NovelToon NovelToon
YOU (Obsessive Love Disorder)

YOU (Obsessive Love Disorder)

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Eleanor Lichtenzell adalah pewaris takhta bisnis raksasa kedua di Inggris, namun baginya, kemewahan adalah penjara. Setelah merusak sepuluh kencan buta dengan lidahnya yang tajam, ia memilih melepaskan marga dan kekayaannya demi sebuah kebebasan. Namun, dunia luar lebih kejam dari yang ia duga. Di bawah bayang-bayang pengaruh ayahnya yang mencoba memutus jalannya, Eleanor berakhir menjadi pelayan di sebuah kafe eksklusif pinggir laut.

Disana, ia bertemu dengan Edward Zollern, sang penguasa ekonomi Inggris yang dingin, perfeksionis, dan memiliki segalanya. Ketertarikan Edward yang awalnya hanya karena rasa penasaran berubah menjadi obsesi yang gelap saat ia menyadari bahwa Eleanor adalah teka-teki yang tak bisa ia pecahkan. Edward tidak tahu bahwa gadis tanpa asal-usul yang ingin ia tundukkan itu sebenarnya adalah putri dari pebisnis yang setara dengannya. Sebuah permainan kekuasaan dimulai, di mana cinta bukanlah tentang kasih sayang, melainkan tentang siapa yang lebih dulu berlutut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesepakatan yang Tidak Gratis

Suasana di dalam kabin Rolls-Royce itu sangat hening, hanya ada suara napas teratur yang halus. Edward Zollern menghentikan mobilnya tepat di depan gedung apartemen tua tempat Eleanor tinggal. Ia tidak langsung membangunkan gadis di sampingnya.

Edward mematikan mesin, lalu memutar tubuhnya sedikit untuk memperhatikan Eleanor. Dalam tidur lelapnya, pertahanan tajam gadis itu runtuh. Rambut hitam pekatnya yang biasanya disanggul rapi kini sedikit terurai, menampakkan betapa panjang dan indahnya rambut itu jika dibiarkan tergerai hingga pinggang. Wajahnya cantik alami, tanpa riasan tebal, namun memiliki struktur tulang pipi yang tegas—ciri khas bangsawan yang tidak disadari Edward.

Edward terdiam selama lima belas menit. Ia hanya memperhatikan bagaimana bulu mata Eleanor bergerak pelan. Ada keinginan aneh untuk menyentuh rambut itu, namun ia menahannya. Baginya, Eleanor adalah teka-teki paling indah yang pernah ia temui di jalanan Inggris.

Perlahan, Eleanor mengerjapkan matanya. Ia tersentak kecil saat menyadari ia masih berada di dalam mobil mewah Edward.

"Sudah sampai?" Tanya Eleanor dengan suara serak khas orang bangun tidur.

"Sudah lima belas menit yang lalu," jawab Edward tenang.

Eleanor merapikan rambutnya dengan canggung, lalu menatap Edward. "Lain kali, Tuan Zollern... Anda tidak perlu melakukan ini lagi. Saya bisa pulang sendiri." Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan dengan nada tulus yang jarang ia tunjukkan, "Tapi, terima kasih banyak atas kebaikan Anda."

Eleanor hendak membuka pintu, namun suara Edward menghentikannya.

"Ini tidak gratis, Nona Eleanor," ucap Edward dengan nada dingin yang kembali muncul. "Aku tidak pernah melakukan sesuatu tanpa mengharapkan imbalan."

Eleanor menghela napas, kembali pada mode galaknya. "Terserah Anda mau menagih apa nanti. Tapi sekarang, lebih baik Anda segera pulang, ini sudah larut malam. Sekali lagi, terima kasih."

Eleanor turun dari mobil, membungkuk sopan—sebuah kebiasaan lama yang sulit hilang—lalu melangkah masuk ke dalam apartemennya tanpa menoleh lagi. Edward menatap punggung itu sampai menghilang di balik pintu kaca yang kusam.

"Tagihannya akan sangat mahal, Eleanor," bisik Edward pada kegelapan malam sebelum ia memacu mobilnya pergi.

