NovelToon NovelToon
Immortal Restaurant

Immortal Restaurant

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Radapedaxa

Di puncak keabadian, saat semua makhluk tunduk pada namanya… dia justru memilih turun.

Seorang Immortal yang telah menembus batas ranah, mencapai puncak keabadian, bahkan secara tak langsung menjadi penjaga keseimbangan semesta, tiba-tiba membuat pengumuman yang mengguncang seluruh alam.

“Aku pensiun.”

Istana Surga terdiam. Para dewa tercengang. Para raja iblis waspada. Dunia fana gemetar—bukan karena perang, melainkan karena satu kenyataan yang tak masuk akal:
sosok yang selama ini menjaga garis takdir… memilih pergi.

Bukan karena kalah.
Bukan karena terluka.
Namun karena… bosan.

Ribuan tahun berlalu dalam siklus yang sama: menekan kekacauan, mengadili pelanggar langit, menutup retakan dimensi, mengulang hari-hari tanpa rasa. Hidup abadi yang sempurna justru terasa seperti penjara paling sunyi.

Maka sang Immortal turun ke dunia, meninggalkan singgasana langit, dan memilih sesuatu yang dianggap remeh oleh para dewa:

Membuka sebuah restoran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radapedaxa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 - Istri yang Lebih Menakutkan

Debu perlahan mengendap. Langit kembali tenang.

Namun pemandangan di jalan utama Kota Pingxi tidak lagi sama.

Sebuah kawah raksasa berbentuk telapak tangan tercetak jelas di tanah.

Retakan menyebar ke segala arah.

Bangunan di sekitarnya rusak.

Kios-kios hancur.

Dan di tengah kawah itu— tergeletak Lu Qiang.

Tubuhnya penuh luka.

Sesekali bergerak lemah, seperti ikan yang kehabisan air.

Zhao berdiri di tepi kawah.

Ia menatap hasil perbuatannya.

Lalu menggaruk pipinya.

“Woopsie…”

Senyumnya canggung.

“Sepertinya aku terlalu berlebihan.”

Ia melirik ke sekeliling. Puluhan pasang mata menatapnya. Penduduk kota. Para pedagang.

Orang-orang yang tadi bersembunyi kini keluar.

Namun tidak ada yang berani mendekat.

Tatapan mereka—

penuh ketakutan.

Seolah Zhao adalah monster yang baru saja turun dari langit.

Zhao menghela napas kecil.

“Ha…”

Ia mengangkat bahu.

“Sepertinya aku harus membersihkan kekacauan ini.”

Matanya tiba-tiba berkilat.

Sejenak—

ia menatap ke arah tertentu.

Atap rumah.

Bayangan samar.

“Dan…”

Ia tersenyum tipis.

“…sepertinya ada seekor serangga yang dari tadi mengawasi.”

Namun ia tidak bergerak ke arah itu.

Sebaliknya— Zhao mengangkat tangannya.

Lalu—

menjentikkan jarinya.

SNAP.

Gelombang Qi tak terlihat menyapu seluruh area.

Cepat.

Halus.

Namun tak terelakkan.

Semua orang yang terkena tanpa sadar mata mereka tiba-tiba bersinar putih. Tubuh mereka kaku.

Dan dalam sekejap jatuh tak sadarkan diri. Satu per satu. Seperti domino.

Seluruh jalan dipenuhi orang-orang yang pingsan.

Sunyi.

Beberapa detik kemudian—

mereka mulai bangun.

“Ugh…”

“Kepalaku…”

“Apa yang terjadi…?”

Mereka saling menatap bingung.

Lalu melihat ke depan.

Dan—

membeku.

“K…kehancuran ini…?”

“Apa yang terjadi di sini?!”

Namun tak satu pun dari mereka mengingat apa yang baru saja terjadi.

Pertarungan.

Ledakan.

Telapak emas.

Semua—

hilang dari ingatan mereka.

Zhao berdiri di kejauhan.

Ia tersenyum tipis.

“Maafkan aku.”

Ia berbalik.

“Tapi semakin sedikit yang kalian tahu…semakin baik.”

