Di SMA Bhakti Nusantara, dua nama selalu jadi pembicaraan—Reina dan Kenzo. Reina adalah ketua OSIS yang disiplin, teliti, dan selalu mengutamakan aturan. Sedangkan Kenzo adalah kapten tim sepak bola sekolah yang populer, tapi sering mengabaikan peraturan dan membuat masalah.
Mereka saling membenci sejak awal tahun ajaran, ketika Kenzo sengaja merusak dekorasi acara pembukaan yang sudah Reina susun dengan teliti. Sejak itu, setiap pertemuan mereka selalu berujung pada argumen dan perselisihan. Reina menganggap Kenzo sombong dan tidak bertanggung jawab, sementara Kenzo menyebut Reina pelit dan terlalu serius.
Namun, takdir membawa mereka bersama ketika sekolah mengadakan program "Pasangan Tugas" untuk lomba ilmiah tingkat nasional. Mereka terpaksa bekerja sama, dan perlahan-lahan menemukan sisi lain satu sama lain. Reina melihat bahwa Kenzo sebenarnya memiliki hati yang baik dan selalu siap membantu teman, sedangkan Kenzo menyadari bahwa ketegasan Reina datang dari rasa peduli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debat di Bawah Tekanan
Udara di Surabaya terasa semakin mencekik bagi Reina. Bukan hanya karena kelembapannya, tapi karena setiap pasang mata di SMA Bhakti seolah-olah dipasang untuk mengawasi setiap gerak-geriknya. Ancaman foto itu masih membekas di benaknya, namun Reina tahu bahwa mundur berarti memberikan kemenangan telak bagi Ibu Aris di atas nampan perak.
Aula SMA Bhakti – Pukul 10.00 WIB
Hari ini adalah "Forum Terbuka Visi-Misi Pengawas OSIS". Sebagai siswa pertukaran yang ditunjuk Yayasan Pusat untuk mengaudit kinerja OSIS setempat, Reina harus berdiri di depan ratusan siswa yang sudah dipengaruhi oleh Manda.
Manda berdiri di podium seberang, mengenakan bando mutiara yang berkilauan, tampak sangat tenang. "Kami di sini memiliki sistem yang sudah berjalan sempurna, Reina. Kedatanganmu hanya membawa aura pemberontakan dari Jakarta yang tidak kami butuhkan."
Saat tiba giliran Reina berbicara, ia melangkah ke depan mikrofon. Namun, tepat saat ia hendak membuka mulut, suara melengking yang memekakkan telinga keluar dari pengeras suara. REEEEEE!
Teknisi di pojok ruangan—yang jelas-jelas adalah anak buah Manda—berpura-pura panik memperbaiki kabel. Penonton mulai tertawa dan menyoraki Reina. "Pulang saja ke Jakarta!" teriak seseorang dari barisan belakang.
Reina menarik napas panjang. Ia mematikan mikrofon yang rusak itu, lalu melangkah ke pinggir panggung, mendekat ke arah audiens tanpa alat pengeras suara.
"Kalian tidak butuh mikrofon untuk mendengar kebenaran!" teriak Reina, suaranya lantang dan jernih, mengandalkan latihan vokal saat festival di Jakarta. "Manda bilang sistem di sini sempurna? Lalu kenapa anggaran untuk klub seni rupa dipotong 40% bulan lalu, sementara anggaran 'Studi Banding' Geng Mawar Hitam naik dua kali lipat?"
Aula mendadak sunyi. Manda tampak tersentak, wajahnya yang tadinya tenang mulai menegang. Reina tidak hanya datang untuk bicara; ia sudah meretas laporan keuangan OSIS SMA Bhakti semalam menggunakan software yang pernah diajarkan Kenzo.
Singapura: Pelarian yang Nekat – Pukul 14.00 SGT
Di Singapura, Kenzo tidak sedang berlatih jalan. Ia sedang menatap jadwal pergantian penjaga di gerbang pusat rehabilitasi. Lututnya masih dibalut penyangga mekanis, namun ia sudah bisa berdiri tanpa kruk selama sepuluh menit.
