NovelToon NovelToon
DUDA PEMILIK MALAMKU

DUDA PEMILIK MALAMKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / CEO / One Night Stand / Ibu Pengganti
Popularitas:14.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ditaa

"Saya menikahimu karena saya bertanggung jawab telah menidurimu, kamu jangan berharap apapun dalam pernikahan ini." ~Reno Mahesa.

Deana benci saat Reno memaksanya untuk menikah dengannya. Bukan karena cinta, tapi karena Reno takut Deana mengandung benihnya dan meruntuhkan karirnya saat anaknya lahir nanti.

Bagaimana kelanjutan kisah mereka? ayo klik tanda baca dan ikuti alur ceritanya✨️‼️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ditaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Kontrak Pernikahan

Pagi hari menyapa, matahari mulai menyinari penduduk bumi dengan pancaran sinar hangatnya.

Hari ini adalah hari Sabtu, jadi semuanya sudah pasti akan ada di rumah. Deana harus menyiapkan tenaganya untuk menghadapi kehidupannya.

Deana terbangun cukup siang. Ia bangun dan melihat kedua pelayan yang sudah tidak ada di sana, hanya ada sebuah nampan yang berisi sarapan untuknya. Padahal masih jam setengah enam pagi, tapi sarapan untuknya sudah disiapkan.

"Aku tertidur di kamar Lena." gumamnya sambil mengucek matanya yang masih terpejam itu.

Deana tergerak untuk bangun dan mengambil nampannya, sudah cukup siang dan ia belum melaksanakan ibadah paginya.

Keluar dari kamar Lena, bertepatan dengan Nyonya Ellen yang sudah rapi dengan sanggul belakang yang menjulang tinggi ke atas.

"Di mana cucuku?" tanya Nyonya Ellen berwajah masam. Matanya menatap tubuh Deana dari atas sampai bawah lalu berdecak pelan.

"Lena tidur dengan Tuan Reno, Nyonya."

Nyonya Ellen sedikit tersenyum miring seolah mengejek Deana, "Baguslah, memang seharusnya begitu, biar Lena tidak terlalu bergantung padamu." ucapnya tegas lalu melangkahkan kakinya menuju kamar Reno.

Deana memutar bola matanya malas, "Kalau memang tidak menyukaiku, setidaknya jangan membuatku merasa tertekan di sini, ini juga bukan kemauanku." gumam Deana dalam hatinya.

Flashback On....

Pulang dari kantornya, Reno membawa Deana pergi ke resto di sisi pantai. Suasana sore itu membuat keduanya merasa tenang dan nyaman, ditambah hembusan angin pantai yang menyapu wajah mereka.

Jordi yang menjemput Deana dari cafe tempat kerjanya dan membawanya pergi ke resto.

Deana awalnya menolak habis-habisan, tapi karena pertimbangan Reno yang menjanjikan pernikahan hanya untuk menegaskan jika Deana tidak mengandung anaknya.

"Ada apa mengundang saya kemari? Saya tidak punya banyak waktu, Tuan." ujar Deana. Ia bahkan menatap Reno dengan datar, matanya menatap ke arah Reno dengan mata besarnya.

Reno yang baru mendengar ada orang yang berbicara seperti itu padanya, ia merasa tertantang. Reno sedikit memukul meja resto itu pelan, makanan yang sudah tersedia di atas sedikit tergoncang karena pukulannya.

"Memangnya saya memiliki waktu banyak untukmu? Sangat rugi jika benar seperti itu." balas Reno lalu kembali menyesap rok*oknya yang berada di apitan jarinya itu.

Deana menatap Reno dengan kesal, menjijikan dan malang sekali rasanya jika mengandung anaknya.

"Duduklah... hari ini, aku tidak punya banyak tenaga untuk meladeni omong kosong mu." ujar Reno lagi menatap Deana dengan menunjuk kursi kosong yang ada di depannya menggunakan dagunya.

Deana menghela napasnya panjang, tadi ia sedang berkutat penuh dengan pekerjaannya tiba-tiba dikabarkan harus pulang oleh Tresha, dan ternyata sudah ada Jordi yang menunggunya di parkiran.

