NovelToon NovelToon
Dokter Meets Mafia

Dokter Meets Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Mafia / Dokter
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.

Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.

Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.


Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.


Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan bulan pun telah berlalu. Sudah satu bulan ini Evelyn tidak pernah lagi melihat sosok Enzo di rumah sakit. Tidak ada kabar, tidak ada jejak. Seolah pria itu benar-benar menghilang begitu saja setelah lukanya sembuh.

Awalnya Evelyn merasa lega, itu berarti pasiennya pulih dengan baik. Namun entah kenapa, ada ruang kosong yang terasa aneh di dalam dirinya. Sebuah kebiasaan kecil yang hilang begitu saja.

Hari itu, seperti biasa, Evelyn baru saja menyelesaikan operasi panjang. Peluh membasahi pelipisnya, masker ia lepaskan perlahan, dan tubuhnya terasa lelah luar biasa. Ia berjalan menuju ruangannya dengan langkah pelan, berniat sekadar duduk sebentar sebelum melanjutkan jadwal berikutnya.

Namun…

Ceklek!

Pintu ruangannya terbuka dengan tergesa. Seorang perawat masuk dengan napas memburu, wajahnya tegang.

“Dok, telah terjadi kecelakaan beruntun di jalan tol. Sebentar lagi seluruh korban akan tiba di rumah sakit. Mereka ada yang patah kaki, dan harus segera diamputasi,” ucapnya cepat, hampir tanpa jeda.

Evelyn yang semula lelah, seketika menegakkan tubuhnya. Tatapannya berubah tajam. Rasa lelahnya seolah hilang dalam sekejap, tergantikan oleh insting profesional yang kuat.

“Siapkan tempat operasinya sekarang juga,” perintah Evelyn tegas.

“Baik, Dok!”

Tak sampai lima menit, suasana rumah sakit berubah drastis.

Suara sirene ambulans menggema bersahut-sahutan dari kejauhan. Pintu IGD terbuka lebar. Para tenaga medis berlarian, mendorong brangkar, menyiapkan alat, dan mengenakan sarung tangan dengan tergesa.

Satu ambulans datang. Lalu dua dan…beberapa lagi ikut menyusul.

Korban pertama masuk dengan kondisi kritis. Darah mengalir dari kepalanya, napasnya tersengal lemah. Perawat langsung meneriakkan instruksi.

“Pasien laki-laki, trauma kepala berat! Tekanan darah menurun!”

“Bawa ke ruang trauma satu!”

Korban berikutnya datang dengan kaki yang hancur parah. Tulangnya tampak tidak pada tempatnya, darah merembes membasahi perban seadanya.

Jeritan kesakitan menggema di lorong rumah sakit.

“Tolong… sakit… tolong saya…” suara seorang wanita terdengar lirih, penuh penderitaan.

Seorang anak kecil menangis histeris, memanggil ibunya yang tak sadarkan diri di brangkar sebelah.

“Ibu… bangun, bu… jangan tinggalin aku…”

Suasana menjadi kacau. Namun di tengah kekacauan itu, Evelyn berdiri tegak. Matanya bergerak cepat, mengamati setiap kondisi pasien yang masuk.

“Prioritaskan yang kritis! Yang kehilangan banyak darah langsung ke ruang operasi!” perintahnya lantang.

“Dok, pasien ini perlu amputasi segera. Jaringan kakinya sudah rusak parah!” lapor seorang dokter jaga.

Evelyn langsung mendekat. Ia menatap kondisi kaki pasien itu remuk, jaringan hancur, hampir tidak bisa diselamatkan.

Keputusan berat harus diambil.

“Siapkan ruang operasi. Kita amputasi sekarang. Jangan tunggu lebih lama, dia bisa kehilangan nyawanya,” ucap Evelyn tegas tanpa ragu.

Pasien itu mengerang lemah, hampir tak sadar. Tangannya bergerak sedikit, seolah memohon.

Evelyn menatapnya sejenak. Ada kilatan empati di matanya, namun ia tidak boleh goyah.

“Percayalah… ini untuk menyelamatkan hidupmu,” bisiknya pelan sebelum berbalik.

Ia berjalan cepat menuju ruang operasi. Pintu terbuka, lampu terang menyilaukan langsung menyambut. Tim medis sudah bersiap.

“Anestesi siap, Dok!”

“Alat bedah siap!”

Evelyn mengangguk. Ia mengenakan sarung tangan dengan cekatan, lalu berdiri di posisi.

“Mulai.”

Operasi berlangsung menegangkan. Setiap detik begitu berharga. Keringat menetes di dahi meski ruangan dingin. Semua fokus, tidak ada yang berbicara kecuali instruksi singkat.

“Scalpel.”

“Clamp.”

“Sedot darahnya.”

Detak jantung pasien di monitor berbunyi cepat—terlalu cepat.

“Dok, tekanan darahnya turun!”

“Tambahkan cairan! Cepat!”

Evelyn tetap tenang, meski situasi di ambang batas. Tangannya bergerak cepat namun presisi.

Di luar ruang operasi, kekacauan masih berlangsung. Tangisan, teriakan, langkah kaki yang berlari, semuanya bercampur menjadi satu.

Seorang perawat berlari lagi menuju ruang operasi lain.

“Dokter Evelyn masih di dalam? Kita kekurangan dokter untuk pasien berikutnya!”

“Kita harus menunggu! Semua ruang operasi hampir penuh!”

Malam itu terasa panjang… sangat panjang.

