NovelToon NovelToon
Will You Marry Me

Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang muda mudi yang lama berteman dan memulai dengan saling ada ikatan cinta Siska namanya paras cantik dan menawan mendapatkan masalah dari keluarganya dia adalah seorang tepandang namun ia harus menikah untuk mewarisi perusahaan keluarganya bertemulah Andi dan menjalin asmara dengan berbagai masalah namun di ujung mereka resmi menjalani pernikahan dengan bahagia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 7

"Aku tidak menyangka kamu akan seobjektif itu padanya," Andi berujar setelah pintu ruang rapat benar-benar tertutup. Ia merapikan beberapa berkas, lalu menatap Siska yang masih berdiri tenang di depan jendela. "Kupikir luka lama itu masih akan membuatmu sedikit skeptis."

Siska membalikkan badan, menyandarkan punggungnya pada bingkai jendela yang kokoh. "Skeptis itu perlu dalam bisnis, Ndi. Tapi menyimpan dendam hanya akan menghabiskan energi yang seharusnya bisa kupakai untuk memajukan perusahaan. Mahesa yang tadi bukan lagi pria sombong yang mengandalkan warisan ayahnya. Aku melihat rasa lapar yang sama seperti yang kita miliki dulu."

Andi berjalan mendekat, menggenggam tangan Siska yang terasa dingin. "Kalimantan itu keras. Kamu yakin dia bisa bertahan? Lokasi yang kamu pilih adalah titik di mana jembatan pertama kita hampir gagal karena masalah suplai."

"Justru itu intinya," jawab Siska mantap. "Kalau sistem AI miliknya bisa menyelesaikan masalah di sana, berarti dia memang punya masa depan. Kalau tidak, setidaknya dia belajar bahwa dunia nyata tidak semudah presentasi di ruang ber-AC."

Andi terkekeh, mencium punggung tangan Siska. "Tegas seperti biasa. Kadang aku lupa bahwa di balik senyum manis ini, ada insting pemangsa yang sangat tajam."

"Aku belajar dari yang terbaik," goda Siska sambil mengerling ke arah foto Pak Gunawan yang tergantung di dinding jauh. "Tapi bedanya, aku punya kamu yang selalu mengingatkanku untuk tetap membumi."

Telepon di atas meja berdering, memutus momen intim mereka. Siska melihat layarnya—panggilan dari pengasuh Arlan. Wajahnya seketika berubah dari CEO yang tangguh menjadi seorang ibu yang penuh kekhawatiran.

"Ada apa, Bi?" tanya Siska cepat setelah mengangkat telepon.

Andi ikut menegang, memperhatikan ekspresi istrinya. Setelah beberapa saat, bahu Siska tampak rileks dan ia mengembuskan napas panjang.

"Oh... begitu ya. Baiklah, berikan saja apa yang dia mau. Kami akan pulang lebih awal sore ini," Siska menutup telepon dengan senyum geli di bibirnya.

"Ada apa? Arlan sakit?" tanya Andi cemas.

"Tidak. Dia hanya menangis histeris karena pesawat kayu yang kamu buatkan tadi pagi patah saat dia mencoba menerbangkannya dari atas sofa. Dia menuntut 'insinyur kepalanya' untuk segera memperbaikinya sekarang juga."

Andi tertawa lepas, rasa tegang yang sempat menyelimutinya menguap seketika. "Sepertinya jabatan 'insinyur kepala' di rumah jauh lebih berat daripada jabatan di kantor ini."

Siska mengambil tasnya, lalu merangkul lengan Andi. "Ayo. Rapat penting sudah selesai, kontrak sudah diberikan, dan sekarang ada klien kecil di rumah yang butuh perhatian mendesak. Perusahaan bisa berjalan sendiri tanpa kita selama beberapa jam."

Saat mereka melangkah keluar dari ruangan itu, Siska merasa dunianya sudah lengkap. Ia memiliki perusahaan yang ia pimpin dengan integritas, rekan kerja yang ia cintai sepenuhnya, dan seorang putra yang akan tumbuh besar melihat bahwa keberhasilan sejati adalah saat kita bisa pulang ke rumah dengan hati yang tenang.

Di lobi, mereka berpapasan lagi dengan Mahesa yang tampak sedang menelepon seseorang dengan penuh semangat. Ia mengangguk hormat pada mereka berdua. Siska membalasnya dengan anggukan kecil yang elegan—sebuah tanda bahwa masa lalu telah benar-benar terkubur, dan masa depan adalah milik siapa saja yang berani memperjuangkannya.

"Siap untuk memperbaiki pesawat tempur Arlan?" tanya Siska saat mereka memasuki lift.

