NovelToon NovelToon
Operasi Sandi Kala

Operasi Sandi Kala

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Tentara / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Di pedalaman hutan belantara, sebuah kuil kuno yang lama terkubur ternyata menyimpan rahasia mematikan incaran sindikat teroris internasional. Kolonel Rayyan Aksara, Komandan elit Black Ops yang dingin, kaku, dan tak kenal kompromi, ditugaskan memimpin misi infiltrasi untuk menetralkan ancaman tersebut. Baginya, misi ini hanyalah tugas mematikan biasa—sampai pihak intelijen memaksanya membawa seorang “beban”. Dr. Lyra Andini adalah arkeolog jenius bertubuh mungil yang kemampuannya memecahkan sandi kuno hanya bisa ditandingi oleh kecerobohannya. Lyra lebih sering menjatuhkan barang, tersandung kakinya sendiri, dan membuat kacamata tebalnya melorot daripada berdiri tegak. Kehadirannya menguji batas kesabaran Rayyan hingga ke titik maksimal. Namun, di dalam labirin kuil yang dipenuhi jebakan mematikan dan desingan peluru musuh, kecerdasan Lyra menjadi satu-satunya kunci keselamatan mereka. Rayyan segera menyadari bahwa melindungi Lyra dari peluru musuh adalah satu hal, tetapi melindungi hatinya sendiri dari pesona kekacauan gadis itu adalah misi yang jauh lebih berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jarum Baja dan Ambang Batas 72 Jam

Rasa sakit dari jarum bedah yang menembus kulit perutnya sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit yang mencabik-cabik dada Kolonel Rayyan Aksara.

Dududk di atas meja periksa baja di ruang tindakan darurat, Rayyan menolak berbaring. Ia menatap lurus ke arah jam dinding putih yang berdetak tanpa ampun. Otot rahangnya mengeras, urat lehernya menonjol tiap kali dokter bedah militer menarik benang nilon hitam untuk menyatukan kembali jaringan ototnya yang robek parah.

“Kolonel, saya sungguh menyarankan bius epidural atau setidaknya obat penenang ringan. Robekan ini lebih dalam dari luka aslinya akibat beban tarikan yang ekstrem,” ucap dokter bedah itu, keringat mengucur di balik maskernya karena tegang merawat perwira Black Ops yang menolak dibius total tersebut.

“Bius lokal saja sudah cukup, Dokter,” suara Rayyan terdengar seperti geraman rendah dari dasar tenggorokan. Kedua tangannya mencengkeram erat tepi meja periksa hingga buku-buku jarinya memutih. “Jika Anda memberi saya obat penenang, saya akan tertidur. Dan saya tidak punya waktu untuk tidur.”

Ia telah berjanji pada ibunya dan keluarga Lyra: tiga puluh menit. Logika militernya tahu bahwa tubuhnya membutuhkan tambalan ini agar tidak mati konyol karena kehabisan darah. Namun, jiwanya meronta ingin mendobrak kembali pintu ICU itu. Rasa perih dari jahitan tanpa anestesi penuh ini adalah hukuman yang ia berikan pada dirinya sendiri—sebuah pengingat fisik bahwa ia gagal melindungi wanita yang ia cintai dari gas beracun itu.

Tepat pada menit kedua puluh delapan, dokter menggunting benar terakhir dan menempelkan perban kedap air yang tebal.

Bahkan sebelum dokter itu selesai memberikan instruksi pasca-tindakan, Rayyan sudah melompat turun dari meja. Ia menyambar kemeja bersih yang di bawakan Letnan Jati tadi, mengancingkannya dengan gerakan cepat dan kasar, lalu melangkah keluar ruangan tanpa menoleh lagi.

Lorong ICU masih dihiasi ketegangan yang sama. Ibu Gayatri sedang duduk merangkul Ibu Rina yang bersandar lemah di bahunya. Sementara Jenderal Baskoro berdiri mengobrol pelan dengan Profesor Aryo, dua ayah dari dua dunia yang berbeda yang kini dipersatukan oleh kekhawatiran yang sama.

Melihat Rayyan kembali dengan kemeja bersih dan wajah yang sedikit lebih pucat namun penuh ketegasan, Profesor Aryo menepuk bahu Jenderal Baskoro pelan.

“Pergilah kepadanya, Nak,” ucap Profesor Aryo pada Rayyan, memberikan izin penuh bagi sang Kolonel untuk mengambil alih penjagaan. “Ibu dan Bapak akan pulang sebentar untuk mengambil pakaian ganti dan beristirahat atas saran ibumu. Jaga putri kami, Rayyan.”

Rayyan mengangguk tegas. “Dengan nyawa saya, Pak.”

Dan begitulah, dimulailah ujian ketahanan mental paling brutal yang pernah dialami oleh seorang Rayyan Aksara.

