"Satu kesempatan lagi... dan kali ini, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh apa yang menjadi milikku."
Yuuichi Shiro tahu persis bagaimana bau kematian. Sebagai korban eksperimen ilegal yang selamat hanya untuk melihat dunia hancur oleh virus Chimera, ia mati dengan penyesalan di ujung pedangnya. Namun, takdir berkata lain. Yuuichi terbangun enam hari sebelum hari kiamat dimulai—di ruang kelas yang tenang, dengan guru kesehatan yang cantik dan teman-teman yang seharusnya sudah mati di depan matanya.
Dengan bantuan Apocalypse Ascension System dan kesadaran Miu yang sarkastik, Yuuichi memulai langkahnya. Bukan untuk menjadi pahlawan bagi dunia yang sudah busuk, melainkan untuk membangun singgasananya sendiri di atas puing-puing peradaban.
Di tengah erangan mayat hidup dan pengkhianatan manusia, Yuuichi berdiri dengan elemen es di tangan dan barisan wanita luar biasa di belakangnya. Kiamat bukan lagi sebuah akhir, melainkan taman bermain bagi sang Regressor untuk membalas dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyerangan Tak Terduga
Roda bus sekolah mengeluarkan suara gesekan yang kasar saat melindas serpihan kaca pecah dan puing logam yang berserakan di gerbang utama SMA Fujimi. Batu bata pagar sekolah yang roboh tergeletak di sekeliling gerbang, bekas tanda benturan yang menunjukkan betapa kacau nya saat orang-orang berusaha melarikan diri dari tempat itu. Yuuichi memutar kemudi dengan tangan yang tetap stabil, membiarkan badan bus yang besar itu bergoyang pelan saat menuruni tanjakan landai menuju jalan raya utama yang lebih lebar.
Di belakangnya, keheningan yang berat menyelimuti kabin bus. Hanya suara mesin diesel yang terus menderu dengan irama rendah dan napas teratur dari ketiga wanita yang kini menjadi bagian dari tanggung jawabnya. Udara di dalam bus terasa sedikit lembab dan hangat, bercampur dengan aroma parfum ringan dari Chika dan baunya kayu dari bokken Sakura yang selalu ada di dekatnya.
Yuuichi sesekali menggesekkan ibu jari di atas kemudi yang sudah aus, melirik kaca spion tengah untuk memeriksa kondisi mereka. Chika Kudou duduk tepat di belakang kursi pengemudi, jemarinya saling bertaut erat di atas tas medis putih yang ia pangku erat ke dadanya – tangan yang masih sedikit menggigil meskipun sudah berusaha untuk tetap tenang. Di barisan sebelah kiri, Sakura Hoshino menatap keluar melalui jendela dengan tatapan yang tampak kosong namun sebenarnya penuh dengan kekhawatiran, tangannya masih mendekap erat bokken kayu yang sudah digunakan untuk melindungi diri berkali-kali. Sementara itu, Rina Suzuki sudah mulai sibuk dengan laptop kecil yang ia bawa dari ruang laboratorium sekolah, jari jemari tangannya bergerak cepat di atas keyboard saat ia mencoba mencari sinyal atau akses ke jaringan satelit yang mungkin masih berfungsi di tengah kehancuran dunia ini.
"Shiro-kun..." suara Chika memecah kesunyian yang menjepit, suaranya lembut namun terasa berat karena kecemasan yang menyelimuti hati nya. Ia menoleh ke arah depan, melihat jalan raya yang sudah mulai terlihat jelas. "...Jalanan di depan... tampak sangat kacau. Bagaimana kita bisa melewatinya?"
Yuuichi mengalihkan pandangannya ke jalan yang mengarah ke depan, bibirnya sedikit mengerut saat melihat kondisi yang ada. Sekitar satu kilometer di hadapan mereka, jalan raya yang seharusnya menjadi jalur pelarian utama kini tersumbat total oleh ribuan kendaraan yang terjepit dalam kemacetan abadi. Pintu-pintu mobil dan truk terbuka lebar, barang-barang seperti tas sekolah, kantong belanja, dan benda pribadi berserakan di atas aspal yang kotor, sementara bercak darah kering berwarna coklat tua menghiasi bodi kendaraan yang sudah ditinggalkan oleh pemiliknya sejak lama.
