Mengisahkan seorang celebrity chef terkenal bernama Devina Maharani yang harus menerima kenyataan bahwa pertunangannya dengan Aris Wicaksana harus kandas karena Aris ketahuan masih belum bercerai dengan istri sahnya. Devina begitu shock dan terpukul setelah acara pertunangan itu batal. Di saat terendah dalam hidupnya ia bertemu dengan Gavin Wirya Aryaga seorang pengusaha muda di bidang pembuatan alat memasak. Perlahan kedekatan intens dan cinta pun datang membuat Devina ragu bisakah Gavin menjadi pelabuhan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Di Tepi Jurang
Di dalam kabin mobil yang pengap oleh bau bensin dan keringat dingin, Bu Imroh mulai siuman. Kepalanya berdenyut hebat, dan pandangannya kabur. Hal pertama yang ia rasakan adalah ikatan tali yang kasar di pergelangan tangannya.
"Sudah bangun, Ibu Mertua?" suara Aris terdengar dingin, hampir merayu, namun penuh racun.
Bu Imroh menoleh dengan gemetar. Ia melihat profil wajah Aris yang diterangi cahaya dasbor yang temaram. Wajah itu tidak lagi tampak seperti manusia; otot-ototnya kaku, matanya melotot tanpa emosi.
"Aris... tolong... ingatlah Azam, cucuku..." rintih Bu Imroh, suaranya parau.
"Azam? Anak itu hanya pengingat akan kegagalanku!" Aris menginjak rem dengan kasar hingga mobil itu berhenti dengan sentakan hebat.
Bu Imroh melihat ke luar jendela. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia mengenali tempat ini. Pohon beringin tua yang meranggas, pagar pembatas yang sudah jebol, dan suara deru angin yang naik dari kedalaman kegelapan.
Cadas Pangeran. Tepi jurang yang sama tempat Salsa, putrinya, meregang nyawa di tangan pria ini.
****
Aris keluar dari mobil, memutari kap mesin dengan langkah yang berat dan mantap. Ia membuka pintu penumpang dan menarik bahu Bu Imroh dengan kasar hingga wanita tua itu jatuh tersungkur di atas tanah berbatu.
"Keluar! Kamu ingin menyusul anakmu, kan? Kamu selalu berteriak soal keadilan, sekarang aku akan memberimu keadilan yang abadi!"
Aris mencengkeram kerudung panjang Bu Imroh, menariknya hingga kepala wanita itu terdongak paksa. Air mata Bu Imroh mengalir, membasahi kain kerudung yang masih melekat di tubuhnya. Di bawah sinar bulan yang pucat, pemandangan itu sungguh memilukan—seorang wanita suci yang sedang dianiaya oleh iblis dalam rupa manusia.
"Kenapa, Aris? Kenapa kamu begitu jahat..." isak Bu Imroh.
"Karena kalian menghalangi jalanku! Salsa merusak pertunanganku, dan kamu... kamu membawa polisi ke depan pintuku!" Aris menyeret Bu Imroh menuju bibir jurang yang curam. Tanah di bawah kaki mereka mulai gugur, jatuh ke dalam kegelapan sedalam ratusan meter.
Angin malam bertiup kencang, mengibarkan kerudung Bu Imroh yang kini compang-camping. Aris berdiri tepat di belakangnya, memegang kedua bahu wanita tua itu. Ia menatap ke bawah, ke dasar jurang yang hitam pekat, tempat ia membuang nyawa Salsa beberapa waktu lalu.
"Lihat ke bawah, Imroh! Salsa menunggumu di sana!" Aris berbisik tepat di telinga Bu Imroh.
"Ya Allah... terima kasih atas segala nikmat-Mu... Jagalah Azam..." Bu Imroh memejamkan mata, bibirnya tak henti bergerak dalam zikir terakhir. Ia tidak lagi memohon nyawa pada Aris, ia hanya memohon ampunan pada Sang Pencipta.
Dengan satu tatapan penuh kebencian dan kegilaan yang murni, Aris mengumpulkan tenaganya. Ia melepaskan cengkeraman pada kerudung itu dan memberikan satu dorongan keras pada punggung Bu Imroh.
"PERGI KE NERAKA!"
Tubuh kecil Bu Imroh terdorong ke arah kekosongan. Jeritan kecilnya tertelan oleh deru angin pegunungan yang kencang. Dalam kegelapan malam, sosok putih itu menghilang, terjatuh mengikuti jejak tragis putrinya.
Aris berdiri di tepi jurang, napasnya tersengal-sengal. Ia menyeka keringat di dahinya dan tertawa lepas, sebuah tawa yang menggema mengerikan di seluruh lembah. Ia merasa telah menang. Ia merasa telah menghapus jejak terakhir dari dosanya.