[Jam ke-68]

Ruang Isolasi VVIP ICU.

Satu-satunya penanda waktu diruangan steril itu adalah perubahan sif perawat dan cahaya matahari yang menembus tirai tipis jendela.

Tujuh puluh dua jam masa kritis nyaris berakhir.

Rayyan duduk di kursi plastik di samping ranjang Lyra, mengenakan gaun pelindung medis hijau dan masker yang diturunkan ke dagu. Wajah pria yang biasanya selalu tercukur rapi itu kini ditumbuhi bayangan cambang yang kasar. Kantung matanya menghitam pekat. Ia hanya tidur dalam jeda-jeda sepuluh menit, terbangun dengan panik setiap kali mesin monitor jantung Lyra berbunyi sedikit lebih cepat atau lambat dari biasanya.

Di atas ranjang, Lyra masih diam tak bergerak. Selang ventilator masih terpasang teguh di mulutnya, memompa dadanya dengan bunyi desisan mekanis yang konstan:Hsss… klik. Hsss… klik. Rayyan menangkup kedua tangan Lyra yang dingin dengan tangan besarnya, menempelkannya ke pipinya yang bertekstur kasar karena cambang.

“Dua hari yang lalu, ibumu membawakan rendang kesukaanmu kesini,” gumam Rayyan dengan suara parau dan serak, berbicara pada Lyra yang masih terlelap dalam koma buatan. “Beliau memaksaku memakannya. Kata beliau, kau akan sangat marah jika bangun dan melihatku kurus karena melewatkan jatah ransumku.”

Rayyan tersenyum getir, mengusap punggung tangan Lyra dengan Ibu jarinya.

“Kau harus bangun, Lyra. Kau harus melihat bagaimana Jenderal Baskoro dan ayahmu berdebat tentang strategi Perang Bubat di lorong depan kemarin,” Rayyan melanjutkan ceritanya, suaranya bergetar menahan luapan emosi. “Mereka sangat cocok. Ayahmu bahkan berjanji akan mengajak ayahku melihat koleksi keris di museummu.”

Keheningan ruangan itu begitu menyiksa. Rayyan menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di kasur putih Lyra.

“Aku berjanji,” bisik Rayyan, sebuah sumpah yang ia bisikkan langsung kepada alam bawah sadar gadis itu. “Jika kau membuka matamu, aku tidak akan pernah mengajakmu ke hutan lagi. Aku akan menemanimu kencan di tempat paling membosankan di dunia. Kita bisa pergi ke perpustakaan nasional. Kau bisa membaca gulungan perkamen berdebu itu selama berjam-jam, dan aku hanya akan duduk di sampingmu, melihatmu mengomel soal terjemahan VOC. Bangunlah, Sayang. Tolong… waktumu nyaris habis.”

Tepat pada jam ke-71, pintu ruang isolasi terbuka.

Tim dokter paru (pulmonolog) yang menangani Lyra masuk dengan wajah serius. Dokter kepala melangkah mendekati monitor, memeriksa grafik saturasi oksigen dan hasil rontgen terbaru yang baru saja dicetak.

Rayyan langsung berdiri. Ototnya menegang layaknya pegas yang ditarik maksimal. “Bagaimana, Dokter?”

Dokter itu menoleh, memberikan sebuah senyum tipis yang berhasil mengirimkan gelombang kelegaan pertama ke dada Rayyan dalam tiga hari terakhir.

“Cairan di alveolusnya sudah menyusut drastis, Kolonel. Obat anti-inflamasi kita menang melawan sisa racun gas itu,” lapor sang dokter, menunjuk ke arah grafik monitor. “Saturasi oksigennya sudah stabil di angka sembilan puluh delapan persen dengan bantuan minimal dari mesin. Paru-parunya sudah siap bekerja sendiri.”

“Artinya?” Rayyan menahan napas.

“Artinya, kita sudah berada di penghujung ambang batas 72 jam, dan ini saatnya proses weaning (penyapihan),” jelas dokter tersebut sambil memberi isyarat kepada perawat. “Kami akan menghentikan aliran obat penenang intravenanya sekarang. Saat kesadarannya perlahan kembali, refleks batuk dan napas alaminya akan merespons. Jika ia bisa bernapas spontan, kami akan mencabut selang ventilatornya.”

Perawat menekan beberapa tombol pada mesin infus elektronik di samping ranjang, menghentikan aliran obat penenang pekat yang selama ini menahan Lyra di alam bawah sadar.

“Proses ini bisa memakan waktu beberapa puluh menit hingga ia merespons. Panggil kami segera jika ada pergerakan, Kolonel.” Tim dokter mundur ke luar ruangan, memberikan privasi namun tetap memantau dari balik kaca.