Di atas atap sebuah rumah—

seorang pria bertopeng perlahan terbangun.

Topengnya berbentuk wajah anjing.

Ia memegang kepalanya.

“Kugh…Kepalaku sakit…”

Ia duduk perlahan.

“Apa yang terjadi…?”

Ia melihat sekeliling.

Lalu—

membeku.

Di bawahnya—

jalan utama hancur total.

Kawah besar.

Bangunan runtuh.

Dan di tengahnya—

Lu Qiang dan para bandit tergeletak tak berdaya.

“Apa… yang sudah terjadi di sini…?”

Ia berdiri dengan tergesa.

Namun pikirannya terlalu fokus pada kehancuran itu.

Ia sama sekali tidak menyadari bahwa Zhao berdiri tidak jauh darinya.

Qi Zhao tersembunyi sepenuhnya.

Seolah ia tidak ada.

Pria bertopeng itu menggertakkan giginya.

“Sial! Aku harus melapor pada Walikota!”

Ia melompat turun.

“Sepertinya aliansi murim telah menyusup ke kota ini!”

SWOOSH!

Seketika Ia menghilang dalam sekejap.

Zhao hanya melirik ke arah itu sebentar. Namun tidak mengejarnya.

“Silakan saja…”

gumamnya santai.

“Semakin cepat mereka datang, semakin cepat selesai.”

Lalu ia berjalan menuju kawah.

Menuju Lu Qiang.

Ia berdiri di samping tubuh pria itu.

Menatapnya sebentar.

Lalu—

PLAK!

Zhao menampar wajahnya. Cukup keras untuk membangunkannya.

Lu Qiang mengerang.

“Ugh…”

Matanya terbuka perlahan.

Pupilnya bergetar.

“Sial…”

Ia menatap Zhao dengan lemah.

“Apa maumu…?”

Ia menyeringai tipis.

“Apakah kau suka menyiksa orang yang sudah tak berdaya…?”

Zhao mengangkat alis.

“Seharusnya itu kalimatku.”

Ia menyilangkan tangan.

“Tapi lupakan.”

Wajahnya tiba-tiba serius lalu Ia sedikit menunduk.

“Siapa yang memberimu pil sembilan darah?”

Lu Qiang mengerutkan kening.

“Pil apa itu…?”

“Aku baru mendengarnya…”

Zhao memijat pelipisnya.

“Kau ini bodoh atau idiot?”

Ia mendesah.

“Tentu saja kau tahu. Itu pil pencerahan yang kau sebut dan makan tadi.”

Ia menatapnya tajam.

“Nama aslinya adalah pil sembilan darah.”

Mata Lu Qiang membesar.

Zhao melanjutkan dengan tenang.

“Pil itu memang bisa meningkatkan kultivasi.”

“Tapi sebagai gantinya…”

Ia menunjuk dada Lu Qiang.

“…kultivasi dan akal sehatmu akan dimakan perlahan, dan pada akhirnya—”

“kau akan menjadi iblis tanpa akal.”

Suasana menjadi dingin.

“Setelah itu…”

Zhao tersenyum tipis.

“…kau akan dijadikan bahan untuk pil berikutnya. Coba bayangkan rasanya masuk ke tungku panas dan diaduk-aduk seperti sup.”

Lu Qiang langsung berkeringat dingin.

Tubuhnya gemetar.

Ia terduduk.

“Pa…pantas saja…”

Ia memegang kepalanya.

“Setelah minum pil itu… aku bisa menembus ranah dengan cepat, tapi…”

Ia menggertakkan giginya.

“…aku sering merasa sakit kepala dan ingin terus membunuh…”

Zhao mengangguk.

“Bagus kalau kau sadar.”

Ia menatapnya lagi.

“Sekarang. Di mana kau mendapatkannya?”

Lu Qiang terdiam sejenak dan tersenyum.

Senyum licik.

“Heh…”

“Jangan seenaknya memerintahku, bajingan.”

Ia menatap Zhao dengan sisa kesombongan.

“Kau pikir kau sudah menang?”

Zhao menyipitkan mata.

“Apa maksudmu?”

Lu Qiang tertawa pelan.

“Ketahuilah…”

“Aku selangkah di depanmu.”

