Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.
Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.
Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.
“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”
Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Ajakan
Samudra turun ke lantai bawah untuk sarapan sebelum berangkat kerja.
Begitu kakinya menginjak anak tangga terakhir, pandangannya langsung tertuju pada meja makan.
Di sana sudah ada Binar yang duduk manis di kursinya, sedang makan semangkuk sereal yang dicampur susu.
Samudra mengerutkan kening sedikit.
“Ini hal wajar atau nggak wajar ya… jam segini anak aku sudah makan?” gumamnya pelan.
Padahal masih cukup pagi.
Namun Binar terlihat makan dengan santai, sesekali mengayunkan kakinya di kursi.
Dari arah dapur, Samudra bisa melihat Samira masih sibuk menyiapkan sesuatu. Sepertinya sarapan mereka belum benar-benar selesai dimasak.
Tapi Binar sudah makan lebih dulu.
Samudra mendekat ke meja makan.
“Wah wah… putri Papa yang cantik ini sudah makan duluan nih,” godanya sambil menepuk lembut kepala anaknya. “Nggak makan sama Mama sama Papa?”
Samudra lalu mencium puncak kepala Binar.
“Bibi udah laper, Papa,” jawab Binar dengan mulut yang masih penuh sereal.
Samudra tertawa kecil.
Setelah dipikir-pikir, sebenarnya wajar saja. Anak kecil memang sering tiba-tiba merasa lapar, apalagi kalau bangun pagi.
Ia menarik kursi di samping Binar lalu duduk sebentar.
“Papa mau dong,” ucapnya pura-pura menggoda.
Binar yang memang sangat menyayangi papanya langsung menyodorkan mangkuk serealnya tanpa ragu.
“Ini Papa makan.”
Samudra sempat tertegun.
Anak kecil itu benar-benar tulus.
Samudra tidak bisa menahan senyum di wajahnya.
“Eh eh… nggak usah, nggak usah,” katanya cepat sambil mendorong kembali mangkuk itu. “Papa bercanda kok. Papa belum lapar.”
Ia awalnya hanya ingin menggoda anaknya, tapi ternyata Binar malah benar-benar berniat berbagi.
Melihat itu, Samudra justru merasa hangat di dalam hati.
“Anak Papa baik banget sih,” gumamnya sambil mengacak rambut Binar pelan.
Tak lama kemudian Samira keluar dari dapur untuk mengecek keadaan Binar.
Ia sedikit terkejut melihat Samudra sudah duduk di meja makan.
“Mas sudah turun?”
“Iya.”
“Aku kira Mas masih di atas.”
Samudra hanya mengangguk singkat.
Binar yang sudah hampir menghabiskan serealnya tiba-tiba berseru,
“Ma! Papa tadi mau makan sereal Bibi!”
Samudra langsung melirik anaknya.
“Eh… Papa cuma bercanda tadi.”
Samira tersenyum kecil mendengarnya.
“Bibi pasti langsung kasih ya?”
Binar mengangguk bangga.
“Iya! Bibi mau bagi sama Papa.”
Samira menatap anaknya dengan lembut.
“Anak Mama baik sekali.”
Lalu tanpa sadar pandangan Samira beralih sebentar ke Samudra.
Pria itu juga sedang menatap Binar.
Ada sesuatu yang berbeda di wajah Samudra pagi itu.
Lebih hangat.
Lebih… cerah.
Namun Samudra segera mengalihkan pandangannya.
@@@
“Mas, masakannya sudah matang. Mau sarapan sekarang atau nanti saja?” tanya Samira kepada Samudra.
“Sekarang,” jawab Samudra singkat.
Sarapan pagi ini sebenarnya cukup sederhana bagi Samira. Tidak ada menu yang rumit, hanya makanan yang mudah dibuat namun tetap bergizi.
“Iya, Mas. Aku siapin dulu ya,” ujar Samira sambil mengambil piring.
Ia kemudian berhenti sejenak dan menoleh lagi.
“Oh iya, Mas. Mau sekalian dibikinin kopi atau mau susu saja?” tanyanya.
Sebagai seorang istri, Samudra harus mengakui satu hal Samira memang hampir sempurna dalam mengurus rumah tangga.
Wanita itu selalu cekatan dalam melakukan apa pun. Setiap pekerjaan rumah dikerjakannya dengan telaten dan rapi. Selama ini Samira juga tidak pernah lalai memperhatikan kebutuhan dirinya maupun Binar.
Terutama urusan makanan.
Samira selalu memastikan apa yang mereka makan cukup dan seimbang gizinya. Bahkan untuk menu sederhana pun, ia tetap memikirkan yang terbaik bagi keluarganya.