"Siap, Bos. Aku akan pastikan kali ini sayapnya lebih aerodinamis," jawab Andi mantap.

Pintu lift tertutup, menyisakan keheningan yang nyaman bagi pasangan yang telah memenangkan pertempuran mereka sendiri tersebut.

Sore itu, ruang tengah keluarga Gunawan berubah menjadi bengkel dadakan. Andi duduk bersila di atas karpet bulu, dikelilingi oleh lem kayu, amplas halus, dan potongan kayu pinus. Di depannya, Arlan memperhatikan setiap gerak-gerik ayahnya dengan mata bulat yang penuh antisipasi.

"Lihat ini, Lan," Andi mengangkat badan pesawat yang sudah disambung kembali. "Sayapnya patah karena sudut pendaratannya terlalu tajam. Kita butuh struktur yang lebih kuat di bagian tumpuan bawah."

Siska memperhatikan mereka dari meja makan sambil menyesap teh melati. Pemandangan itu selalu berhasil meluluhkan sisa-sisa ketegangan rapat direksi tadi pagi. "Jangan terlalu teknis, Ndi. Dia masih dua tahun, bukan mahasiswa teknik tingkat akhir."

Andi tertawa tanpa menoleh. "Justru itu, Sis. Pendidikan dasar dimulai dari kegagalan sebuah mainan. Dia harus tahu kalau segala sesuatu yang rusak bisa diperbaiki kalau kita tahu di mana letak kesalahannya."

Arlan memegang sayap pesawat yang baru saja dihaluskan. "Bisa terbang lagi, Ayah?"

"Tentu saja. Tapi kali ini, kita harus menerbangkannya di taman, bukan dari atas sofa. Anginnya lebih bersahabat di luar," Andi berdiri, menggendong Arlan di satu tangan dan pesawat kayunya di tangan lain. "Ikut, Bunda?"

Siska tersenyum, meletakkan cangkirnya, lalu bangkit berdiri. "Mana mungkin aku melewatkan uji terbang perdana ini."

Di taman belakang, cahaya matahari yang mulai keemasan menyapu rumput hijau. Andi melepaskan Arlan, membiarkan anak kecil itu berlari lebih dulu. Siska berjalan di samping Andi, melingkarkan lengannya di pinggang suaminya.

"Tadi di kantor, aku sempat berpikir," Siska memulai pembicaraan dengan suara rendah. "Tentang apa yang Mahesa katakan. Soal membangun sesuatu tanpa bantuan nama besar keluarga. Itu sebenarnya sangat berisiko, kan?"

Andi mengangguk perlahan. "Sangat. Tapi itu satu-satunya cara untuk tahu siapa dirimu sebenarnya saat semua atribut itu dilepas. Sama seperti aku dulu saat nekat melamarmu di depan Pak Gunawan tanpa punya apa-apa selain rencana pembangunan jembatan itu."

Siska terkekeh, menyandarkan kepalanya di bahu Andi. "Kamu punya lebih dari itu, Ndi. Kamu punya keberanian yang membuat Ayah sadar bahwa uang tidak bisa membeli loyalitas."

Tiba-tiba, suara tawa Arlan pecah saat pesawat kayunya berhasil meluncur stabil di udara sebelum mendarat lembut di atas rumput. Anak itu berteriak kegirangan, menjemput mainannya dan kembali berlari ke arah mereka.

"Berhasil, Ayah! Berhasil!"

Andi berjongkok, menyambut putranya dengan pelukan hangat. "Hebat. Itu namanya sukses, Lan. Bukan karena pesawatnya mahal, tapi karena kita tidak menyerah saat dia patah."

Siska berdiri di dekat mereka, menatap kedua lelaki yang paling dicintainya itu. Di balik gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang mulai menyalakan lampu-lampunya, ia merasa dunianya sudah cukup. Perusahaan mungkin memberinya kekuasaan, namun momen-momen kecil di bawah langit jingga inilah yang memberinya alasan untuk terus berjuang.

"Besok akhir pekan," Siska berujar pelan. "Bagaimana kalau kita tidak bicara soal kantor sama sekali? Hanya kita bertiga, tanpa ponsel, tanpa laporan logistik."

Andi mendongak, matanya berbinar setuju. "Ide terbaik yang pernah keluar dari mulut seorang CEO. Bagaimana kalau kita ke pantai?"

"Setuju," sahut Siska mantap.

Malam mulai turun menyelimuti rumah itu dengan kedamaian. Tidak ada lagi ketakutan akan masa depan, karena mereka tahu, apa pun yang patah nanti, mereka akan selalu punya satu sama lain untuk memperbaikinya kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!