NovelToon NovelToon
THE ARCHIVIST

THE ARCHIVIST

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Spiritual / Time Travel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hutan Larangan & Cahaya Semu

Lokasi: Pelabuhan Perintis, Kotabaru, Kalimantan Selatan. Pukul 17.30 WITA.

Matahari terbenam di ufuk barat, mengubah langit Kalimantan menjadi kanvas merah darah yang memar. Udara terasa berat, lembap, dan berbau garam bercampur solar.

Sebuah perahu kayu bermesin (klotok) tua terombang-ambing di dermaga kayu yang lapuk. Di atasnya, seorang pria tua bertelanjang dada sedang melinting rokok klobot. Tubuhnya kurus tapi berotot kawat, dipenuhi tato bunga terong khas Dayak di bahunya.

Namanya Kai Imur. Penjaga gerbang tidak resmi menuju wilayah Saranjana.

Dimas dan Sarah turun dari mobil sewaan. Mereka sudah berganti pakaian. Celana kargo taktis, kemeja lapangan lengan panjang (anti nyamuk dan goresan), dan sepatu bot jungle yang kokoh. Ransel mereka terlihat berat.

“Kai Imur?” Dimas menyapa dengan sopan, menggunakan sedikit logat Banjar yang ia pelajari dari arsip bahasa.

Pria tua itu tidak menoleh. Dia menghembuskan asap rokoknya ke udara. Asap itu tidak buyar, melainkan membentuk lingkaran aneh sebelum menghilang.

“Ikalam handak kamana? Hutan ni kadada jalan gasan turis,” (kalian mau kemana? Hutan ini tidak ada jalan buat turis), jawab Kai Imur dingin tanpa menatap mereka.

“Kami bukan turis, Kai,” sahut Sarah tegas. Dia melangkah maju, membuka sedikit kancing tas pinggangnya, memperlihatkan gagang pistol suar (flare gun). “Kami cari barang yang hilang. Dan kami tahu Kai satu-satunya yang berani masuk ke Hulu Sungai Cengal malam-malam.”

Kai Imur akhirnya menoleh. Matanya putih sebelah (katarak), tapi mata satunya tajam seperti mata elang. Dia menatap pistol Sarah, lalu menatap kalung jimat stigi di leher Dimas.

Dia terkekeh. Suaranya kering seperti daun remuk.

“Satu bawa api besi, satu bawa api doa,” gumam Kai Imur. “Kalian ini pasangan gila.”

Dia membuang puntung rokoknya ke air.

“Naik. Jangan bicara kalau tidak ditanya. Jangan menoleh kalau dipanggil nama. Dan demi Datung, jangan nyalakan cahaya putih di atas air.”

Dimas dan Sarah saling pandang, lalu melompat naik ke atas perahu klotok itu.

Pukul 19.00 WITA. Hulu Sungai Cengal.

Mesin klotok menderu memecah keheningan sungai. Di kiri dan kanan, pohon-pohon bakau raksasa menjulurkan akarnya ke air seperti jari-jari nenek sihir yang hendak mencengkeram perahu.

Langit sudah gelap gulita. Tidak ada bulan. Bintang pun tertutup kanopi pohon yang semakin rapat.

Sarah memegang tabletnya. Layarnya berkedip-kedip.

“GPS mati, Prof,” lapor Sarah pelan. “Satelit nggak bisa nembus kanopi ini. Atau… ada yang nge-jam sinyal kita.”

“Bukan jammer elektronik,” kata Dimas, matanya tertuju ke kedalaman hutan yang gelap. “Ini blind spot spiritual. Kita sudah masuk ke teras rumah ‘Mereka;.”

Tiba-tiba, Kai Imur mematikan mesin perahu.

Keheningan hutan langsung menyergap. Suara jangkrik dan kodok terdengar memekakkan telinga.

“Kenapa berhenti, Kai?” Tanya Sarah, tangannya refleks memegang gagang pistolnya.

“Ada yang minta upeti,” bisik Kai Imur. Dia mengambil seekor ayam cemani (ayam hitam) dari keranjang bambu di belakang, lalu menyembelihnya dengan cepat di bibir perahu. Darah segar menetes ke air sungai yang hitam.

BYUR…

Sesuatu yang besar bergerak di bawah air, menyambar tetesan darah itu. Air bergolak, lalu tenang kembali.