"Vin, aku mau tidur siang. Jangan ganggu," ucap Kenzo ketus pada Vino yang sedang asyik bermain game di sofa.
Begitu Vino lengah, Kenzo menyelinap keluar lewat pintu servis dapur. Dengan langkah yang dipaksakan menahan nyeri yang luar biasa, ia menuju pangkalan taksi di luar area rumah sakit. Ia tidak menuju bandara utama—karena paspornya dipegang Vino—melainkan menuju pelabuhan tikus di daerah pesisir yang ia ketahui dari jaringan lama geng motornya.
"Satu tiket ke Batam. Sekarang," desis Kenzo kepada seorang pria di dermaga.
"Kaki kamu berdarah, Dek," ucap pria itu sangsi.
"Hanya lecet. Cepat jalankan kapalnya atau aku tidak akan membayar sepeser pun." Kenzo mencengkeram pegangan kapal, matanya menatap ke arah selatan. Bertahanlah, Reina. Aku datang.
Gudang Olahraga SMA Bhakti – Pukul 16.30 WIB
Setelah debat yang memenangkan simpati sebagian siswa, Reina dijebak. Pesan singkat dari nomor Laksmana memintanya bertemu di gudang olahraga untuk "informasi penting". Namun, saat Reina masuk, pintu besi langsung dikunci dari luar.
Lampu gudang yang remang-remang menyala. Manda berdiri di sana bersama tiga anggota Mawar Hitam lainnya.
"Kamu pikir kamu pintar karena bisa baca laporan keuangan kami?" Manda melempar tumpukan kertas ke wajah Reina. "Di Surabaya, data tidak berarti apa-apa tanpa kekuatan. Kamu sudah melampaui batas, Reina."
Manda mengeluarkan ponselnya, bersiap merekam. "Mari kita lihat bagaimana reaksi Kenzo kalau dia lihat 'Bu Ketua' yang suci ini terlihat seperti korban perundungan yang menyedihkan."
Reina mundur, punggungnya menabrak tumpukan matras. Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari arah pintu belakang gudang. Pintu besi itu bergetar hebat seolah dihantam benda tumpul berkali-kali.
BRAK!
Pintu itu jebol. Bukan Kenzo yang muncul, melainkan Laksmana dengan jaket kulitnya yang penuh noda oli. Di belakangnya, beberapa pemuda bermotor berdiri dengan tatapan mengancam.
"Manda, Manda..." Laksmana menggelengkan kepala sambil memainkan kunci inggris di tangannya. "Aku sudah bilang pada tantemu, jangan sentuh tamu istimewaku."
Manda memucat. "Laksmana? Kamu berkhianat pada keluarga kami?"
"Aku tidak berkhianat pada siapa pun. Aku hanya sedang membayar hutang nyawa pada ayah Kenzo yang tidak diketahui tantemu," Laksmana melirik Reina. "Ayo, Nona. Keretanya sudah menunggu."
Reina dibawa oleh Laksmana ke sebuah stasiun kecil di pinggiran Surabaya. Namun, sebelum Reina naik ke mobil, Laksmana memberikan ponselnya kepada Reina. Ada sebuah panggilan video yang sedang berlangsung.
Di layar, terlihat Kenzo sedang berada di atas kapal kecil yang terombang-ambing ombak. Wajahnya pucat dan penuh keringat dingin karena infeksi pada luka operasinya akibat air laut.
"Rein..." bisik Kenzo di layar. "Jangan... jangan percaya Laksmana sepenuhnya. Dia menyelamatkanmu hanya untuk membawamu ke... ke tempat Ayahku."
Panggilan terputus. Reina menatap Laksmana yang kini tersenyum tipis. "Kenzo benar. Aku menyelamatkanmu dari Manda, tapi tujuanku tetap satu: Membawamu ke rumah utama keluarga Dirgantara di Surabaya. Ayahnya sudah menunggumu, Reina. Ada rahasia masa lalu tentang ibumu yang tersimpan di brankas keluarga kami."
Reina membeku. Rahasia tentang ibunya? Ibunya yang selama ini dikatakan meninggal karena kecelakaan biasa?