sebuah keserakahan manusia yang akan membawa petaka dari keluarganya, untungnya Laluna si gadis cantik yang perkasa ini luput dari kekejaman serta keserakahan orangtuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Cun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aksi heroik Luna
Diantara sesaknya manusia yang lalu lalang di sekitaran tempat itu, Laluna dengan mata elangnya terus mengintai dari belakang, penjahat itu terus mengikuti wanita anggun berhijab syar'i berumur sekitar lima puluh tahunan dengan seorang gadis cantik disampingnya.
Tiba di tempat parkiran, lelaki bertopi dan pake masker hitam itu tangannya mengisyaratkan sesuatu lalu muncul lah tiga orang temannya yang sudah siap menunggu dengan pik up bak tertutupnya itu, rupanya mereka seorang penculik, Laluna mengintip dari kejauhan di balik tembok.
"siapa kalian". Teriak gadis cantik itu setelah si penculik memberi ancaman dengan menodongkan pistol nya ke arah kepala sang ibu, wanita anggun berhijab syar'i itu terlihat panik, tak ada satpam dan tak ada siapapun di tempat itu, hanya beberapa OB yang sedang bersih² dan dengan satu ancaman dari para penculik itu tentu saja mereka jiper ketakutan.
"Jangan banyak tanya, masuk". Ancam salah satu dari mereka dengan mendorong gadis cantik berkulit putih itu hingga dia jatuh tersungkur di dalam pik up.
"Tolong,,," satu teriakan dari wanita anggun yang seperti nya adalah ibu dari gadis jelita itu membuat ketua dari pecundang berang bukan kepalang, gagang pistol pun mendarat di tengkuknya hingga membuat wanita tua itu pingsan.
Kemudian mereka menjalankan mobilnya, dengan dua orang naik di depan sementara dia lainnya ada di depan dengan mengendarai motor kelihatannya sebagai penunjuk jalan harus kemana tujuan mereka, , tak tahu saja semuanya, sebelum mobil di jalankan dan pintu belakang di kunci dari luar dengan gerakan yang sulit di prediksi manusia, Laluna sudah melompat kedalam mobil pickup itu, dia menyuruh gadis di depannya untuk tidak panik dengan meletakkan jari telunjuk di bibirnya.
"jangan panik Mbak, aku akan berusaha menolong mu, kita ikuti saja kemana mereka pergi dan siapa bos dari mereka". Bisik Laluna di telinga gadis yang ternyata bernama Laila itu, sementara wanita tua yang ternyata memang ibunda dari Laila, masih pingsan.
Ada kelegaan di hati si gadis, setidaknya ada harapan untuk hidup dengan bantuan gadis kekar dan tomboy ini, kemudian terdengar pintu mobil di tutup dari belakang danada bunyi 'klik" seperti nya sudah benar benar di kunci, Laluna mengambil gawainya dan mengirim sebuah pesan buat Dandy.
"Dan, ada urusan penting, kamu pulang dulu, dan bawa motorku kuncinya ada aku titipkan pada kang parkir ". Tulis Laluna dalam pesannya, dengan men silent suara hpnya agar dua orang penjahat yang ada di depan tak mendengarnya.
" kamu bisa menghubungi keluarga mua, hafal kan nomor dari ayahmu atau saudara lain misalnya?" saran Luna, karena tas kedua wanita itu sudah di sita sang penculik maka Laila meminjam gawai Luna untuk menghubungi Abangnya.
"Bang aku dan bunda di culik, bunda masih pingsan, tolong kami". Tulis Laila dengan memakai nomor HP dari Luna
Sementara di seberang sana seorang eksekutif muda yang gagah dan tampan dengan mata birunya sedang ada rapat penting, tetapi ada wa masuk dia melihat sekilas, dari nomor tak di kenal, "paling juga salah kirim atau ada orang yang mencoba menipu, jaman sekarang beribu cara orang mencari uang dengan menjilat keringat sesamanya sendiri.
Dia adalah Fadli Arahan kakak dari Laila dan putra dari ibu Rahayu yang kini sedang pingsan, Laluna mengoleskan fresh care yang selalu dia bawa di tas slempang kecil tempat hp dan surat berharga lainnya, tas mahal buatan Chanel yang berwarna coklat tua kesukaannya.
