Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anatomi Kemustahilan & Sang Aristek Langit
Lokasi: Zona Anomali, Gletser Cartensz (Waktu membeku).
Udara di sekitar mereka benar-benar berhenti mengalir. Kepingan salju melayang statis di depan mata, menyerupai debu berlian yang terjebak di dalam balok kaca raksasa.
Namun, perhatian Dimas dan Sarah sepenuhnya tersedot pada struktur logam masif setinggi dua puluh meter di depan mereka. Gerbang Eden.
Di bawah pendaran cahaya keemasan yang menembus celah pintu, Sarah bisa melihat detail fisik gerbang tersebut dengan kejernihan yang menyakitkan akal sehatnya.
"Dim..." Sarah berbisik, suaranya terdengar datar dan hampa, seolah terserap oleh logam alien di depannya. "Material ini... ini bukan sekadar emas atau perak."
Sarah melangkah setengah meter dari balik punggung Dimas, matanya memicing menatap permukaan gerbang.
Tidak ada bekas tempaan, tidak ada pori-pori logam, dan tidak ada tanda-tanda korosi meski telah tertimbun es abadi selama ratusan ribu tahun. Logam itu tidak memantulkan cahaya matahari (yang saat ini membeku di langit); sebaliknya, logam itu menghasilkan cahayanya sendiri. Pendaran emas keperakannya berdenyut lembut, selaras dengan detak jantung Dimas dan Sarah.
"Pola rasi bintang di pintunya..." Dimas menajamkan Mata Batinnya, mengamati garis-garis bersinar yang menghubungkan titik-titik cahaya di permukaan gerbang.
Garis-garis itu tidak diam. Mereka bergerak sangat pelan, mengorbit sebuah titik pusat berupa cekungan bundar di tengah pertemuan dua daun pintu.
"Itu bukan rasi bintang modern, Sar," napas Dimas tercekat saat perpustakaan sejarah di otaknya mencocokkan pola tersebut. "Itu peta langit malam... tapi dari jutaan tahun yang lalu. Sebelum benua-benua di bumi terpisah. Ini adalah peta bintang dari zaman Pangea."
Sarah menelan ludah. Ia menatap delapan lubang kunci geometris yang mengelilingi cekungan pusat gerbang tersebut. Bentuknya melanggar hukum geometri Euklides—sudut-sudutnya tampak berubah jika dilihat dari sisi yang berbeda, sebuah ilusi optik tiga dimensi yang dipaksakan dari dimensi yang lebih tinggi.
"Ini bukan sekadar pintu, Dim. Ini Interface (Antarmuka) mesin raksasa," analisa Sarah, naluri hacker-nya mengambil alih ketakutannya. "Delapan lubang itu... mereka butuh 'kunci' fisik untuk membuka akses utama. Energi yang barusan keluar dan ngebekuin waktu kita cuma efek samping dari mode standby-nya."
Perhatian mereka terenggut kembali saat sosok humanoid setinggi dua setengah meter itu melangkah mendekat.
Jubah putih keemasannya tidak terbuat dari kain, melainkan dari anyaman foton (cahaya) padat yang terus mengalir seperti air terjun. Topeng logam peraknya yang tanpa wajah memantulkan siluet Dimas dan Sarah, membuat mereka seolah sedang menatap diri mereka sendiri yang terdistorsi.
“Kalian menatap Gerbang Eden dengan mata yang buta, namun pikiran yang tajam,” entitas itu berbicara lagi, suaranya menggema indah di dalam tengkorak mereka, membawa frekuensi kedamaian buatan yang memaksa otot-otot tegang mereka untuk rileks.
Dimas menggertakan gigi, melawan manipulasi neurologis itu dengan sisa-sisa tenaga dalamnya. Ia melangkah maju, kembali menempatkan tubuhnya di antara entitas itu dan istrinya. Tangan kirinya mencengkeram erat Keris Patrem di balik jaketnya, meski ia tahu logam bumi tak ada artinya di sini.
“Siapa kalian?” Geram Dimas, menatap langsung ke topeng perak tak berwajah itu. “Dan apa yang kalian lakukan pada prajurit-prajurit kami yang hilang di sini tiga hari yang lalu?”
Entitas itu menelengkan kepalanya. Gestur tubuhnya sangat anggun, nyaris seperti tarian. Ia mengangkat tongkat kristalnya dan mengetukannya sekali ke permukaan es.
TING.
Sebuah riak cahaya menyebar dari titik ketukan itu. Tiba-tiba, di sisi kanan gerbang, es yang membeku berubah menjadi transparan seperti layar kaca.
Di balik es itu, Dimas dan Sarah melihat keempat prajurit Kopassus yang hilang.