Karena sudah malas, Deana menurut dengan mendudukkan diri di depan Reno.

Reno bahkan tidak menawari Deana sedikit pun untuk makan, minuman pun tidak ada, hanya ada bagian untuk Reno seorang.

"Saya akan menikahimu, tapi dengan satu syarat." Reno menyodorkan map berwarna coklat muda itu ke depan Deana.

"Baca dan tandatangani, perjanjian kontrak berlaku selama satu tahun. Setelah saya menceraikanmu, kamu bisa pergi."

"Tapi, jika kamu mengandung, tentu harus dipastikan dengan tes DNA. Setelahnya jika itu memang anakku, maka dia akan hidup denganku, dan kamu harus pergi. Sebagai gantinya, saya akan memberikan kompensasi sesuai yang kamu inginkan. Beberapa ratus juta pun, saya bisa memberikannya untukmu, asalkan setelah itu kamu tidak lagi menampakkan wajahmu di hadapan keluargaku. Mengerti." Reno menjelaskan.

Deana baru saja ingin membacanya, sudah dulu dipatahkan dengan perkataan Reno. Tangannya meremas kuat kertas yang sedang dipegangnya.

Deana mulai membaca semua syarat yang sudah Reno tulis itu.

"Kenapa aku yang sangat dirugikan di sini?" Deana menaruh map itu dengan sedikit emosi. Padahal ia yang sudah rugi dari awal, tapi mengapa Reno sampai tega dan mempermainkan hidupnya.

Reno mematikan batang ro*koknya, kemudian ia tersenyum miring, "Rugi katamu? Kamu meminta satu triliun pun akan saya berikan."

Deana mengerang kesal, dadanya naik turun karena menahan amarahnya, Deana berdiri dari duduknya, "Tidak ada pernikahan denganmu." ucapnya sedikit keras.

Reno berdiri dan menarik tangannya, "Duduk kamu." gertaknya dengan mata yang menatap tajam perempuan yang sedang dicekal tangannya itu.

Deana mendorong kasar tangan Reno, tapi Reno justru semakin erat memegangnya membuat Deana meringis kesakitan.

"Kau berani berurusan denganku, hah?!"

"Anggap saja aku pemuas nafsumu saat malam itu! Aku benci kamu! Benci!" Deana menepis tangan Reno dengan kuat. Ucapannya bergetar menahan tangisnya.

Reno menghembuskan napasnya panjang, "Tandatangan ini! Kalau tidak, jangan sampai kamu terkejut jika ada sesuatu yang terjadi pada keluargamu." ancam Reno.

Deana menundukkan kepalanya, "Tandatangani perjanjian ini!" teriak Reno lalu mencengkram dagu Deana, sedetik kemudian ia mendorongnya, "Belagu sekali perempuan misk*in sepertimu." lanjutnya yang sudah kehabisan tenaga untuk meladeni Deana.

Deana mengeluarkan air matanya tanpa bersuara, jeritan penuh hina itu terdengar jelas di telinganya.

Reno mengambil pulpen dan melemparkannya ke arah Deana, "Hanya pernikahan biasa dan tidak ada kontak atau interaksi apapun. Kamu nanti bisa bersenang-senang dengan uangku." ucapnya sedikit mencubit hati kecil Deana.

Deana mengusap air matanya. Ia segera mengambil pulpen yang jatuh di kursinya itu dan menandatangani isi kontraknya. Ia hanya membacanya yang berisikan lima nomor saja.

Yang pertama, Deana tidak boleh mengganggu kepentingan keluarga Reno serta kepentingan pribadinya.

Yang kedua, Deana harus resign dari pekerjaan selama satu tahun dan sebagai gantinya, Deana harus merawat Lena seperti seorang baby sitter. Dan wajib tidak mengeluh serta tidak ada balas dendam pada Reno melalui Lena. Jika terjadi, maka Deana siap mendekam di dalam penjara selama kurang lebih lima tahun.

Yang ketiga, tidak ada kegiatan seperti suami istri pada umumnya, tidak ada kontak fisik selama satu tahun pernikahan.