Satu operasi selesai.

Lalu langsung dilanjutkan dengan operasi berikutnya.

Tanpa jeda.

Tanpa istirahat.

Evelyn bahkan tidak sempat duduk. Waktu seolah berhenti, hanya menyisakan satu tujuan: menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa.

Hingga…

Di antara hiruk pikuk itu, sebuah brangkar baru masuk dengan kondisi yang berbeda. Tidak ada teriakan dari pasien itu. Tidak ada gerakan.

Tubuhnya penuh luka, darah mengering di beberapa bagian. Wajahnya tertutup sebagian oleh perban darurat.

“Pasien laki-laki, ditemukan di lokasi kecelakaan paling parah. Tidak sadarkan diri sejak ditemukan,” lapor petugas ambulans.

Perawat mendorong brangkar itu melewati lorong, melewati ruang-ruang yang penuh dengan korban lain.

Dan tanpa disadari oleh siapa pun…

Pasien itu perlahan digiring menuju ruang penanganan kritis.

Lampu di atasnya berkelip.

Detak jantung di monitor mulai terdengar—

Pelan…

Namun masih ada.

Sementara itu, di dalam ruang operasi, Evelyn baru saja menyelesaikan satu tindakan lagi. Ia menghela napas panjang, bahunya terasa berat.

“Pasien stabil, Dok,” ujar salah satu tim.

Evelyn mengangguk lemah. Namun sebelum ia sempat melepas sarung tangannya, Pintu kembali terbuka.

“Dok… ada satu pasien lagi. Dia terkena luka tembak.”

Evelyn menutup matanya sejenak. Hanya satu detik. Lalu ia membukanya kembali dengan tatapan penuh keteguhan.

“Dia bukan bagian dari kecelakaan?.” tanya Evelyn.

"Bukan dok, dia pasien berbeda" jawab perawat.

"Bawa dia ke ruang tindakan" perintah Evelyn.

Lorong rumah sakit masih dipenuhi hiruk pikuk. Suara langkah kaki yang berlarian, instruksi yang bersahut-sahutan, dan aroma antiseptik bercampur dengan bau darah yang belum sepenuhnya hilang.

Evelyn berjalan cepat menuju ruang tindakan. Wajahnya kembali dingin, fokus, seolah tidak ada ruang untuk emosi di tengah kondisi genting seperti ini.

Pintu ruang tindakan didorong terbuka.

“Pasien sudah di dalam, Dok,” ujar perawat.

Evelyn mengangguk singkat, lalu mendekat ke arah brangkar. Tubuh pasien itu terbaring lemah, bagian dadanya dibalut perban yang mulai basah oleh darah. Napasnya berat, naik turun tidak beraturan.

“Tekanan darah?” tanya Evelyn sambil mulai mengenakan sarung tangan.

“Menurun, Dok. Peluru masih bersarang,” jawab perawat.

Evelyn menghela napas pendek. Tangannya bergerak cepat membuka perban untuk melihat luka lebih jelas. Namun saat ia sedikit menyingkap kain yang menutupi wajah pasien, tiba-tiba gerakannya terhenti.

Matanya membulat sempurna karena terkejut.

“Enzo?” bisiknya nyaris tak terdengar.

Perawat di sampingnya mengerutkan kening. “Dok?”

Namun Evelyn segera menarik kembali kendalinya. Ekspresinya kembali dingin, profesional. Tidak ada waktu untuk terkejut.

“Siapkan alat. Kita keluarkan pelurunya sekarang,” ucapnya tegas, meski ada getaran halus dalam suaranya.

Ia menatap wajah Enzo sekali lagi, pria yang menghilang selama sebulan… kini kembali dalam kondisi nyaris kehilangan nyawa.

“Sebenarnya kamu ini siapa? Kenapa lukamu selalu berhubungan dengan senjata tajam?" gumam Evelyn bertanya dalam hati.

1
Atik Marwati
musuh sesungguhnya yang tak bisa ditebak
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
Atik Marwati
🤣🤣🤣🤣...dimakan mucang katanya👻👻👻👻
Atik Marwati
semangat Evelyn kamu akan dapatkan enzo😂
Atik Marwati
🤣🤣🤣🤣🤣 teryata drama
Abidin Ariawan
,,, cerita semacam ini,, gengster/mafia,, biasanya menghindari RS , bahkan punya dokter/tenaga medis sendiri meski ilegal,, untuk menghindari hukum/aparat,, apalagi bos nya lebih privat lagi,,, tp dicerita ini,,, terserah penulis siih
Atik Marwati
dia ketua mafia..
tapi sering kena tembak🧐🧐🧐
Atik Marwati
mohon maaf lahir dan batin
stela aza
dikit bener 🤦
Nia Nara
Thor lanjut dong..
Atik Marwati
dokter Evelyn kamu keren🥰🥰🥰
Atik Marwati
🤣🤣🤣 salah sendiri kabur kaburan..
Atik Marwati
kurang perhitungan Enzo di lawan
Atik Marwati
tar pasti tahu tahu Enzo udah ada di kamar rawatnya lagi🤣🤣
stela aza
lanjut thor up-nya double y
Atik Marwati
mau perang dia gak betah tidur lama lama😂😂
Atik Marwati
sudah ku duga🤭🤭🤭🤭
Atik Marwati
ditunggu kebucinan mafia enzo🧐🧐🧐🧐
Atik Marwati
wkwkwkw...mafianya mleyot
Atik Marwati
gabung thor🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!