Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Pintu rumah baru saja terbuka sedikit ketika sebuah tangan kasar tiba-tiba menjambak rambut Lintang dengan beringas.
Lintang terpekik kesakitan, matanya membelalak saat melihat sosok Dery, mantan suaminya, berdiri dengan wajah penuh amarah dan bau alkohol yang menyengat.
"Mana uangmu?! Berikan kepadaku sekarang juga!" teriak Dery sambil terus menarik rambut Lintang hingga kepala wanita itu mendongak paksa.
"Jangan, Mas! Lepaskan! Ini uang hasil kerjaku sendiri, dan kamu sudah bukan siapa-siapa aku lagi! Kita sudah cerai, Dery!" Lintang mencoba melawan, mendekap tas selempangnya erat-erat, teringat amplop tebal pemberian Jati yang ada di dalamnya.
"Sialan! Berani kamu melawan?!"
Bugh!
Sebuah pukulan keras mendarat di pipi Lintang, disusul tendangan yang mengenai perutnya.
Dery seperti kesetanan, ia menghajar Lintang habis-habisan tanpa ampun.
Lintang hanya bisa meringkuk, mencoba melindungi kepalanya sambil terisak menahan sakit yang luar biasa. Baginya, luka fisik ini terasa jauh lebih perih karena dilakukan oleh pria yang dulu pernah berjanji melindunginya.
"Tolong! Tolong!" teriak Lintang dengan suara yang semakin melemah.
Suara keributan dan teriakan Lintang akhirnya memecah kesunyian gang sempit itu.
Para tetangga yang mendengar suara benda jatuh dan jeritan segera berhamburan keluar rumah.
"Heh! Apa-apaan ini?! Berhenti!" teriak salah seorang warga.
Dery yang melihat massa mulai berkumpul langsung panik.
Ia merampas paksa tas Lintang, namun karena warga semakin dekat, ia akhirnya melepaskannya dan lari tunggang langgang menembus kegelapan gang.
Lintang tergeletak tak berdaya di depan pintu rumahnya sendiri.
Wajahnya lebam, sudut bibirnya pecah mengeluarkan darah, dan kesadarannya mulai berkunang-kunang.
Di tengah rasa sakit yang mendera, bayangan Jati tiba-tiba melintas di pikirannya.
Ia baru saja merasakan sedikit kebahagiaan, namun kini kenyataan pahit kembali menghantamnya.
"Mbak Lintang! Ya Allah, Mbak!" teriak para tetangga sambil mengerumuninya.
Malam yang tenang di gang sempit itu berubah menjadi mencekam.
Warga berkerumun mengelilingi tubuh Lintang yang lunglai di atas tanah.
Salah seorang ibu tetangga dengan tangan gemetar mengambil ponsel Lintang yang tergeletak tak jauh dari sana.
Layarnya masih menyala, menampilkan daftar panggilan terakhir.
"Ini ada nama 'Mas Jati', sepertinya baru saja teleponan. Saya coba hubungi ya!" ucap warga tersebut dengan panik.
Sementara itu, Jati baru saja melangkah masuk ke dalam apartemennya.
Ia baru saja meletakkan kunci mobil dan hendak menuju kamar mandi ketika ponselnya bergetar hebat. Nama Lintang tertera di layar.
Jati tersenyum tipis, mengira Lintang mungkin ingin mengatakan sesuatu tentang percakapan mereka tadi.
"Halo, Lintang? Ada yang tertinggal?" tanya Jati dengan nada lembut.
"Halo? Pak! Ini bukan Mbak Lintang! Pak, tolong segera ke sini! Mbak Lintang dihajar mantan suaminya, kondisinya parah, Pak! Tergeletak di depan rumah!" suara asing di seberang telepon berteriak dengan latar belakang suara riuh warga.
Deg!
Jantung Jati seolah berhenti berdetak. Senyum di wajahnya hilang seketika, digantikan oleh gurat kemarahan yang amat sangat.
Darahnya mendidih. Tanpa membalas sepatah kata pun, ia menyambar kunci mobilnya dan berlari keluar apartemen secepat kilat.
"Berani-beraninya dia menyentuh Lintang!" geram Jati di balik kemudi.
Ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan malam yang masih basah.
Bayangan wajah lembut Lintang yang kini mungkin bersimbah darah membuat dadanya sesak.
