Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menara Manggala & Transmisi Kiamat
Lokasi: Menara Manggala (Gedung Mangkrak), Jakarta Timur.
Waktu: 23.15 WIB (Sisa Waktu: 44 Menit).
Siluet Menara Manggala menjulang membelah langit malam Jakarta Timur bagaikan nisan beton raksasa. Tiga puluh lantai kerangka baja berkarat dan beton yang belum di plester itu berdiri dalam kegelapan total, dikelilingi oleh pagar seng berlumut yang sudah lama dijebol pemulung.
Tidak ada lampu jalan disekitarnya yang menyala. Hujan gerimis menyisakan genangan air kotor yang memantulkan cahaya redup dari lampu sein mobi SUV hitam milik BPCBAN yang baru saja berhenti.
Dimas turun dari mobil, mengencangkan jaket parasutnya. Di tangan kirinya, ia menggenggam erat tombak Trisula pendek yang ujungnya dibalut kain mori. Lengan kanannya masih berdenyut nyeri, namun ia menekan rasa sakit itu dalam-dalam.
Sarah keluar dari pintu kemudi, mengangkat koper pelican hitam seberat lima belas kilogram yang berisi server portabel, antena parabola mini, dan perangkat transmisi Infrasound. Ia mengenakan rompi taktis dan kacamata berteknologi Night Vision (NVG).
“Listrik mati total sejak tahun ‘98’,” lapor Sarah, mengunci mobil. “Lift otomatis nggak bisa dipakai. Kita harus mendaki tiga puluh lantai lewat tangga darurat.”
“Bagus,” Dimas tersenyum kecut, memandangi fasad gedung yang suram. “Sekalian latihan kardio. Kakiku sudah kaku sejak lari-larian di Trowulan.”
Dimas memejamkan matanya, membuka Mata Batinnya.
Ia langsung terkesiap. Udara di sekeliling Menara Manggala tidak sekadar dingin, tapi terasa tebal. Asap hitam pekat bergulung-gulung menyelimuti seluruh struktur gedung itu seperti laba-laba raksasa. Energi keputusasaan—residu dari belasan nyawa yang pernah melompat dari atap gedung ini selama dua dekade terakhir—berkumpul menjadi satu, memberi makan Sang Pemakan yang bersarang di puncaknya.
“Pusat jarinya ada di Rooftop,” kata Dimas tegang. “Dia lagi sibuk menyerap energi dari jaringan internet. Dia nggak sadar kita ada di bawah. Ayo masuk.”
Tangga Darurat, Lantai 15.
Waktu: 23.35 WIB.
Napas Sarah memburu. Keringat membasahi lehernya. Membawa koper seberat lima belas kilogram menaiki ratusan anak tangga beton yang gelap gulita dan dipenuhi puing-puing bukanlah tugas mudah.
Bau kotoran kelelawar, pesing, dan beton lembap menusuk hidung. Namun, semakin tinggi mereka naik, bau itu perlahan tergantikan oleh aroma yang sangat mereka kenal; Kemenyan dan Bunga Kantil.
“Dim,” Sarah berhenti sejenak di bordes lantai 15, menyandarkan kopernya ke lutut. “Suhunya turun drastis. Termometer di jam tanganku nunjukin angka 12 derajat Celcius.”
“Dia mulai memadat,” Dimas berdiri di depan Sarah, Trisula-nya bersiaga membelah kegelapan.
Tiba-tiba, dari kegelapan koridor lantai 15, terdengar suara langkah kaki yang diseret. Srekk… Srekk…
Sarah langsung menurunkan kacamata NVG-nya. Layar hijaunya memindai koridor.
Di ujung lorong, berdiri tiga sosok manusia. Pakaian mereka compang-camping khas pekerja kantoran era 90-an. Namun kaki mereka tidak menginjak lantai. Leher mereka patah, terkulai ke satu sisi dengan sudut yang tidak wajar. Mereka adalah manifestasi residu roh-roh penasaran yang bunuh diri di gedung ini, kini dihidupkan kembali sebagai boneka penjaga oleh Sang Pemakan.
Salah satu arwah itu—seorang wanita dengan blus putih pudar—mengangkat kepalanya yang patah, menatap Dimas dan Sarah dengan mata putih kosong. Mulutnya terbuka lebar, mengeluarkan suara statis radio yang menyayat hati.
“Tidaaaaakkk… ada… harapan…”
“Dia nyoba ngulur waktu kita,” geram Dimas. “Tutup telingamu, Sar!”
Dimas merogoh saku kargonya, mengeluarkan segenggam garam kasar yang telah dicampur dengan bubuk mesiu dan doa Pangruwatan (pembersihan).
Saat ketiga arwah penasaran itu melayang menerjang mereka, Dimas melemparkan garam itu ke udara dan membebaskan Trisula pusakanya membelah butiran garam tersebut.