“Buaya?” Tanya Sarah.

“Bukan,” jawab Dimas, wajahnya pucat. Dia melihat aura merah di dalam air. “Itu Tambun. Penjaga sungai.”

Kai Imur menyalakan mesin lagi, tapi kali ini pelan sekali.

“Siapkan senjata kalian,” kata Kai Imur tanpa menoleh. “Yang di air sudah kenyang. Tapi yang di udara… masih lapar.”

Pukul 20.15 WITA. Zona Merah.

Sarah melihat sesuatu di kejauhan. Sebuah cahaya oranye melayang-layang di antara pepohonan, sekitar 50 meter di atas tanah.

“Dim, ada drone,” bisik Sarah, mengaktifkan Night Vision Goggles (NVG)-nya. “Panasnya tinggi. Mungkin pengintai Mr, Vaan?”

Dimas menyipitkan mata. “Drone nggak terbang zig-zag kayak gitu, Sar.”

Cahaya itu mendekat.

Melalui lensa NVG, Sarah terpekik tertahan.

Itu bukan mesin. Itu adalah Kepala Manusia.

Kepala seorang wanita dengan rambut panjang kusut yang melayang. Di bawah lehernya, tidak ada badan. Hanya ada Jeroan (usus, jantung, hati) yang menggantung dan berdenyut, memancarkan cahaya merah darah.

KUYANG.

“Astagfirullah…” desis Dimas. “Itu mata-mata Saranjana.”

Kuyang itu berhenti melayang tepat di atas perahu mereka. Matanya merah menyala menatap Sarah. Lidahnya menjulur panjang, meneteskan air liur yang berbau busuk seperti bangkai dan formalin.

Ia mengincar Sarah. Wanita adalah mangsa favoritnya.

HIIIIIIIKK…!

Suara pekikan melengking memecahkan gendang telinga. Kuyang itu menukik tajam ke arah Sarah.

“Tunduk!” Teriak Dimas.

Sarah berguling ke samping.

BRAAKK!!

Kuyang itu menabrak atap perahu kayu sampai jebol. Ususnya yang berlendir membelit tiang perahu, mencoba meraih kaki Sarah.

DOR! DOR! DOR!

Sarah menembakkan tiga kali dengan pistolnya. Peluru menembus kepala kuyang itu, tapi makhluk itu hanya tertawa. Lubang tembakannya langsung menutup lagi dengan daging yang merambat.

“Peluru nggak mempan, Sar! Dia immortal kalau jantungnya nggak hancur!” Teriak Dimas.

Usus kuyang itu berhasil melilit pergelangan kaki Sarah, menariknya mendekat ke arah gigi-giginya yang tajam.

“Lepasin aku, Setan!” Sarah menendang wajah makhluk itu dengan sepatu botnya, tapi makhluk itu malah menggigit sol sepatunya sampai robek.

Dimas bergerak cepat. Dia ingat persiapan di Surabaya.

Dia merogoh saku rompinya, mengeluarkan kotak berisi Bubuk Abu Merapi.

“Sar! Tutup mata!”

Dimas melompat ke depan, menaburkan segenggam abu vulkanik panas itu tepat ke arah organ dalam (jeroan) Kuyang yang terbuka.

CESS!!…

Suara daging terbakar terdengar mengerikan.

Kuyang itu menjerit, bukan suara manusia, tapi suara babi yang disembelih. Abu Merapi yang mengandung energi panas bumi membakar organ-organ vitalnya yang basah.

‘PANAS! PANAS!” Jerit makhluk itu dalam bahasa Banjar kuno.

Lilitan ususnya terlepas dari kaki Sarah. Makhluk itu terbang mundur, menabrak pohon bakau, berusaha memadamkan api gaib yang membakar jantungnya.

“Kai! Jalan!” Perintah Dimas.

Kai Imur, yang sedari tadi tenang memegang kemudi, mengangguk kagum. Dia tancap gas. Perahu klotok itu melesat menjauhi lokasi petarungan.

Di belakang mereka, cahaya merah Kuyang itu meredup, jatuh ke dalam rawa-rawa.

Pukul 21.00 WITA. Gerbang Kota Gaib.

Sarah duduk bersandar di dinding perahu, napasnya memburu. Dia memeriksa kakinya. Memar, tapi tidak patah.