Jati yang biasanya tenang dan terkendali, kini berubah menjadi sosok yang siap menghancurkan siapa pun yang berani melukai wanita yang telah menyembuhkan jiwanya.
Sesampainya di depan gang rumah Lintang, Jati mengerem mobilnya dengan kasar.
Ia melompat keluar dan berlari menembus kerumunan warga.
"Minggir! Beri jalan!" teriak Jati dengan suara menggelegar.
Warga tersentak melihat pria berpenampilan mewah namun dengan wajah penuh amarah itu datang.
Mata Jati langsung tertuju pada sosok wanita yang meringkuk di teras rumah.
Lintang, dengan wajah lebam dan sudut bibir berdarah, tampak setengah sadar.
"Lintang!" Jati berlutut di sampingnya, suaranya bergetar hebat.
Ia mengangkat kepala Lintang dengan sangat hati-hati ke pangkuannya.
"Lintang, ini aku. Aku di sini."
Lintang membuka matanya sedikit, menatap wajah Jati yang tampak buram.
"Ma... Mas Jati..." bisiknya lirih sebelum matanya kembali terpejam karena menahan sakit.
Jati menatap para warga dengan sorot mata yang tajam dan dingin.
"Siapa pelakunya? Ke mana dia lari?!"
"Tadi lari ke arah sana, Pak! Namanya Dery, mantan suaminya," jawab salah satu pemuda setempat.
Jati mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Ia menggendong tubuh mungil Lintang dengan posesif, seolah tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhnya lagi.
"Siapkan mobil!" perintah Jati pada pengawalnya yang baru saja tiba menyusul.
"Kita ke rumah sakit sekarang. Dan cari bajingan bernama Dery itu. Jangan biarkan dia melihat matahari terbit besok dalam keadaan bebas!"
Malam itu, lobi rumah sakit yang biasanya tenang mendadak tegang saat Jati melangkah masuk dengan langkah lebar, menggendong tubuh Lintang yang lunglai di dekapannya.
Wajah Jati tampak pucat namun rahangnya mengeras, menahan amarah yang meledak-ledak di dalam dada.
"Suster! Tolong!" teriak Jati dengan suara menggelegar
Ia tidak mempedulikan tatapan orang-orang di sekitar.
Petugas medis segera datang membawa brankar. Jati meletakkan Lintang dengan sangat hati-hati, seolah wanita itu adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja.
Matanya tak lepas dari wajah lebam Lintang yang terpejam rapat.
"Pastikan dia mendapatkan perawatan terbaik. Pindahkan ke kamar VVIP paling tenang setelah ini. Saya tidak mau ada prosedur yang terhambat karena biaya. Lakukan semuanya!" perintah Jati kepada dokter jaga dengan nada yang tidak menerima bantahan.
Setelah Lintang dibawa masuk ke ruang tindakan, Jati terduduk di kursi tunggu.
Ia menatap kedua telapak tangannya yang masih ternoda sedikit darah Lintang. Napasnya memburu.
Ia merogoh ponselnya dan menghubungi kepala pengawalnya.
"Dapatkan bajingan bernama Dery itu. Sekarang," desis Jati, suaranya dingin dan tajam seperti sembilu.
"Jangan biarkan dia lolos. Seret dia ke hadapanku atau langsung serahkan ke pihak berwajib setelah kalian memberinya 'pelajaran' yang setimpal. Aku ingin dia membusuk di penjara!"
"Siap, Pak Jati. Kami sudah melacak keberadaannya di terminal bus pinggiran kota," jawab suara di seberang sana.
Dua jam berlalu. Jati masih setia menunggu di depan pintu kamar perawatan.
Ia menolak untuk pulang atau sekadar duduk tenang di sofa.
Pikirannya terus melayang pada kata-kata Lintang tadi sore tentang pengkhianatan suaminya.
Ternyata, luka Lintang jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan.
Pintu terbuka. Dokter keluar dengan wajah yang sedikit lebih tenang.
"Kondisi Mbak Lintang sudah stabil, Pak. Ada memar di perut dan luka robek di bibir, tapi untungnya tidak ada pendarahan dalam yang serius. Beliau hanya syok berat."
Jati mengembuskan napas lega yang sangat panjang, seolah beban berton-ton baru saja diangkat dari bahunya.
Ia melangkah masuk ke dalam kamar VVIP yang luas dan sunyi.