"Rumah Sakura," jawab Yuuichi dengan suara singkat namun jelas, tidak ingin memberikan harapan palsu namun juga tidak ingin membuat mereka khawatir lebih dari yang sudah ada. "Dojo keluarga Hoshino memiliki tembok tinggi yang dibangun untuk melindungi dari bahaya, dan mereka selalu menyimpan persediaan makanan serta air yang cukup banyak. Itu adalah tempat terbaik untuk kita beristirahat dan menyusun rencana selanjutnya sebelum kita benar-benar keluar dari prefektur ini."
Sakura tersentak mendengar namanya disebut, tubuhnya sedikit bergetar sebelum ia menoleh perlahan ke arah Yuuichi. Matanya sudah mulai berkaca-kaca, menangis yang sudah ia tahan sejak kejadian di sekolah mulai mengendap di sudut matanya. "Ayah... dan murid-murid di Dojo... aku harap mereka baik-baik saja. Ayah selalu bilang bahwa Dojo adalah tempat yang aman untuk semua orang yang membutuhkan perlindungan."
Yuuichi melihat Sakura melalui spion tengah, ia tahu apa yang terjadi di masa lalu sebelum ia mendapatkan kekuatan ini. Namun kali ini, segalanya bisa berbeda – ia kembali dengan kekuatan yang jauh lebih besar dan kesempatan untuk mengubah nasib orang-orang yang ia sayangi. "Kita akan segera mengetahuinya, Sakura. Bersiaplah, jalan utama tidak bisa dilewati dengan aman. Aku akan mengambil jalur tikus yang melewati kawasan industri sebelah utara – jalanan lebih kecil tapi mungkin lebih aman."
"Keputusan yang sangat cerdas berdasarkan data yang tersimpan, Kakak. Kepadatan populasi 'boneka mati' di jalan utama saat ini mencapai sekitar 400 unit per kilometer persegi. Melalui kawasan industri akan menghemat waktu tempuh sekitar 15 menit, meskipun kau mungkin perlu sedikit 'membersihkan' beberapa penghalang yang menghalangi jalan."
Tanpa berlama-lama, Yuuichi memutar kemudi ke arah kanan dengan lancar, memasuki jalanan yang lebih sempit yang diapit oleh gudang-gudang besar bertingkat dan pabrik-pabrik yang sudah tidak beroperasi. Di sini, suasana jauh lebih sunyi dibandingkan jalan utama – jenis sunyi yang sangat dalam dan membuat bulu kuduk berdiri karena rasanya seperti ada sesuatu yang sedang mengawasi setiap gerakan mereka.
"Miu, berikan status lengkap area sekitar kita," pikir Yuuichi sambil tetap fokus pada jalan di depannya.
[ PEMINDAIAN AREA AKTIF ]
[ RADIUS DETEKSI: 200 METER ]
[ HASIL DETEKSI: 12 TARGET STATIS (tidak bergerak), 5 TARGET BERGERAK (bergerak dengan kecepatan bervariasi) ]
"Tahan napas kalian sebentar," peringatkan Yuuichi dengan suara rendah namun jelas saat bus mulai melambat untuk melewati sebuah truk kontainer besar yang terguling menyilang jalan, menutupi sebagian besar badan jalan dan hanya menyisakan celah sempit untuk dilewati.
Saat bus perlahan-lahan masuk ke dalam celah yang sesak itu, tiba-tiba terdengar suara benturan keras dari arah atap bus – DUM! – membuat seluruh tubuh bus bergoyang dan membuat semua orang di dalamnya terkejut.
Chika memekik kecil, secara naluriah ia berdiri dan mencengkeram sandaran kursi sebelah Yuuichi dengan tangan yang kuat. Wajahnya yang dekat dengan telinga Yuuichi menunjukkan ekspresi penuh ketakutan, hingga ia bisa merasakan napas hangat sang guru yang sedikit berbau mint dari permen yang ia makan tadi.
