NovelToon NovelToon
Kukira Kita Spesial

Kukira Kita Spesial

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha Aprila

Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.

Semua terasa nyata. Terasa spesial.

Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.

Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.

Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ikatan Kelingking

Senin pagi.

Aku bangun sedikit lebih siang dari biasanya.

Tidak terlalu terlambat… tapi cukup untuk bikin semuanya terasa agak buru-buru.

Aku langsung bersiap.

Seperti biasa.

Tanpa banyak pikir.

Setelah selesai—

aku sempat sarapan.

Cepat.

Tidak benar-benar santai.

Hanya supaya tidak berangkat dengan perut kosong.

Aku mengambil helm.

Satu untukku.

Karena kemungkinan… Cila juga sudah punya sendiri.

Kemarin sudah jelas—

hari ini pakai motor Cila.

Aku keluar rumah.

Langsung menuju ke rumah Cila.

Begitu sampai di halaman—

aku langsung melihat Cila.

Sudah pakai helm.

Duduk di atas motor.

Dan…

masih di tempat.

Mesin belum menyala.

Aku mendekat.

Semakin dekat—

wajahnya terlihat kesal.

“Kenapa, Cil?” tanyaku.

Cila menghela napas.

“Dari tadi nggak nyala.”

Nada suaranya jelas tidak sabar.

“Aku takut telat.”

Aku mengangguk kecil.

“Coba sini.”

Aku berdiri di samping motor.

Mulai mengecek.

Bensin—ada.

Standar—normal.

Tidak ada yang terlihat aneh.

Aku menggoyangkan motor sedikit.

Cila langsung menoleh.

“Ngapain digoyangin?”

“Biar bensinnya nggak ngendap,” jawabku santai.

Aku pegang stang.

Tarik gas pelan.

Lalu starter.

Sekali.

Belum.

Dua kali.

Masih.

Aku coba lagi.

Dengan ritme yang lebih pas.

“Cek.”

Mesin menyala.

Cila langsung sedikit lega.

“Eh… nyala.”

Nada suaranya berubah.

Lebih ringan.

Aku sedikit tersenyum.

“Ya udah, berangkat.”

Aku naik ke depan.

Mengambil posisi sebagai pengendara.

Cila duduk di belakang.

Aku menjalankan motor.

Dan kami langsung jalan.

Di jalan—

aku sedikit mencondongkan badan.

“Santai, Cila… kelihatan buru-buru banget?”

“Ini udah siang, Rendra,” jawab Cila cepat.

“Takut kita telat.”

Aku tertawa kecil.

“Ya udah, kalau telat kita main aja.”

Nada suaraku santai.

Setengah bercanda.

Cila langsung melirik lewat spion.

Tatapan itu…

jelas.

Kesal.

Sepertinya sedang tidak bisa diajak bercanda.

Aku langsung nyengir ke arah spion.

“Iya iya… maaf.”

Motor melaju sedikit lebih cepat.

Tidak ngebut.

Tapi cukup untuk mengejar waktu.

Sesampainya di parkiran—

Cila langsung turun.

Gerakannya cepat.

Terburu-buru.

“Ya Allah… santai aja, Cil,” ucapku sambil turun.

Bel sekolah berbunyi.

Cila berhenti sebentar.

Menoleh.

“Tuh kan… udah masuk,” ucap Cila, dengan pandangan yang sama seperti tadi.

Aku hanya nyengir sambil garuk kepala.

Kami pun langsung bergegas ke kelas.

Di perjalanan masuk—

aku mulai sadar.

Cila terlihat sibuk.

Tangannya sesekali menyentuh kepala.

Lalu ke tas.

Lalu berhenti lagi.

Seperti…

mencari sesuatu.

Setelah kusimpan tas—

yang lain sudah mulai berjalan ke lapangan.

Aku bergegas mencari Cila.

Di pikirku… sepertinya ada yang tidak beres.

Aku sempat melihat ke kelasnya.

Kosong.

Cila sudah tidak ada.

Di dalam, hanya ada Prisia.

“Eh, lu lihat Cila nggak?” tanyaku.

“Oh, tadi dia buru-buru pergi ke koperasi. Katanya mau beli sesuatu,” jawab Prisia.

“Oh…”

Aku langsung berbalik.

Aku bergegas ke arah lapangan.

Sempat melihat ke sekitar.

Mencari.

Berharap ketemu di jalan.

Tapi tidak ada.

Saat sampai—

lapangan sudah mulai ramai.

