Tidak punya pilihan lain selain menikahkan Aruna dan Arka. karena sang calon pengantin wanita yang bernama Elia kabur di hari pernikahannya.
pernikahan itu hanya untuk dua tahun saja, itulah yang di katakan Arka di awal mereka setelah menjadi sepasang suami istri. tapi bagaimana kalau Arka beda pemikiran setelah tinggal satu atap yang sama dengan Aruna? dan bagaimana dengan Elia? apa sebtulnya alasan wanita itu kabur di hari pernikahannya?
cekidottt cerita keduaku. beri dukungan ya teman-teman❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Pria itu mematung dan saat Aruna melambaikan tangannya beberapa kali di hadapannya. Pria itu tak merespon, dia sudah mirip patung dan tatapannya lurus ke depan, tentu saja penyabnya adalah sebuah pesan yang Aruna tunjukan kepada Arka.
Meski Arka menyebalkan, tapi Aruna merasa tak tega, terlebih Aruna tahu kalau Arka sangat mencintai kakaknya.
“Mas Arka, baik-baik aja kan?.“Tanya Aruna dan kali, lamunan Arka pun terputus, pria itu lantas menoleh kepada wanita yang sudah memberinya info soal sang kekasih.
“Kamu dapat kapan?.“Tanyanya dan seolah enggan untuk menjawab pertanyaan yang Aruna tadi lontarkan.
“Kemarin.“Jawab Aruna dan mata Arka langsung melotot pun dengan ekspresinya yang berubah menjadi kesal, terdengar nafasnya juga semakin memberat.
“Kamu bilang kemarin? Dan baru malam ini kamu mengabari saya?.“Ujar Arka tak percaya, nada suaranya naik beberapa oktaf dan jelas sekali kalau Arka sangat tidak suka.
Aruna mendesah berat, kepalanya menunduk”Maaf, saya lupa.“
Sial, mau marah. Tapi Arka jelas tak tega, terlebih selama hampir dua minggu menjadi istrinya. Aruna tidak pernah nacam-macam dan selalu menurutinya.
Baiklah-baiklah, sepertinya Arka harus lebih sedikit bersikap baik dengannya.
“Sudahlah. Apa kamu punya informasi yang lain?.“Tanya pria itu lagi seraya menghela nafasnya panjang, tampaknya Arka betulan sudah cukup bisa menguasai dirinya.
Aruna menggeleng kepalanya”Tidak ada lagi mas.“
Arka menghela nafasnya panjang. Tatapannya berubah menjadi tajam dan kedua tangannya terkepal kuat, Arka memang sempat kesal dengan Aruna, tapi setelah di pikir-pikir lagi, bukan dalah Aruna juga. Ya, walaupun wanita itu tidak punya power saat ibunya memerintah supaya Arka dan Aruna menikah__dan Elia, kenapa sama sekali tidak mengatakan apapun pada Arka. Permintaan maaf atau apa kek gitu, astaga..
“Kamu bisa bantu saya, Run?.“Ucap Arka dan membuat Aruna mendongak lalu menatapnya dalam.
“Bantu apa, Mas?.“
“Mencari bukti lain terkait Elia.“
Aruna pun mengangguk”Baik mas.“
Hening melanda mereka, Arka yang masih kesal dengan Elia yang sama sekali tak mengatakan apapun padanya. Dan Aruna yang tidak tahu harus berkata apa.
“Saya akan mencari Elia dan seperti yang saya katakan, pernikahan kita akan berakhir setelah Elia kembali.“
Aruna hanya mengangguk. Walau rasajya hatinya terasa di hujami oleh benda yang tajam, sakit sekali. Sepenuhhya dari kepergi kakaknya, Aruna lah yang menjadi korban.
****
Aruna melaksanakan titah Arka, yaitu pergi ke rumah mamanya dan tentu saja karena sudah cukup lama tak berlunjung juga berkomunikasi, atau lebih tepatnya bukan Aruna yang tidak mau berkomunikasi, hanya saja Rumi tidak membalas chatnya atau sekedar mengangkat teleponnya.
Maka Aruna pun membawa kue kesukaan mamanya, yaitu bolu pandan yang kali ini Aruna masak sendiri.
“Assalamu'alaikum ma.“Ucap Aruna seraya mulai memasuki rumahnya. Rumahnya terlihat masih sama, bersih, rapih dan terawat. Lalu Aruna pun menyusuri sebuah bangunan yang sudah menampungnya dan membesarkannya selama ini, sampai langkah Aruna pun terhenti tatkala ekor matanya menongkap sosok mamanya yang sedang duduk di atas kursi di ruang keluarga, tatapannya terlihat kosong dan di depannya sednag tersaji beberapa foto dan videi dari kakaknya.
Mendadak Aruna ikut bersedih dan Aruna pun paham kalau sang mama saat ini tengah rindu kepada kakaknya__Aruna pun sama, bahkan setelah mendapat chat seperti itu, Aruna berusaha membalasnya dan menelponnya. Namun ternyata nomor itu pun sudah tak aktif lagi.
“Ma..“Panggil Aruna pelan, atensi Rumi beralih pada Aruna dan bisa Aruna lihat bagaimana area bawah mata Rumi yang terlihat menghitam karena mungkin tidak tidur memikirkan sang anak, Elia.
“Kamu ke sini?.“Tanya Rumi dingin dan mamou menancapkan benda tajam ke hati Aruna dan membuat Aruna sakit. Tidak bisakah mamanya menyambut Aruna dengan baik? Padahal mereka sudah tidak bertemu dua minggu lho? Sayang, Aruna hanya bisa berkelih kesah dalam hati saja, selalu begitu. Aruna seolah tidak mampu meluapkan apa yang ia rasakan pada sang mama.