"Ada sesuatu di atas bus!" bisik Chika dengan suara yang gemetar dan terengah-engah karena ketakutan.
"Duduk kembali, Sensei. Jangan pernah menjauh dari dekatku." Perintah Yuuichi tetap tenang, tangannya tidak sedikit pun goyah di atas kemudi. Namun matanya sudah melirik ke arah jendela samping, melihat bayangan hitam yang bergerak cepat di luar sana.
Tak lama kemudian, dua sosok dengan pakaian pekerja pabrik yang sudah compang-camping dan lusuh muncul bergelantungan di kaca jendela samping bus. Kulit mereka mengelupas dan berwarna kebiruan, mata mereka putih kosong tanpa iris, dan kuku-kuku panjang yang seperti cakar mencakar permukaan kaca dengan suara yang menyayat telinga – krek... krek... krek...
"Sakura, jaga sisi kanan! Jangan biarkan mereka memecahkan kaca!" teriak Yuuichi sambil tetap mengendalikan kemudi. "Rina, pegang erat kursimu dan bersiaplah untuk apa saja!"
Yuuichi tidak menghentikan bus atau mencoba keluar untuk menghadapinya. Sebaliknya, ia menginjak pedal gas lebih dalam dan dengan cepat membanting setir ke arah kiri, menghantamkan sisi kanan bus ke dinding gudang beton yang kokoh di pinggir jalan.
KREEEEEEKKKK!
Suara logam bus yang bergesek keras dengan permukaan beton terdengar sangat keras dan memekakkan telinga di dalam kabin. Namun taktik itu berhasil – tubuh kedua zombie yang bergelantungan di jendela langsung terjepit dan hancur di antara badan bus dan dinding gedung, meninggalkan jejak cairan hitam pekat yang menyebar di sepanjang dinding beton saat bus melaju terus.
"Poin Pengalaman Bertambah dari pembersihan hambatan jalan. Kau benar-benar tidak perduli dengan penampilan atau estetika bus ini ya, Kakak? Beberapa bagian bodi sudah mulai tergores parah."
Yuuichi mendengus pelan dalam hati, ia tidak punya waktu untuk memperhatikan kondisi bus selama mereka masih dalam bahaya. Setelah berhasil melewati truk kontainer yang terguling itu, ia menghentikan bus sejenak di area lapangan parkir kecil yang agak terbuka di depan salah satu gudang. Ia perlu memeriksa kondisi ban dan memastikan tidak ada zombie yang tersangkut di bawah bus yang bisa menyebabkan masalah saat mereka melanjutkan perjalanan.
Ia berdiri dari kursi pengemudi, menarik katananya sedikit dari sarungnya hanya untuk memastikan bahwa senjata itu siap digunakan kapan saja jika ada bahaya yang datang tak terduga.
"Aku akan keluar sebentar untuk memeriksa kondisi bus. Tetap di dalam dan pastikan pintu sudah terkunci dengan baik," ucap Yuuichi kepada ketiga wanita di belakangnya.
Sebelum ia bisa melangkah turun dari kursinya, Chika dengan cepat menahan lengannya dengan tangan yang lembut namun kuat. Mata wanita itu penuh dengan kekhawatiran dan permohonan, bibirnya sedikit menggigil saat berbicara. "Berhati-hatilah ya... tolong, jangan terluka atau melakukan sesuatu yang terlalu berbahaya."
Yuuichi menatap mata Chika yang penuh perhatian, lalu melihat ke arah Sakura yang sudah berdiri siap di dekat pintu dengan bokken-nya, dan Rina yang sedang mengeluarkan sesuatu dari tasnya dengan ekspresi yang fokus. Ia merasakan beban tanggung jawab yang sangat besar di pundaknya, namun juga rasa protektif yang mendalam terhadap mereka yang sekarang mengandalkannya sepenuhnya. Tanpa berpikir panjang, ia mengulurkan tangannya dan mengacak pelan rambut Chika yang sedikit kusut – sebuah tindakan yang mungkin dianggap tidak sopan antara siswa dan guru di masa normal, namun terasa sangat alami dan memberikan rasa nyaman dalam situasi krisis seperti ini.