CRAAAATT!
Gesekan besi pusaka dan bubuk mesiu menciptakan percikan api gaib berwarna biru muda. Api itu menyambar butiran garam, menciptakan gelombang kejut spiritual.
Ketiga arwah itu menjerit tanpa suara saat gelombang api biru menabrak mereka. Tubuh tembus pandang mereka langsung tercerai-berai menjadi abu bercahaya yang luruh ke lantai, membebaskan mereka dari cengkeraman Sang Pemakan.
“Jalannya bersih! Lanjut naik!” Perintah Dimas.
Rooftop Menara Manggala.
Waktu: 23.45 WIB (Sisa Waktu: 14 Menit).
Mereka menendang pintu seng yang berkarat hingga terbuka. Angin malam Jakarta yang kencang langsung menyapu wajah mereka.
Atap gedung itu luas, dipenuhi genangan air hujan, besi-besi stek beton yang mencuat berbahaya, dan sebuah menara penangkal petir (BTS tua) setinggi sepuluh meter di tengah-tengahnya.
Di atas tiang penangkal petir itulah, asap hitam pekat paling tebal berkumpul, berputar seperti micro-tornado (puting beliung kecil) yang terus-menerus menarik benang-benang energi tak kasat mata dari arah kota. Sang Pemakan sedang berpesta pora menyedot rasa sakit jutaan orang yang sedang menatap layar ponsel mereka malam ini.
“Pasang alatnya, Sar! Aku yang jaga Perimeter!” Dimas memposisikan dirinya sepuluh meter dari menara, membelakangi istrinya, menghadap ke arah awan hitam yang berputar.
Sarah membuka koper pelicannya. Ia mengeluarkan Toughbooknya, menyambungkannya ke amplifier (penguat sinyal), dan merakit sebuah antena parabola mini. Ia berlari ke arah dasar tiang penangkal petir, menjepit kabel grounding tebal berwarna tembaga dari alatnya langsung ke tiang baja tersebut.
“Aku pakai kerangka baja gedung ini sebagai tiang pemancar sinyal raksasa!” Teriak Sarah melawan suara angin yang menderu. Ia kembali ke depan laptopnya, jarinya menari liar di atas keyboard. “Aku sedang menginjeksi Trojan Virus-nya ke server target!”
Layar laptop Sarah menampilkan persentase loading.
[INJECTING PAYLOAD: 12%… 34%…]
Waktu menunjukkan pukul 23.55 WIB.
“Lima menit lagi traffic depresi mencapai puncaknya!” Lapor Sarah.
Di atas mereka, awan hitam itu tiba-tiba berhenti berputar.
Sang Pemakan merasakan ada anomali. Ia menunduk. Dua pasang mata merah raksasa yang menyala dalam kegelapan muncul dari dalam asap awan, menatap langsung kearah Dimas dan Sarah. Suara gemuruh rendah menggetarkan lantai beton atap.
“KUTU-KUTU KECIL…” suara telepati itu menghantam kepala Dimas dan Sarah bersamaan, begitu kuat hingga hidung Sarah meneteskan darah segar. “KALIAN BERANI MENGANGGU PERJAMUANKU?!”
“Cepat, Sar!” Dimas memutar Trisula-nya, bersiap menghadapi serangan fisik.
Awan hitam itu menukik tajam, membentuk puluhan tangan bayangan raksasa bersusah payah meraih koper laptop Sarah.
Dimas melompat ke tengah. Ia menusukkan Trisula-nya ke lantai beton yang basah, menyalurkan seluruh sisa tenaga dalamnya ke dalam besi pusaka itu.
“PAGAR GAIB!” Raung Dimas.
Kubah cahaya keemasan meledak dari titik tancap Trisula, menutupi Dimas, Sarah, dan peralatan mereka dengan radius tiga meter.
Tangan-tangan bayangan itu menghantam kubah emas tersebut. DUAARR! DUAARR! Setiap hantaman membuat Dimas meringis kesakitan. Kubah itu retak, tapi bertahan menahan serangan fisik sang monster.
[INJECTING PAYLOAD: 88%… 95%…]
Waktu: 23. 58 WIB.
“Dim! Pertahanannya tembus!” Jerit Sarah.
Sebuah sulur asap hitam berhasil masuk menembus retakan kubah gaib Dimas, melilit pergelangan kaki Sarah, dan menariknya menjauh dari laptop.
“ARGH!” Sarah terseret di lantai beton yang kasar.
Dimas mencabut Trisula-nya (kubah emas langsung hancur), berlari dan menembus sulur bayangan itu hingga putus. Ia menarik Sarah berdiri, memosisikan tubuhnya sebagai tameng hidup antara istrinya dan amukan sang monster.
