NovelToon NovelToon
Operasi Sandi Kala

Operasi Sandi Kala

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Tentara / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Di pedalaman hutan belantara, sebuah kuil kuno yang lama terkubur ternyata menyimpan rahasia mematikan incaran sindikat teroris internasional. Kolonel Rayyan Aksara, Komandan elit Black Ops yang dingin, kaku, dan tak kenal kompromi, ditugaskan memimpin misi infiltrasi untuk menetralkan ancaman tersebut. Baginya, misi ini hanyalah tugas mematikan biasa—sampai pihak intelijen memaksanya membawa seorang “beban”. Dr. Lyra Andini adalah arkeolog jenius bertubuh mungil yang kemampuannya memecahkan sandi kuno hanya bisa ditandingi oleh kecerobohannya. Lyra lebih sering menjatuhkan barang, tersandung kakinya sendiri, dan membuat kacamata tebalnya melorot daripada berdiri tegak. Kehadirannya menguji batas kesabaran Rayyan hingga ke titik maksimal. Namun, di dalam labirin kuil yang dipenuhi jebakan mematikan dan desingan peluru musuh, kecerdasan Lyra menjadi satu-satunya kunci keselamatan mereka. Rayyan segera menyadari bahwa melindungi Lyra dari peluru musuh adalah satu hal, tetapi melindungi hatinya sendiri dari pesona kekacauan gadis itu adalah misi yang jauh lebih berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

FLASHBACK

[12 Jam Sebelum Keberangkatan]

Ruang Arsip Bawah Tanah, Museum Nasional Jakarta.

Bagi Dr. Lyra Andini, kejeniusan dan kekacauan adalah Dua Sisi koin yang sama.

Ruang kerjanya di lantai basement museum lebih terlihat seperti lokasi sisa ledakan pabrik kertas daripada ruang kerja seorang akademisi. Tumpukan gulungan perkamen tua, peta topografi kuno, dan buku-buku berdebu berserakan menutupi lantai. Di tengah semua itu, Lyra duduk bersila di atas kursinya, menggigit pensil 2B, menatap tajam melalui kacamata bulatnya ke arah sebuah prasasti tembaga berukir aksara Kawi. Rambutnya dikonde berantakan, dipertahankan oleh sebuah jepit rambut berbentuk dinosaurus plastik.

Suasana hening itu pecah ketika pintu ruang arsip yang terbuat dari kayu jati tebal didobrak terbuka tanpa permisi.

Lyra tersentak kaget hingga pensil di mulutnya terjatuh, menggelinding diatas meja, dan masuk ke dalam cangkir mi instan yang sudah dingin. Ia mendongak, matanya melebar melihat tiga orang pria berseragam militer dan berjas rapi melangkah masuk. Di garis depan adalah Jenderal Haris, Panglima Komando Intelijen, dengan wajah sekeras batu granit.

“Dr. Lyra Andini?” Suara berat Jenderal Haris bergema di ruangan yang sempit itu.

“Y-ya? Maksud saya, benar. Maaf, museum belum buka untuk umum, dan ini area steril—“

Lyra belum selesai bicara saat salah satu agen berjas hitam melangkah maju, menyingkirkan tumpukan buku sejarah Majapahit dengan kejam, lalu membanting sebuah tablet militer anti-banting ke atas meja kerja Lyra. Layar tablet itu menampilkan foto resolusi tinggi dari sebuah pintu batu raksasa yang tertutup lumut, dipenuhi ukiran geometris yang rumit dan lubang-lubang aneh.

“Badan Intelijen Negara membutuhkan analisis Anda. Sekarang,” ucap Jenderal Haris. “Divisi Kriptografi kami angkat tangan. Para teknisi penjinak bom kami menyarankan peledakan C4, tetapi radar menembus tanah mendeteksi ada material biokimia purba di baliknya. Jika diledakkan, radius seratus kilometer akan terkontaminasi.”

Lyra mengerjapkan mata. Perlahan, insting akademisnya mengambil alih rasa takutnya. Ia mencondongkan tubuh, hidungnya nyaris menyentuh layar tablet. Jari-jarinya yang mungil memperbesar gambar ukiran di pintu batu tersebut.

Hanya butuh waktu sepuluh detik bagi mata Lyra untuk melebar sempurna.

“Astaga…” bisik Lyra, napasnya tertahan. “Di mana kalian menemukan ini? Ini tidak masuk akal. Ini adalah Sandi Kala.”