Ia mencondongkan tubuhnya.

“Meskipun kau mengalahkan ku di sini…”

"Tapi tidak di tempat lain.”

Zhao tiba-tiba terdiam.

Ekspresinya berubah.

“Apakah kau…”

Melihat reaksi itu Lu Qiang tertawa penuh kemenangan.

“HAHAHA!”

“Kau benar!”

Ia menunjuk ke arah pinggir kota.

“Tangan kananku dan anak buahku sedang menuju kedaimu!”

Senyumnya melebar.

“Mereka akan menangkap istrimu!”

Ia tertawa semakin keras.

“Seharusnya sekarang mereka sudah berhasil…”

“Dan mungkin sedang bersenang-senang!”

“HAHAHAHA!”

Zhao terdiam.

Sunyi.

Beberapa detik berlalu.

Lu Qiang terus menatapnya.

Menunggu reaksi Zhao.

Marah.

Panik.

Putus asa.

Namun— Zhao hanya mengangkat kedua tangannya.

Lalu menepuknya pelan.

CLAP.

Ia menunduk sedikit.

Suaranya penuh khidmat.

“Semoga…”

“…para bawahanmu bisa mati dengan tenang.”

Lu Qiang langsung membeku.

Rahangnya jatuh.

“Hah…?”

“Apa-apaan reaksimu itu?!”

Ia hampir berteriak.

“Itu istrimu!”

“Apakah kau benar-benar seorang bajingan yang menelantarkannya begitu saja?!”

Zhao menggaruk kepalanya canggung.

“Ah…”

Ia tersenyum tipis.

“Asal kau tahu…”

Ia menatap Lu Qiang.

“Kau seharusnya bersyukur bertarung denganku.”

“Aku masih memberikan belas kasihan.”

Ia berhenti sejenak.

Lalu melanjutkan dengan nada santai.

“Tapi…”

“…kalau itu istriku…”

Ia menghela napas.

“Ku jamin anak buahmu sekarang sedang mengalami…”

Ia menatap ke arah kedainya.

“…hidup tak mau, mati pun segan.”

Lu Qiang terdiam.

Otaknya seperti berhenti.

“Apa… maksudnya…?”

Zhao berpikir sejenak.

Lalu berkata jujur.

“Sebenarnya…”

Ia mengusap dagunya.

“…aku juga takut sama istriku.”

Ia mengangguk pelan.

“Ia sangat ganas.”

Ia menatap langit.

“Terutama saat malam.”

Suasana hening beberapa detik.

Lalu—

BOOM!

Sebuah ledakan kecil terdengar dari arah kedai.

Asap tipis naik ke langit.

Zhao melirik ke sana.

“Dan Yap.”

Ia tersenyum santai.

“Sepertinya mereka sudah selesai.”

Lu Qiang menelan ludah.

Keringat dingin mengalir deras.

Entah kenapa—

ia mulai merasa…

lebih takut pada istri Zhao daripada Zhao sendiri.

Zhao berjalan mendekat.

Lalu—

menangkap kaki Lu Qiang.

“Eh— tunggu—!”

Namun Zhao sudah menariknya seperti karung beras.

SRAKKK!

Tubuh Lu Qiang diseret di tanah.

“Apa yang kau lakukan?!”

Zhao menjawab santai.

“Kau akan mengerti…”

Ia tersenyum tipis.

“…setelah melihatnya sendiri.”

1
SENJA
lu ngeselin ahli itu betinaaa hadeeeh🤣
SENJA
sotoy ahhh kakek 😅
SENJA
nih betina cari mati mulu yeeee😤
SENJA
lu nyari mati lu 🤣
SENJA
laaah yueling ngga tau si zhao itu apa???
SENJA
laaah masih aja dipikirin 😤
SENJA
hadeeeh 🤭🤭🤭
SENJA
aaah payah dong kaisar nya 😤
SENJA
wah punya banyak pegawai baru 🤣
SENJA
dari bandit jadi pelayan 🤣
SENJA
wakakaa hayoloh🤣
Kang Comen
mc cwe ap cwo ???
RDXA: MC nya cowo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!