"Aku punya janji yang harus aku tepati, Sensei. Dan aku tidak akan mati semudah itu."
Dengan itu, Yuuichi membuka pintu dan keluar dari bus, disambut oleh udara luar yang lebih dingin dan berbau karat serta minyak bekas dari pabrik-pabrik di sekitarnya. Di kejauhan, ia bisa mendengar suara ledakan kecil yang bergema dari arah jalan utama, mungkin berasal dari tangki bahan bakar mobil yang terbakar akibat panas atau benturan. Ia berjalan dengan langkah yang stabil mengelilingi bus, memeriksa setiap bagian bawah dan kolong kendaraan dengan mata merahnya yang tajam dan bisa melihat lebih jelas di tempat yang kurang terang.
"Satu target terdeteksi merangkak di bawah ban belakang kiri. Dia sedang mencoba menggigit dan menggerogoti bagian karet banmu, Kakak. Mungkin dia mengira itu adalah bagian tubuh manusia."
Yuuichi berjalan dengan tenang ke arah ban belakang kiri bus, melihat sesosok zombie tanpa kaki yang tubuhnya merangkak perlahan dengan menggunakan tangan, mulutnya terbuka lebar sambil mencoba menggigit bagian spakbor dan ban bus yang besar itu. Tanpa menunjukkan emosi apapun, Yuuichi mengangkat katananya dengan lambat dan kemudian menghujamkannya tepat ke bagian belakang kepala makhluk itu yang sudah tidak lagi manusia.
Srak.
Seketika saja, tubuh zombie itu membeku sepenuhnya dan kemudian mulai hancur menjadi serpihan es kecil yang segera menyebar dan mencair di atas aspal yang dingin. Yuuichi menarik kembali pedangnya dengan hati-hati, membersihkan sedikit darah yang menempel di ujung bilah dengan kain kecil yang ada di saku jaketnya. Namun saat ia hendak berbalik untuk kembali ke dalam bus, indra Intuisi Pertempuran yang ia miliki mulai bergetar dengan sangat kuat – rasa bahaya yang datang dengan sangat cepat dan jelas.
Dari balik bayang-bayang besar gudang di seberang jalan, sebuah sosok manusia muncul perlahan. Bukan zombie seperti yang mereka hadapi sebelumnya, melainkan seorang pria muda dengan rambut pirang yang kusut dan jaket hoodie hijau tua yang menutupi sebagian wajahnya. Di tangannya, ia memegang sebuah busur panah militer yang sudah siap ditembakkan, dengan anak panah tajam yang ujungnya sudah diberi racun menuju tepat ke arah jantung Yuuichi.
"Jangan bergerak sedikitpun!" suara pria itu terdengar serak dan kasar, penuh dengan keputusasaan namun juga menunjukkan keberanian yang besar. "Serahkan kunci bus itu sekarang juga, atau aku akan melubangi dadamu dengan anak panah ini!"
Yuuichi tidak bergerak sama sekali, tubuhnya tetap tenang seperti batu yang kokoh di atas tanah. Namun sebuah seringai tipis muncul di sudut bibirnya – senyum yang menunjukkan bahwa ia tidak takut dengan ancaman yang datang padanya. Di dalam bus, ia bisa merasakan bahwa Sakura sudah siap berdiri di dekat pintu dengan bokken-nya yang siap digunakan, dan Rina yang sedang menyiapkan sesuatu di tangannya dengan ekspresi yang sangat fokus dan tenang.
"Kau baru saja membuat kesalahan yang sangat besar dengan mengarahkan senjatamu padaku, Teman," ucap Yuuichi dengan suara yang sangat tenang dan kalem, seolah ia sedang hanya berbincang santai dan tidak sedang ditodong dengan senjata mematikan yang bisa membunuhnya kapan saja.