“KAU TIDAK BISA MENYELAMATKAN SEMUANYA, PENGARSIP!” Ejek entitas itu, bersiap memberikan hantaman pamungkasnya yang akan meratakan separuh atap gedung.
Waktu: 23.59 WIB.
“Sarah! Tombolnya!” Teriak Dimas.
Sarah, dengan kaki yang berdarah, merangkak maju, mengulurkan tangan kirinya yang diperban sejauh mungkin. Jari telunjuknya menghantam tombol ENTER di keyboard dengan sekuat tenaga.
[PAYLOAD DELIVERED. EXECUTING CYBER-EXORCISM]
Dalam sepersekian detik, dari arah tiang penangkal petir setinggi sepuluh meter itu, terpancar gelombang Infrasound bervolume maksimal. Gelombang itu membawa rekaman frekuensi suara Dimas yang merapalkan mantra Rajah Rajahing Jiwo (Segel Pengikat Jiwa) secara berulang-ulang, dikirimkan dengan kecepatan cahaya melalui virus Trojan ke ribuan server aplikasi di seluruh Nusantara.
Dampaknya di dunia nyata bagaikan ledakan nuklir yang bisu.
Di seluruh Jakarta, orang-orang yang sedang memegang ponsel pintar mereka untuk menonton video depresi tiba-tiba melihat layar mereka glitch menjadi warna statis putih. Suara gamelan pelan di video mereka seketika tertimpa oleh frekuensi dengungan yang sangat tinggi, lalu aplikasi mereka menutup otomatis.
Virus vaksin Sarah telah memutus koneksi sang monster ke jutaan “ladang makanannya”.
Di atas Menara Manggala, Sang Pemakan tercekik.
Aliran energi yang sedang ia sedot tiba-tiba berubah menjadi duri-duri gaib (mantra penyegel) yang merobek dari dalam tubuh asapnya.
“AAARRRRRGGGHHHHHHH!!!”
Jeritan entitas purba itu meledakkan kaca-kaca gedung dari lantai 30 hingga ke lantai 1. Gelombang kejut akustik melempar Dimas dan Sarah menghantam dinding parapet beton atap.
Asap hitam raksasa itu menggelepar liar di udara, kehilangan pegangannya pada dimensi digital. Karena ia telah menelan vaksin Infrasound yang membawa mantra pengikat fisik, Sang Pemakan dipaksa oleh hukum alam semesta untuk memadat kembali ke dunia material.
Asap itu tertarik gravitasi dengan keras. BLAAAAARRRRRR!!!
Makhluk itu jatuh menghantam atap beton Menara Manggala hingga lantai bergetar seolah terjadi gempa skala 6 Richter.
Debu beton mengepul tebal menutupi pandangan. Hujan gerimis yang turun terasa mendidih saat menyentuh kulit.
Dimas terbatuk-batuk, bangkit dengan susah payah menggunakan Trisula sebagai tongkat penyangga. Lengan kanannya sudah mati rasa, tapi tangan kirinya mencengkeram senjata itu erat-erat.
“Sar… kamu masih hidup?” Panggil Dimas parau.
“Aku benci atap gedung…” rintih Sarah, merangkak bangun dari genangan air sambil mengokang senapan pistolnya, memuntahkan air ludah campur darah.
Angin malam perlahan meniup debu beton hingga menipis.
Di tengah atap yang hancur, Sang Pemakan tidak lagi berbentuk gumpalan asap. Ia kini memiliki wujud fisik yang padat dan mengerikan.
Tingginya hampir empat meter. Tubuhnya terbentuk dari campuran aspal basah, beton yang meleleh, dan kabel-kabel baja berkarat yang ditariknya dari reruntuhan gedung. Bentuk fisiknya melambangkan kerusakan kota modern itu sendiri. Matanya bukan lagi hanya titik merah, melainkan dua bara api vulkanik yang menatap mereka dengan amarah murni.
Ia meraung, suara logam bergesekan yang membelah keheningan malam Jakarta. Ia mengangkat tangan kanannya yang berupa pilar beton bercampur baja, siap meremukkan Dimas dan Sarah.
Entitas gaib itu kini bisa disentuh, bisa dilukai, dan yang terpenting… bisa dibunuh.
“Vaksinmu sukses, Dok,” Dimas memutar bahunya, menatap raksasa itu dengan mata berkilat tajam, “Dia sekarang punya badan fisik.”
“Tugas Hacker-ku sudah selesai,” Sarah berdiri di samping suaminya, menodongkan senapan ke arah dada monster beton itu. Senyum petarungnya mengembang. “Sekarang gantian. Pukul dia sampai hancur, Sayang.”
Dimas dan Sarah menerjang maju menembus hujan, menyambut pertarungan akhir melawan manifestasi keputusasaan purba di bawah langit Jakarta.