“Bahasa Indonesia yang sederhana, Dokter,” tegur sang Jenderal tak sabar.

“Ini… ini bukan sekedar brankas, Jenderal. Ini adalah mekanisme kunci hibrida,” Lyra mulai berbicara cepat, otaknya berpacu. Ia berdiri, tanpa sengaja menyenggol tumpukan dokumen hingga berhamburan ke lantai, tapi ia mengabaikannya. “Lihat ukiran ular ini? Ini rasi bintang kuno dari era Kerajaan Hindu-Budha abad ke-12. Tapi tuas baja yang berkarat di sela-sela batu ini… ini teknologi hidrolik dari masa VOC abad ke-18.”

“Intinya, Dokter. Bisa Anda buka?”

“Siapapun yang mendesain ini menggabungkan jebakan kuno dengan mekanika kolonial,” Lyra menunjuk ke arah celah-celah kecil di atas pintu. “Jika tim Anda mencongkelnya, atau menekan lempeng batu ini dalam urutan yang salah… sistem hidrolik di dalam akan bereaksi terhadap perubahan tekanan udara. Ruangan akan terkunci secara vakum, dan celah ini akan menyemprotkan gas beracun. Anda harus menekan pelat batu berdasarkan pergerakan rasi bintang Orion pada malam saat pintu ini dibangun, yang diseimbangkan dengan rumus berat jenis air.”

Jenderal Haris terdiam. Dua agen di belakangnya saling berpandangan. Kejeniusan gadis ceroboh di hadapan mereka ini bukan isapan jempol belaka. Hanya dengan satu foto, ia mengurai jebakan mematikan yang membuat divisi elit militer kebingungan selama 48 jam.

“Bisakah Anda memandunya lewat komunikasi radio jarak jauh?” Tanya Jenderal Haris.

Lyra menggeleng kuat-kuat, kacamata melorot ke ujung hidungnya. “Tidak mungkin. Batu-batu itu memiliki aus yang berbeda. Saya harus merasakan gesekan mekanismenya dengan tangan saya sendiri. Satu milimeter kesalahan tekanan, sistem tuasnya akan macet permanen. Siapapun yang ada di sana akan mati lemas dalam tiga menit.”

“Kalau begitu, berkemaslah, Dr. Andini,” Jenderal Haris memutar tumitnya, bersiap pergi. “Sebuah helikopter sudah menunggu Anda di atap gedung. Anda diikutsertakan dalam Tim Black Ops Alpha.”

Lyra terpaku. Ia menatap Jenderal Haris dengan horor, merasa lututnya berubah menjadi jeli.

“Saya? Ke pedalaman hutan?” Suara Lyra naik dua oktaf, nyaris memekik. Ia menunjuk dirinya sendiri dengan tangan gemetar. “Jenderal, saya keseleo saat turun dari ojek online minggu lalu! Saya alergi serbuk sari! Saya tidak bisa berlari lebih dari seratus meter tanpa inhaler asma! Saya—“

“Ini perintah negara yang menyangkut keamanan nasional, Dokter,” potong Jenderal Haris dingin, menghentikan kepanikan Lyra seketika. “Nyawa jutaan orang bergantung pada seberapa cepat Anda memecahkan teka-teki batu itu. Anda akan dilindungi oleh prajurit terbaik yang dimiliki negeri ini. Bersiaplah!”

Dan begitulah, dua belas jam kemudian, Lyra menemukan dirinya berada dalam mimpi buruk terbesarnya.

1
nur atika
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
nur atika
🥰🥰🥰up trus ya thorr mangattttt
nur atika
🥰🥰🥰
NP: 🥰🥰🥰🥰😍
total 1 replies
nur atika
lanjut author
NP: Inshaallah makasih semangatnya 🥰
total 1 replies
Lutfiah Tunnissa
kerenn Thor
NP: Makasih ya kak, ikuti terus ceritanya ya🥰
total 1 replies
nur atika
😍😍😍
nur atika
🤭🤭🤭🤭🤭
𝗝𝗔𝗧𝗜ᴾᵁᵀᴿᴼ
debar2 cinta
NP
Mas Rayyan, melindungi Lyra banget😍
Akbar Aulia
lyra kamu sangat beruntung dilindungi mas rayan
Akbar Aulia
beruntung lyra kamu direkrut jadi tim alpha,
Akbar Aulia
mungil mungil si cabe rawit tapi pedas rasanya,awas mas Rayyan nanti kamu tersepona
Akbar Aulia
aih...sepatu kesayangan mas Rayyan kena kopi,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!