Mereka tidak mati berdarah. Tubuh mereka membeku di dalam balok es abadi dalam posisi berlutut, wajah mereka menengadah dengan senyum damai yang sangat mengerikan, mata mereka tertutup rapat. Mereka terlihat seperti patung-patung pemuja yang sedang mengalami ekstasi religius.
“Mereka tidak hilang. Mereka telah diistirahatkan,” jawab makhluk itu lembut. “Fisik mereka terlalu primitif. Pikiran mereka terlalu penuh dengan kekerasan dan ketakutan. Saat Gerbang menyapa mereka dengan frekuensi Kebenaran, otak mereka menolaknya dengan kebahagiaan semu hingga mereka lupa bernapas.”
Sarah mengepalkan tangannya kuat-kuat. Emosi kemanusiaannya memberontak melihat para prajurit itu mati dalam ilusi surga buatan.
“Itu pembunuhan,” desis Sarah tajam.
“Itu adalah seleksi alam, Anakku,” balas entitas itu tanpa rasa bersalah, murni objektif seperti seorang ilmuwan yang melihat bakteri di bawah mikroskop. “Sama seperti kalian menyiangi rumput liar di taman kalian. Kami adalah para Tukang Kebun. Dan bumi ini… adalah salah satu pot percobaan tertua kami.”
Makhluk itu melayang mundur selangkah, merentangkan kedua tangannya yang bercahaya ke arah Gerbang Emas di belakangnya.
“Lemuria, yang kalian kagumi dan kalian perangi, hanyalah ciptaan gagal kami yang memberontak. Sang Penenun di dasar lautan hanyalah alat berat kami yang tertinggal,” deklarasi makhluk itu membuat fondasi sejarah yang selama ini Dimas pelajari hancur lebur. “Di balik gerbang ini, tersimpan “Benih” aslinya. Cetak biru dari apa yang kalian sebut sebagai DNA, keajaiban, dan bencana.”
Entitas itu menunjuk ke arah Dimas dan Sarah.
“Kalian telah mengunci mesin laut dalam kami. Itu membuktikan matriks pikiran kalian telah berevolusi melebihi manusia biasa. Karena itulah kalian tidak mati oleh frekuensi gerbang ini. Kalian diundang.”
“Diundang untuk apa?” Tanya Dimas, suaranya berat menahan luapan fakta kosmik yang baru saja menamparnya.
“Untuk masuk ke dalam Laboratorium Eden,” jawab makhluk bertopeng perak itu. “Untuk melihat rak-rak tempat leluhur kalian dirancang. Namun, daun pintu ini terkunci dari dalam sejak Pemberontakan Lemuria. Untuk membuka seutuhnya, kalian harus menemukan Delapan Kunci Konstelasi yang tersebar di seluruh penjuru bumi.”
Cahaya di sekitar makhluk itu mulai memudar, kembali terserap ke dalam celah gerbang.
“Waktu kalian membeku akan segera mencair,” bisik entitas itu, wujudnya mulai transparan. “Cari kuncinya. Atau saksikan taman ini dihancurkan untuk penanaman ulang.”
Sosok itu lenyap seutuhnya, kembali masuk menjadi cahaya ke dalam celah gerbang.
Detik berikutnya, seolah ada tombol Play raksasa yang ditekan.
WUUUUSSSHHHH!!!
Angin badai salju kembali menderu menampar wajah mereka. Kepingan salju yang tadi membeku di udara kini berjatuhan dengan deras. Suara napas panik dari dua prajurit Kopassus di belakang mereka kembali terdengar.
"Profesor! Dokter! Mundur!" teriak Kapten Elang di radio interkom, senapannya terangkat membidik gerbang yang kini kembali tertutup rapat, hanya memancarkan cahaya emas redup seperti semula.
Bagi sang Kapten dan prajuritnya, cahaya terang dan makhluk tadi tidak pernah ada. Bagi mereka, waktu hanya berkedip sepersekian milidetik.
Dimas jatuh terduduk di atas es, napasnya memburu, paru-parunya rakus mencari oksigen di ketinggian 4.300 meter. Keringat dingin membasahi punggungnya.
Sarah langsung berlutut di sampingnya, memegang bahu suaminya. Matanya menatap Gerbang Eden yang menjulang angkuh di depan mereka.
Mereka baru saja bertemu dengan entitas yang menanam kehidupan di bumi, dan entitas itu baru saja memberikan mereka ultimatum kiamat jika mereka tidak membuka laboratorium rahasianya.
“Sar…” Dimas menelan ludah, menatap istrinya dengan senyum getir yang dipaksakan. “Sepertinya kita harus mulai belajar jadi Treasure Hunter skala global.”