“Kamu gila, Dim,” Sarah tertawa histeris, adrenalinnya masih tinggi. “Kamu barusan manggang hantu pakai abu gunung.”

“Resep leluhur nggak pernah salah,” jawab Dimas, tangannya masih gemetar sisa ketegangan. Dia memeluk bahu Sarah. “Kamu oke?”

“Oke. Cuma sepatu mahalku rusak digigit dia,” gerutu Sarah.

Tiba-tiba, Kai Imur mematikan mesin lagi.

“Sudah sampai,” kata Kai Imur.

“Sampai di mana? Ini masih hutan rimba,” tanya Sarah, melihat sekeliling yang masih gelap gulita.

“Bukan di mata kalian. Tapi di mata batin kalian,” jawab Kai Imur. “Lihat ke depan. Jangan kedip.”

Dimas dan Sarah menatap ke depan.

Perlahan-lahan, kabut tebal di depan mereka tersibak.

Dan di sana, di tengah hutan belantara Kalimantan yang tak bertuan… muncul sebuah pemandangan yang mustahil.

Gedung-gedung pencakar langit yang terbuat dari emas berkilauan. Jalan raya yang lebar dan mulus, diterangi lampu-lampu kristal yang melayang tanpa tiang. Kendaraan-kendaraan futuristik tanpa roda meluncur dalam keheningan.

Kota Saranjana.

Kota itu nyata. Megah. Dan sangat, sangat modern. Jauh lebih modern dari Jakarta atau Singapura.

Namun, tidak ada suara bising. Kota itu hening seperti kuburan.

“Selamat datang di Peradaban yang Hilang,” bisik Dimas takjub sekaligus ngeri. “Atlantis-nya Nusantara.”

Di dermaga kota emas itu, terlihat sebuah Speedboat canggih berwarna hitam matte sudah bersandar. Di lambungnya ada logo kecil: V,C (Vaan Corporation).

“Mr. Vaan sudah di dalam,” kata Sarah, mengecek tabletnya yang kini sudah menyala terang benderang (sinyal penuh dari kota gaib). “Dia sudah masuk 30 menit yang lalu.”

Kai Imur menoleh pada mereka. Wajahnya serius.

“Aku cuma bisa antar sampai sini. Kalau kalian masuk kesana… kalian harus makan buah dari sini kalau mau pulang. Kalau tidak, kalian akan terjebak selamanya jadi penduduk kota ini.”

Dimas mengangguk. Dia mengeluarkan dua buah Apel Jin (apel kecil hijau) yang dia bawa dari Surabaya sebagai penawar ilusi.

“Kami siap, Kai.”

Dimas dan Sarah melangkah turun dari perahu klotok yang lapuk, menginjakkan kaki di dermaga emas Saranjana yang dingin dan licin.

Misi pencurian Mandau Sumpah dimulai. Di kota yang tidak tercatat di peta manapun.

***

Gimana bab ini? Seruu nggak?

Apa benar kota Saranjana bener2 ada? Ada kok, Dimas dan Sarah sudah membuktikannya.. hehehehe…

1
NP
Agak berat petualangan Dimas dan Sarah nih, kak. Maklum sama sama ilmuwan..
Felycia R. Fernandez
Petualangan baru dimulai...
NP
Iya betul yg dulu di rempah sang waktu,
Felycia R. Fernandez
Arya ini yang jadi raja dulu kan?
Felycia R. Fernandez
😅😅😅😅😅
Felycia R. Fernandez
lah,Sarah malah kenak
Felycia R. Fernandez
🤣
NP
Suami istri yang suka berpetualang menghadapi hal hal mistis
Felycia R. Fernandez
😆😆😆😆😆
Felycia R. Fernandez
ya ampun,luar biasa suami istri ini
Felycia R. Fernandez
kok ngeri ya 😳
Felycia R. Fernandez
wow 😳
Akbar Aulia
kurang.....kurang......kurang.....kurang banyak thor upnya
Felycia R. Fernandez
pernah denger,tapi blom tau gimana kota nya kk...😆😆😆
NP
Makasih ya Kak, Nusantara Üniverse menanti selanjutnya 🤣
Akbar Aulia
,iya kak ,ceritanya seru
Akbar Aulia
nanti kalo sampai kabari aku ya, semoga tidak ada halangan
Akbar Aulia
terimakasih thor sudah membuat cerita yg bagus sekali, semangat terus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!