Semua murid sudah berkumpul.

Barisan mulai terbentuk.

Aku masuk ke barisan kelas Cila.

Masih ada sedikit waktu sebelum upacara dimulai.

Mataku langsung mencarinya.

Ketemu.

Cila berdiri di barisan.

Tapi—

tanpa topi.

“Topi kamu ke mana?” tanyaku pelan.

Cila langsung menoleh.

Wajahnya terlihat panik.

“Aku nggak tahu… perasaan tadi udah dimasukin tas,” jawabnya cepat.

“Aku tadi ke koperasi… tapi stoknya kosong.”

Aku diam.

Melihatnya.

Tidak langsung menjawab.

Dia terlihat gelisah.

Sesekali menunduk.

Sesekali melihat ke depan.

Seolah takut ketahuan.

Pikiranku langsung jalan.

Hari pertama.

Upacara.

Kalau ketahuan…

pasti kena tegur.

Aku menghela napas pelan.

Lalu—

tanpa banyak pikir—

aku membuka topiku.

“Ya udah,” ucapku santai.

Aku sedikit mendekat.

Lalu langsung memakaikan topi itu ke kepalanya.

“Pakai punyaku aja.”

Cila terdiam.

Benar-benar diam.

Sejenak.

Matanya sedikit melebar.

Seolah tidak menyangka.

“Loh… kamu gimana?” ucapnya pelan.

Tapi aku sudah mundur.

Aku langsung berbalik.

Berjalan menjauh.

Keluar dari barisan itu.

Tidak memperdulikannya lagi.

Aku masuk ke barisan kelasku sendiri.

Mengambil posisi agak ke tengah.

Berharap tidak terlalu terlihat.

Upacara mulai berjalan.

Semua mulai fokus ke depan.

Beberapa menit pertama…

aman.

Sampai akhirnya—

“Yang tidak memakai atribut lengkap, maju ke depan!”

Suara itu terdengar jelas.

Aku diam.

Tidak bergerak.

Beberapa detik—

lalu seorang guru mendekat ke arah barisanku.

Tatapannya menyapu.

Dan berhenti.

Di aku.

“Kamu. Keluar.”

Aku menghela napas kecil.

Lalu melangkah keluar barisan.

Tanpa protes.

Tanpa alasan.

Aku dipindahkan ke barisan samping.

Barisan yang memang untuk siswa yang tidak lengkap.

Aku berdiri di sana.

Sendiri.

Dari kejauhan—

aku sempat melirik.

Cila.

Dia masih berdiri di tempatnya.

Memakai topi itu.

Tapi sikapnya…

tidak seperti tadi.

Tubuhnya lebih diam.

Tidak banyak bergerak.

Tatapannya lurus ke depan.

Tapi sesekali—

dia menunduk sedikit.

Seperti menahan sesuatu.

Dan sekali—

sangat cepat—

dia menoleh.

Ke arahku.

Hanya sepersekian detik.

Lalu kembali ke depan.

Upacara tetap berjalan.

Seperti biasa.

Tidak ada yang berubah.

Tapi entah kenapa—

rasanya…

tidak benar-benar sama.

Setelah upacara selesai dan barisan dibubarkan, setiap murid masuk ke kelas masing-masing.

Di dalam kelas, sebelum guru datang dan pelajaran dimulai—

Andi mencolekku dari belakang.

Dia sepertinya mengingat kejadian tadi.

“Ndra, perasaan tadi pagi sebelum keluar kelas lu pakai topi, dah.”

Aku menoleh.

Lalu hendak menjawab.

“Iya tadi…” ucapku—belum selesai.

Tiba-tiba guru masuk.

Dan memulai pelajaran.

Semua berjalan lancar.

Dua mata pelajaran pun berlalu.

Sampai akhirnya bel istirahat berbunyi.

Murid lain satu per satu mulai keluar.

Aku pun mulai mengikuti ajakan teman-teman untuk pergi ke kantin.

Saat hendak keluar—

terlihat Cila sedang menunggu.

Teman-teman yang lain menoleh, seolah mengerti.

“Kita duluan, yah,” ucap Andi.

Yang lain juga memberi isyarat yang sama.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum.

Cila menyodorkan topi.

“Makasih ya,” ucap Cila, menatap.

Lalu tertunduk saat aku membalas tatapannya.

Aku mengambil topi itu.

“Senyum dong,” godaku, karena dari pagi yang kulihat dia hanya serius dan panik.