Rayyan kembali duduk di kursinya. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga ia merasa tulangnya ikut bergetar. Ia menggenggam erat tangan kanan Lyra, mencondongkan tubuhnya ke depan, memusatkan seluruh sisa energi dan kewarasannya pada wajah gadis itu.

Dua puluh menit berlalu. Tidak ada perubahan.

Dua puluh lima menit. Masih hening. Ketakutan kembali merayap di tengkuk Rayyan.

Namun, memasuki menit ketiga puluh, sebuah keajaiban kecil terjadi.

Alis Lyra yang selama tiga hari terlelap rileks, tiba-tiba berkerut dalam. Jari-jari mungil yang berada dalam genggaman Rayyan berkedut pelan—sebuah respons motorik pertama.

“Lyra…” bisik Rayyan, seketika berdiri, mencondongkan wajahnya sangat dekat. “Aku di sini. Jangan takut.”

Di bawah kelopak matanya yang terpejam, bola mata Lyra tampak bergerak-gerak gelisah. Efek obat penenang yang hilang membuat otak gadis itu kembali beroperasi, dan hal pertama yang di deteksi oleh sensor sarafnya adalah benda asing berbentuk tabung plastik yang mengganjal di tenggorokannya.

Tubuh Lyra tiba-tiba menegang. Ia tersedak.

Sebuah gerakan refleks batuk yang sangat keras mengguncang tubuh mungilnya. Dada Lyra melengkung ke atas mencari udara secara mandiri, berbenturan dengan ritme mesin ventilator. Bunyi alarm dari monitor berbunyi nyaring.

“Dokter! Dia bangun!” Raung Rayyan ke arah kaca.

Tim dokter langsung berhamburan masuk. Dokter kepala bergerak cepat mematikan fungsi pemompa pada ventilator, menyisakan hanya aliran oksigen.

“Dia melawan selangnya! Ini pertanda bagus, refleksnya kuat!” Seru sang dokter sambil memakai sarung tangan medis. “Kolonel, tahan tangannya agar dia tidak mencabut selangnya sendiri!”

Lyra mulai panik. Matanya masih tertutup rapat, tetapi tangannya meronta lemah, berusaha menggapai wajahnya untuk menyingkirkan benda plastik yang mencekiknya.

Rayyan segera menahan kedua pergelangan tangan Lyra dengan lembut namun sangat kuat, menempelkannya ke sisi ranjang.

“Lyra, buka matamu. Ini aku, Rayyan,” suara sang komandan bergetar oleh air mata, namun ia memaksakan nada baritonnya agar terdengar tenang dan menjadi jangkar bagi kepanikan gadis itu. “Buka matamu, Sayang. Mereka akan melepas selangnya sekararng. Kau aman. Buka matamu.”

Mendengar suara parau yang sangat familier itu, perlawanan Lyra perlahan mereda. Kelopak matanya bergetar hebat. Dan akhirnya… dengan susah payah. Mata cokelat yang sangat dirindukan Rayyan itu terbuka.

Pandangan Lyra kabur, disorientasi oleh cahaya lampu dan efek sisa bius. Namun, di antara kabut pandangannya, ia melihat wajah Rayyan. Wajah pria itu sangat berantakan, basah oleh air mata, namun menatapnya dengan cinta yang begitu besar hingga membuat hati Lyra menghangat.

“Lyra, dengarkan saya,” dokter bedah memposisikan dirinya di dekat kepala ranjang. “Saya akan mencabut selangnya. Saat saya memberi aba-aba, tarik napas panjang, lalu batukkan dengan keras. Mengerti?”

Lyra mengangguk lemah, matanya tak lepas dari mata Rayyan.

“Satu… dua… tiga. Batuk!”

Dokter itu menarik selang plastik panjang itu keluar dari tenggorokan Lyra dalam satu gerakan cepat.

Lyra langsung terbatuk parah. Suaranya serak dan menyakitkan, memecah keheningan ruangan. Perawat dengan cekatan segera memasangkan nasal cannula (selang oksigen kecil di hidung) untuk memberikan suplai oksigen bersih.

Lyra mengambil napas pertamanya secara mandiri. Bukan dari masker rekannya di dalam piramida purba. Bukan dari pompa plastik ambulans. Bukan dari mesin raksasa. Itu adalah napasnya sendiri. Paru-parunya mengembang dengan susah payah, namun berhasil.

Grafik oksigen di monitor menurun sejenak, lalu perlahan kembali naik dan stabil di angka aman.

“Ekstubasi berhasil. Dia bernapas spontan,” dokter paru itu tersenyum lebar, menepuk bahu Rayyan. “Selamat, Kolonel. Masa kritisnya telah lewat secara resmi. Kami akan memberitahunya di luar.”

Tim dokter meninggalkan ruangan, membiarkan sepasang kekasih itu untuk memiliki momen mereka.