Yang keempat, jika Deana hamil harus tes DNA, jika tidak sesuai dengan DNA Reno, maka detik itu juga Reno akan menceraikannya, jika benar itu adalah anak kandung Reno, maka setelah melahirkan, Deana harus pergi dari kehidupannya dan memberikan hak asuh anak itu sepenuhnya pada Reno.

Yang kelima, Deana bisa sepuasnya bersenang-senang dengan harta yang dimiliki oleh Reno, melalukan kegiatan apapun di rumah asal tidak merugikan dan menurut pada kedua orang tua Reno.

Setelah menandatangani, Reno mengambil map itu dengan paksa, "Baguslah."

Deana menatap Reno dengan tatapan yang memohon, "Saya mohon, jangan sampai keluargaku tahu tentang semuanya. Kalau sudah bercerai, saya akan pergi dari hidup Tuan serta hidup keluargaku sendiri." ucap Deana menunduk. Satu tahun sangatlah singkat, pasti Ibu dan Adiknya akan merasakan sakit jika tahu kehidupannya serumit ini.

"Ya, itu urusanmu." Reno mengangguk.

Reno mengambil selembar cek lima puluh juta di dalam dompet kecilnya itu dan menaruhnya di depan Deana, "Bisa ambil dan gunakan untuk keperluan pernikahan. Pernikahan diadakan di halaman rumahku saja dan semuanya sudah Jordi yang mengatur."

Deana mengangguk, ia mengambil kertas cek itu dan menaruhnya di dalam tasnya.

Flashback off....

***

Lena sudah bersih dan rapi, ia sedang menunggu kedatangan Mommy cantiknya yang masih membersihkan diri itu.

Wajah Deana lebih segar dengan polesan makeup tipisnya. Ia menghampiri Lena, "Lena menunggu, Mommy?" Deana tersenyum manis, Lena terlihat lucu dengan kunciran dua yang ada di kiri dan kanannya.

"Itu sudah tahu ditunggu cucuku, berdandan lama sekali. Buruk rupa tetap buruk rupa. Sakit seperti apa, sehat begitu sakit." cerocos Nyonya Ellen sambil mendesis pelan. Telinganya tajam, mendengar apa yang diobrolkan oleh Deana dan cucunya.

"Mom, cukup." ujar Tuan Samuel, "Ada Lena." sambungnya menatap datar.

Deana terdiam, ia termenung sejenak memikirkan perkataan Nyonya Ellen, tapi ia tidak menanggapinya dan menganggapnya sebagai angin lalu saja.

"Mommy, aku mau makan sarapannya nasi goreng buatan Mommy." Lena menarik tangan Deana.

"Okey, Mommy langsung eksekusi sekarang. Lena mau ada tambahan topping apa?" Deana mengelus pipi Lena lembut.

"Len mau sosis dan ayam."

Deana terkekeh, ia tersenyum, "Baiklah, sebentar Mommy buatkan ya."

"Len mau ikut!" Lena berdiri dari duduknya dan meraih tangan Deana untuk digenggamnya.

"Jangan terlalu lama, Lena ingin pergi dengan kami." ujar Nyonya Ellen pada Deana.

Deana berhenti sebentar lalu menatap ke arah Nyonya Ellen, "Baik Nyonya." balasnya.

1
Milla
next min
Ditaa: soon ya kakak 🙏🏻🥰
total 1 replies
Ahmad Sutrisno
bukan mau menjatuhkan atau membuat mental author nya down,,, cerita kayak gini sudah banyak,, jadi tolong bikin konflik yg berbeda aja,, terus pemeran utama wanita nya jgn di buat bodoh gini kayak si dea,, kebanyakan para pembaca juga males bacanya, kalo dari karakter pemeran nya bgini,, pelan2 coba di ubah karakter nya si dea ini,,, tetep semangat berkarya 💪💪💪🙏🙏🙏👍👍👍👍
🇧🇬
tau hamil kabur aja nanti ya..
Herlina Susanty
lanjut thor smgt 😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!