Cila tersenyum.

Lalu tertawa kecil sambil memalingkan wajah.

“Apa sih…” ucap Cila.

“Ya kan, dari pagi serius mulu. Sampai nggak bisa diajak becanda,” ucapku.

“Iya… maaf,” jawab Cila, sambil menyodorkan jari kelingking.

Aku diam sejenak.

Memperhatikan jari kelingking itu.

Lalu aku membalas—

mengaitkan jari kelingkingku.

Aku nggak benar-benar mengerti maksudnya.

Kami diam beberapa saat.

Sedikit kikuk.

“Kamu udah makan?” tanyaku, mencoba basa-basi.

“Belum,” jawabnya.

“Ya udah, kita ke kantin yuk,” ajakku.

Saat kami mulai melangkah—

barulah kelingking kami terlepas.

Ketika kami sampai di kantin—

suasananya sudah cukup ramai.

Beberapa meja hampir penuh.

Suara obrolan bercampur dengan bunyi piring dan langkah kaki.

Aku dan Cila berdiri di depan salah satu lapak.

Hendak memesan makanan.

Tiba-tiba—

Cila mencolek lenganku pelan.

Aku menoleh.

Dia menunjuk ke arah meja pojok.

Di sana—

Andi dan yang lain sudah duduk.

Andi langsung melambaikan tangan.

Memberi isyarat memanggil.

“Kamu mau duduk di sana sama teman-teman kamu?” tanya Cila.

Aku menatapnya sebentar.

Lalu menggeleng kecil.

Aku mengangkat tangan.

Membalas lambaian Andi.

Lalu menunjuk ke arah Cila.

Andi langsung paham.

Dia menyenggol Bara.

Bara ikut melihat.

Lalu nyengir.

Dari kejauhan—

Andi mengangkat alis.

Seperti bilang, “oh gitu.”

Lalu mengangguk kecil.

Tidak memaksa.

Di sisi lain—

teman-teman Cila juga melihat ke arah kami.

Salah satu dari mereka melambaikan tangan.

Memanggil.

Cila membalas dengan senyum kecil.

Lalu melambaikan tangan kembali.

Tidak ada yang benar-benar memanggil lagi.

Tidak ada yang maksa.

Seolah…

semuanya mengerti.

Aku menoleh ke Cila.

“Pesan apa?”

Cila melihat ke depan.

Berpikir sebentar.

“Yang biasa aja.”

Aku mengangguk.

Lalu mulai memesan.

Beberapa menit kemudian—

kami sudah duduk di salah satu meja.

Tidak terlalu dekat dengan yang lain.

Tapi masih dalam jangkauan pandang.

Suasana sempat hening.

Sebentar.

Sambil makan—

aku mencoba memulai obrolan.

“Oh iya…” ucapku sambil mengunyah.

Cila mengangkat wajah sedikit.

“Apa?” ucap Cila, sempat berhenti makan.

“Tadi saat kamu panik, wajah kamu lucu tau…”

“Kamu tuh kalau panik kayak orang mau bayar kasir, tapi lupa bawa dompet,” ucapku sambil tertawa kecil.

Cila tertawa sambil menutup mulut.

“Masa sih…”

“Lagian hari ini tuh baru pertama kan, masa iya berdiri di barisan berbeda, udah gitu tadi cowok semua lagi.”

Aku mengangkat alis dan mengangguk.

“Lagian dari mulai mau berangkat sekolah juga, ekspresinya gimana gitu, nggak ada senyum-senyumnya. Emang kenapa…?” ucapku.

Lalu Cila menceritakan kalau dia menyiapkan motor dari pagi, ternyata tidak nyala.

Dia jadi emosi.

Tadinya mau nunggu di depan gerbang, katanya.

Makanya sampai-sampai dia lupa topi.

Gara-gara motor.

Saat dia bicara panjang—

aku hanya memperhatikan dan mengangguk.

Sepertinya saat itulah kesempatan aku bisa melihat wajahnya lebih lama.

Sampai aku lupa untuk melanjutkan makan.

Sampai-sampai—

“Hey, kamu udah makannya…” Cila mengingatkan.

“Takut keburu masuk loh,” lanjutnya.

“Oh iya,” aku menoleh ke makanan yang masih setengah.

Lalu aku buru-buru melanjutkan menghabiskan.

Cila tertawa kecil.

Aku sedikit menyadari—

sepertinya dia kesal karena tidak bisa nunggu di depan gerbang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!