“Kopi saja. Seperti biasa,” jawab Samudra.
Samira menganggukkan kepalanya pelan.
“Iya, Mas.”
@@@
Setelah selesai sarapan, Samudra berjalan ke ruang tamu untuk berpamitan sebelum berangkat kerja.
Binar masih duduk di karpet ruang tamu sambil memainkan bonekanya.
Samudra mendekat lalu berjongkok di depan anaknya.
“Bibi, Papa kerja dulu ya,” ucapnya lembut. “Bibi di rumah sama Mama yang baik, nanti di sekolah juga yang hebat, oke?”
“Siap, Papah!” jawab Binar dengan ceria.
Anak kecil itu langsung mengulurkan tangannya ingin salim.
Samudra tersenyum lalu mencium tangan kecil putrinya itu.
“Pintar anak Papa.”
Samira yang melihat Samudra sedang berpamitan segera menghampiri mereka. Sebagai seorang istri, ia merasa sudah seharusnya ikut mengantar suaminya sebelum berangkat kerja.
“Mau berangkat ya, Mas?” tanya Samira pelan.
“Iya,” jawab Samudra singkat.
Samira mengangguk.
“Kalau begitu hati-hati di jalan ya, Mas.”
“Iya.”
Samudra sempat terdiam sejenak seolah mengingat sesuatu.
“Oh ya,” katanya kemudian. “Nanti malam kamu nggak usah masak.”
Samira sedikit mengernyit.
“Kenapa, Mas?”
“Nanti kita makan di luar. Hari ini aku pulang cepat.”
“Makan di luar?” ulang Samira sedikit ragu.
“Iya. Jadi kamu tinggal siapin diri saja sama Bibi. Nanti pulang kerja aku langsung jemput kalian di rumah.”
Samira terdiam sesaat.
Ia bahkan tidak yakin apakah ia salah dengar atau tidak.
Suaminya… mengajak makan di luar?
Wajar jika Samira merasa sedikit terkejut. Hal seperti itu hampir tidak pernah terjadi.
Terakhir kali mereka makan di luar bersama adalah saat Samudra menemani dirinya dan Binar membeli kebutuhan rumah tangga di pusat perbelanjaan.
Itu pun bukan benar-benar makan malam keluarga, hanya sekadar makan cepat sebelum pulang.
Namun kali ini berbeda.
Samudra sendiri yang mengajaknya.
“Iya, Mas,” jawab Samira akhirnya pelan.
Samudra mengangguk lalu mengambil tas kerjanya.
“Ya sudah, aku berangkat dulu.”
Ia sempat menepuk kepala Binar sekali lagi sebelum berjalan menuju pintu.
“Bye Papa!” seru Binar sambil melambaikan tangan kecilnya.
Samudra membalas lambaian itu lalu keluar dari rumah.
Suara mobilnya tak lama kemudian terdengar menjauh.
Di ruang tamu, Samira masih berdiri memandang pintu yang sudah tertutup.
“Ma…” panggil Binar tiba-tiba.
Samira menoleh.
“Iya, sayang?”
“Papa ajak jalan-jalan?”
Samira tersenyum kecil.
“Iya.”
Binar langsung melompat kegirangan.
“Bibi mau pakai baju princess!”
Samira tertawa pelan melihat tingkah anaknya.
Namun di balik senyumnya, ada perasaan aneh di dalam hatinya.
Bukan hanya senang.
Tapi juga… bingung.
Kenapa tiba-tiba Mas berubah seperti ini?
Apa karena ucapan Mama kemarin?
Samira menggeleng pelan mencoba menepis pikirannya sendiri.
Ia tidak ingin terlalu berharap.
Karena semakin tinggi harapan yang ia bangun semakin sakit rasanya jika semua itu hanya sementara.
Di tempat lain, di dalam mobilnya—
Samudra yang sedang menyetir juga terdiam cukup lama.
Tangannya menggenggam kemudi lebih erat.
Entah kenapa pagi tadi ia tiba-tiba mengatakan hal itu.
Mengajak Samira dan Binar makan di luar.
Padahal sebelumnya ia bahkan tidak pernah terpikir untuk melakukannya.
Samudra menghela napas panjang.
“Mungkin… sekali-sekali nggak apa-apa.”
gumamnya pelan.
Namun jauh di dalam hatinya—
ia tahu alasan sebenarnya.
Ada perasaan aneh yang membuatnya ingin menghabiskan waktu bersama mereka… sedikit lebih lama.
@@@
Hai Semuanya!
Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!
Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.
Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!
Terima Kasih!