Setelah hidung Bu Rahayu di oles dengan fresh care Bu ayu mulai siuman, dan dia teriak dengan ucapan minta tolong, Laila segera membekap mulut ibundanya dengan pelan.
"Hsstt bund, pelan pelan mereka penjahat sedang menculik kita jangan sampai dengar".bisik Laila di telinga ibundanya.
Bu Ayu melihat Luna, beliau mengira Luna adalah si penculik itu, tetapi memang ada penculik secantik dan selembut ini memperlakukan korbannya?, Laluna yang bisa membaca isi hati Bu Ayu tersenyum manis sambil membelai pipi ibu Ayu yang kini terbaring di pangkuan Laila putrinya.
"saya bukan penculik ibu, saya melompat ke dalam mobil ini ingin berusaha menyelamatkan kalian". Ucap lembut Luna membuat Bu Ayu hatinya tenang.
"kok nggak telpon polisi saja kak?" tanya Laila dan Laluna menjawab, "kita lihat nanti selama aku masih bisa menyelamatkan kalian nggak usah melibatkan polisi karena akan rumit urusannya, polisi biar datang belakangan mengurusi dan menyelidiki kasusnya saja jika kita menghendaki, yang penting kalian berdua selamat".
Laila sedikit sangsi, "apa yang bisa di buat cewek tomboy ini menghadapi empat orang di depannya?" batin Laila.
Mobil terus melaju sepertinya menuju pinggiran kota, dari hawa dingin dan bau anyir air laut, Laluna bisa memprediksi kali ini mereka menuju ke pinggiran pantai, mobil berhenti dan Luna waspada.
Pintu belakang dari pick up itu terbuka, Laluna sudah mengatakan pada kedua wanita di itu agar mengikuti mereka sementara dirinya sembunyi di tumpukan karpet,Luna akan mengikuti dan mengawasi dari belakang, dan memberitahu pada keduanya agar tetap tenang, dia pasti akan menyelamatkannya, keduanya mengangguk faham.
Laki-laki yang duduk di depan itu menyeret dan membawa ibu dan anak yang di culiknya, kedua laki laki lain yang tadi naik motor berjalan di depan sebagai penunjuk jalan kemana mereka harus pergi.
"cepat, bos kIta sudah tak sabar menunggu". perintah yang di depan dengan potongan seperti seorang perwira, mungkin itu ketua dari misi penculikan ini.
Ketiganya yang sedang membawa dua ibu dan anak ini mengikuti nya dari belakang, rupanya mereka menuju ke sebuah motel kecil di pinggir pantai, pantai ini jika hari kerja memang sepi kecuali hari libur pasti akan banyak pengunjung, hanya beberapa nelayan hilir mudik yang tak sibuk mengurusi urusan pribadi orang lain, mencari ikan untuk makan keluarganya saja susahnya bukan main apa lagi ngurusi hidup orang, apalagi kehidupan jaman sekarang makin hari makin susah, dulu sehari belanja dengan uang dua puluh ribu sudah cukup untuk sehari, sekarang uang seratus ribu pagi berwarna merah petang sudah menjelma jadi koin..
Luna terus mengikuti mereka dengan jalan mengendap endap, seperti nya keempat orang itu kurang waspada dikiranya sudah aman dari penguntit.
Setelah sampai di sebuah bangunan kecil sekitar tiga kali empat luasnya, disana sudah ada seseorang yang menunggu, tak banyak buang waktu Laluna segera membereskan dua orang yang di depan seat set wat wet tak perlu waktu lima menit kedua laki laki itu tumbang, pria Segede gapura kecamatan itu pingsan dengan sekali pukul, ibu Ayu dan Laila melongo heran melihat aksi Laluna yang menurut mereka tak masuk akal, kedua laki laki lainnya kaget bukan kepalang, satu laki laki menghadang Laluna satunya lagi menggeret Bu Ayu dan anak nya menemui bos para preman itu, Luna dengan sikunya menghantam tengkuk laki laki yang menghadang nya sekali hantam pria itu pingsan, Laluna menyeret ketika laki laki itu ke pinggir jalan dan memasukkan ketiganya ke dalam got, mereka bertiga pingsan bertumpuk di dalam got, untung gut itu kering hanya ada tumpukan sampah kotor.
****