Ibu hamil yang wafat di tempat kejadian,sebut saja Rini bersama dengan anaknya yang belum lahir. Rasa cinta yang dalam pada anaknya dan kemarahan pada mereka yang menyebabkan kematiannya membuatnya menjadi arwah penasaran yang tak bisa pergi ke alam lain. Setiap malam, dia muncul di jalan raya tempat kejadian itu terjadi—bayangan dia dengan perut membuncit dan tas yang masih tersangkut di bagian tubuhnya sering dilihat oleh sopir yang lewat, membuat mereka merasa dingin mendadak dan merasakan kesedihan yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Di Rumah Mertua
"Mau kemana yah??" tanya Sri dengan suara khawatir.
"Mau kedepan Bu, sebentar aja... cari angin," jawabnya sambil mengambil topinya yang ada di meja. Ia kemudian menghadap Rizky, matanya sudah tidak lagi penuh amarah tapi digantikan oleh kesedihan yang dalam. "Rizky, maafin ayah ya..." ucapnya lembut.
"Iya, yah... enggak apa-apa," jawab Rizky dengan rendah hati.
Ayah mertua nya Rizky tersenyum tipis dan menepuk pundak Rizky sebentar. "Ayah pergi dulu ya," ucapnya sebelum berjalan keluar dari rumah. Rizky hanya bisa mengangguk sambil menatap langkah ayah mertuanya yang menjauh.
Setelah itu, Rizky dan ibu mertuanya kembali duduk di sofa. Mereka berbincang santai sambil menonton TV dengan suara yang kecil, mencoba mengembalikan suasana yang tadinya tegang. Tak lama kemudian, bel pintu berbunyi tiga kali dengan nada jelas.
"Iya, sebentar!" kata ibu Sri sambil berdiri dan berjalan ke arah pintu. Setelah membukanya, wajahnya langsung bersinar bahagia. "Rasti ya... ampun, baru ingat sama ibu ya?" ucapnya dengan nada penuh cinta.
"Ibu jangan ngomong gitu dong," balas Rasti dengan senyuman, sambil menggendong anak laki-lakinya Putra, sementara tangan kanannya menggenggam tangan anak perempuannya Ade yang sedang melompat-lompat senang.
Sri segera membuka pelukan untuk kedua cucunya. "Cucu-cucu nenek yang ganteng dan cantiknya!" ucapnya dengan senang hati, kemudian mencium pipi Ade dan Putra satu per satu. "Hayu masuk, ada Rizky di dalam lho," katanya sambil mengajak mereka masuk.
Rasti mengangguk dan berjalan ke ruang tamu bersama kedua anaknya. Mereka pun duduk di sofa sebelah Rizky. Rizky segera berdiri dan bersalaman dengan Rasti kakak iparnya yang satu-satunya saudara Rini.
"Gimana kabarmu?" tanya Rasti dengan penuh perhatian.
"Baik, Kak," jawab Rizky pelan.
"Syukurlah ya," ucap Rasti sambil mengangguk.
"Mana suami kamu, Rasti?" tanya Ibu Sri sambil mengambil mangkuk keripik dari atas meja untuk diberikan pada Ade dan Putra.
"Masih kerja, Bu. Nanti sore atau malam dia baru kesini, mau nginep disini Bu," jawab Rasti sambil menata rambut Ade yang sedikit kusut.
"Ohh ya... ibu seneng banget dengarnya! Bisa tidur bareng cucu-cucu nenek yang menggemaskan ini," ucap Sri dengan wajah penuh kebahagiaan, sambil mengusap-usap kepala Putra yang sedang asyik makan keripik.
Melihat suasana hangat antara nenek dan cucunya itu, Rizky tiba-tiba merasa ada sesuatu yang menusuk dalam hatinya. Air mata mulai menetes tak terkendali di pipinya. "Seandainya kamu masih hidup, kamu dan anak kita akan bahagia seperti mereka... Aku tidak sanggup melihat ini.Rasanya sangat menyayat hati .Atau aku pulang saja ." suara hati nya berbisik pelan.
Beberapa menit kemudian, Ade anak perempuan Rasti yang berusia 5 tahun berdiri perlahan dan menghampiri Rizky. Ia kemudian duduk dengan tenang di sisi Rizky, melihatnya dengan mata yang cerah.
"Om..." panggil Ade dengan suara lembut.
"Iya de?" jawab Rizky sambil menyeka air matanya yang masih sedikit basah.
"Aku mau lihat Dede bayi Om, yang di gendong Bibi," ucap Ade dengan wajah penuh rasa penasaran.
Rizky terheran dan sedikit terkaget mendengar kata-kata Ade. Ia menoleh ke arah anak kecil itu dengan tatapan bingung. "Dede bayi yang mana, dek?" tanyanya pelan.
Neneknya merhatikan mereka berdua yang berada di depan mereka.