Di sana, Lintang terbaring lemah dengan perban di sudut bibirnya.
Jati duduk di kursi samping tempat tidur, meraih tangan Lintang yang terasa dingin, lalu mengecupnya lama.
"Maafkan aku, Lintang. Seandainya aku tidak meninggalkanmu sendirian tadi," bisik Jati parau. Matanya berkaca-kaca.
"Mulai detik ini, tidak akan ada satu tangan pun yang boleh menyentuhmu dengan kasar. Aku bersumpah."
Tiba-tiba, jemari Lintang bergerak sedikit. Matanya perlahan terbuka, menatap langit-langit putih sebelum akhirnya beralih ke wajah Jati yang tampak kuyu.
"Mas Jati..." suaranya sangat lirih, hampir tak terdengar.
Jati mendekatkan wajahnya, mengusap dahi Lintang dengan lembut.
"Iya, aku di sini. Kamu aman sekarang, Lintang. Bajingan itu tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi."
Lintang meneteskan air mata. Rasa sakit di tubuhnya seolah memudar saat melihat kehadiran Jati yang begitu tulus menjaganya.
Ia teringat pertanyaan Jati sore tadi tentang pernikahan.
Di tengah kerapuhannya, Lintang menyadari bahwa pria di depannya ini adalah satu-satunya tempat ia bisa bersandar.
"Mas..." Lintang menjeda, mencoba mengumpulkan sisa tenaganya.
"Soal pertanyaan Mas tadi, jawabannya adalah iya. Saya mau, Mas. Saya mau menjadi istri Mas Jati."
Jati terdiam sejenak, namun genggamannya pada tangan Lintang semakin erat.
Ia mencium punggung tangan wanita itu sekali lagi, lama dan penuh takzim, seolah sedang menyalurkan seluruh kekuatan yang ia miliki ke tubuh Lintang yang masih lemah.
"Setelah kamu sembuh, kita akan segera menikah. Aku tidak mau terapis pribadi dan calon istriku jatuh sakit lagi karena orang jahat," ucap Jati dengan nada protektif yang sangat kental.
Lintang menatap wajah Jati yang tampak begitu serius di bawah temaram lampu kamar VVIP.
Air matanya kembali menggenang di sudut matanya.
"Mas, yakin mau menikah denganku? Benar-benar yakin?"
Suara Lintang bergetar, ada keraguan yang terselip di sana.
"Mas bukan menikahiku hanya karena aku terapis yang bisa menyembuhkan Mas, kan? Mas bukan melakukannya karena rasa kasihan melihatku dihajar seperti tadi?"
Jati menghela napas panjang, lalu ia bangkit sedikit dari kursinya agar wajahnya sejajar dengan Lintang.
Ia menatap dalam ke netra wanita itu, memastikan tidak ada setitik pun kebohongan di sana.
"Lintang, dengarkan aku," bisik Jati lembut namun bertenaga.
"Memang benar, tanganmu menyembuhkan sarafku yang mati. Tapi keberadaanmu, ketulusanmu, dan caramu menghargaiku sebagai lelaki, itu yang menyembuhkan jiwaku. Aku tidak menikahimu karena kasihan. Aku menikahimu karena aku butuh kamu di sisiku, bukan hanya sebagai penyembuh, tapi sebagai rumah."
Jati mengusap rambut Lintang dengan sangat hati-hati.
"Mila punya segalanya, tapi dia menghancurkanku. Kamu tidak punya apa-apa, tapi kamu membangunku kembali. Jadi, jangan pernah tanya lagi apakah aku yakin. Aku sudah sangat yakin sejak kamu mencium punggung tanganku sore itu."
Lintang terisak pelan, namun kali ini bukan karena sakit, melainkan karena rasa syukur yang meluap.
Ia merasa seolah badai besar dalam hidupnya baru saja berlalu, digantikan oleh pelangi yang dibawa oleh pria di hadapannya ini.
"Terima kasih, Mas. Terima kasih sudah memilihku," ucap Lintang lirih.
Jati tersenyum tipis, lalu mengecup dahi Lintang dengan penuh kasih sayang.
"Sekarang, tugasmu hanya satu yaitu istirahat dan sembuh. Biarkan aku yang mengurus sisanya, termasuk memberikan pelajaran pada mantan suamimu itu." ucap Jati.