Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.
Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.
Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.
Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Strategi Pagi Sang Pemangsa
Malam tadi adalah siksaan paling manis bagi Damian Nicholas. Bayangan tubuh mulus Selene di bawah cahaya jingga terus menghantui mimpinya, membuatnya terbangun saat fajar bahkan belum menyingsing sepenuhnya. Alih-alih merasa lelah, adrenalin dan obsesi justru memompa energinya berkali-kali lipat.
Setelah mandi dengan air dingin yang menggigit untuk menenangkan gejolak di bawah sana, Damian melangkah ke dapur dengan langkah ringan. Ia mengenakan kemeja bersih yang lengannya digulung rapi, memperlihatkan otot lengan yang kokoh. Kali ini, dia tidak ingin menjadi asisten yang ceroboh; dia ingin menjadi pria yang tak tertandingi.
Saat Selene keluar dari kamarnya dengan mata yang masih sedikit mengantuk dan rambut yang diikat asal, ia tertegun di ambang pintu dapur. Bau harum kopi yang baru diseduh dan aroma mentega yang gurih memenuhi ruangan.
Di sana, Damian sedang berdiri membelakangi pintu, dengan lihai membalik pancake di atas wajan. Meja makan sudah tertata rapi dengan piring-piring bersih dan buah-buahan yang sudah dipotong cantik.
"Selamat pagi, Bos," sapa Damian tanpa menoleh, suaranya terdengar berat dan sangat jantan di keheningan pagi.
Selene mengerjap, mengucek matanya sejenak. "Damian? Ini jam berapa? Kenapa kau sudah... melakukan semua ini?"
Damian berbalik, memberikan senyum tipis yang mematikan. Matanya menatap Selene dengan intensitas yang berbeda dari kemarin—lebih dalam, lebih lapar, namun tersamarkan oleh keramahan yang dibuat-buat.
"Aku terbangun lebih awal. Dan karena kau bilang aku asisten yang manja, aku memutuskan untuk membuktikan bahwa aku bisa lebih dari sekadar asisten," ucap Damian sambil melangkah mendekati Selene, membawa secangkir kopi hangat.
Ia berhenti tepat di depan Selene, jarak yang cukup dekat hingga Selene bisa mencium aroma sabun maskulin yang segar dari tubuh Damian.
"Kopi?" tawar Damian.
Selene menerima cangkir itu dengan tangan sedikit gemetar. "Terima kasih. Kau... kau sungguh menyiapkan semua ini sendiri?"
"Tentu saja. Untukmu, dan untuk anak-anak," bohong Damian sedikit, karena sebenarnya fokus utamanya hanyalah membuat Selene terkesan. "Bagaimana tidurmu semalam? Apakah bantalmu cukup empuk?"
Selene menyesap kopinya, sedikit menghindari tatapan Damian. "Cukup empuk."
"Apa rencanamu hari ini?" tanya Damian sambil meletakkan piring berisi pancake terakhir ke atas meja. Ia berusaha menjaga nada suaranya tetap kasual, meski matanya menatap Selene dengan intensitas yang tak bisa disembunyikan.
Selene mendongak dari cangkir kopinya, sedikit terkejut dengan perhatian Damian yang begitu pagi. "Aku akan pulang, Damian. Ayahku terus-menerus mengirim pesan sejak subuh tadi, memintaku untuk pulang."
Damian terhenti sejenak. Ada denyut kemarahan kecil di dadanya saat mendengar Selene harus pergi, meskipun itu ke rumah orang tuanya sendiri. Ia merasa seolah miliknya sedang ditarik paksa dari genggamannya.
"Pulang?" Damian mengulang kata itu, suaranya terdengar sedikit lebih berat. "Apakah itu mendesak? Bukankah kau bilang kau lebih senang berada di sini bersama anak-anak?"
Selene menghela napas, menyandarkan punggungnya ke kursi kayu. "Iya, tapi kau tahu kan bagaimana orang tua. Ayah bilang ada hal penting yang ingin dibicarakan. Mungkin soal urusan keluarga atau bisnisnya yang membosankan itu. Aku tidak enak kalau menolak terus, dia merindukanku."
Damian mencondongkan tubuhnya ke meja, memperkecil jarak di antara mereka hingga Selene bisa melihat pantulan dirinya di mata gelap pria itu.
"Berapa lama kau akan di sana?" tanya Damian lagi. Kali ini ia tidak bisa menyembunyikan nada posesifnya. "Sehari? Seminggu? Atau kau berencana meninggalkan panti—dan aku—begitu saja?"
Selene tertawa kecil, menganggap kecemasan Damian sebagai lelucon. "Hanya satu atau dua malam, Damian. Kenapa wajahmu kaku begitu? Kau takut akan merindukanku, ya?"
"Aku tidak suka jika kau berada di tempat yang tidak bisa aku jangkau, Selene," jawab Damian jujur, suaranya rendah dan serak, membuat bulu kuduk Selene meremang. "Siapa yang menjamin kau tidak akan dijodohkan dengan pria lain saat kau pulang nanti?"
Selene menjentikkan jarinya di depan wajah Damian agar pria itu sadar. "Jangan dramatis! Aku hanya pulang ke rumah orang tuaku. Tidak ada acara perjodohan atau apa pun."
Damian terdiam sejenak, otaknya bekerja cepat mencari cara agar ia tetap bisa mengawasi gadis itu. "Aku akan mengantarmu. Tidak ada bantahan."
"Damian, rumahku jauh dan kau tidak punya kendaraan yang—"
"Aku akan mencari caranya," potong Damian tegas. "Seorang asisten tidak akan membiarkan bosnya pulang sendirian. Aku akan memastikan kau sampai ke depan gerbang rumahmu dengan selamat."
"Tidak usah, Damian! Jangan mulai lagi," tolak Selene dengan nada tegas sambil meletakkan cangkir kopinya. "Lagipula, rumahku cukup jauh dan aku lebih nyaman naik transportasi umum. Kau tetap di sini saja, bantu Ibu Panti mengurus anak-anak selagi aku tidak ada."
Damian menatap Selene cukup lama, rahangnya mengeras sesaat. Sisi dominannya memberontak, ingin sekali ia memaksakan kehendaknya.
Namun, melihat sorot mata Selene yang tidak bisa diganggu gugat, Damian akhirnya menghela napas panjang. Ia sadar, jika ia terlalu menekan sekarang, Selene mungkin akan semakin menjauh.