Nomella Kamiyama, mahasiswi pindahan dari New York, tiba di California dengan satu misi: mempertahankan kesempurnaan hidupnya—mulai dari penampilan, kecerdasan, hingga kontrol diri yang absolut.
Namun, panggung sempurnanya terusik oleh kehadiran Zeus Sterling, pria paling populer di kampus yang dikenal sangat hangat, narsis, dan gemar menebar pesona.
Di mata Nomella, Zeus hanyalah gangguan visual yang "sok ganteng," sementara bagi Zeus, Nomella adalah tantangan bagi egonya yang setinggi langit.
Namun, di balik senyum menawan dan keramahan yang luar biasa, Zeus menyimpan rahasia kelam. Ia adalah pria yang aslinya dingin dan hancur, yang kini hidup dalam "identitas" kakaknya, Zayn, yang tewas dalam kecelakaan balap tragis. Zeus menolak semua wanita dan hanya ingin langsung menikah, sebuah bentuk duka ekstrem yang ia jalani demi memenuhi ekspektasi orang tuanya dan dunia.
Ketegangan memuncak saat Nomella mulai membongkar topeng Zeus, memicu sisi gelap sang pria yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahakarya dan Gangguan Visual
Koridor Universitas California pagi itu terasa lebih sempit dari biasanya, atau setidaknya begitulah menurut kalkulasi mental Nomella Kamiyama.
Bagi gadis yang baru tujuh hari menginjakkan kaki di California setelah kepindahannya dari New York, setiap inci ruang adalah panggung, dan setiap pasang mata adalah juri yang harus ia buat terpukau hingga tak berkutik.
Nomella berhenti sejenak di depan cermin besar dekat lobi fakultas hukum. Ia menyesuaikan letak kacamata hitam frame kucingnya. Rambutnya yang dicat ash brown jatuh sempurna di bahu, tidak ada satu helai pun yang berani keluar dari barisan.
Pakaiannya hari ini adalah perpaduan antara chic Manhattan dan profesionalisme yang tajam—blazer cropped berwarna krem yang membalut tubuh indahnya hasil diet ketat dan olahraga subuh yang disiplin.
"Sempurna," bisiknya pada bayangannya sendiri.
Bagi Nomella, ambisi bukanlah beban dari orang tua. Ayahnya seorang Diplomat biasa dan ibunya seorang ibu rumah tangga yang santai. Namun bagi Nomella, ketidaksempurnaan adalah dosa besar. Ia harus menjadi yang terpintar, tercantik, dan paling teratur di ruangan mana pun ia berada. Ia tidak mengejar validasi orang lain; ia mengejar kepuasan saat melihat dunia berlutut pada standar yang ia ciptakan sendiri.
Namun, ketenangan panggungnya terusik saat sebuah suara riuh rendah mulai terdengar dari arah kantin.
"Dia datang! Kak Zeus!"
Nomella memutar bola matanya di balik kacamata hitam. Nama itu lagi.
Selama seminggu ini, telinganya panas mendengar nama 'Zeus Sterling'. Seolah-olah pria itu adalah dewa yang turun dari Olympus untuk memberkati tanah kampus ini dengan keberadaannya.
Dan di sanalah dia.
Seorang pria dengan tinggi sekitar 188 cm berjalan santai dengan kemeja flanel yang kancing atasnya sengaja dibuka, memperlihatkan sedikit kaos putih di dalamnya. Rambutnya sedikit berantakan, tipe messy hair yang dipersiapkan selama tiga puluh menit di depan cermin. Ia tersenyum—bukan senyum misterius yang dingin, melainkan senyum lebar yang sangat ramah hingga membuat gadis-gadis di sekitarnya tersipu.
"Pagi, Melani! Rambut baru? Cocok banget!" teriak Zeus pada seorang mahasiswi tingkat satu.
"Eh, Pak Satpam, kopi hitamnya sudah diminum? Jangan sampai Asam Lambung ya, sir!" ia melambai pada petugas keamanan dengan kehangatan yang, menurut Nomella, sangat berlebihan.
Nomella mendengus. Sok ganteng, dan Narsis.
Di mata Nomella, Zeus Sterling adalah gangguan visual. Pria itu terlalu sadar bahwa dia tampan. Setiap gerak-geriknya—mulai dari cara dia menyisir rambut dengan jari hingga caranya mengedipkan mata—terasa seperti adegan film yang diatur sendiri olehnya.
Jika novel-novel roman sering menggambarkan pria tampan sebagai sosok dingin yang tak tersentuh, Zeus adalah anomali yang menjengkelkan. Dia terlalu hangat. Dia menyentuh semua orang dengan kata-katanya, tapi rumor mengatakan tak satu pun wanita pernah menyentuh hatinya.