Minggu Pagi – The Aethelgard Estate. Hari Minggu adalah hari yang paling dihindari Edward, karena itu berarti ia harus duduk di meja makan panjang bersama dua wanita penguasa hidupnya. Di ruang makan yang megah dengan langit-langit berukir emas, Nyonya Agatha Zollern sedang menyesap tehnya dengan anggun.

"Edward, kau terlihat kurang tidur. Apa bursa saham sangat kacau akhir pekan ini?" Tanya Emilie, ibunya, dengan nada khawatir.

"Hanya beberapa urusan kecil yang menyita waktu, Ibu," jawab Edward singkat sambil memotong daging steak-nya.

Nenek Agatha meletakkan cangkir porselennya dengan dentingan pelan yang menuntut perhatian. "Urusan kecil tidak akan membuat seorang Zollern pulang jam tiga pagi, Edward. Daripada membuang waktu untuk hal tidak jelas, lebih baik kau mulai mempertimbangkan daftar wanita yang nenek susun."

Edward hanya diam, ia sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini.

"Andaikan putri Lewis Lichtenzell saat ini ada di London, mungkin kalian adalah jodoh yang paling pas untuk menyatukan ekonomi Inggris," lanjut Agatha dengan helaan napas kecewa. "Tapi Nenek malah mendengar kabar burung bahwa putrinya itu kabur dari rumah karena menolak kencan buta. Benar-benar gadis yang tidak tahu diuntung, padahal derajat keluarga mereka hampir setara dengan kita."

Edward mengangkat alisnya sedikit. Nama Lichtenzell selalu terdengar seperti musik di telinganya jika menyangkut bisnis, tapi ia tidak pernah peduli pada sosok putri mereka. "Aku tidak tertarik pada gadis yang kabur dari tanggung jawabnya, Nek. Itu menunjukkan mental yang lemah."

"Tapi dia jenius, Edward. Lulusan terbaik Oxford," sela Emilie.

"Jenius tanpa kendali hanya akan menjadi beban," sahut Edward dingin. Pikirannya justru kembali pada sosok pelayan kafe yang berani mengatainya psikopat. Baginya, gadis di kafe itu jauh lebih menarik daripada putri Lichtenzell mana pun yang dibayangkan neneknya.

Di waktu yang sama, Eleanor sedang menikmati hari liburnya. Ia berjalan-jalan santai di sepanjang jalur pedestrian yang menghadap ke laut. Ia mengenakan gaun musim panas sederhana dan topi lebar.

Eleanor merasa lega. Hari ini tidak ada Edward, tidak ada kopi, dan tidak ada tuntutan untuk menjadi sempurna. Ia duduk di sebuah bangku taman, memperhatikan anak-anak yang bermain pasir di kejauhan.

"Harta sudah punya, pendidikan sudah cukup... melajang seumur hidup sepertinya memang rencana terbaik," gumam Eleanor sambil tersenyum tipis.

Ia tidak tahu bahwa di mansion Zollern, namanya sedang disebut sebagai calon pasangan ideal bagi pria yang paling ia hindari. Dan ia juga tidak tahu, bahwa di dalam ruang kerjanya, Edward sedang menatap layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV kafe saat Eleanor sedang tersenyum sendirian.

Dua dunia itu masih terpisah oleh dinding rahasia, namun takdir sepertinya sedang tertawa melihat bagaimana sang "Putri Lichtenzell yang kabur" dan "Sang Kaisar Zollern" sedang bermain kucing-kucingan di sebuah kafe pinggiran yang sederhana.

1
Hana Nisa Nisa
tarik nafas dulu
Hana Nisa Nisa
🤣🤣🤣🤣
Hana Nisa Nisa
🙈🙈🙈🙈
Hana Nisa Nisa
🤣🤣🤣🤣🤣
Hana Nisa Nisa
nahhh
Hana Nisa Nisa
suka tata bahasanya bagus
Hana Nisa Nisa
😄😄😄😄
Hana Nisa Nisa
baper euyy
Hana Nisa Nisa
😍😍😍😍😍
Hana Nisa Nisa
🤣🤣🤣🤣
Hana Nisa Nisa
🥰🥰🥰🥰🥰
Xiao Bae•: makasih ya kak 😍
total 1 replies
Hana Nisa Nisa
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!