“Iya ma, bagaimana kabar mama?.“
“Kamu lihat sendiri, tidak baik dan semua itu karena kepergian Elia.“
Ok, untuk pertama kalinya Aruna benci kakaknya. Elia yang Aruna kenal tidak seperti ini. Mengabaikan mama mereka dan membuat mama mereka menjadi seperti ini__apapun alasab kepergiannya, apa tak bisa sedikit saja Elia memikirkan mama mereka?
“Mama sudah makan? Runa bawa bolu pandan kesukaan mama.“
Kedua bola mata itu bergerak dan kali ini menatap tajam ke arah Aruna. Heh apakah ucapan Aruna ada yang salah? Kenapa Aruna merasa kalau mamanya tidak suka kepadanya.
“Simpan saja, mama masih mau di sini.“
“Ma, bagaimana pun. Mama harus makan, mama harus__.“
“Tahu apa kamu hah? Jangan coba-coba mendikte saya, saya bisa urus hidup saya sendiri!.“Ujar Rumi yang terdengar ketus dan seolah tak suka dengan ucapan Aruna beberapa menit yang lalu.
“Maaf ma, Runa cuma__.“
“Kalau gak ada yang mau di bicarakan, kamu bisa pergi Runa. Saya sedang tidak mau di ganggu.“
“Tapi Runa kangen mama.“
Rumi mendengus kasar, tatapan matanya berkilat tajam.
“Bagaimana rumah tangga kalian? Arka baik kan? Dia ngasih kamu uang banyak kan?.“
Aruna mengangguk pelan dan sorot mata mamanya masihlah setajam tadi, bahkan Aruna melihat sedikit ujung-ujung bibir wanita itu terangkat dan membuat sebuah senyuman sinis.
“Senang kan kamu, Run?.“Tudingnya, Aruna berusaha menahan kemarahan yang mulai menggerogoti tubuhnya. Senang di mananya? Menjadi istri Arka? Arka memang tampan dan banyak uang, tapi bukan menjadi jaminan hidup Aruna menjadi senang dan bahagia, terlebih pria itu bahkan sudah mengatakan dengan jelas tentang jarak mereka dan pernikahan mereka yang berjangka itu, belum lagi mereka menikah tanpa cinta. Ughh shit, andai Aruna tidak menganggap mamanya sebagai sosok yang ia sayangi dan harus di hormati, tentu saja Aruna akan membalas telak tudingan itu.
“Ingat Run, pernikahan kalian harus berakhir setelah Elia ketemu.“
Aruna diam dan ia memilih untuk tidak membalas apapun, bukan tidak mampu. Lebih tepatnya Aruna masih menghargai Rumi sebagai mamanya.
“Jawab Run? Apa kaku berniat untuk merebut Arka?.“Nada bicara Rumi bahkan naik beberapa oktaf dan jelas saja Aruna cukup terkejut dengan apa yang barusan terlontar dari mulut mamanya.
“Iya ma.“Pada akhirnya yang bisa Aruna jawab, sungguh Aruna merasa begitu menyesal karena sudah datang ke rumah ibunya.
****
Meski masih kesal dengan ucapan sang ibu. Aruna tetap menjalankan misi utamanya. Yaitu mencari bukti di rumah ini. Sekecil apapun, pokoknya Aruna berharap kalau ia mendapatkan bukti soal kakaknya.
Untung saja Rumi sudah berada di kamarnya dan kata bibi, Rumi sedang beristirahat di sana. Hingga Aruna pun bisa dengan leluasa untuk mencari sesuatu di kamar sang kakak.
Kamar kakaknya terlihat terawat, rapih dan bersih. Beda halnya dengan kamarnya yang tadi Aruna masuki. Bahkan kasur yang biasa tergerai pun sudah di rapihkan, barang-barang Aruna pun sudah di bungkus di dalam kardus. Saat Aruna tanya kepada bibi. Katanya suruhan ibu dan Aruna semakin yakin kalau dirinya benar-benar sudah di usir dari rumah ini__padahal rumah ini pun bukan milik Rumi sepenuhnya, tetapi milik mendiang papanya saja.
Bukan hanya itu. Perlakuan Rumi kepada Aruna dan Elia pun berbeda, Rumi sering kali mengistimewakan Elia dan Aruna yang sering tak punya pilihan apapun. Selain sisa Elia, pun dengan pernikahannyq dengan Arka. Aruna tak di beri pilihan dan harus menggantikan posisi sang kakak untuk menjadi pengantin, yang lebih lucu lagi. Dirinya pun di suruh untuk bercerai dengan Arka saat kakaknya nanti kembali.
Egois sekali bukan? Tapi sayangnya bahkan Aruna sudah tidak punya energi untuk merasa tersisih, perlakuan seperti ini sudah ia dapatkan sejak kecil.
Meski begitu, Aruna tak mau berdiam diri dan terlena dengan ketidak adilan dirinya. Aruna pun mulai mencari dari tiap sudut kamar kakaknya, sampai Aruna pun menemukan sesuatu dari dalam tas kakaknya yang tersembunyi di dalam nakas, sebuah benda berukuran kecil dan berbentuk persegi panjang juga dengan sbuah potet hitam putih dengan gambar kecil di tengah-tengahnya.
Kakaknya hamil, anak Arka? Tapi kalau iya, kenapa harus kabur? Bukankah mereka akan menikah?