Nomella berjalan tegak, sepatunya berbunyi klak-klak di lantai marmer, berniat melewati kerumunan itu tanpa menoleh. Namun, nasib berkata lain.
"Wah, mahasiswi baru dari New York ya?"
Langkah Nomella terhenti.
Suara itu berat, renyah, dan mengandung rasa percaya diri yang meluap-luap. Ia menoleh perlahan, menurunkan kacamatanya sedikit ke ujung hidung.
Zeus Sterling berdiri hanya dua meter darinya. Pria itu sedang bersandar di pilar, menyilangkan kaki, dan menatap Nomella dengan binar mata yang seolah mengatakan, 'Aku tahu kau sedang memperhatikanku.'
"Nomella Kamiyama," ujar Nomella dingin, memperbaiki posisi tas branded-nya di lengan. "Dan saya punya jadwal kuliah yang tidak bisa menunggu basa-basi."
Zeus tertawa kecil. Tawa yang hangat, namun terdengar sangat narsis di telinga Nomella. "Galak, ya. Aku Zeus. Tapi kurasa kamu sudah tahu itu. Siapa sih yang tidak kenal aku di sini?"
Zeus melangkah mendekat, masuk ke dalam ruang personal Nomella. "Pakaianmu bagus. Sangat... ambisius. Kamu ingin semua orang tahu kalau kamu pintar dan kaya, kan?"
Nomella mengangkat dagunya. "Aku tidak perlu ingin orang tahu. Mereka akan tahu dengan sendirinya saat melihatku. Itu bedanya kualitas dan... pajangan."
Zeus tidak tersinggung. Ia justru tersenyum lebih lebar, menunjukkan deretan giginya yang putih bersih. Ia mencondongkan tubuh, berbisik tepat di samping telinga Nomella, "Aku suka yang ambisius. Tapi hati-hati, Nomella. Terlalu sempurna itu melelahkan. Kenapa tidak mencoba santai sedikit? Mungkin denganku?"
Nomella mundur satu langkah, wajahnya memerah karena marah sekaligus sedikit terkejut. "Denganmu? Aku sudah dengar rumor tentangmu, Zeus. Kamu menolak semua wanita karena kamu hanya ingin langsung menikah dan... bercinta? Murahan sekali."
Zeus mengangkat bahu dengan santai, sama sekali tidak merasa terhina. "Bukan murahan, tapi efisien. Kenapa harus membuang waktu untuk pacaran yang penuh drama jika kita bisa langsung ke intinya? Komitmen dan gairah. Itu filosofiku. Lagipula, aku terlalu berharga untuk sekadar dijadikan pacar sementara."
"Kamu benar-benar narsis yang sakit jiwa," desis Nomella.
"Dan kamu benar-benar cantik yang terobsesi pada kontrol," balas Zeus dengan kedipan mata yang membuat Nomella ingin melempar tasnya ke wajah pria itu. "Sampai jumpa di kelas Makroekonomi, Nomella. Aku duduk di depan, supaya kamu punya pemandangan bagus selama dosen bicara."
Zeus berlalu sambil melambaikan tangan pada mahasiswa lain yang menyapanya, meninggalkan Nomella yang berdiri mematung dengan kepalan tangan erat.
Bagi Nomella, pindah ke California seharusnya menjadi cara untuk membuktikan bahwa dia bisa menaklukkan dunia baru dengan kesempurnaannya. Tapi sekarang, dia menyadari ada satu hambatan besar bernama Zeus Sterling—seorang pria yang kehangatannya terasa membakar ego Nomella, dan yang narsismenya menantang ambisinya.
Nomella menarik napas panjang, merapikan blazernya yang sebenarnya tidak berantakan sama sekali. Ia tidak akan membiarkan pria sok ganteng itu merusak reputasinya.
Jika Zeus ingin bermain-main dengan pesonanya, Nomella akan menunjukkan bahwa kecerdasan dan ambisi adalah satu-satunya hal yang tidak bisa ditaklukkan oleh senyuman hangat mana pun.
"Kita lihat saja, Zeus," gumamnya pelan. "Siapa yang akan bertekuk lutut lebih dulu."
Nomella melangkah pergi, tidak menyadari bahwa di ujung koridor, Zeus Sterling sempat menoleh ke belakang, memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan—bukan sekadar tatapan narsis, tapi sesuatu yang jauh lebih dalam dan penuh selidik.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰 Tinggalkam jejak supaya Author Semangat Nulisnya 🫶