Ruangan ICU itu mendadak terasa sangat damai. Hanya tersisa bunyi detak jantung yang stabil dan desisan pelan dari oksigen di hidung Lyra.

Rayyan melepaskan tangan Lyra. Pria besar itu merosot kembali ke kursinya, namun kali ini ia memajukan tubuhnya, membenamkan wajahnya di leher Lyra. Bahu sang komandan bergetar hebat. Tangis yang sejak tadi ia tahan mati-matian akhirnya tumpah sepenuhnya. Ia menangis tanpa suara, mencengkeram sprei ranjang rumah sakit seperti orang tenggelam yang akhirnya menemukan daratan.

Merasakan air mata panas membasahi kulit lehernya, Lyra dengan susah payah mengangkat tangan kanannya yang masih lemas. Ia menyentuh rambut Rayyan yang berantakan, mengusapnya dengan kelembutan yang luar biasa.

“R-Rayyan…” panggil Lyra. Suaranya tidak lebih dari sebuah bisikan serak yang nyaris tak terdengar, tenggorokannya masih perih akibat selang ventilator.

Rayyan mengangkat wajahnya seketika. Matanya merah, basah oleh air mata. Ia menatap wajah Lyra yang kini tersenyum tipis ke arahnya.

“Hai…” bisik Rayyan parau, tersenyum melalui air matanya. Pria itu menangkup pipi Lyra dengan sebelah tangannya yang gemetar. “Selamat pagi, Dokter Andini.”

Lyra mengerjap pelan, matanya menelusuri wajah Rayyan yang terlihat berantakan. Ia merasakan tekstur kasar cambang di rahang Rayyan saat tangan pria itu menangkup pipinya.

“Kau…” suara Lyra terputus oleh batuk kecil, “… kau terlihat sangat jelek dengan jenggot itu, Kolonel.”

Rayyan melepaskan tawa yang bercampur dengan isakan pelan. Ia menundukkan wajahnya, mencium punggung tangan Lyra dengan penuh rasa syukur. “Aku akan mencukurnya sampai habis jika kau menyuruhku, Lyra. Aku akan melakukan apa saja.”

Lyra tersenyum. Ia menatap mata Rayyan lekat-lekat. “Di mana… kotak emasku?” Tanyanya lemah, insting arkeolognya masih saja mencari penemuan besarnya bahkan setelah lolos dari maut.

Rayyan menggelengkan kepalanya tak percaya, terkekeh pelan. Ia mencium kening Lyra dengan sangat lama dan mendalam.

“Benda itu aman, Lyra. Semuanya aman. Jenderal Haris menyegelnya di brankas militer tingkat satu berkat petunjukmu,” bisik Rayyan di atas kening gadis itu. “Sekarang, tugasmu adalah istirahat. Karena saat kau sembuh nanti, kau berutang kencan di perpustakaan nasional denganku.”

Lyra tersenyum di balik selang oksigennya, matanya perlahan kembali terpejam akibat sisa kelelahan, namun kali ini ia tertidur dengan napas yang teratur dan damai.

Di ruang isolasi, Profesor Aryo, Ibu Rina, dan Ibu Gayatri berpelukan sambil menangis lega dari balik kaca bagaimana Rayyan menggenggam tangan Lyra seerat itu.

1
nur atika
KA tumbn sih blum up🤭
Chie
Lanjut kak
nur atika
up lagi thorr😍😍😍
NP
Makasih kak, lagi mau ubah genre jadi romcom bucin Rayyan wkwk
nur atika
semnagtt yah Thor ngehalunyaaa😍😍😍😍🤣🤭
NP
Ehehehe.. sehari satu Chapter aku uplod kak,
nur atika
cpt bngt rasanya bc 3eps🤭
nur atika
trnyata aku gk THN nabung eps🤣🤣🤣
NP
Hehhe🥰 siang ya aku update
nur atika
lagi thorrr😍
nur atika
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
NP: Kak, makasih Love nya 🤗
total 1 replies
nur atika
🥰🥰🥰up trus ya thorr mangattttt
nur atika
🥰🥰🥰
NP: 🥰🥰🥰🥰😍
total 1 replies
nur atika
lanjut author
NP: Inshaallah makasih semangatnya 🥰
total 1 replies
Lutfiah Tunnissa
kerenn Thor
NP: Makasih ya kak, ikuti terus ceritanya ya🥰
total 1 replies
nur atika
😍😍😍
nur atika
🤭🤭🤭🤭🤭
𝗝𝗔𝗧𝗜ᴾᵁᵀᴿᴼ
debar2 cinta
NP
Mas Rayyan, melindungi Lyra banget😍
Akbar Aulia
lyra kamu sangat beruntung dilindungi mas rayan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!