memegang sesuatu yang berkilau di tangannya—bukan pistol, tapi pisau lipat.

"Siapa di situ?" teriak Alina, memegang semprotan merica (pepper spray) yang selalu dia simpan di dekat pintu.

Pria itu kaget melihat Alina masih bangun. Dia menerjang maju.

Alina menyemprotkan cairan pedas itu tepat ke mata si penyusup.

"ARGH!" Pria itu meraung, menutupi wajahnya.

Alina tidak buang waktu. Dia menendang selangkangan pria itu sekuat tenaga, lalu menyeret koper beratnya keluar pintu, berlari menyusuri lorong apartemen menuju lift.

Jantungnya berpacu secepat lari Arya di tahun 1930.

Dia masuk ke dalam mobilnya di basement, mengunci pintu, dan tancap gas.

Saat mobilnya melaju membelah jalanan Jakarta, Alina menyadari satu hal.

Dia dan Arya kini sama-sama pelarian. Terpisah 94 tahun, tapi dikejar oleh bayang-bayang musuh yang sama.

"Bertahanlah, Arya," bisik Alina pada koper di jok sebelahnya. "Kita berdua harus selamat malam ini."

Tujuannya sekarang hanya satu: Sebuah tempat yang dia harap aman. Rumah masa kecilnya di Bandung, tempat kakeknya—seorang veteran perang—menyimpan senapan angin tua.

Malam itu, Jakarta dan Batavia sama-sama tidak tidur.

Di Lapangan Banteng 1930, Arya sedang mengendap-endap di balik gardu listrik, melihat tiga orang bayangan mendekat membawa tang pemotong kabel.

Di Tol Cipularang 2024, Alina melihat spion. Sebuah sedan hitam membuntutinya dengan lampu dim yang agresif.

Sejarah sedang dipertaruhkan malam ini.

...****************...

...Bersambung......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
tintakering
Kisah yang menarik. Mendebarkan dan cukup tegang👍
Anis Safitri
karya yg bagus beda dgn yg lain semangat buat author 💪😍
A'arisy🪻
Baru kali ini aku merinding sekujur badan selama baca cerita ini. pokok nya semangat terus buat author nya💪💪
Riana Zahrah
kurang puas sama ending nya, tapi setelah dipikir-pikir ada benarnya keputusan yg arya buat. Terima kasih untuk author karena dgn cerita ini hidup saya jadi bersejarah, hidup baik" ya author
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
yahh kok tamat sih, endingnya sad but happy. seenggaknya Alina dicintai pejuang klo kata Arya. semangat kak Tant, ditunggu karya selanjutnya 💪
tanty rahayu: makasih ka support nya
total 1 replies
R0220
huhu😢, thor cerita mu membuat ku menangis 🥹, ending yang bahagia tetapi sedih, terus kn membuat novel yang menarik Thor, semangat!! 🥹👍🏻
tanty rahayu: happy nya aku.... 😍 terima kasih ya ka support nya 😍
total 1 replies
R0220
terus kn membuat novel yang menarik , semangat!! 🥹👍🏻
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Akhir yang sempurna untuk Arya dan tak lupa memberi wasiat cinta untuk Alina.
menjalani hidup semestinya, dari berbagai peristiwa yang mendebarkan, heroik ,penuh welas asih kepada musuh bebuyutannya.
Legowo melepas rasa yang tak mungkin untuk bisa bersatu.
semoga takdir bisa mempertemukan ikatan kasih inu meski di keabadian kelak.


terimakasih thor, telah berkenan memberi suguhan novel yang begitu apik, memompa semangat, menderaikan airmata, senyum kelegaan dan keikhlasan , apa lagi yang mau di pinta : melihat yang tersayang hidup bahagia itu sdh cukup.
maturnuwun sanget thor
mengajarkan arti cinta tanpa keegoisan🙏
tanty rahayu: makasih banyak kaka buat semua support nya😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
mantap ya Alina
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
beneran matii ya Van hurst
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Giliran kita hai nona masa depan ,mari kita bantai hendrik van de vries.
Datang2 bawa dendam, mari kita pulang dalam kekalahan
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
semoga keduanya selamat
semoga keadaan menjadi lebih baik ,setelah van heutz tiada.
semoga ambisi cucu nya juga terkubur bersama kabar sang kakek yang telah tiada.

selanjutnya menata babak baru dalam kehidupan yang semoga saja lebih damai, aman dan tentram.

aamiin
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
waduh perang terbuka Arya vs Vanshurt
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Dendam lama kembali berkobar
satu untuk mengalahkan dan satu nya harus di kalahkan.
Memelihara rasa benci dan kesumat itu berat tuan heutz, semoga jiwamu nanti tenang disana.
ntah siapa yang akan menghembuskan nafas terakhirnya duluan,semoga dendam juga ikut terkubur bersama jasad masuk liang lahat.
"Legowo"
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
wahh ketemu lagi sama musuhh bebuyutan
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
Tunjungan Surabaya adalah yang sekarang jadi tempat doiku cari udara segar 😄
tanty rahayu: aku ke Surabaya cuma sekali itu pun karena temen ku nikah, gak sempet jalan"
total 3 replies
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Merinding sekaligus menetes air mata ku thor, terbayang betapa berat perjuangan penduduk Indonesia,yang tanpa pamrih memberikan segala daya upaya,jiwa raga dan materi demi tercapai nya kemerdekaan yang sekarang sudah kita nikmati hasilnya.

suasana kacau ,mencekam ,genting begitu nyata terbaca.
sukses selalu dengan karya mu thor.
kali ini adegan demi adegan yang detail memacu adrenalin pembaca, ikut larut dalam suasana yang lebih mendebarkan,betapa mereka ketakutan tapi semangat juang tetap membara dengan satu tujuan.

semoga bung miko ketika sampai Yogyakarta ,bisa selamat dari musuh bebuyutannya.
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡: sami2 thor,
jujur saja aku sangat suka novel ini,ada daya magnet tertentu yang menautkan hati
ketika mendengar lagu INDONESIA RAYA hati penuh haru ,airmata merebak, seperti merasakan kilasan peristiwa perjuangan rakyat Indonesia
penuh darah ,keringat dan air mata.


alfatihah untuk semua pejuang baik yang tertulis namanya maupun yang tidak dikenali
semoga surga menjadi balasan atas semua jasa2 nya.


merdeka 💪
total 2 replies
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Ahh, ...aku telah mengikhlaskannya, tapi takdir berkata lain.
kegembiraan membuncah dalam dada...
haru biru serasa dalam hangat dekap mu.
airmata bahagia memuncak berderai seperti air terjun.
tangis bahagia ,dibingkai pertemuan.
andai suatu masa bisa bertemu sungguhan
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
terharu, definisi jodoh gai kemana untuk kali ini ya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
bener ya pura-pura matii untuk kedua kalinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!