Namun, di kejauhan, sorot lampu mobil Gavin mulai terlihat mendekat dengan kecepatan tinggi. Aris menyeringai, ia belum selesai. Baginya, pertunjukan utama baru saja akan dimulai.
****
Lampu sorot SUV milik Gavin membelah kabut tebal di Cadas Pangeran, menciptakan pilar-pilar cahaya yang menari liar di atas aspal yang basah. Mobil itu berhenti dengan sentakan hebat, meninggalkan jejak ban yang panjang. Devina melompat keluar bahkan sebelum mesin mati sempurna. Hatinya mencelos melihat mobil tua Aris terparkir kosong dengan pintu terbuka lebar, seperti mulut monster yang baru saja menelan mangsanya.
"BU IMROH! IBU!" teriak Devina, suaranya parau tertiup angin jurang yang kencang.
Gavin menyambar senter taktis berkekuatan tinggi dari bagasi. Wajahnya yang biasanya tenang kini nampak tegang, urat lehernya menonjol saat ia menyisir bibir jurang yang curam. Tanah di sana nampak segar, bekas seretan dan jejak kaki yang kacau menandakan sebuah pergulatan sepihak yang brutal.
"Devina, tetap di belakangku!" perintah Gavin tajam.
Gavin mengarahkan cahaya senternya ke dasar kegelapan. Cahaya putih itu menembus kabut, melewati pepohonan yang meranggas, hingga akhirnya berhenti pada sesosok bayangan putih yang tersangkut di rimbunnya semak belukar dan dahan pohon beringin tua, sekitar lima belas meter di bawah tebing.
"Ya Allah... itu dia! Dia di sana!" Devina menjerit, menutup mulutnya dengan tangan yang bergetar hebat.
Gavin tidak membuang waktu. Ia segera meraih tali karmantel dari perlengkapan darurat di mobilnya. Dengan ketangkasan yang lahir dari rasa urgensi yang luar biasa, ia menambatkan tali pada pohon terdekat dan meluncur turun ke lereng yang licin. Batu-batu kecil berjatuhan ke dasar jurang seiring langkah Gavin yang terburu-buru.
Saat ia mencapai posisi Bu Imroh, jantung Gavin berdegup kencang. Wanita tua itu tergeletak dalam posisi meringkuk yang memilukan. Kerudung yang putih kini koyak dan berlumuran darah serta tanah merah. Wajahnya pucat pasi, namun saat Gavin meraba nadinya, ada denyut halus yang berjuang melawan maut.
"Dia masih hidup! Rian, panggil tim medis udara sekarang! Bawa tandu dan oksigen!" teriak Gavin ke arah komunikator di bahunya.
Bu Imroh membuka matanya sedikit, hanya sebuah celah kecil yang menunjukkan kesadaran yang redup. Bibirnya yang pecah bergumam tanpa suara, seolah masih melanjutkan zikir yang sempat terputus saat ia didorong tadi. Keajaiban Tuhan dan rimbunnya pepohonan telah menahan laju jatuhnya, menyelamatkannya dari hantaman batu tajam di dasar terdalam.
****
Di saat Gavin dan tim penyelamat sibuk melakukan evakuasi dramatis di tepi jurang, sebuah drama yang lebih gelap sedang berlangsung di sisi lain perbukitan. Aris Wicaksana tidak melarikan diri untuk bersembunyi. Ia telah memutar balik, menggunakan jalur tikus yang ia hafal menuju sisi lain villa yang kini kekurangan penjagaan karena sebagian besar tim keamanan Gavin dikirim ke lokasi jurang.
Di ruang tengah villa, Bu Ines dan Pak Pamuji sedang berpelukan dalam ketakutan, menunggu kabar dari putri mereka. Mereka tidak menyadari bahwa maut telah masuk kembali melalui pintu dapur yang dirusak.
KLAK.
Suara kokangan senjata api membuat kedua orang tua itu membeku. Aris berdiri di ambang pintu, wajahnya yang penuh jelaga dan amarah kini nampak sangat mengerikan.
"Malam yang panjang, ya, Ayah... Ibu mertua?" Aris menyeringai, menodongkan moncong pistolnya tepat ke arah dada Pak Pamuji.
"Aris... tolong, jangan lakukan ini. Ambillah apa saja yang kamu mau, tapi jangan sakiti kami," pinta Pak Pamuji, suaranya bergetar mencoba melindungi istrinya di belakang punggungnya.
"Aku tidak butuh hartamu, Tua Bangka! Aku butuh Devina!" Aris melangkah maju, menghantamkan gagang pistolnya ke pelipis Pak Pamuji hingga pria itu tersungkur.
"BAPAK!" Bu Ines menjerit, namun Aris segera menjambak rambutnya dan menempelkan laras senjata yang dingin ke lehernya.
"Diam atau aku lubangi kepala suamimu sekarang juga!" ancam Aris dengan tatapan mata yang sudah kehilangan nalar.